Bab 56 Sudut Pandang yang Sempit
Dia yang tadinya merasa sedikit gugup, kini... hanya bisa terdiam tanpa kata.
Lin Chumo memeluk sebungkus keripik kentang, bersandar santai di sofa. Di hadapannya, layar proyektor besar sedang memutar rekaman pengawasan dari beberapa hari terakhir.
"Anggap saja sedang menonton film."
Dia mengangkat bahu.
He Jiyue benar-benar harus mengagumi sikap santai pria ini.
"Baiklah kalau begitu."
He Jiyue tidak berkata apa-apa lagi dan ikut duduk di sampingnya.
"Apakah kamu menemukan orang yang mencurigakan?"
Sambil berkata demikian, dia membuka sebungkus keripik kentang. Namun, baru saja ia hendak merilekskan diri sejenak, tubuhnya tiba-tiba terlonjak kaget dari sofa.
Di dalam layar, sesosok bayangan yang mencurigakan masuk ke ruang penyimpanan obat dan mulai memasukkan obat-obatan dalam pengawasan ke dalam pelukannya.
Di bawah sorotan kamera beresolusi tinggi, He Jiyue melihatnya dengan sangat jelas. Obat-obatan yang dicuri orang itu sama persis dengan obat-obatan dalam pengawasan yang hilang!
He Jiyue mengatupkan giginya rapat-rapat. Kemarahan di dalam matanya bagaikan nyala api yang ingin membakar seluruh dunia!
"Ternyata dia!"
Dia mengenali orang ini dan bahkan pernah bertemu dengannya—Wu Ming!
Orang itulah yang menjadi asisten bedah kedua dalam operasi di mana He Jiyue menggantikan posisi dokter utama.
"Kamu mengenalnya?"
Mendengar itu, Lin Chumo menoleh dan menatapnya.
He Jiyue mengangguk, lalu menjelaskan informasi tentang Wu Ming secara singkat dan padat.
"Aku tadinya mengira mereka tidak akan berani mempermainkan nyawa manusia bagaimanapun caranya, tapi aku tidak menyangka..."
Saat mengatakannya, rona wajahnya kian menunjukkan kemarahan yang meluap-luap. Kuku-kukunya menancap begitu dalam ke telapak tangannya hingga berdarah, namun ia sama sekali tidak memedulikannya.
Sampai detik ini, tidak ada lagi hal yang tidak ia pahami.
Sudah sangat jelas ke mana sebenarnya obat-obatan yang hilang itu digunakan.
"Aku tidak menyangka mereka hanya menggunakan obat-obatan dalam jumlah besar itu untuk memperpanjang napas adikku. Mereka... benar-benar pantas mati!"
Dia kini sangat menyesali mengapa dirinya tidak menyadari hal ini lebih awal.
Seandainya ia menyadarinya lebih cepat, adiknya pasti...
Begitu membayangkannya, hati He Jiyue terasa sakit bagaikan disayat pisau.
Melihat He Jiyue yang dipenuhi amarah sekaligus kepedihan, Lin Chumo menepuk bahunya, namun ia juga tidak tahu bagaimana cara menghiburnya.
Dia sudah banyak mengetahui tentang urusan He Jiyue, dan tentu saja paham seberapa besar kasih sayang wanita itu kepada adiknya yang bisa dibilang telah menjadi pilar spiritual dalam hidupnya.
Jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada adiknya, He Jiyue pasti akan menjadi gila!
"Sepertinya bajingan Ning Xiuyuan itu juga takut masalahnya membesar. Tenang saja, aku tidak akan melepaskannya!"
Memikirkan hal tersebut, secercah kilatan dingin terpancar di mata Lin Chumo.
Namun, He Jiyue justru menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Tidak! Yang paling penting sekarang adalah segera menemukan adikku. Penggunaan obat dalam jumlah besar pasti akan menimbulkan efek samping yang kuat, tubuhnya... tidak akan mampu bertahan lama."
He Jiyue mencengkeram erat pakaian Lin Chumo dengan penuh kecemasan.
