Buku Pertama Bab 52: Chen Pingan, apakah kamu masih marah? Maafkanlah adikmu.
"Kak Sulung, aku ingin mencoba, untuk melihat apakah aku bisa membujuk Ping'an agar mau kembali."
Chen Yuxuan yang telah lama terdiam akhirnya memberanikan diri menatap Chen Qiuyan, mengungkapkan niatnya yang sebenarnya karena ia tidak ingin terus menghindari kenyataan ini.
"Kau yakin?"
"Ya!"
......
Beberapa hari telah berlalu sejak Chen Qiuyan menemui Chen Ping'an. Selama beberapa hari ini, Chen Ping'an dan Bai Zhi mengerahkan segala cara untuk mendata para pedagang berkualitas di sekitar kawasan universitas.
Setiap hari membuahkan hasil yang memuaskan.
Hari ini, Chen Ping'an telah berjanji dengan Bai Zhi bahwa masing-masing dari mereka akan bertanggung jawab atas satu jalan. Sekarang, Bai Zhi sudah mampu bekerja sendiri tanpa harus didampingi oleh Chen Ping'an.
Tidak lama setelah melangkah keluar dari lingkungan kampus, ia melihat kerumunan orang yang cukup padat berkumpul di gerbang sekolah, memusatkan perhatian pada sesuatu di tengah-tengah mereka.
Chen Ping'an menatap dengan sedikit kebingungan.
"Ada apa sampai begitu banyak orang yang menonton? Jangan-jangan terjadi kecelakaan? Tapi tidak mungkin, kalau memang ada kecelakaan, kenapa tidak ada yang menelepon ambulans?"
Dengan rasa penasaran, Chen Ping'an melangkah mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Jika memang ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, ia tidak keberatan untuk membantu.
Para siswa di sekitar yang melihat Chen Ping'an datang langsung memberikan jalan kepadanya. Di SMA Nomor 58, selain mereka yang sejak awal tidak berniat belajar dan hanya ingin mencari jalan di dunia luar, ada juga orang-orang seperti Chen Ping'an—yang dianggap sebagai permata sekolah. Kepala sekolah pernah berpesan di hadapan seluruh warga sekolah dalam sebuah rapat bahwa siapa pun yang berani mengganggu para siswa berprestasi seperti Chen Ping'an sama saja dengan mencari masalah di SMA Nomor 58.
Berkat jalan yang diberikan oleh orang-orang, Chen Ping'an dengan mudahnya terdorong hingga ke bagian paling depan kerumunan.
Ia tadinya mengira pemandangan di dalam sana adalah situasi darurat yang membutuhkan pertolongan, namun setelah berhasil merangsek masuk, ia justru mendapati semua orang tengah mengerumuni sebuah mobil mewah edisi terbatas global. Melihat plat nomornya, Chen Ping'an langsung mengenalinya seketika. Itu adalah kendaraan pribadi milik Chen Qiuyan, sebuah mobil Rolls-Royce yang hanya diproduksi sebanyak seribu unit di seluruh dunia.
Begitu menyadari situasi tersebut, Chen Ping'an langsung berbalik hendak pergi, namun pintu mobil itu tiba-tiba terbuka, menampakkan sosok Chen Yuxuan dan Chen Qiuyan yang turun dari kendaraan.
"Ping'an, tunggu sebentar, aku ada perlu yang ingin kukatakan padamu."
Mendengar panggilan itu, langkah kaki Chen Ping'an sama sekali tidak melambat, justru semakin dipercepat. Melihat hal tersebut, Chen Yuxuan mengerahkan keberaniannya untuk berlari menyusul dan menarik tangan Chen Ping'an dari belakang.
Chen Ping'an, yang belum berjalan jauh, tiba-tiba ditarik dengan kuat oleh Chen Yuxuan, seketika menyulut amarahnya.
"Kalian sekeluarga ini sebenarnya penderita gangguan jiwa, ya? Memangnya tidak ada habisnya? Apakah kalian benar-benar tidak mengerti bahasa manusia?"
Chen Ping'an berbalik dan langsung menepis tangan Chen Yuxuan dari tubuhnya.
Chen Yuxuan mundur beberapa langkah dan berdiri terpaku di tempatnya.
"Kau anak kurang ajar, beraninya bersikap seperti itu kepada Kakak Kedua-mu! Masih adakah kami di dalam benakmu? Apakah kau benar-benar tidak menganggap sopan santun keluarga kita?!"
Pada saat itu, pintu mobil yang lain terbuka, dan Wang Xinhhan, Chen Shihan, serta Chen Haohao turun secara beruntur. Terutama Wang Xinhhan, yang wajahnya menyiratkan kemarahan luar biasa, langsung menghardik Chen Ping'an dengan sengit.
Melihat kedatangan mereka semua, Chen Ping'an langsung berbalik untuk pergi, namun Chen Yuxuan dengan sigap mencengkeram ujung bajunya.
"Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan. Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong kalian di sini dan membuang-buang waktuku. Lagipula, Chen Yuxuan, orang-orang ini pasti kau yang bawa, kan?"
"Bukan.... Mereka sendiri yang memaksa ingin ikut. Aku tahu Ping'an tidak suka...."
Hari ini, ketika Chen Qiuyan dan Chen Yuxuan hendak keluar untuk mencari Chen Ping'an, mereka tak sengaja berpapasan dengan Wang Xinhhan dan rombongan yang baru saja kembali dari luar.
