Bab Seratus Tiga Puluh Satu: Aku Tak Relakan (Bagian Kedua)
Pintu kamar terbuka dengan sentakan keras. Bibi Yun Wei berlari masuk dengan tergesa-gesa dan berbisik dengan nada mendesak, "Xue Zhiqian menelepon."
"Duar!"
Kalimat itu bagaikan sambaran petir di telinga Yun Wei. Tangannya seketika membeku, tubuhnya bergetar, dan genggamannya terlepas hingga pisau buah yang dipegangnya jatuh ke lantai dengan dentingan nyaring.
Melihat kejadian itu, wajah bibi Yun Wei berubah drastis. Ia berlari menghampiri dan memeriksa seluruh tubuh Yun Wei dengan panik. Setelah memastikan keponakannya tidak terluka, ia menghela napas lega dan rasa cemasnya pun mereda.
Kemudian, ia menepuk punggung Yun Wei dan menegur dengan marah, "Anak ini, apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa kamu mempermainkan nyawamu sendiri? Apa kamu tahu betapa sedihnya orang tuamu jika melihat ini? Apa kamu tahu..."
Sebelum bibi Yun Wei menyelesaikan kalimatnya, Yun Wei memotong, "Apa, apa maksudmu dia menelepon? Kamu mengizinkanku menerima teleponnya?"
Sejak Yun Wei dikurung, bibinya lah yang bertanggung jawab mengawasinya setiap saat agar tidak ada komunikasi sedikit pun dengan Xue Zhiqian. Namun sekarang, sang bibi justru memberi tahu bahwa pria itu menelepon.
"Aku merasa anak itu cukup menyedihkan. Hari ini hari pernikahanmu, dan entah dari mana dia mendapatkan nomor teleponku. Setelah kupikirkan, aku memutuskan untuk membiarkanmu menerima teleponnya sekali ini saja, untuk bicara terakhir kalinya," ujar bibi Yun Wei.
"Bibi, berikan teleponnya padaku, berikan padaku..." Tatapan kosong di mata Yun Wei perlahan lenyap, digantikan oleh kerinduan, kesedihan, dan rasa sakit yang mendalam. Bahkan air mata yang tadinya sudah kering kini kembali menggenang di matanya.
"Ini, bicaralah untuk terakhir kalinya. Gunakan waktumu dengan baik. Sepuluh menit lagi upacara pernikahan dimulai, kendalikan emosimu sedikit," kata bibi Yun Wei sembari memungut pisau buah tadi, memasukkannya ke dalam tas, lalu berdiri mengawasi di sampingnya.
"Halo... benarkah itu kamu..." Air mata menetes satu demi satu melewati wajah pucatnya. Suaranya bergetar karena takut jika orang di seberang sana bukanlah dia, atau jika ini hanyalah mimpi.
"Xiao Wei, ini aku! Apa... apa kabarmu?"
"Aku tidak baik, aku tidak baik, aku tidak baik... huuu... aku akan segera menikah dengan orang lain. Kamu di mana? Kamu di mana sekarang?" Yun Wei terisak.
"Xiao Wei, aku sangat merindukanmu, sangat mencintaimu. Tanpamu, aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup. Aku merasa sangat kesepian tanpamu. Aku tidak bisa kehilanganmu, aku..."
Di ujung telepon, di dalam mobil, mata Xue Zhiqian memerah. Wajahnya penuh dengan rasa iba dan pedih saat ia mencurahkan isi hatinya, seolah ada ribuan kata yang tak kunjung usai.
Di sampingnya, Zhang Tian mendesah dalam hati. Ia berdeham pelan untuk memberi peringatan, "Langsung ke intinya!"
"Ah, iya, benar. Xiao Wei, tunggulah aku. Aku sedang dalam perjalanan menjemputmu, aku akan segera sampai. Kamu, tunggulah aku!" ucap Xue Zhiqian dengan nada tegas.
"Hm?" Mendengar perkataan Xue Zhiqian, tangisan Yun Wei perlahan mereda. Ia bertanya dengan ragu, "Benarkah? Apa itu benar? Kamu... kamu tidak membohongiku? Kamu benar-benar akan datang menjemputku?"
"Xiao Wei, bagaimana mungkin aku membohongimu? Aku tidak akan pernah membohongimu. Aku akan segera datang menjemputmu. Kamu milikku, tidak ada yang bisa merebutmu dariku!"
"Baik, aku akan menunggumu..."
Melihat itu, ekspresi bibi Yun Wei berubah aneh. Ia melirik jam tangannya dan berkata, "Waktunya hampir habis, kita harus bersiap. Matikan teleponnya."
Ia langsung merampas ponsel dari tangan Yun Wei dan mematikannya. Setelah itu, ia memperhatikan riasan wajah Yun Wei yang berantakan akibat menangis, menggelengkan kepala, dan mulai merias ulang wajah keponakannya itu. Melihat tatapan penuh harap di mata Yun Wei, ia tak tahan untuk berucap, "Xiao Wei, apa kamu benar-benar percaya dia akan datang menjemputmu? Pria itu memang tidak bisa diandalkan! Di saat seperti ini pun dia masih berani membohongimu!"
