Bab 1 Kau Adalah Li Shimin?
Tahun 626 Masehi, bulan Juni
Di Chang’an, ibu kota Dinasti Tang, pagi hari baru saja menjelang.
Sebuah kedai arak kecil di dalam Distrik Anding tampak lengang tanpa seorang pun pengunjung.
Sang pemilik kedai, Ye Ping, menatap kerumunan manusia yang lalu lalang di jalanan, pikirannya tenggelam dalam renungan.
Telah genap seratus delapan puluh hari sejak ia tiba di tempat ini.
Setengah tahun silam, ia terlempar ke dunia paralel pada masa awal Dinasti Tang—masa di mana dinasti itu baru saja berdiri. Suatu kebetulan pula bahwa ia mendapati dirinya menempati raga seseorang dengan nama dan marga yang sama, mewarisi kedai arak miliknya, dan mengandalkan usaha itu demi bertahan hidup.
Belakangan, dua orang kerap datang berkunjung, selang beberapa hari sekali.
Setiap kali mereka datang, keduanya selalu bertingkah dermawan.
Namun, ada satu keanehan: kedua orang itu gemar melontarkan pertanyaan-pertanyaan ganjil.
Semisal:
Bagaimana cara menaklukkan jenderal pemberontak Liang Shidu?
Siapa yang paling tepat dikirim untuk memerangi Tuyuhun?
Siapa dalang di balik pemberontakan Yang Wengan?
Kapan kiranya Dinasti Tang akan berjaya dan makmur…
Terhadap pertanyaan-pertanyaan itu, Ye Ping, yang telah meneliti sejarah Dinasti Tang secara mendalam, sesungguhnya mengetahui jawabannya. Namun, setiap kali ia menjawab, mereka cenderung tak mempercayainya—meski demikian, mereka tetap saja selalu ingin bertanya lagi.
…
Hari itu terasa berbeda dari biasanya.
Keduanya datang lagi.
“Lao Li, Lao Cheng, sudah beberapa hari kalian tak berkunjung,” sambut Ye Ping, melangkah maju.
Pria paruh baya berpakaian mewah yang ia panggil Lao Li itu berwajah tegas dan gagah, auranya mengesankan wibawa. Sementara satu lagi, bertubuh kekar dan berwatak terus terang, itulah Lao Cheng. Di pinggangnya selalu tergantung kapak besar bermotif delapan trigram; katanya, itu untuk berjaga-jaga.
Sungguh aneh, tiap hari membawa-bawa benda seberat itu, bukankah hanya membuang-buang tenaga?
Ye Ping pernah mencoba menanyakan nama lengkap mereka, namun keduanya enggan menjawab. Yang ia tahu, satu bermarga Li, satunya lagi bermarga Cheng. Maka, mau tak mau ia hanya menyebut mereka Lao Li dan Lao Cheng.
Hari itu, Lao Li tampak murung, seolah tengah menanggung beban berat di benaknya.
“Apa yang ingin kalian santap hari ini?” tanya Ye Ping.
“Sama seperti yang lalu!” sahut Lao Li sembari memilih tempat duduk.
“Kalian datang lebih awal; daging dan sayur baru saja dibeli dari pasar, segar semua. Kebetulan ada hidangan baru, bisa kalian coba,” ujar Ye Ping menawarkan.
Lao Li hanya mengangguk, tanpa ekspresi lain.
Ye Ping sadar, hari itu Lao Li tampak lebih muram dari biasanya.
Sementara Lao Cheng berkata, “Ye Ping, kalau ada arak terbaik, keluarkanlah! Yang paling keras!”
Minum arak keras di siang bolong, pasti ada sesuatu yang tak menyenangkan menimpa mereka.
***
“Lao Li, apakah akhir-akhir ini urusan dagangmu sedang mengalami masalah?” tanya Ye Ping, tak kuasa menahan rasa ingin tahu.
Menurut pengakuan mereka sendiri, mereka datang ke Chang’an untuk berdagang. Namun, apa yang sebenarnya mereka lakukan, tak seorang pun tahu pasti.
“Ah…” Lao Li menghela napas panjang.
Setiap kali menyangkut hal-hal penting, begitulah reaksi Lao Li—jelas ia enggan menjawab.
Ye Ping pun enggan bertanya lebih jauh.
“Kalau memang sulit diceritakan, lebih baik kita minum saja. Bukankah mabuk mampu menghapus seribu duka? Biar saja segala kesedihan lenyap tak berbekas.”
Jika memang tak ingin bicara, biarlah. Selama mereka membayar araknya, Ye Ping tak peduli apa pun suasana hati mereka. Asalkan ia tak kelaparan, itu sudah cukup.
Hitung-hitung simpanannya pun sudah lumayan. Kalau berhasil menabung sepuluh tali uang lagi, ia bisa meminta bantuan mak comblang untuk melamar seorang gadis cantik dan menikah.
Tiba-tiba, Lao Li bertanya dengan nada serius, “Ye Ping, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”
“Tanyakan saja, tak perlu sungkan,” jawab Ye Ping.
Lao Li menoleh sekeliling, memastikan tak ada orang lain di situ.
“Menurutmu, dari tiga pangeran yang ada, siapa yang paling mungkin naik takhta menjadi kaisar?”
Orang pada umumnya pasti akan menyebut Putra Mahkota. Alasannya jelas: Putra Mahkota adalah pewaris sah, dan sejauh ini belum terjadi sesuatu yang luar biasa; tentu tahta akan jatuh padanya.
Namun, Ye Ping mengetahui jawabannya.