Sampah keparat itu bisa beresiko dihukum kapan saja, tetapi adiknya benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama lagi!
"Aku akan segera memerintahkan orang-orangku untuk mengikutinya dan melacak keberadaan adikmu!"
Mendengar itu, Lin Chumo segera menghubungi orang-orangnya dan memberikan instruksi perintah.
......
Malam hari berhembuskan angin dingin, bahkan ruang tamu yang sejuk pun dipenuhi dengan ketegangan yang menyesakkan.
Waktu penantian yang penuh kecemasan selalu terasa menyiksa, bagaikan satu detik terasa seperti satu tahun.
He Jiyue tampak terpaku, seolah seluruh tubuhnya membeku.
Dia mulai merasa takut.
Dia tidak yakin apakah kali ini ia bisa menemukan adiknya, juga tidak tahu apakah adiknya saat ini baik-baik saja.
Ketidaktahuan selalu berjalan berdampingan dengan rasa takut!
Dia takut.
Takut mendengar kabar yang akan menjerumuskannya ke dalam keputusasaan.
Ayah dan ibu telah tiada, paman juga telah pergi, dan sekarang adiknya...
Separuh hidupnya sepertinya selalu diliputi oleh perpisahan yang menyedihkan.
Dia... seolah-olah adalah seseorang yang tidak disayangi oleh takdir, yang selalu membawa malapetaka bagi orang-orang di sekitarnya!
Pada detik ini, penderitaan yang luar biasa menenggelamkannya bagaikan terjangan air bah.
Semakin seseorang mencoba untuk tegar, semakin rapuh pula titik kelemahannya!
Sudut pandang sempit yang ia yakini kini telah mengurungnya bagaikan sebuah sangkar penjara.
Hingga akhirnya—
"Yueyue, jangan menakutiku seperti ini!"
Lin Chumo menoleh dan langsung terkejut setengah mati.
Wajah gadis itu tampak sangat pucat. Senyum cerah yang biasanya selalu menghiasi wajahnya kini telah berubah menjadi kerutan penuh penderitaan. Sepasang mata yang tadinya bersinar terang bagaikan bintang di langit kini meredup, dipenuhi oleh kabut kelam tanpa ujung.
Dia semakin tenggelam lebih dalam ke lautan kepedihan...
"Ini..."
Bagaimanapun Lin Chumo memanggilnya, wanita itu sama sekali tidak memberikan respons, membuatnya hampir menjadi gila karena khawatir.
Kring, kring!
Dering telepon yang tiba-tiba berbunyi justru membuat raut wajah Lin Chumo berubah lega.
Akhirnya datang juga.
Panggilan itu akhirnya datang.
Jika ada kabar mengenai adiknya, dia pasti akan membaik!
Tetapi jika tidak ada...
Saat dia sedang merasa khawatir, sepasang mata gadis yang tadinya suram itu mendadak bersinar terang.
"Di mana adikku?"
Dengan penuh emosi, dia merebut ponsel dari tangan Lin Chumo dan langsung berteriak cemas begitu panggilan terhubung.
Lin Chumo dapat merasakan detak jantung wanita itu yang berdegup kencang, satu demi satu semakin cepat.
Untunglah hasil akhirnya baik—
"Orang tersebut saat ini berada di Sanatorium Haozun!"
Begitu kata-kata itu terlontar.
He Jiyue seolah kehilangan seluruh penopang kekuatannya, sekujur tubuhnya melemas seketika.
"Adikku sudah ditemukan, adikku benar-benar sudah ditemukan..."
Dia menangis sekaligus tertawa, namun tidak ada air mata yang jatuh, terlihat begitu ganjil sekaligus histeris.
Lin Chumo tahu bahwa dia sedang melampiaskan emosi yang telah lama terpendam di dalam hatinya. Adiknya berhasil ditemukan kembali, dan kali ini ada orang yang membantu, sehingga kemungkinan untuk menyelamatkan sang adik meningkat drastis. Pasti dia merasa sangat tergugah.
