Bab 53: Orang Tua Kandungku Sudah Lama Meninggal
Mendengar ucapan Chen Jianghan, Chen Ping'an yang semula sama sekali tidak berniat membuang waktu melangkah terhenti. Ia lantas menoleh ke arah Chen Jianghan.
Wajahnya menyunggingkan senyum sinis, sementara tatapannya dipenuhi dengan ejekan yang pekat.
"Tuan Chen Jianghan, aku ingin bertanya kepadamu, apa maksudmu dengan menyuruhku untuk tidak lagi marah? Hanya dengan sepatah kalimat remeh agar aku tidak marah, lalu kau memintaku untuk kembali ke kediaman Keluarga Chen milikmu? Bagaimana bisa wajahmu begitu tebal?"
Sambil berucap demikian, tatapan mata Chen Ping'an terpaku lekat-lekat pada sosok Chen Jianghan yang berdiri di hadapannya.
Sorot mata penuh cemoohan itu terasa amat menusuk bagi Chen Jianghan. Pria paruh baya itu sebenarnya ingin meluapkan amarah, tetapi posisinya sebagai seorang ayah membuatnya berada di pihak yang salah. Segala perlakuan selama tiga tahun terakhir ini memang sungguh memalukan. Beberapa kali Chen Jianghan berniat menutupi kesalahannya dengan membentak, namun pada akhirnya ia hanya mampu terdiam membisu tanpa mampu berkata apa-apa.
Setelah terdiam cukup lama tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun, Chen Yuxuan yang berada di sisi Chen Jianghan lantas membuka suara, "Ping'an, dulu memang kami yang salah. Kami tidak tahu bagaimana sebenarnya kehidupanmu selama berada di rumah kami..."
"Cukup."
Sebelum Chen Yuxuan sempat menyelesaikan kalimatnya, Chen Ping'an langsung memotong ucapannya, sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk melanjutkan perkataan.
"Aku tidak ingin mendengar kalian mengungkit kembali kisah basi masa lalu di hadapanku. Membicarakannya pun tidak akan memberikan efek apa pun. Kedatangan kalian ke sini pastinya hanya untuk mengatakan bahwa kalian telah mengetahui gelang giok itu bukan aku yang memecahkannya. Kalian sudah tahu yang sebenarnya, lalu sekarang berharap aku bisa kembali ke rumah kalian dan terus melayani kalian sebagai seorang pesuruh? Begitukah?"
Mendengar nada bicara Chen Ping'an yang penuh sindiran tajam, kemarahan Chen Shihan langsung memuncak. Ia seketika melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Chen Ping'an.
"Lalu apa lagi yang kau inginkan? Bukankah permintaan kami agar kau pulang ke rumah sudah lebih dari cukup? Sikapmu yang sama sekali tidak tahu aturan ini membuatku merasa jijik melihatnya."
"Jijik?"
Chen Ping'an memandang lurus ke arah Chen Shihan di depannya. Sindiran itu justru membuatnya tertawa getir karena merasa geram.
"Hahaha... Kau bilang aku menjijikkan?"
"Apakah aku yang menjijikkan, atau justru kalian sekeluarga yang busuk? Kau katakan aku menjijikkan, lantas jika aku menjijikkan, bukankah adik kesayanganmu, Chen Haohao, tidak lebih dari seonggok sampah? Padahal ia dengan sengaja memfitnahku, tetapi sedikit pun kau tidak merasa jijik, begitu? Coba katakan padaku, sebenarnya siapa di antara kita yang jauh lebih menjijikkan?"
Melihat paras pemuda di hadapannya, Chen Shihan harus menahan kuat-kuat dorongan di dalam hatinya untuk melayangkan tamparan. Ia ingin membantah, namun lidahnya mendadak kelu karena tidak tahu argumen apa yang harus ia keluarkan.
Kenyataannya memang persis seperti apa yang dikatakan oleh Chen Ping'an. Sekesal apa pun dirinya pada Chen Ping'an, ia paling-paling hanya bisa mencelanya sebagai pribadi yang tidak tahu sopan santun atau tidak suka menjaga kebersihan. Namun, fakta bahwa Chen Haohao-lah yang telah memecahkan gelang giok milik Wang Xinhuan—sekaligus tega memfitnah Chen Ping'an demi menutupi kesalahannya—memang membuat keberadaan Chen Ping'an di rumah itu kian terpojok dari hari ke hari.
