Bab 94 Langsung Menjadi Kaisar!

Kelahiran Kembali Sang Ahli Strategi Ji Sembilan Satu 2413kata 2026-02-09 22:48:27

Hal itu membuat Lin Fei merasa sangat canggung, namun akhirnya ia tetap berkata jujur, “Maaf banget, Sob. Aku memang sedang bersiap-siap belajar profesi sampingan, dan sisa satu keping emas lebih itu mau kupakai untuk membeli bahan-bahan produksi. Ngomong-ngomong, kamu kok lagi borong emas, emangnya mau dipakai buat apa?”

Lin Fei balik bertanya.

Tuan Muda Wei pun juga menjawab terus terang, “Aku mau belajar profesi pandai besi, sebelumnya aku dapat satu lembar…”

Mungkin karena levelnya belum cukup, jumlah karakter yang bisa dikirimnya terbatas, jadi beberapa kata berikutnya tak bisa ia tuliskan.

“Sialan, apaan nih maksudnya, kok malah dibatasi begini?” Tuan Muda Wei pun meluapkan kekesalannya di layar obrolan umum.

Penonton dan para pengunjung pun langsung menyulut suasana.

“Sultan buka status Bangsawan, lalu gas pol lawan Douyu!”

“Buka status Kaisar, langsung bikin moderator jongkok!”

Akhirnya, benar-benar terjadi. Sebuah spanduk besar iklan langsung melayang di bagian paling atas seluruh kanal ruang Douyu.

Seluruh platform memberi notifikasi: Tuan Muda Wei di ruang siaran langsung Sang Ahli Strategi telah membuka status Kaisar. Ayo, semua segera datang dan hormati dia!

“Kak, tadi aku memang mau nambah kamu jadi teman, nggak perlu sampai keluar duit segitu banyak juga.” Lin Fei yang sudah membuka daftar teman dan hendak menambah Tuan Muda Wei, langsung terdiam karena notifikasi itu.

Tuan Muda Wei hanya membalas singkat di kolom komentar, “Cuma receh.”

Sementara para pengunjung ruang siaran langsung pun kompak membanjiri layar dengan tulisan, “Bos memang luar biasa!”

“Kalau begitu, terima kasih banyak buat roket dan status Kaisarnya, Wei Hao.” Untung saja Lin Fei tahu latar belakang orang ini, kalau tidak, pasti ia sudah mengira yang bersangkutan sudah gila. Dua belas juta, dan itu pun hanya untuk status selama sebulan.

Tak bisa dipungkiri, orang ini memang layak jadi salah satu dari seratus sultan game di kehidupan sebelumnya. Sekarang Lin Fei benar-benar terkesima.

“Wei Hao, kita... kita... tambah teman dulu, ya.” Suara Lin Fei sampai gemetar, karena semua ini benar-benar di luar dugaan, langsung buka status Kaisar dua belas juta. Setelah itu, Lin Fei pun mengajukan permohonan teman, toh demi melayani bos juga.

Kolom komentar pun langsung dipenuhi nada mencemooh.

Mereka mengolok Lin Fei yang tak biasa melihat hal sebesar ini, baru lihat status Kaisar saja sudah langsung linglung.

Memang, Lin Fei belum pernah melihat pemandangan sebesar itu, apalagi uang belasan juta, makin tak pernah ia lihat. Sekarang kejadian seperti ini datang mendadak, ia benar-benar kaget setengah mati.

“Ding!” Notifikasi dalam game: Pemain Tuan Muda Wei telah menerima permintaan pertemanan Anda.

“Ding!” Pemain Tuan Muda Wei kini menjadi teman Anda.

“Wei Hao, kamu benar-benar terlalu baik.” Lin Fei langsung mengucapkan terima kasih.

Sebaliknya, Wei Hao agak menohok, “Aku cuma nggak suka sama batasan itu.” Artinya, bukan sengaja buat Lin Fei, ia beli status Kaisar tadi.

Hal itu membuat Lin Fei agak canggung, untung saja Lin Fei menutup chat pribadi, kalau tidak pasti sudah jadi bahan olok-olok di komentar.

“Kalau begitu, sekarang aku undang kamu masuk tim, nanti bicara saja langsung pakai suara tim.” Untuk mengalihkan suasana canggung, Lin Fei pun mengalihkan pembicaraan ke urusan utama.

“Ding!” Pemain Tuan Muda Wei telah bergabung dengan tim Anda.