Lin Chumo tidak mengganggunya, ia dengan tenang mengangkat teleponnya dan berjalan keluar ruangan.
......
Beberapa saat kemudian, dia kembali dan He Jiyue telah kembali normal.
Bibir mungil kemerahan gadis itu sedikit melengkung membentuk senyuman tipis. Kabut gelap di matanya yang tadinya bagaikan permata tertutup debu kini telah sirna sepenuhnya, memancarkan binar cemerlang bak gugusan bintang di alam semesta, begitu menyilaukan dan memikat pandangan.
"Sudah tidak apa-apa?"
Lin Chumo mengangkat alisnya.
Wajah cantik He Jiyue merona merah, tampak sedikit merasa malu.
Dia sendiri tidak menyangka bahwa dirinya sempat terkurung dalam pemikiran yang sempit tadi.
Mau bagaimana lagi, jika dihadapkan dengan urusan adiknya, wanita yang biasanya begitu tenang itu selalu kehilangan rasionalitasnya.
"Terima kasih."
Dia menundukkan kepala, suaranya berbisik pelan bagaikan dengungan nyamuk.
Hanya dengan membayangkan penampilannya yang tadi tampak seperti wanita gila yang menangis dan tertawa histeris disaksikan oleh pria itu, He Jiyue langsung ingin mencari lubang untuk bersembunyi.
Melihat He Jiyue yang merasa begitu canggung hingga ingin menggali lubang di lantai, Lin Chumo mengurungkan niatnya untuk terus menggoda wanita itu.
Alasan utamanya adalah jika wanita itu benar-benar marah, orang yang akan menderita tetaplah dirinya sendiri.
"Ehem, tidak apa-apa kok."
Dia mengusap hidungnya.
"Aku benar-benar berterima kasih atas bantuanmu, kalau bukan karena kamu..."
He Jiyue merasa dirinya harus bersikap lebih tulus.
Jika bukan karena Lin Chumo, tidak akan semudah itu baginya untuk menemukan sang adik.
"Sungguh tidak apa-apa."
"Aku benar-benar berterima kasih."
"Sudah kubilang tidak apa-apa!"
"Aku bilang terima kasih!"
"..."
Keduanya bersikap seperti kaset rusak, entah mengapa malah berdebat kusir.
Lalu...
Keheningan pun melingkupi ruang tamu tersebut!
Lin Chumo benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan suasana seperti ini.
"Begini ya, Yueyue, bisakah kamu tidak bersikap canggung seperti ini di depan 'kakak' ini? Kakakmu ini benar-benar tidak sanggup."
Sifatnya cenderung agak lincah dan hiperaktif, jadi jika diajak bersikap canggung dan kaku seperti itu, rasanya benar-benar menyiksa nyawa.
He Jiyue juga merasa kikuk dan salah tingkah.
"Baiklah, Adik kecil, tadi Kakakmu ini yang sedang tidak beres, makanya... sebaiknya kamu lupakan beberapa pemandangan yang tidak seharusnya kulihat tadi!"
He Jiyue memutuskan untuk berhenti bersikap kanggung dan langsung beralih mengancam Lin Chumo.
Mendengar itu, Lin Chumo mengeluarkan suara "ah" dan berkata, "Rasanya baru kali ini suasananya terasa pas kembali."
"Tolong singkirkan orang aneh sepertimu ini, menjauhlah dariku!"
He Jiyue bergidik jijik sambil menggeser posisi duduknya menjauh.
"Hehehe, tahu sendiri kalau aku ini orang aneh, tapi masih berani memprovokasiku ya?"
Lin Chumo tersenyum lebar layaknya seorang penjahat.
Di tengah gelak tawa dan canda gurau, suasana ruang tamu yang tadinya terasa begitu menyesakkan kini telah lenyap tanpa sisa.
Diselimuti oleh malam yang temaram, cahaya di dalam ruangan berpadu indah. Senyuman cerah He Jiyue bagaikan terik matahari di langit yang memancarkan vitalitas membara, seolah secara ajaib mampu menghapus segala keresahan di dalam hati seseorang!