Namun, pada malam kejadian itu, Chen Haohao berdalih bahwa ia bertindak demikian semata-mata karena kelelahan akibat terlalu giat belajar, dan sama sekali tidak sengaja melakukannya.
"Haohao sama sekali bukan orang seperti yang kau tuduhkan! Jangan berani-aninya kau memutarbalikkan fakta di sini. Malam itu Haohao berbuat demikian karena sedang mabuk. Sebagai kakaknya, apakah kau tidak tahu semua itu?"
Melihat Chen Haohao yang berdiri di balik punggung Wang Xinhuan, gelombang rasa iba seketika mencengkeram hati Chen Shihan. Sisa-sisa rasa bersalah yang sempat tebersit di benaknya untuk Chen Ping'an pun lenyap tak bersisa dalam sekejap.
Chen Ping'an tersenyum tipis, menyunggingkan senyum penuh sarkasme.
"Hahaha, berdalih karena sedang mabuk, sungguh alasan yang luar biasa. Nah, sekarang Chen Haohao ada di sini, suruh dia maju dan jelaskan sendiri di hadapanku, apa alasannya sampai hati memfitnahku."
Wang Xinhuan yang mendengarkan ucapan tersebut sontak diliputi amarah yang meluap-luap. Alasan utama mereka mendatangkan Chen Ping'an kembali ke kediaman Keluarga Chen tidak lain adalah demi ketenangan pikiran Chen Haohao. Mereka ingin memastikan Chen Haohao tidak terbebani secara mental hingga mengganggu konsentrasinya menghadapi ujian masuk perguruan tinggi nasional.
Namun kini, Chen Ping'an justru mendesak Chen Haohao untuk mengakui perbuatannya secara langsung di depannya. Ujian besar Chen Haohao sudah di depan mata, apakah Chen Ping'an tidak memikirkan dampak buruk dari sikapnya ini terhadap masa depan adiknya?
Meski demikian, ketika beradu pandang dengan sorot mata Chen Ping'an yang begitu tajam menusuk, Wang Xinhuan yang tadinya berniat melontarkan bentakan keras seperti sediakala mendadak kehilangan keberanian. Ia hanya bisa terdiam seribu bahasa seraya merentangkan tangan untuk melindungi Chen Haohao di balik punggungnya.
Chen Yuxuan menghela napas panjang dengan perasaan serba salah. Ia melangkah mendekati Chen Ping'an. Di satu sisi ia merasa iba pada penderitaan Chen Ping'an, namun di sisi lain ia juga mengasihani Chen Haohao.
"Sudahlah, jangan terus mendesaknya, Ping'an. Gelang itu memang dipecahkan oleh Haohao dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh alkohol."
Usai melontarkan kalimat itu, Chen Yuxuan menghindari tatapan mata Chen Ping'an. Wajahnya menyiratkan kelelahan dan rasa bersalah yang mendalam.
"Baiklah, baiklah! Jadi karena sedang mabuk, jadi dianggap tidak sengaja, begitu? Tapi kenapa tidak ada seorang pun dari kalian yang mau menjawab pertanyaanku? Sebenarnya apa motif Chen Haohao hingga tega menuduhku sebagai pelakunya? Cepat, biarkan salah satu dari kalian menjawabnya!"
Begitu melontarkan kalimat tersebut, sorot mata Chen Ping'an berubah menjadi kian menajam, terutama saat ia mengarahkannya kepada Wang Xinhuan dan Chen Haohao yang bersembunyi di belakang wanita itu.
"Tentu saja Haohao berbuat begitu karena panik dan takut Ayah serta Ibu tidak lagi menyayanginya, makanya ia terpaksa mengaku bahwa kaulah pelakunya! Lagipula, reputasimu di keluarga kita toh sudah telanjur buruk, jadi apa salahnya membantu menanggung kesalahan Haohao sekali saja?"
