Bab 24: Seseorang yang Tenggelam
Halaman (1/3)
Cia Ya sangat membutuhkan sebuah pelukan untuk menyelamatkannya, untuk melebur rasa terhina dan kesedihan yang memenuhi hatinya malam ini.
Ia seperti seseorang yang sedang tenggelam, memohon pertolongan kepada Sye Ciao yang berada di tepian.
“Hmm.” Sye Ciao mendengar suara Cia Ya yang bergetar. Ia mengernyit, bangkit berdiri, lalu membatalkan kehadirannya di jamuan penting yang hendak diikutinya.
Asistennya dengan cekatan mengurus segala keperluan lanjutan. Kemudian, dengan senyum penuh rahasia, ia mendekat ke telinga Sye Ciao dan menyampaikan hal-hal yang sebelumnya berhasil digalinya dari Cia Ya.
“Tuan Sye, semua perempuan menyukai kelembutan. Dalam hal apa pun, Anda harus lebih mengalah!”
Sye Ciao melirik asistennya dengan tatapan datar. “Terima kasih atas kerja kerasmu. Bulan ini bonusmu kutambah.”
Ia memang tidak tahu bagaimana harus berinteraksi dengan Cia Ya. Informasi yang diperoleh asistennya itu sangat berguna baginya.
Lima belas menit kemudian, Sye Ciao menemukan Cia Ya menunggunya di sebuah minimarket di pinggir jalan.
Melihat wajahnya yang pucat dan bibirnya yang bengkak kemerahan, dasar mata Sye Ciao yang dingin seketika diselimuti embun beku. “Nona Cia, beri aku penjelasan.”
“Aku... itu bukan kehendakku, Tuan Sye. Bisakah Anda mengantarku pulang?”
Cia Ya benar-benar merasa malu. Penghinaan yang memenuhi hatinya membuatnya tak mampu berbicara untuk sementara waktu.
Angin malam berembus perlahan. Mata beningnya berangsur-angsur memerah. “Aku... akan menjelaskannya setelah pulang.”
“Baik.”
Teringat pesan asistennya agar ia bersikap lembut, Sye Ciao menekan kegelisahan di dalam hati lalu membawanya kembali ke vila.
Dari sudut matanya, ia melihat tubuh Cia Ya yang menggigil. Ia merasa iba dan mengatupkan bibir. Dengan jemari pucatnya, ia melepas jas lalu menyelimutkannya ke tubuh Cia Ya. “Kalau begitu, kita pulang dan membicarakannya.”
Siluet mereka yang pergi dengan mobil yang sama tertangkap kamera seseorang dari kejauhan.
Dengan senyum penuh kebencian, Cia Yingying bergumam liar kepada dirinya sendiri, “Kali ini, kau tak akan bisa menyembunyikan perselingkuhanmu dengan dua pria sekaligus!”
Ia mengirimkan video yang direkamnya malam itu kepada perusahaan paparazi terbesar di negeri tersebut. Video itu memperlihatkan Huo Mingli melecehkan Cia Ya serta Cia Ya masuk ke dalam mobil mewah milik Sye Ciao.
Barulah setelah itu Cia Yingying merasa sangat puas dan menelepon Ci Xin untuk memastikan bahwa ibunya masih mengonsumsi suplemen kesehatan tersebut.
Begitu Cia Ya dan Sye Ciao tiba di vila, internet telah dipenuhi rumor bahwa Cia Ya adalah perempuan tak tahu malu yang menjalin hubungan dengan banyak pria sekaligus.
Wajah Huo Mingli dan Sye Ciao disamarkan, sementara wajah Cia Ya terlihat jelas.
Belum lama sebelumnya ia juga menjadi sorotan. Kini namanya kembali menduduki pencarian terpopuler, membuat para pengguna internet yang gemar bergunjing semakin muak melihatnya.
Karena itu, badai opini kali ini jauh lebih besar daripada sebelumnya.