Kini adalah bulan Juni. Dalam bulan ini pulalah, Li Shimin akan menyingkirkan Li Jiancheng dan Li Yuanji, lalu naik takhta menjadi kaisar.
Namun jika ia mengatakannya secara gamblang, sudah pasti tak akan ada yang percaya. Selain itu, pertanyaan demikian sangatlah tabu; jika ada yang mendengarnya dan berniat jahat, nyawanya pun bisa melayang tanpa ia sadari.
“Lao Li, hati-hati dengan ucapanmu. Pertanyaan semacam ini bisa membuat leher melayang,” ujar Ye Ping, tak mengerti mengapa Lao Li menanyakan hal sebesar itu.
“Kau tentu tahu, sebagai pedagang kami sering di luar, dan urusan politik sangat memengaruhi nasib kami. Aku hanya sedang mencari jalan keluar untuk masa depan. Pandanganmu selalu tajam, maka aku ingin mendengar pendapatmu. Mohon sudi katakan padaku,” jelas Lao Li dengan nada sungguh-sungguh.
Rupanya, masuk akal juga. Siapa yang naik takhta, akan menentukan arah kebijakan ke depan.
Ye Ping pun berbisik, “Jika menilik dari bakat dan jasa, Pangeran Kedua tentu yang paling berpeluang.”
Begitu ucapannya meluncur, tampak jelas raut wajah Lao Li berubah lega dan agak bersemangat.
Seolah-olah, ia sendirilah sang Pangeran Kedua itu.
“Coba kau jelaskan alasannya.”
“Pangeran Kedua memiliki kebijaksanaan, kemampuan bela diri, dukungan rakyat, dan jasa besar. Siapa yang meraih hati rakyat, dialah yang layak menggenggam kekuasaan. Ia benar-benar pantas menjadi kaisar!”
Mendengar itu, senyum perlahan merekah di wajah Lao Li.
“Tapi Putra Mahkota dan Pangeran Ketiga juga tidak kalah!”
Li Jiancheng dan Li Yuanji memang tak sebesar jasa Li Shimin, tapi sejak awal mereka juga punya andil yang tak kecil.
“Putra Mahkota tidak dapat menerima orang-orang berbakat, tak tahu menilai dan memanfaatkan keutamaan. Ia terlalu lama hidup di istana, mana tahu situasi negeri ini? Pangeran Ketiga berwatak bengis dan tempramental, tak punya pandangan jauh ke depan. Dua orang seperti itu, mana mungkin mampu menanggung amanat sebesar itu? Lagi pula, bintang Taibai baru-baru ini tampak di barat laut Chang’an, yang tak lain adalah arah kediaman Pangeran Qin (Li Shimin)! Itu pertanda, Pangeran Qin-lah yang akan menguasai negeri ini!”
Raut wajah Lao Li berubah sangat terkejut.
Ia bahkan berseru keras, “Ye Ping, kau benar-benar orang berbakat! Pangeran Qin memang layak menjadi kaisar! Ha ha ha!”
“Pelankan suaramu! Ini rahasia langit, tak boleh disebarluaskan!”
Namun, semua sudah terlambat.
Tiba-tiba, dari sekeliling bermunculan pasukan bersenjata.
Mereka mengepung semua orang yang ada di kedai.
Di barisan paling depan berdiri seorang jenderal bertampang garang.
Dengan suara menggelegar ia berseru, “Berani sekali kalian, membahas urusan negara secara sembunyi-sembunyi! Tangkap semuanya!”
“Berani kalian!” seru Lao Cheng, melangkah maju.
Entah sejak kapan, sepasang kapak telah tergenggam di tangannya.
“Tangkap mereka!” sang jenderal tak peduli.
“Pangeran Qin ada di sini! Siapa yang berani mendekat, akan kubunuh!” bentak Lao Cheng.
Pangeran Qin?
Ye Ping nyaris tak percaya; pria paruh baya di hadapannya ternyata adalah Pangeran Qin, Li Shimin.
Baru saja ia membahas nasib negeri bersama orang itu.
Pantas saja sejak awal selalu menanyakan hal-hal aneh.
Betapa sialnya, ia menganggap Li Shimin sebagai kawan, namun yang bersangkutan malah menyembunyikan jati dirinya!
Dan Lao Cheng tak lain adalah Cheng Yaojin?
Namun, sang jenderal garang itu tak peduli.
Ia langsung memerintah, “Hmph! Pangeran Qin, ya? Justru kau yang akan kubunuh! Pasukan, serang!”
Serempak, semua orang menghunus senjata dan menyerbu.
Mereka adalah anak buah Li Jiancheng, yang sejak lama mencari-cari alasan untuk membunuh Li Shimin. Kini, dengan ucapan sedurhaka itu sebagai dalih, mereka pun bulat hendak menghabisi nyawa sang pangeran.
Kelak, tinggal mencari seorang kambing hitam sebagai tumbal, maka perkara pun selesai. Bagaimanapun, orangnya sudah tiada, tak akan ada yang menuntut lebih lanjut.
Li Shimin dan Cheng Yaojin benar-benar berada di ujung tanduk, kapan saja bisa terbunuh.
Saat itu, hati Ye Ping dipenuhi penyesalan.
Dengan kata lain, ia telah mencelakakan Li Shimin.
Seandainya tidak, ia mungkin masih dapat memperoleh sesuatu dari Li Shimin, bahkan mungkin diangkat menjadi pejabat, menikahi putri atau bangsawan, itu pun sudah sangat baik.
Namun, kesempatan itu nyaris lenyap.
Tepat di saat genting itu—
Di benaknya tiba-tiba bergema suara perempuan yang lembut dan menggoda.
Semuanya pun berubah…