Bab 106: Ayo, Lanjutkan Pertunjukan Kalian!
Di kejauhan, Serigala Darah Hiu Besar, yang tadinya mengira akan berhasil menjebak Lin Fei, kini benar-benar terpaku kebingungan. Begitu pula dengan anak buahnya, karena arah perkembangan situasi ini tampaknya sangat berbeda dengan skenario yang telah mereka susun sebelumnya.
"Gawat, gawat, kita kena tipu! Kau masih bengong saja, cepat suruh mereka berhenti membeli!" Serigala Darah Hiu Besar merasa dadanya sesak, hampir saja memuntahkan darah.
Namun, semua sudah terlambat.
"Lalu, bagaimana dengan sepuluh koin perakku?!" Serigala Darah Hiu Besar menarik kerah baju anak buahnya dengan emosi yang meluap-luap.
"Semua... sudah..." Anak buah itu tidak berani bersuara lantang, karena dialah yang dulunya menghasut Serigala Darah Hiu Besar. Jika bukan karenanya, kejadian ini tidak mungkin terjadi.
"Semua, semua apa?!" Serigala Darah Hiu Besar benar-benar murka.
"Semuanya... sudah ditukar menjadi Baju Kain Pemula." Meski terbata-bata, anak buah itu akhirnya mengaku. Ia sendiri juga menderita kerugian besar karena mengira bisa mengeruk untung dari selisih harga dengan menjebak Lin Fei.
"Sialan, aku sudah menduganya! Pasti akan ada masalah. Ah, andai saja aku mendengarkan kata-kata Kak Serigala Darah untuk tidak memancing anak itu. Sekarang lihatlah, semalaman aku tidak untung sepeser pun, malah rugi ratusan koin."
Anak buahnya mencoba menghibur, "Kak Hiu, sebenarnya kita masih mending. Kudengar tadi ada kelompok pedagang yang memborong empat sampai lima ratus potong sekaligus, sekarang mereka rugi lima sampai enam ribu koin."
"Itu karena aku hanya punya beberapa ratus koin! Kalau tidak, aku pasti sudah rugi total. Ini rasanya seperti bermain saham saja," keluh Serigala Darah Hiu Besar, sudah tak sanggup lagi berkata-kata.
"Benar, benar, Kak Hiu benar. Oh iya, bagaimana dengan Baju Kain Pemula yang kita beli tadi? Motor Brutal tadi mengirim pesan pribadi, katanya tas miliknya dan anak buahnya sudah penuh. Kalau tidak segera dikosongkan, mereka tidak bisa berburu monster. Dia menyuruhku menanyakan keputusanmu."
Serigala Darah Hiu Besar berpikir sejenak, lalu menggertakkan gigi dan menjawab, "Buang saja semuanya ke toko NPC! Apa pun yang terjadi, jangan sampai anak itu diuntungkan!"
"Tapi, kalau dijual ke toko hanya dihargai satu tembaga."
"Kalau begitu, tetap saja itu menguntungkan anak itu."
"..." Anak buahnya terdiam seribu bahasa.
"Sial, benar-benar rugi bandar! Jangan-jangan anak itu adalah pembawa sial bagiku?" Serigala Darah Hiu Besar memasang wajah masam, hampir menangis. Mengapa hari ini segalanya terasa tidak lancar? Bahkan di balik layar pun ia bisa dikenali orang, sungguh luar biasa.
"Kak Hiu, di kampung kami ada cara tradisional untuk mengusir sial, apa Kakak mau..."
"Mau nenekmu! Sebaiknya kau tutup mulut dan enyah dari hadapanku sekarang! Tadi kau sudah membuatku rugi ratusan, sekarang masih mau membuatku celaka lagi? Cepat pergi!!!"
Kembali ke posisi Lin Fei. Sekelompok pedagang kini sedang mengerumuninya.
"Kak Fei, aku jual setengah harga saja. Tadi aku membelinya seharga 18 tembaga, sekarang aku jual 9 tembaga saja. Tolonglah, beli semuanya. Aku punya orang tua dan anak yang harus diberi makan," rayu salah satu pedagang.
