Bab 16: Bubu Ikan Tanah
Halaman (1/3)
“Jadi kau ingin aku tidur dengan Chu Huaifeng?” Zhou Qing akhirnya memahami maksudnya dan tanpa sadar membelalakkan mata.
Qin Zhiyi menatapnya. “Kenapa? Kau tidak mau membantuku?”
“Ba, bagaimana mungkin, Sayang? Apa pun yang kau minta, pasti akan kulakukan,” jawab Zhou Qing tergesa-gesa. Tanpa sadar, ia teringat tubuh Chu Huaifeng hari itu dan hatinya pun mulai tergerak. Namun, karena khawatir Qin Zhiyi akan menghukumnya jika ia menyetujui terlalu cepat, ia sengaja berpura-pura ragu.
Qin Zhiyi tersenyum. “Tenang saja. Asalkan kau berhasil membantuku menyelesaikan urusan ini, aku pasti akan menyayangimu berlipat ganda mulai sekarang.”
Bagi Qin Zhiyi, perempuan hanyalah seperti pakaian. Bahkan istrinya sendiri tidak sebanding dengan benda pusaka legendaris milik Keluarga Chu, apalagi Zhou Qing bukanlah istrinya secara resmi. Jadi, apa yang perlu disayangkan?
Keesokan paginya, Chu Huaifeng terbangun dari tempat tidur. Baru saja hendak pergi membeli makanan, ia melihat Chen Yanshi turun dari mobil dengan penuh semangat sambil membawa sebuah bungkusan ke arahnya.
“Tuan Muda Chu, saya membawa sesuatu yang bagus untuk Anda lihat!” Nada suara Chen Yanshi dipenuhi kebanggaan dan kegembiraan.
Chu Huaifeng bertanya dengan penasaran, “Benda apa?”
“Lihat saja, nanti Anda akan tahu.” Chen Yanshi tersenyum, lalu menariknya ke sisi mobil. Ia meletakkan bungkusan itu di kap mobil dan membukanya.
Chu Huaifeng melirik sekilas. Ternyata benda yang dibungkus itu adalah sebuah patung Buddha emas.
Sejak zaman dahulu, benda-benda emas terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama seluruhnya, atau setidaknya sebagian besar bagiannya, dibuat dari emas murni dengan kadar emas tinggi. Jenis lainnya adalah benda yang hanya dilapisi emas.
Jenis pertama tentu jauh lebih mahal dari segi bahan, jumlahnya di pasaran juga lebih sedikit, sehingga nilainya pun secara alami lebih tinggi.
Patung Buddha emas yang diletakkan Chen Yanshi di atas mobil termasuk jenis kedua, yakni patung Buddha perunggu yang permukaannya dilapisi emas.
“Melihat gayanya, benda ini agak mirip peninggalan masa pemerintahan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming,” ujar Chu Huaifeng setelah mengamatinya.
Chen Yanshi segera tersenyum lebar. “Penglihatan Anda memang luar biasa, Tuan Muda Chu! Patung Buddha emas dari Kuil Dharma Kaisar Yongle ini sangat langka di pasaran. Selain itu, benda ini pernah diberkati oleh seorang guru besar pada masa Kaisar Yongle dari Dinasti Ming, sehingga dapat dijadikan pusaka fengsui untuk menangkal pengaruh buruk dan menjaga kediaman. Karena itulah harganya semakin mahal. Menurut harga di kalangan kolektor, setidaknya lebih dari sepuluh juta, bukan?”
Patung Buddha dari masa Kaisar Yongle memang berbeda dari patung-patung pada dinasti lainnya. Sebagian besar telah diberkati oleh guru-guru besar. Bahkan, beberapa di antaranya dibuat atas perintah langsung Kaisar Yongle, sehingga makna yang dikandungnya pun jauh lebih mendalam dan istimewa.
Karena itu, di dunia koleksi, patung Buddha dari masa Kaisar Yongle bukan sekadar barang antik, melainkan juga pusaka fengsui yang dipercaya dapat membawa keberuntungan bagi keluarga. Begitu muncul di pasaran, benda semacam itu hampir selalu dibeli oleh orang-orang kaya.
Berdasarkan harga di kalangan kolektor dalam beberapa tahun terakhir, jika benar-benar asli, harganya memang paling sedikit sepuluh juta.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Namun, hanya dengan sekali melihat, Chu Huaifeng sudah menyadari bahwa benda itu palsu.
“Tuan Muda Chu, coba tebak berapa saya membelinya?”
“Berapa?” tanya Chu Huaifeng.
Chen Yanshi tersenyum dengan bangga. “Sedikit di atas enam juta saja. Kalau saya jual kembali, paling tidak saya bisa mendapat keuntungan dua kali lipat! Hahaha!”
Melihatnya begitu gembira, Chu Huaifeng sempat ragu apakah sebaiknya ia mengatakan yang sebenarnya.
Namun, Chen Yanshi berkata, “Tuan Muda Chu, mohon periksa benda ini. Dengan reputasi Keluarga Chu di dunia barang antik, kalau Anda memberikan penilaian dan mungkin menerbitkan semacam sertifikat, benda ini pasti akan lebih mudah dijual.”
