Bab Delapan: Penguatan Tubuh
Ramuan cair untuk menempa tubuh ini, bahkan bisa digunakan oleh mereka yang bukan seorang petarung.
Xiao Yan bukanlah anak bodoh. Meski ia tidak tahu berapa tingkat ramuan ini jika dilelang di Balai Lelang Mittel, namun ia yakin nilainya pasti sangat tinggi. Jika tidak memiliki puluhan ribu koin emas, mustahil bisa mendapatkannya... Bahkan itu pun dalam situasi di mana uang tak selalu bisa membelinya.
Xiao Yan terdiam sejenak, lalu dengan penuh hormat mengepalkan tangannya kepada Yuan dan berkata, “Kebaikan Nona Yuan hari ini, Xiao Yan takkan pernah melupakannya.”
“...Hmph.”
Namun bagi Yuan, mendengar janji seorang pemuda yang bahkan belum mencapai tingkat petarung—hanya berada di tingkat tiga energi tempur—adalah hal yang wajar untuk dipandang remeh.
“Tunggu sampai kau melampaui aku, baru ucapkan kata-kata itu lagi.”
Xiao Yan pun mengerti, kemungkinan besar Nona Yuan memang tak terlalu peduli dengan janjinya, jadi tak perlu banyak bicara. Ia hanya diam-diam menyimpan kebaikan itu dalam hati.
Setelah berpamitan, Xiao Yan pun segera kembali ke kamarnya, menggenggam erat botol giok mungil di tangan.
Dia juga tidak mungkin mengabaikan peringatan dari Yuan. Walaupun ia pernah menjadi seorang petarung, kekuatan tubuhnya sebenarnya masih sama seperti orang biasa. Xiao Yan juga tidak cukup sombong untuk langsung menggunakan seluruh isi botol ramuan itu sekaligus.
Sesudah merebus air untuk mandi, Xiao Yan membuka botol giok kecil itu di dalam bak mandi kayu.
Begitu tutup botol dibuka, aroma obat yang lembut, yang pernah ia cium di kamar tamu Nona Yuan, langsung menyusup ke hidungnya. Aromanya lembut, tak menusuk, mengalir seperti angin sepoi-sepoi, samar namun nyata. Sebelum benar-benar terbiasa dengan aroma itu, wanginya perlahan memudar ketika ramuan dituangkan ke dalam bak, seakan menyatu dengan uap air yang mengepul.
Melihat cairan dalam bak sudah cukup, Xiao Yan pun menutup kembali botol giok itu.
Cahaya matahari yang hangat menembus celah jendela, menebarkan bintik-bintik cahaya di kamar yang rapi.
Xiao Yan melepaskan setiap helai pakaian, menggantungkannya dengan rapi di samping, lalu perlahan duduk di dalam bak mandi, menutup mata, mengatur napas, dan masuk ke dalam keadaan berlatih.
Dada Xiao Yan naik turun perlahan, napasnya teratur. Seiring waktu berlalu, air berwarna hijau muda di bak kayu mulai mengeluarkan aliran tipis-tipis, sedikit berwarna hijau, naik perlahan, dan akhirnya mengikuti napas pemuda itu, masuk ke dalam tubuhnya.
Aliran itu terasa seperti air, namun juga setajam jarum halus, menusuk kulit, langsung menembus hingga ke meridian di bawah daging.
“Hoo—”
Xiao Yan memejamkan mata rapat-rapat, namun tetap saja alisnya berkerut tanpa sadar. Ia jelas merasakan energi tempur yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Dibandingkan dengan upayanya sendiri dalam mengendalikan energi tempur, ramuan penempa tubuh ini jelas mampu menembus setiap sudut tubuh, memperluas meridian, dan menyatu dengan darah dan tulang.
Namun, perubahan seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa dijalani dengan mudah oleh Xiao Yan.
Awalnya hanya seperti rasa nyeri semu, namun dengan cepat berubah menjadi sensasi tertusuk jarum. Setelah beberapa saat, keringat dan kotoran tubuh mengalir keluar, hingga akhirnya pemuda itu menghela napas berat dan kerutan di keningnya perlahan mengendur.
Begitu membuka mata kembali, ia mendapati air mandi yang tadinya jernih sudah kehilangan warnanya.