“Jadi, inilah yang ingin kau katakan kepadaku?” Sye Ciao juga telah melihat berita di ponselnya. Ia menanyai Cia Ya dengan suara datar.
Baru saja ia duduk di sofa, kepala pelayan sudah dengan hormat menuangkan secangkir teh hangat untuknya.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Wajah Cia Ya pucat. Ia tak berani menyentuh teh itu. Kepalanya berdengung ketika ia berusaha sekuat tenaga mencari alasan untuk mempertahankan hubungan mereka. “Ya, tetapi aku tidak tidur dengannya.”
Tatapan dingin Sye Ciao jatuh pada bibirnya yang bengkak. “Namun, kau menciumnya.”
Sesaat kemudian, setelah angin malam di luar meraung kencang, Cia Ya akhirnya menggumam pelan sambil menundukkan kepala dan mengakui kesalahannya, “Maaf. Aku sudah berusaha menolaknya...”
Brak!
Sesaat setelah bunyi nyaring terdengar, cangkir teh giok putih mahal di tangan Sye Ciao pecah menghantam lantai keramik.
Bibir tipisnya yang menawan melengkung membentuk senyum yang tak biasa. Suaranya sedingin es hingga membuat tulang-belulang terasa ngilu. “Cia Ya, kau sungguh hebat. Berani-beraninya kau bermain-main dengan pria lain terang-terangan di belakangku?”
Uap teh panas yang harum membuat mata Cia Ya memerah. Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya. “Itulah kenyataannya. Aku tidak akan menyangkalnya.”
“Tetapi memang dia yang menerobos masuk ke apartemen sewaanku dan berusaha memperkosaku...”
Cia Ya telah mengatakan semua yang perlu dikatakan. Apa pun hasil akhirnya, ia tidak lagi memaksakan harapan.
“Tuan Sye, masalah ini memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada Nona Cia. Bagaimanapun, kekuatan perempuan jauh lebih kecil daripada laki-laki...” Kepala pelayan itu tak tahan untuk tidak membelanya.
Namun, perkataan itu justru menyulut amarah Sye Ciao. Ia berdiri dengan wajah tegang, menatap keduanya dari atas. “Jadi, menurut kalian, aku wajib menoleransinya?”
Kepala pelayan segera meminta maaf. Cia Ya pun buru-buru menundukkan kepala dan mengakui kesalahannya.
Setelah meminta maaf, ia menatap Sye Ciao dengan mata berkabut oleh air mata. “Tuan Sye, aku sudah ternoda. Hubungan ini sewajarnya memang harus berakhir.”
“Hanya saja, kumohon Anda tidak melibatkan ibuku dan Perusahaan Cia. Bisakah Anda melakukannya?”
Selama orang-orang dan hal-hal yang penting baginya tidak ikut terseret, Cia Ya sudah merasa sangat beruntung.
Suaranya terdengar begitu lemah hingga membangkitkan rasa iba. Tubuhnya yang gemetar menyerupai anak kucing yang telah disiksa habis-habisan.
Tiba-tiba seluruh amarah Sye Ciao lenyap. Yang tersisa di dalam hatinya hanyalah rasa sesak yang tak dapat dijelaskan.
“Aku tidak pernah mengatakan hubungan ini berakhir. Kemarilah dan puaskan aku. Mulai sekarang, kau tetap menjadi kekasihku.”
Sye Ciao memberi isyarat agar Cia Ya mendekat.
Kepala pelayan segera pergi dengan penuh pengertian, bahkan memerintahkan para pelayan lain agar tidak datang mengganggu mereka sebelum pagi.
Cia Ya begitu terkejut hingga air mata yang hendak jatuh justru bergantung di bulu matanya yang panjang. Bibirnya sedikit terbuka. “Apa...?”
Sebagai pria sebesar dirinya, perempuan seperti apa yang tidak bisa ia dapatkan? Mengapa ia masih bersedia menoleransi hal semacam ini?