“Gila, beneran level sepuluh, Bang Fei, gimana caranya naik level secepat itu?” Walaupun sudah ada di papan peringkat, tapi setelah melihat sendiri, Tuan Muda Wei tetap saja kaget. Dibandingkan Lin Fei, level delapannya yang ia anggap sudah hebat, tetap saja kalah jauh.

Sebenarnya, kalau tidak ada batasan level dan tidak pulang kota berkali-kali, level Lin Fei sekarang setidaknya sudah tiga belas.

“Soal itu... Ah, sudahlah, aku beritahu saja, tapi kamu harus rahasiakan.” Lalu Lin Fei menulis lewat chat pribadi kepada Tuan Muda Wei, “Solo dungeon.”

Setelah melihat itu, ekspresi Tuan Muda Wei makin terkejut.

“Gila, solo dungeon! Bang Fei, kamu benar-benar luar biasa.” Namun, ia juga punya satu pertanyaan. Kalau Lin Fei sudah solo dungeon Sarang Laba-laba, kenapa tidak muncul pengumuman kill pertama dunia?

“Dungeon ada tiga tingkat kesulitan, harus bunuh boss terakhir di tingkat Nightmare baru dihitung kill pertama dunia.”

Lin Fei menjelaskan.

“Oh begitu, terus Bang Fei sekarang?”

“Sekarang baru bisa solo tingkat sulit.” Lin Fei pun tidak menutupi.

Tuan Muda Wei sampai menelan ludah berkali-kali. Walaupun dia tak bisa masuk dungeon karena habis stamina, tapi di beberapa platform streaming, sudah ada pemain yang siaran langsung mencoba dungeon Sarang Laba-laba. Namun, belum sepuluh langkah, mereka sudah disergap laba-laba yang bersembunyi dalam gelap, akhirnya wipe satu tim.

“Katanya dalam dungeon itu gelap total, pemain tak tahu di mana monster. Bang Fei, gimana kamu mengatasinya?” Tuan Muda Wei bertanya penasaran.

Namun ia segera sadar sudah bertanya terlalu banyak, karena ini kunci untuk menyelesaikan dungeon itu.

Jadi, ia buru-buru menambahkan, “Bang Fei, jangan salah paham, aku cuma penasaran saja.”

“Nggak apa-apa, semua orang pasti penasaran. Tapi sekarang aku belum bisa beritahu, bukan karena aku takut kamu bocorin, aku tahu kamu nggak kekurangan uang, cuma... ya begitulah.” Lin Fei sendiri juga bingung mau menjelaskannya bagaimana.

Tuan Muda Wei pun mengerti.

Namun Lin Fei juga tak mau terlalu kaku, toh orang ini sudah kasih roket dan status Kaisar, kalau terlalu pelit juga tak baik.

Jadi, Lin Fei pun berkata, “Nanti, kalau ada kill pertama dunia di Sarang Laba-laba, aku bisa bawa kamu satu slot, gimana?”

“Serius!!!!” Tuan Muda Wei girangnya bukan main. Di saat yang sama, di bagian atas ruang siaran Lin Fei, langsung muncul hujan roket.

Notifikasi ruang siaran: Tuan Muda Wei mengirim satu roket untuk Anda.

Notifikasi ruang siaran: Tuan Muda Wei mengirim roket x2.

Lalu x3, x4… tak tahu sudah berapa banyak, pokoknya notifikasi terus bermunculan.

Akhirnya di kolom chat, Tuan Muda Wei menulis, “Tanganku sampai pegal, nanti aku lanjut lagi.”

“Padahal bisa sekali klik buat kirim banyak, lho…”

“Kenapa nggak bilang dari tadi!”

Di dalam ruang siaran.

“Sial, apa aku tuli? Kok siaran nggak ada suara?”

“Gambarnya juga nge-freeze, tadi aku refresh bolak-balik, ternyata masalahnya dari siaran Bang Fei.”

“Nyaris saja aku banting Nokiamu.”

“Aku yang pakai ponsel jadul juga protes.”

Setelah menyambungkan kembali siaran, Lin Fei berkata, “Barusan jaringan ngadat, sekarang sudah lancar.”

“Sial, ternyata memang masalah di ruang siaran, tadi hampir saja tombol F5-nya patah aku tekan-tekan.”

“Aku hampir saja banting Nokia-ku.”

“Aku yang pakai ponsel jadul juga nggak terima.”

Setelah siaran kembali normal, Lin Fei menanyakan soal yang tadi, “Wei Hao, lanjutkan ceritamu tadi.”