Bab 29: Ye Yuzhi terbangun karena kedinginan yang menusuk tulang.
"Lalu, bagaimana dengan dua gambar yang ini?" tanya Feng Zhi sambil terisak.
"Itu gambar kalian berdua," jawab Ye Yuzhi.
Begitu mendengar dirinya juga digambar, suasana hati Feng Sheng seketika membaik. Ia melangkah maju untuk melihatnya, namun senyumnya langsung membeku.
Feng Xu tidak menyangka dirinya juga mendapatkan bagian. Dengan rasa penasaran dan harapan, ia pun ikut mendekat. Namun, saat melihat dengan jelas tiga gambar yang tergeletak di atas meja, keningnya berkerut dalam dengan perasaan yang campur aduk.
Ia menunjuk salah satu gambar dan bertanya dengan ekspresi rumit, "Ini... aku?"
Ye Yuzhi menunduk melihatnya, "Bukan, yang ini baru dirimu." Ia menukar posisi gambar kiri dan kanan.
"Boleh kutanya apa bedanya?" tanya Feng Sheng.
Dua lingkaran ditambah beberapa garis, inikah yang disebut lukisan? Bukankah ini hanya coretan asal di atas kertas?
Feng Sheng menunjuk dua garis pendek di atas salah satu lingkaran pada gambar itu, "Apakah ini gambar tanduk di kepala kami?"
"Benar, bagaimana? Bukankah terlihat sangat hidup dan nyata?" jawab Ye Yuzhi dengan yakin.
Feng Sheng menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Kini ia akhirnya mengerti mengapa Feng Zhi menangis setelah melihat gambar tadi. Jelas sekali, ia menangis karena gambarnya terlalu jelek.
Di tengah ekspresi Feng Sheng yang sulit digambarkan, Ye Yuzhi baru menyadari situasinya dan mulai merasa sedikit malu. Ia segera membereskan gambar-gambar di atas meja dengan gerakan cepat.
Sejak kecil hingga dewasa, ia memang tidak memiliki keahlian yang menonjol. Dibandingkan teman-teman seusianya yang sibuk berpindah dari satu tempat kursus ke tempat kursus lainnya sejak kecil, masa kecilnya jauh lebih bebas dan bahagia. Tentu saja, kebebasan dan kebahagiaan itulah yang membentuk hidupnya yang biasa-biasa saja di kemudian hari. Jadi, wajar saja jika ia tidak pandai melukis.
"Ehem..." demi meredam rasa canggung, Ye Yuzhi mengalihkan pembicaraan. "Aduh, tidak terasa sudah larut malam, sudah waktunya tidur yang selalu kunantikan!"
"Sudahlah, kita bicarakan sisanya besok saja."
Setelah berkata demikian, Ye Yuzhi melompat ke atas ranjang secepat kilat. Ia menyibak selimut, menutup tubuhnya, lalu memejamkan mata dan berpura-pura tidur. Selama ia tidur dengan cukup cepat, rasa canggung tidak akan bisa mengejarnya!
Feng Xu menatap ke luar jendela dengan bingung. Langit saat ini belum benar-benar gelap, apakah sudah selarut itu?
Feng Zhi bertanya dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca kepada Feng Sheng, "Kakak, apakah aku benar-benar terlihat seperti itu?" Itu sungguh terlalu buruk!
Feng Sheng menepuk kepalanya dan membujuk, "Zhi yang manis, kamu tidak terlihat seperti itu. Tidak ada apa pun di dunia ini yang terlihat seperti itu. Hanya saja ada manusia tertentu yang menggambarnya dengan sangat payah," ucap Feng Sheng sengaja mengeraskan suaranya ke arah ranjang.
***
Manusia yang kemampuan melukisnya sangat buruk itu diam-diam menarik selimutnya ke atas, menutupi dirinya dari kepala hingga kaki. Ketiga sosok kecil itu melihatnya, entah sengaja atau tidak, mereka tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Malam semakin larut, napas orang di atas ranjang sudah teratur, sepertinya ia sudah terlelap. Feng Sheng menguap dan bertanya kepada Feng Xu, "Lalu kita tidur di mana?" Ia sudah melihat tadi, di tempat ini hanya ada satu kamar dan hanya satu ranjang.
Melihat Feng Xu menunduk menatap lantai, Feng Sheng langsung merasa ngeri, "Aku tidak mau tidur di lantai!"
Feng Zhi yang sudah sangat mengantuk mendengar ucapan Feng Sheng, ikut menimpali, "Aku juga tidak mau tidur di lantai." Lantai itu sangat kotor dan keras.
Feng Xu tentu saja tidak berniat tidur di lantai. Ia mengamati sekeliling ruangan dengan teliti, setelah berpikir sejenak, ia menatap ranjang yang cukup luas itu. Masih ada banyak ruang kosong di samping Ye Yuzhi.
"Di atas ranjang masih cukup untuk satu orang lagi."