Xiao Yan merentangkan tubuh, menikmati sensasi lega setelah tahap awal penempaan. Ia juga terkejut menemukan bahwa dengan meridian yang lebih terbuka, kecepatan menyerap energi tempurnya pun meningkat.
Sayangnya...
Andai saja ia tidak memiliki kelainan aneh yang membuatnya tak bisa mengumpulkan energi tempur...
Memikirkan hal ini, ia merasa sedikit tak rela. Setelah mengeringkan tubuh, Xiao Yan mengenakan pakaian bersih lalu duduk bersila, menenangkan diri, dan kembali berlatih dengan tekad yang baru, meskipun telah mengalami berkali-kali kegagalan dan kekecewaan.
Waktu berlalu dalam latihan yang menguras tenaga dan melupakan waktu. Sinar matahari di luar jendela perlahan meredup, suhu yang panas pun turut menurun.
Hingga malam tiba, Xiao Yan perlahan membuka mata, rona kecewa melintas di mata hitamnya.
Energi tempur di dalam tubuhnya tetap tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan...
Meski telah memanfaatkan ramuan langka untuk membersihkan dan memperbaiki tubuh, semua itu tetap saja membuat hati diliputi rasa putus asa.
...Sudahlah.
Xiao Yan mengatur kembali emosinya, lalu bangkit dan pergi menuju kediaman Nona Yuan.
Namun baru saja hendak keluar, ia melihat pelayan tua keluarga berjalan ke arahnya sambil membawa kotak makanan.
“Kakek, ada apa ini?” tanya Xiao Yan dengan heran.
“Tuan muda ketiga, kepala keluarga melihatmu berlatih seharian penuh dan merasa khawatir, jadi menyuruh hamba mengantarkan makanan untukmu.”
Wajah pelayan tua yang penuh keriput itu tersenyum ramah. Ia telah melayani Keluarga Xiao selama puluhan tahun, bahkan ayah Xiao Yan, Xiao Zhan, tumbuh besar di bawah pengawasannya.
Karena itu, berbeda dengan orang luar yang langsung berubah sikap dan mulai mengejek setelah Xiao Yan gagal dalam jalan berlatih, pelayan tua ini tetap memperlakukan Xiao Yan dengan hormat dan penuh kasih seperti biasanya.
Xiao Yan pun tak tega menolak, hanya berkata, “Baik, tapi aku belum lapar sekarang. Kakek letakkan saja makanannya di mejaku, nanti aku akan makan ketika kembali.”
Setelah berkata begitu, Xiao Yan segera bergegas meninggalkan halaman rumahnya.
“Tuan muda ketiga—”
...
Bagi Yuan, satu hari berlalu hanyalah sekejap mata dalam latihan. Begitu ia merasakan keberadaan Xiao Yan di taman kamar tamu, langit pun sudah gelap tanpa disadari.
Bahkan sebelum Xiao Yan sempat mengetuk pintu, Yuan sudah lebih dulu bersuara, “Sudah digunakan, gerakmu cukup cepat juga.”
“Itu semua berkat kemurahan hati Nona Yuan yang memberiku ramuan.”
Xiao Yan menjawab dengan suara lantang dari dalam halaman.
Yuan berpikir sejenak, lalu membuka pintu, melangkah keluar, memandang pemuda yang siluetnya samar tertangkap cahaya lilin di bawah bayang malam.
Di balik kerudung hitam penutup wajahnya, mata Yuan yang berkilau seperti bintang sejenak tampak berpendar cahaya api, lalu menghilang.
Alis indah di balik kerudung itu pun berkerut halus.
“…”
“Nona Yuan, ada apa?” tanya Xiao Yan.
“...Sepertinya aku terlalu percaya diri.”
Sambil berkata demikian, Yuan kembali menyentuh kening Xiao Yan dengan ujung jarinya, menyalurkan sisa efek ramuan murni ke dalam darahnya. Xiao Yan langsung merasa tubuhnya menjadi ringan, bahkan sisa nyeri halus yang tadi mengganggu pun lenyap.
Xiao Yan berkedip, hanya bisa merasakan rasa sakit yang hilang, selain itu ia sulit menggambarkan perasaannya.
Ia hanya melihat, ketika angin berhembus pelan, Nona Yuan perlahan menurunkan jemari halusnya dari keningnya.
Lalu, angin bertiup semakin kencang, mengangkat kerudung hitam yang menutupi wajah di depannya.