"Dia tidak pernah membohongiku. Jika dia bilang akan datang, dia pasti akan datang. Aku akan menunggunya," ucap Yun Wei dengan nada yang sangat yakin.
"Ya, ya, ya, dia pasti akan datang menjemputmu, puas? Sebentar lagi dimulai, ayo kita bersiap."
Bibi Yun Wei menatap Yun Wei yang tampak linglung seperti orang yang sedang kerasukan. Ia menghela napas dalam hati. Meskipun ia yakin Xue Zhiqian hanya membual, setidaknya untuk saat ini, ketegangan saraf Yun Wei telah berkurang, dan itu dianggapnya sebagai sesuatu yang baik.
...
"Para tamu undangan yang terhormat, serta keluarga dan sahabat sekalian, selamat siang!"
Di atas panggung yang dihiasi rangkaian bunga di alun-alun tempat resepsi, seorang pembawa acara muda yang tampil rapi sedang membacakan kata sambutan dengan penuh semangat. Di bawah panggung, para tamu undangan memadati area tersebut, suasana begitu ramai dan meriah.
"Saya Xiao Wu, pembawa acara dari Sanggar Pernikahan Ai Kong. Sepasang kekasih akan segera melangkah memasuki aula pernikahan yang sakral ini. Mewakili kedua mempelai dan keluarga, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Anda semua. Semoga semua keinginan Anda terkabul dan segala urusan berjalan lancar!"
Setelah kalimat itu, tepuk tangan meriah dan sorak-sorai membahana. Setelah suasana kembali tenang, pembawa acara melanjutkan:
"Kini, jalan menuju kebahagiaan telah terbentang. Pengantin pria dan wanita akan segera memulai perjalanan romantis mereka untuk membuka pintu kebahagiaan. Mari kita sambut kedatangan kedua mempelai dengan tepuk tangan yang paling meriah!"
Saat itu juga, Mu Tai dan Yun Wei melewati gerbang bunga dan berjalan perlahan di atas karpet merah hingga tiba di hadapan pembawa acara. Keduanya berdiri saling berhadapan.
Pembawa acara melanjutkan, "Pengantin pria membawa senyuman termanis dalam hidupnya, penuh dengan ketulusan dan janji suci. Pengantin wanita tampak anggun dan cantik karena di sampingnya berdiri pria yang akan menjadi pendamping hidupnya. Di bawah naungan bunga-bunga yang indah, kedua mempelai akhirnya menggenggam tangan satu sama lain!"
Saat tangan Mu Tai baru saja menggenggam tangan Yun Wei, Yun Wei langsung menarik tangannya dengan dingin. Pemandangan itu membuat sang pembawa acara tertegun sejenak.
Namun, pembawa acara segera bereaksi dan berkata, "Sepertinya pengantin wanita kita merasa sedikit gugup dan malu melihat banyaknya tamu undangan yang hadir. Berpegangan tangan hingga menua bersama, itu adalah janji suci yang terucap. Sekarang, mari kita fokuskan perhatian pada kedua mempelai dan menantikan dibukanya pintu kebahagiaan!"
Setelah tepuk tangan mereda, pembawa acara melambaikan tangan dengan penuh semangat, "Ini adalah upacara penyerahan yang sakral!"
"Tuan Mu Tai, di hadapan Anda berdiri Nona Yun Wei yang anggun, cantik, dan lembut. Tataplah dia dengan pandangan yang paling dalam, dan katakan dengan tulus: 'Ayo, mari kita melangkah bersama'. Apakah Anda bersedia menggenggam tangannya seumur hidup Anda?"
Mu Tai tertawa kecil. Tatapannya pada Yun Wei penuh dengan rasa meremehkan, ketidaksukaan, kebencian, dan hasrat untuk memiliki. Tindakan Yun Wei yang menarik tangan tadi membuatnya sangat kesal, namun ia tetap menjawab, "Saya bersedia."
"Ketika masa muda telah berlalu, ketika kecantikan istri Anda memudar, apakah Anda tetap bersedia menggenggam tangannya dan menua bersamanya?" tanya pembawa acara.
"Cih, tentu saja bersedia," jawab Mu Tai. Sambil berucap, matanya menelusuri tubuh Yun Wei, membayangkan berapa banyak posisi yang akan ia gunakan malam nanti untuk menjinakkan kuda liar kecil ini!
"Baiklah, sekarang untuk pengantin wanita, apakah Anda bersedia menikah dengan Tuan Mu Tai yang tampan di hadapan Anda sebagai suami, dalam keadaan sehat maupun sakit, miskin maupun kaya, untuk selamanya? Apakah Anda bersedia?"
Di bawah sorotan mata banyak orang, Yun Wei berbalik menghadap ke arah seluruh tamu undangan dan penonton. Ia tersenyum tipis, lalu dengan satu sentakan keras melepas kerudung pengantinnya dan berkata, "Saya tidak bersedia!"