Mendengar itu, Feng Sheng ikut melirik. Baiklah, kalau begitu ia terpaksa harus tidur seranjang dengan manusia ini. Feng Sheng berjalan menuju ranjang sambil menguap.
Dengan tangkas, Feng Xu mencengkeram tengkuknya, "Apa yang kau lakukan?"
"Tidur, tentu saja," jawab Feng Sheng dengan nada wajar.
Feng Xu mempererat cengkeramannya, ia menoleh ke arah Feng Zhi dan berkata, "Zhi, kau tidurlah di atas ranjang."
"Oh, baiklah." Feng Zhi menurut dan berjalan mendekat. Namun, saat hampir sampai di tepi ranjang, langkahnya sedikit ragu. Ia belum pernah tidur bersama orang lain sebelumnya.
Ye Yuzhi di balik selimut bergerak, mungkin karena merasa sesak, ia mengeluarkan kepalanya. Feng Zhi menahan napas tanpa sadar, menatap orang yang sedang tertidur lelap di ranjang. Ternyata seperti ini rupanya saat ia tertidur. Tenang dan penurut, terlihat sangat tidak berbahaya. Padahal jika sudah bicara, ia bisa bertengkar hebat dengan Feng Sheng hingga wajah mereka memerah.
Feng Zhi tersenyum kecil, lalu segera menutup mulutnya dengan tangan. Syukurlah, tidak membangunkannya. Feng Zhi menghela napas lega, dengan gerakan ringan ia naik ke atas ranjang, lalu berbaring di bagian kaki ranjang.
Setelah melihat Feng Zhi berbaring, Feng Xu melepaskan tangannya. Ia mengangkat dagu, memberi isyarat kepada Feng Sheng, "Kau tidur di sana."
Feng Sheng menatap meja panjang yang berantakan di belakangnya, "Kenapa harus aku? Aku juga mau tidur di ranjang!"
Namun, baru melangkah dua kali, kerah bajunya sudah ditarik kembali oleh Feng Xu.
"Karena kau jantan!" Feng Xu menggertakkan gigi di telinganya. "Jadi kau tidak boleh tidur bersama perempuan manusia."
Saat Feng Xu meminta Bian San untuk mengajarinya teknik pelacakan, Bian San pernah menanyakan alasannya. Ia menjawab dengan jujur. Bian San tidak mencoba mencegahnya datang ke dunia manusia, justru menceritakan banyak hal tentang dunia manusia kepadanya. Termasuk aturan penting bahwa "laki-laki dan perempuan harus menjaga jarak". Hal ini cukup mudah dimengerti. Sebab, di kalangan bangsa Naga, hanya mereka yang telah menjadi pasangan yang boleh menunjukkan hubungan yang sangat dekat. Jika tidak, mereka akan dikucilkan oleh kaumnya sendiri.
Karena itu, sikap Feng Xu sangat tegas. Ia menarik Feng Sheng menuju meja panjang dan memberi isyarat dengan matanya agar ia berbaring di sana. Feng Sheng terus bergumam pelan sambil membereskan barang-barang di atas meja untuk melampiaskan kekesalannya.
Setelah melihat Feng Sheng berbaring, barulah Feng Xu duduk di meja persegi di tengah ruangan. Begitu Feng Sheng mencoba bangkit, ia langsung berhadapan dengan tatapan memperingatkan dari Feng Xu, sehingga ia terpaksa berbaring kembali.
Meskipun angin sesekali bertiup masuk ke dalam ruangan, bagi bangsa Naga, suhu ruangan tetap terasa terlalu panas. Feng Sheng berguling ke sana kemari tidak bisa tidur, akhirnya ia menggunakan teknik pembekuan, dan ruangan itu seketika dipenuhi hawa dingin. Feng Sheng pun tertidur dengan puas.
Ye Yuzhi terbangun karena kedinginan yang menusuk. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan ke kepalanya, atau seolah-olah ia berada di tengah padang salju, membuatnya menggigil hebat di dalam selimut.
Saat Ye Yuzhi membuka mata, ruangan masih gelap, dan ia merasakan hawa lembap. Namun, untungnya kini tubuhnya sudah memiliki kekuatan spiritual dan kondisi fisiknya telah meningkat, sehingga ia bisa melihat kondisi ruangan secara samar. Langit-langit dan sekeliling ruangan dipenuhi kristal es, air sesekali menetes ke lantai dengan bunyi "plak" yang pelan.
Di tengah kegelapan, Feng Xu tampak tertidur dengan tangan terlipat di atas meja, sementara Feng Sheng berbaring telentang membentuk huruf X di atas meja panjang di depan rak buku. Adapun Feng Zhi... Ye Yuzhi mengamati sekeliling, dan akhirnya menemukannya di kaki ranjang. Feng Zhi meringkuk, hanya menempati sedikit ruang di ranjang, itulah sebabnya Ye Yuzhi tidak menyadarinya.
Melihat mereka satu per satu, sungguh tampak menyedihkan.