Cia Ya mungkin bisa menebak sedikit alasannya, tetapi ia tidak berani benar-benar mempercayainya.
Cia Ya duduk patuh di pangkuannya. Ia membiarkan ujung jari Sye Ciao yang pucat dan bulat terus mengusap bibirnya dengan kuat, hingga rasa sakit membuatnya mengerang pelan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Ingat rasa sakit ini. Jangan sampai ada lain kali.”
Sye Ciao tidak benar-benar bertindak berlebihan. Ia segera menghentikan tindakannya, lalu mencubit dagu Cia Ya dan memperingatkannya.
Sikap Cia Ya selalu patuh. Apa pun yang dilakukan atau dikatakan Sye Ciao, ia hanya mengangguk lembut.
Kepatuhan mutlak itu membuat Sye Ciao puas. Ia menunduk dan menutupi bibir Cia Ya yang bengkak dengan bibirnya sendiri, menjilatnya perlahan dengan lembut.
Kelembutan Sye Ciao malam itu jauh melampaui dugaan Cia Ya. Ia ditekan di atas sofa, sementara lampu kristal mewah yang terang di atas kepalanya membuat matanya terus terasa perih. Beberapa kali ia hampir menangis.
Saat gairah mereka memuncak, ia memeluk erat pinggang pria itu, merasakan kehangatan, gerakan, serta aroma damar pinus yang melekat di tubuhnya.
Sye Ciao bagaikan cahaya yang membara, mengusir rasa jijik dan bayangan gelap akibat sentuhan Huo Mingli dari hati Cia Ya.
“Kenapa kau masih menerimaku?” Setelah semuanya usai, Cia Ya menahan kantuk dan kelelahan, bersikeras meminta jawaban.
Seolah-olah hanya setelah mendapatkan jawaban itu ia bisa merasa tenang.
Sye Ciao berguling menjauh dari tubuhnya, kembali menunjukkan sosoknya yang dingin seperti biasa. “Hubungan ini baru akan berakhir jika aku sudah bosan.”
Jadi, haruskah ia bersyukur karena tubuhnya mampu menarik perhatian Sye Ciao sedemikian rupa?
Tidak adanya alasan seperti yang sempat dibayangkannya justru membuat Cia Ya menghela napas lega. Ia pun tertidur dengan tenang.
Suka dan cinta adalah alasan yang terlalu rapuh dalam dunia seorang tokoh besar seperti dirinya. Hanya keterikatan kepentinganlah yang mampu bertahan lama.
Keesokan paginya, pada akhir pekan yang jarang datang, Cia Ya berniat tidur sepuasnya.
Namun, tiba-tiba ia teringat bahwa Huo Mingli gagal mencapai tujuannya malam sebelumnya. Ia pun ingin segera pergi menemui Ci Xin untuk memeriksa keadaan ibunya.
“Dipindahkan ke rumah sakit lain? Bagaimana mungkin? Aku putrinya. Mengapa aku tidak diberi tahu?”
Sebelum berangkat, Cia Ya menelepon terlebih dahulu, tetapi ia justru mendapat kabar bahwa ibunya telah dipindahkan ke rumah sakit lain.
Hatinya mendadak terasa kosong. Ia panik hingga kedua tangannya gemetar. “Dipindahkan ke mana?”
“Tidak tahu. Coba hubungi anggota keluargamu yang lain. Yang memindahkannya adalah seorang wanita bernama Cia Yingying.”
Cia Yingying—lagi-lagi dia!
Dengan tergesa-gesa, Cia Ya menelepon Cia Yingying. Namun, orang yang mengangkat telepon itu ternyata Huo Mingli.
“Ya Kecil, teganya kau membuang hubungan kita begitu saja? Asalkan kau meminta maaf kepada Yingying, aku masih bisa menikahimu.”
Halaman (3/3)