"Punya orang tua dan anak? Tapi kau sanggup membeli perangkat gim seharga puluhan ribu? Bagaimana kalau begini saja, helm gim milikmu itu, aku beli seharga lima ribu," balas Lin Fei. Dalam hatinya, ia mencibir, tadi mencoba memerasnya, sekarang masih berani berakting di depannya? Memangnya dia sebodoh itu?
Mendengar balasan tersebut, pedagang itu terdiam. Pemain yang bisa memainkan Dunia Online umumnya memiliki sedikit kelebihan uang.
"Lima koin tembaga per potong. Mau jual silakan, tidak mau silakan pergi." Lin Fei menetapkan harga beli sesuai harga awal, yang sebenarnya sudah merupakan bentuk toleransi. Jika tidak, lima tembaga? Heh, mungkin hanya dua tembaga, terserah mereka mau atau tidak.
Hasilnya, orang-orang ini justru enggan menjual. Bukan hanya itu, mereka malah semakin menjadi-jadi, terus mencoba memeras Lin Fei dengan dalih kemiskinan. Yang lebih konyol lagi, ada yang menuduh bahwa ini adalah jebakan yang sudah disiapkan Lin Fei untuk menipu uang mereka. Sekumpulan orang bodoh ini membuat Lin Fei malas meladeni mereka.
"Kak Fei, lima tembaga ya? Baiklah, aku jual! Ayo cepat, transaksi sekarang, segera lepaskan barang-barang ini. Tas ini benar-benar penuh dan membuatku kesal melihatnya."
Akhirnya ada yang bersedia menjual, dan orang itu tak lain adalah anak buah Serigala Darah Hiu Besar. Awalnya mereka yang memulai keributan, dan pada akhirnya mereka pula yang harus mengakhiri dengan kerugian.
Setelah melihat ada yang berhasil mengosongkan tas, yang lain segera ikut menjual barang mereka.
"Sial, lebih dari dua ratus potong!" Saat transaksi berlangsung, Lin Fei akhirnya mengerti mengapa mereka begitu terburu-buru; ternyata stok barang mereka terlalu banyak.
Jika dihitung rugi lima koin per potong, maka untuk dua ratus potong, mereka rugi seribu koin. Setelah melihat sekeliling, ada sekitar dua puluh hingga tiga puluh pedagang yang menunggu transaksi dengan Lin Fei, yang berarti ada puluhan ribu koin barang yang tertimbun.
Kini, jika mereka semua berkumpul di atap gedung, mungkin sudah cukup untuk membuka enam atau tujuh meja mahyong.
Setelah itu, agar mereka lebih jera dan ingatannya lebih mendalam, Lin Fei menghentikan transaksi setelah menerima gelombang kedua sebanyak dua ratus potong. Ia mengubah nama kiosnya menjadi: "Membeli dengan harga empat koin tembaga, mau jual atau tidak, terserah."
"Kak Fei, jangan keterlaluan. Berikan sedikit ruang agar kita masih bisa bertemu di masa depan," protes seorang pedagang dengan marah karena Lin Fei menurunkan harga.
"Memberi ruang?" Lin Fei tertawa terbahak-bahak, lalu membalas, "Saat kau berniat memeras orang lain, apakah kau pernah terpikir untuk memberi ruang?"
Pedagang itu ingin membantah, tetapi Lin Fei sudah memotongnya, "Tanyakan pada hati nuranimu sendiri sebelum bicara padaku. Dan jangan bilang kau tidak punya hati nurani!"
Bersamaan dengan itu, Lin Fei menurunkan harga beli dari empat tembaga menjadi tiga tembaga. "Ayo, silakan lanjutkan pertunjukan kalian."
Lin Fei berpikir, ingin bermain? Boleh, mari kita bermain perlahan. Lagipula, ini bisa menghibur para penonton di siaran langsungnya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
"Kak Fei luar biasa!"
"Efek acaranya meledak, rasanya seperti menonton film, penuh kejutan."
"Benar, awalnya kukira Kak Fei yang akan rugi besar, ternyata dia malah membalas dengan telak. Puas sekali melihatnya."
"Tadi juga begitu, kukira dia akan dijebak, ternyata semua ini adalah skenario yang dia rancang sendiri. Jumlah penontonnya melonjak hingga puluhan ribu."