“Kurasa aku tidak bisa membantu dalam hal itu.” Chu Huaifeng menggelengkan kepala. Ia terpaksa berterus terang. “Bos Chen, benda ini tidak asli.”
“Apa? Patung Buddha emas saya tidak asli?” Wajah Chen Yanshi mendadak berubah. Ia bertanya dengan kaget, “Tidak mungkin, kan?”
“Memang tidak asli.” Chu Huaifeng mengangkat patung itu. “Meskipun tiruannya sangat bagus dan pengerjaannya juga cukup rapi, bagian dasarnya terlalu halus. Tidak tampak seperti hasil teknik pada zaman Dinasti Ming. Sebaliknya, benda ini lebih menyerupai teknik dari zaman modern, dibuat menggunakan cetakan silikon.”
“Coba kau sentuh sendiri. Terlalu licin, bukan?”
“Kalau Tuan Muda Chu berkata demikian, berarti benda saya ini pasti barang palsu.” Tanpa perlu menyentuh bagian dasar patung itu, wajah Chen Yanshi sudah pucat pasi.
Ia telah berurusan dengan Chu Huaifeng selama bertahun-tahun. Dahulu, ketika Chu Xiaofeng masih hidup, ayah dan anak itu sering mengunjungi Menara Pemetik Bintang miliknya. Chen Yanshi sangat memahami karakter mereka.
Jika Chu Huaifeng sudah mengatakan demikian, benda itu pasti bermasalah. “Namun, seharusnya tidak begitu.”
“Kenapa seharusnya tidak begitu?” Chu Huaifeng meletakkan patung Buddha itu dan bertanya.
Chen Yanshi menjawab, “Orang yang menjual benda ini kepada saya adalah sepupu dari sahabat dekat saya di kampung halaman. Kemarin, saya mengemudi semalaman ke desa untuk membeli benda ini. Saya juga sudah bertanya kepada orang-orang di sekitar sana. Sepupunya memang penduduk desa asli, dan benda ini sudah dipajang di rumah mereka selama tujuh atau delapan tahun. Semua tetangga mengetahuinya.”
“Kalau benda ini palsu, bukankah berarti sejak tujuh atau delapan tahun lalu benda ini sudah palsu? Itu tidak masuk akal, bukan?”
“Kau telah dijebak.” Setelah mendengar penjelasannya, mata Chu Huaifeng langsung menyipit.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Tidak mungkin!”
Chen Yanshi terkejut. “Siapa yang mampu menyuap begitu banyak penduduk desa yang sederhana untuk bersama-sama menjebak saya?”
“Tidak perlu menyuap semua penduduk desa. Cukup menyuap sepupu dari sahabat dekatmu itu.” Chu Huaifeng menggelengkan kepala, nadanya terdengar berat.
Pada masa lampau, ada berbagai macam penipu kejam yang mampu membunuh tanpa menumpahkan darah. Salah satu jenisnya dikenal sebagai pembuat perangkap desa.
Sebelum menjalankan aksinya, mereka akan memilih sebuah desa untuk ditinggali. Mereka tidak terburu-buru, melainkan hidup di sana selama tujuh atau delapan tahun, bahkan lebih lama, seolah-olah telah benar-benar menyatu dengan desa tersebut. Dengan begitu, segala jejak kehidupan yang wajar pun terbentuk secara alami.
Setelah itu, mereka tinggal menunggu mangsa masuk ke perangkap.
Ketika korban akhirnya menyadari bahwa dirinya telah ditipu, lalu kembali untuk mencari pelakunya, para penipu itu sudah lama menghilang tanpa jejak.
Bahkan untuk menangis pun tidak ada tempatnya!
Chu Huaifeng berkata, “Bos Chen, kalau kau tidak percaya, sekarang juga hubungi sepupu sahabat dekatmu itu. Lihat apakah kau masih bisa menghubunginya.”
“Baik, akan kucoba.” Wajah Chen Yanshi memucat. Ia segera mengeluarkan ponsel dan menelepon. Namun, yang terdengar hanya pemberitahuan bahwa nomor yang dihubunginya sudah tidak terdaftar dan ia diminta memeriksa kembali nomor tersebut sebelum menelepon ulang.
“Nomornya sudah tidak terdaftar!”
Keringat panas mulai membasahi wajahnya. Dengan ekspresi tak percaya, ia berkata, “Tadi malam kami masih berbicara menggunakan nomor ini.”
“Nomor itu pasti sudah dinonaktifkan. Mereka takut kau melacak jejak mereka melalui nomor telepon tersebut. Setelah selesai menipumu, mereka akan pergi menyiapkan perangkap desa berikutnya. Kalau ingin bertemu mereka lagi, mungkin kau harus menunggu tujuh atau delapan tahun,” ujar Chu Huaifeng sambil menghela napas.
Biasanya, orang-orang yang memasang perangkap semacam itu akan memilih desa-desa yang relatif terbelakang dalam hal informasi. Pertama, penduduk di sana kurang mengetahui banyak hal sehingga lebih mudah dibohongi. Kedua, mereka takut musuh atau orang yang pernah menjadi korban akan mendatangi mereka, yang tentu akan menyulitkan kelangsungan penipuan.
Tiba-tiba, Chen Yanshi berseru dengan gembira, “Tuan Muda Chu, telepon sahabat dekat saya ternyata bisa tersambung!”
Halaman (3/3)