Setelah Song dan Yuan bersatu untuk menumpas Jin, orang-orang Yuan mengingkari janji dan bergerak ke selatan menyerbu Song. Maka dimulailah perang besar antara Song dan Yuan yang berlangsung lebih dari empat puluh tahun. Seorang pemuda dari masa modern terlempar ke masa Dinasti Song Selatan, menjadi seorang pemburu gunung, dan atas bujukan serta nasihat saudaranya, ia pun meninggalkan pegunungan...
Bab I – Prajurit yang Terluka
Pohon tua meranggas, burung gagak mengerang sayu; jembatan kecil, aliran air, rumah-rumah manusia; jalan kuno, angin barat, kuda kurus. Mentari senja jatuh di ufuk barat, insan yang patah hati terdampar di ujung dunia.
Sudah dua hari lamanya perut Shi Bin tak tersentuh kenyang. Menatap beberapa keping mantou di dalam panci dan sepotong daging asap yang tergantung di atap rumah, perutnya pun menggerutu tak sabar. Apa yang harus dilakukan? Dimakan, atau tidak? Jika dimakan, tentu tubuh akan terasa lebih nyaman, namun persediaan ini paling banter hanya cukup untuk tiga atau empat hari, itu pun sangat mengenaskan, tak jauh beda dari pengemis.
Tampaknya esok hari ia harus keluar rumah, mencari penghidupan, berburu ayam hutan atau kelinci liar agar perut yang hampir kempis ini sedikit terisi. Namun di luar, angin musim dingin berembus tajam, menerpa wajah bagai sabetan pisau, siapa pula yang rela menyusuri pegunungan dalam cuaca begini?
Dalam cuaca serba buruk ini, mengenakan mantel kulit domba yang penuh tambalan saja ia tak berani keluar. Bahkan ia sempat merindukan “pemanasan global”. Betapa indahnya andai dunia menghangat? Musim dingin tak lagi menusuk, hewan-hewan tak lama berhibernasi, buruannya pun jadi lebih banyak—bukankah itu suatu anugerah?
Di sudut ruangan, si Hitam, anjing pemburunya yang licik, menatap penuh selera pada daging di atap, meneteskan air liur. Ia bahkan melirik Shi Bin dengan pandangan memelas, seolah berharap tuannya tak tahan lalu menurunkan daging itu untuk dimasak, agar ia pun bisa ikut