Bab 74: Pacar Tampan, Baik Hati, dan Ahli dalam Segala Hal
“Tuan Muda...”
Begitu Fu Lanchuan masuk ke dalam rumah, Lu Zhi yang bersembunyi di balik pintu masuk langsung melompat ke pelukannya.
Fu Lanchuan dengan sigap menangkap tubuhnya.
Ia menyeret Lu Zhi yang masih duduk di pinggangnya menuju ruang tamu.
“Manja sekali...”
“Itu karena Tuan Muda selalu memanjakanku, kan?” Lu Zhi memiringkan kepala menatapnya, kakinya yang melingkar di pinggang Fu Lanchuan bergoyang-goyang manja.
Tingkahnya jelas-jelas sedang ingin berbuat nakal.
Fu Lanchuan mengetuk hidungnya, “Jangan cari gara-gara...”
“Aku mana cari gara-gara?” Lu Zhi tak mau mengaku.
“Itu namanya bumbu cinta, masa punya pacar ganteng, baik hati, dan jago segalanya, aku tidak tergoda? Nggak masuk akal, kan?” Ujung-ujung jari Lu Zhi yang lentik perlahan membuka kancing kemeja Fu Lanchuan.
Awalnya dua kancing atas memang sudah tidak dikancingkan, memberi kesan santai di rumah, tapi setelah Lu Zhi membukanya, suasananya jadi berubah agak liar.
“Sudahlah...” Fu Lanchuan memegang tangannya yang hendak melanjutkan aksi.
“Tuan Muda?” Lu Zhi mengedipkan matanya menatap Fu Lanchuan.
“Kamu sedang hari kedua menstruasi, yakin masih mau goda aku?”
“Yakin.” Lu Zhi mengangguk serius.
Fu Lanchuan tersenyum tipis, dengan tampang licik seperti rubah tua yang lihai di dunia bisnis, ia melepaskan tangan Lu Zhi, “Kalau begitu, lanjutkan saja...”
Lu Zhi: ...
Hmph, sudahlah.
Ia hanya iseng, ingin menggodanya saja, kalau benar-benar keterusan, yang lagi datang bulan kan dia juga! Bisa-bisa tambah sengsara!
“Pergi mandi.”
“Tuan Muda, gendong aku ke kamar mandi.”
Lu Zhi masuk ke kamar mandi, Fu Lanchuan sudah menyiapkan piyama untuknya, memperlakukannya seperti anak kecil. Setelah selesai mandi, Lu Zhi keluar dengan masker masih menempel di wajah, membuka pintu kamar tidur dan melihat lampu ruang kerja sebelah masih menyala.
Ia tidak mau mengganggu, malah memilih meringkuk di kursi kamar sambil memainkan ponselnya.
“Sudah lihat Weibo?”
“Lu Xin menyatakan cintanya ke Song Zhibei sampai diumbar di Weibo.”
Mu Wen berkata sambil mengirimkan tangkapan layar.
Oh begitu!
Lu Zhi membuka kolom komentar Weibo, isinya penuh pujian untuk pasangan tampan dan cantik. Aksi Lu Xin yang begitu terbuka ini memang cukup menarik.
Mu Wen: “Ngapain? Jawab dong.”
Lu Zhi: “Lagi cari buzzer, tunggu sebentar.”
Mu Wen: “Mau apa lagi kamu?”
Lu Zhi melirik ponsel, lalu menerima telepon dari Zhao Fang. Di seberang, terdengar suara sikat gigi elektrik berdengung kencang, seakan tak takut giginya putus.
“Dari mana kamu tahu Lu Xin menghamburkan sepuluh juta demi menarik perhatian?”
“Soalnya uang sepuluh juta itu dilempar ke kepalaku,” Lu Zhi menyentuh masker di wajahnya.
Zhao Fang: ...“Kamu ngapain sampai orang mau lempar uang segitu ke kamu? Kenapa nggak ngajak aku juga?”
“Kalau ada yang mau lempar uang ke kamu, terima saja, kenapa malah nggak senang?”
Zhao Fang mematikan sikat gigi elektrik, mencuci tangan, dan mulai bicara serius.
“Main jangka panjang, pancing ikan besar! Udah, jangan nanya lagi, sebarkan saja berita Lu Xin keluar uang sepuluh juta itu.”
Lu Jingshan memang selalu rendah hati, apalagi dulu sempat berbuat kesalahan, harus menebusnya. Sudah bawa selingkuhan jadi istri, kalau tidak hati-hati, bisa-bisa tenggelam di omongan orang-orang kaya.
Lu Xin suka cari perhatian? Biar saja sekalian diantar sampai ujung.