Nada suara Chen Shihan sama sekali tidak menunjukkan nalar ataupun logika yang sehat. Ia bersikap seolah-olah tidak peduli dan merasa semakin benar dengan argumennya. Semakin ia berbicara, semakin ia menganggap tindakan itu adalah hal yang wajar, sementara tuduhan palsu terhadap Chen Ping'an serta alasan di balik fitnah itu terus ia abaikan begitu saja.
Chen Qiuyan yang mendengarnya bahkan tak kuasa menahan diri untuk melirik ke arah Chen Shihan. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana wanita itu bisa melontarkan kata-kata setega itu. Saat ia hendak membuka mulut untuk menegur, ia keburu mendengar Chen Ping'an tertawa dingin penuh cemoohan.
"Bagus, luar biasa! Urusan memutarbalikkan hitam menjadi putih memang keahlianmu, ya, Chen Shihan! Karena takut Ayah dan Ibu tidak menyayanginya, maka ia nekat memfitnahku, begitu ya? Hebat sekali."
"Benar juga, aku ini hanyalah seorang anak yatim piatu. Memang sudah seharusnyalah aku bernasib malang seperti ini, toh ayah dan ibuku sudah lama tiada. Ha-ha-ha..."
"Keluarga kalian ini benar-benar sudah busuk sampai ke akar-akarnya! Aku sudah tidak ingin membuang tenaga untuk mengucapkan sepatah kata pun pada kalian, karena aku takut makanan yang kutelan kemarin ikut dimuntahkan karena jijik."
Usai berkata demikian, Chen Ping'an berbalik dan bersiap melangkah pergi. Namun, Chen Jianghan dengan sigap langsung mencengkeram lengannya.
"Kau anak durhaka! Kami datang mencarimu bukan untuk membiarkanmu bersikap seperti ini pada kami. Apakah amarahmu pada Haohao masih belum reda juga? Haohao itu adalah adik kandungmu sendiri, tidak bisakah kau menunjukkan sedikit kelapangan dada sebagai seorang kakak?"
Rentetan kalimat yang dilontarkan Chen Jianghan itu seketika menyulut bara kemarahan yang telah lama dipendam oleh Chen Ping'an. Tanpa ragu, ia langsung menepis tangan Chen Jianghan dengan kasar. Niat busuk keluarga ini sudah terbaca sangat jelas di benaknya.
Tujuan utama mereka tidak lain adalah memaksanya memberikan pengampunan kepada Chen Haohao, sekaligus mencuci tangan pemuda itu seolah-olah kepergian Chen Ping'an dari rumah sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Menatap Chen Haohao yang masih berlindung di balik punggung Wang Xinhuan dengan menampilkan ekspresi memelas, ingatan Chen Ping'an langsung melayang pada pelbagai cara licik yang digunakan pemuda itu selama tiga tahun terakhir demi menjatuhkannya. Perlahan namun pasti, Chen Haohao mengisolasinya dari lingkungan keluarga hingga membuat posisinya di rumah itu bahkan lebih rendah dari seorang pelayan rendahan.
Sekarang, meskipun bukti dan fakta yang tak terbantahkan telah terpampang nyata di hadapan mereka, keluarga ini justru menuntutnya untuk berlapang dada dan memaafkan Chen Haohao. Kegilaan macam apa ini? Mengapa keluarga ini bisa begitu berat sebelah?
Tidakkah mereka sadar bahwa dirinyalah darah daging kandung mereka sendiri? Namun sekarang, mereka justru tega mendesak anak kandung mereka sendiri demi melindungi seorang anak angkat yang telah memfitnahnya habis-habisan. Chen Ping'an tak kuasa lagi menahan senyum miris yang terbit di bibirnya.
Orang tua macam apa mereka ini? Sungguh malang nasibnya karena dilahirkan oleh orang tua kandung berhati durjana seperti mereka.
"Adik? Adik yang mana yang kau maksud? Kedua orang tuaku sudah lama mati terkubur, jadi aku sama sekali tidak memiliki seorang adik seperti yang kau bicarakan itu. Jikapun aku punya seorang adik, pastinya ia sudah mati sejak lama."