Chen Jiang'an dan yang lainnya hari ini baru saja menghadiri sesi persiapan akhir kelas bimbingan belajar. Chen Haohao bahkan sempat mendapat pujian dari pengajar di sana, yang mengatakan bahwa dengan kemampuannya, masuk ke universitas top nasional adalah hal yang sangat mudah, membuat Chen Jiang'an dan Wang Xinhhan merasa bangga dan gembira untuk waktu yang lama.
Sekembalinya mereka ke vila dengan penuh semangat, mereka mendapati kedua orang itu hendak pergi. Setelah bertanya, barulah mereka tahu bahwa keduanya berniat mencari Chen Ping'an. Mendengar hal itu, Wang Xinhhan langsung mengajak Chen Shihan dan Chen Haohao untuk ikut naik ke dalam mobil.
Sebelum Chen Yuxuan sempat menyelesaikan kalimatnya, suara Chen Shihan sudah menyusul dari belakang.
"Chen Ping'an, kau benar-benar tidak berguna! Apa maksud sikapmu ini? Kau bersikap seperti ini begitu melihat ayah dan ibu, apa kau sudah terbiasa menjadi anak yatim piatu?"
Chen Jiang'an juga tampak sangat murka. Ia merasa bahwa kedatangan mereka sekeluarga besar adalah demi mencari Chen Ping'an, tetapi sambutan yang ia terima justru seperti ini. Bagaimana mungkin ia bisa menerimanya? Dengan kemarahan yang meluap-luap, ia membentak,
"Chen Ping'an, anak durhaka! Apakah kau berniat membuatku mati penasaran? Apakah kau tidak akan merasa puas sebelum membuat seluruh keluarga kita kacau balau?!"
Pada saat itu, Chen Haohao juga menjulurkan kepalanya dari balik punggung Wang Xinhhan, lalu berkata dengan nada yang dibuat-buat seolah-olah penuh perhatian,
"Kak Ping'an... jangan membuat Ayah dan Ibu marah lagi, mereka sangat mengkhawatirkanmu..."
Melihat wajah Chen Haohao, Chen Ping'an mengangkat tangannya dan melambikannya di udara. Melihat anak itu secara refleksmENghindar, ia menunjukkan ekspresi penuh penghinaan.
"Kenapa, takut? Aku tadinya mengira kau sudah lupa dengan dua tamparan yang kuberikan waktu itu. Kalau kau belum lupa, coba ingat-ingat lagi bagaimana rasanya kuhajar waktu itu."
Mengingat kembali kejadian di ruang tamu ketika Chen Ping'an menghajarnya beberapa hari lalu, Chen Haohao tanpa sadar merinding dan menarik lehernya untuk bersembunyi di balik punggung Wang Xinhhan.
Melihat Chen Haohao yang ditindas oleh Chen Ping'an, kemarahan Wang Xinhhan langsung memuncak. Ia hendak maju untuk memukul Chen Ping'an, namun Chen Qiuyan dengan sigap berlari menghalangi Wang Xinhhan dan berkata dengan tergesa-gesa,
"Sudahlah, Ibu, jangan buat Ping'an semakin marah. Waktu itu aku ingin menjelaskannya kepadamu, tetapi kau sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk berbicara. Kali ini aku menemuinya karena benar-benar ada urusan yang sangat penting."
"Ping'an... ah, kami telah memeriksa rekaman CCTV-nya, dan kebenaran tentang gelang Ibu sudah kami ketahui."
Mata Chen Qiuyan tampak merah dan bengkak, menatap Chen Ping'an dengan tatapan penuh rasa bersalah dan iba. Setelah mengucapkannya, ia merasa seolah beban berat yang selama ini menghimpit dadanya akhirnya terangkat, karena persoalan ini telah lama menjadi batu sandungan di hatinya.
"Lalu? Apa yang ingin kau katakan?"
Melihat ekspresi Chen Qiuyan, hati Chen Ping'an tetap bergeming. Meskipun ia sedikit terkejut karena keluarga itu berinisiatif memeriksa rekaman CCTV, ia sama sekali tidak heran jika akhirnya mereka menemukan kebenaran, sebab siapa pun yang melihat rekamannya pasti akan langsung mengetahuinya.
Begitu Chen Qiuyan selesai berbicara, gerakan Wang Xinhhan di belakangnya terhenti sejenak, lalu ia pun diam-diam kembali ke posisinya semula.
Melihat reaksi Chen Ping'an yang begitu acuh tak acuh terhadap kebenaran yang telah ia kumpulkan dengan susah payah dan keberanian penuh, Chen Qiuyan diliputi oleh berbagai perasaan campur aduk. Ia tidak mengerti apa maksud tatapan itu—apakah Chen Ping'an sudah benar-benar tidak peduli lagi dengan kebenaran tersebut?
Pada saat itulah Chen Jiang'an maju untuk mencairkan suasana.
"Chen Ping'an, apakah kau masih marah? Seharusnya kau memaafkan adikmu dan pulang bersama kami. Meskipun sebelumnya kami memang salah paham padamu, kau sudah melampiaskan emosimu selama ini, jadi sekarang kembalilah bersama kami."
"Semua itu sudah berlalu, jangan disimpan di dalam hati lagi," ucap Chen Jiang'an dengan nada sok benar.
"Ping'an, pulanglah bersama kami," bujuk Chen Yuxuan di sisi yang lain.
Meskipun Chen Shihan tampak enggan, kali ini ia memilih untuk tidak menentang kepulangan Chen Ping'an.