Setengah jam kemudian, arus pemberitaan pun berubah.
“Putri kedua keluar uang sepuluh juta buat menarik hati pria, di mana putri kedua itu? Jangan-jangan malah nggak diurus bapaknya?”
“Gosip keluarga kaya memang seru!”
“Siapa tahu itu uang pacarnya?”
“Oh! Bukannya lebih lucu? Pakai uang cowok buat menarik hati cowok? Mau nikah ke atas kelas sosial ya?”
...
Di suite hotel, Lu Xin manja bersandar di pelukan Song Zhibei, jarinya bermain-main di tulang selangka pria itu.
Manjanya sampai bisa diperas airnya.
“Capek nggak?” Song Zhibei bertanya lembut.
Lu Xin menggeleng, “Nggak capek.”
Song Zhibei mengecup keningnya, “Ayo, aku antar pulang.”
“Nggak mau pulang, mau sama kamu.”
“Bodoh, nurut ya,” Song Zhibei setiap selesai tidur dengan Lu Xin, tak pernah mau menginap di luar. Selama masih di Kota Jiang, berapa pun larutnya malam pasti mengantar pulang.
Dulu Lu Xin mengira itu sikap kesatria, lama-lama rasanya hambar juga.
“Aku... tunggu sebentar,” Lu Xin baru saja bangkit hendak bicara, ponselnya berdering.
“Xin, kamu di mana? Ayahmu nyuruh kamu pulang, sebelum sampai rumah cek dulu Weibo.”
Jantung Lu Xin mencelos, ia buru-buru membuka Weibo.
“Putri keluarga kaya hamburkan sepuluh juta demi menyenangkan pacar.”
Lu Xin: ... Astaga!
Setengah jam kemudian.
Begitu sampai rumah, Lu Xin melihat ayahnya, Lu Jingshan, duduk di ruang tamu dengan wajah muram, memegang tablet sambil menonton berita.
“Ayah...”
“Sectretaris Zhang...”
“Direktur Lu, urusan perusahaan bagaimana?” Sekretaris Zhang melirik Lu Jingshan, tak ingin ikut campur urusan keluarga.
“Urus saja, berita sudah ditarik?”
“Belum, bagian berita itu dikuasai keluarga Fu, Presiden Fu Grup orangnya sangat prosedural, susah untuk urus begitu saja...”
“Kurang bayar?” tanya Lu Jingshan.
“Mungkin,” jawab sekretaris Zhang agak ragu.
Delapan ratus ribu untuk satu trending topic, jelas tak sebanding. Apalagi anakmu saja berani keluar sepuluh juta demi pria, dibandingkan pemasukan trending topic, jumlah segitu memang terlalu kecil.
“Tambah uangnya, cepat tarik beritanya!”
Begitu sekretaris Zhang keluar, Lu Jingshan melempar tabletnya ke sofa, “Lihat, apa yang sudah kamu lakukan.”
“Sepuluh juta dihamburkan?” Pandangan Lu Jingshan beralih ke Ming Ruan, “Itu uang dari kamu?”
Walau Lu Xin tidak kekurangan uang, tapi untuk keluar sepuluh juta seenaknya tetap sulit.
Ming Ruan juga tegang, menatap Lu Jingshan tanpa berani bersuara.
“Baik, baik, mulai sekarang uang jajan kalian berdua dipotong.”
Setelah berita Lu Xin menghamburkan sepuluh juta tersebar, orang-orang langsung mengaitkan ke Lu Jingshan. Kebetulan perusahaan keluarga Lu baru menyelesaikan satu proyek, tapi pembayaran belum cair juga, orang-orang mulai ribut di Weibo.
Putrinya kapitalis keluar uang sepuluh juta buat cowok, tapi bapaknya sendiri tiga ratus ribu pembayaran proyek saja masih ditahan, mana keadilan dan hukum?
Lu Jingshan hampir dibuat gila oleh dua orang itu.
Begitu Lu Jingshan pergi, Ming Ruan langsung menarik Lu Xin, “Katanya harus rendah hati? Kok malah begini hasilnya?”
“Cuma ada Zhibei dan Wu Ran, orang Qingfeng TV nggak mungkin mengkhianatiku, kan?”
“Cari tahu, siapa yang main di belakang ini.”
...
“Lagi lihat apa sih? Kok senang banget?”
Lu Zhi menurunkan ponsel, memeluk leher Fu Lanchuan, berlutut di sofa, “Berita gosip kacau.”
“Seru?”
“Seru banget,” Lu Zhi mengangguk antusias.
“Kamu memang biang gosip,” Fu Lanchuan mengusap ujung hidungnya.
Lu Zhi tertawa, menghindar manja.