4 Tekad Telah Bulat
"Sungguh tak menyangka pemilihan pemeran utama pria pertama bisa selancar ini. Kuharap untuk pemeran utama pria kedua nanti juga sama lancarnya."
Peng Hao mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya dengan berat ke sandaran kursi, lalu dengan cepat menegakkan duduknya kembali.
Wang Zeyue menepuk pundaknya sambil menggoda, "Lesu sekali, kurang tidur?"
"Haah—semalam kencan sampai agak larut. Tapi kau sendiri, kenapa masih segar bugar begini? Bukankah baru mendarat semalam? Benar-benar bukan manusia." Peng Hao menguap lebar, lalu menyambung, "Tapi memang sebaiknya kita cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini, lalu istirahat, menyambut Tahun Baru, dan setelah Tahun Baru kita langsung mulai syuting!"
Wang Zeyue tersenyum tipis, memanfaatkan waktu luang untuk lanjut mempelajari adegan-adegan penting untuk pemeran utama pria kedua.
Film garapan Peng Hao ini berjudul *Mencari Obat*, sebuah film komedi misteri kolosal. Kisahnya berpusat pada seorang pengembara dunia persilatan yang tidak sengaja terseret dalam pusaran konflik "obat dewa". Setelah melewati berbagai kesalahpahaman dan aksi pengejaran, ia akhirnya mengungkap kebenaran yang sesungguhnya kepada khalayak ramai.
Meskipun porsi adegan untuk pemeran utama pria kedua tidak sebanyak sang protagonis, karakter ini memegang peran krusial sebagai penghubung antara kubu baik dan jahat. Di permukaan, ia tampak langsung akrab dan menyelidiki kasus bersama sang protagonis, padahal sebenarnya ia memiliki agenda tersembunyi. Hubungan mereka berdua sempat retak dan hampir menjadi asing setelah identitas aslinya terungkap, namun di akhir cerita ia justru mengkhianati organisasinya sendiri dan menjadi penolong terbesar bagi kesuksesan sang protagonis.
Konsepnya tidak bisa dibilang sangat baru, namun keunggulannya terletak pada penokohan yang berlapis, kontras karakter yang kentara di awal dan akhir, serta interaksi dengan sang protagonis yang sarat akan unsur komedi.
Salah satu adegan klasik yang tergolong sulit adalah potongan naskah berikut:
Pemeran utama pria kedua bertemu dengan sang protagonis di turnamen beladiri. Demi menguji kekuatan sejati sang protagonis, ia menghasutnya untuk naik ke atas arena laga guna bertarung dengannya. Namun, begitu sang protagonis naik ke atas panggung, ia justru duduk santai di bawah sambil minum arak dan menonton pertunjukan. Ia baru melangkah naik setelah orang lain bertarung beberapa ronde dengan sang protagonis, sengaja menyembunyikan kekuatannya agar sang protagonis menang tipis darinya.
Selaras dengan tingkat kesulitannya, beberapa aktor pertama yang masuk menunjukkan penampilan yang biasa saja, membuat Peng Hao tampak kecewa.
Hingga akhirnya, seseorang yang baru ditemui Wang Zeyue kemarin masuk ke dalam ruangan.
Gu Ning.
Sebagai aktor nomor satu di dunia drama televisi dalam beberapa tahun terakhir, kemampuan akting Gu Ning jelas jauh lebih matang dibanding aktor-aktor sebelumnya. Ia berhasil membawakan karakter pemeran utama pria kedua yang di luarnya tampak berilmu beladiri biasa saja, padahal sebenarnya memiliki kekuatan yang tak terduga.
"Bagaimana menurutmu yang ini?" Peng Hao tersenyum kecil sambil berbisik kepada Wang Zeyue. "Dia dari Beiting Entertainment. Waktu petinggi mereka menitipkannya padaku, aku sempat takut dia hanya bermodal tampang tanpa bakat. Tak disangka, dia ternyata punya kemampuan juga!"
Wang Zeyue tidak memberikan kepastian, "Kita lihat saja dulu."
Sebelum datang, Gu Ning sudah mengantongi janji dari pihak petinggi sebagai jaminan. Ditambah penampilannya yang maksimal barusan, suasana hatinya kini sangat gembira. Ia melangkah keluar dari ruangan dengan kepala tegak dan dada membusung, raut wajahnya tampak begitu jemawa hingga agak menyimpang dari citra publik yang biasa ia tampilkan.
Ini adalah proyek film yang melibatkan Sutradara Wang. Meskipun Wang Zeyue hanya menjabat sebagai asisten sutradara, nama keluarga Wang tetap memiliki pengaruh yang sangat besar. Tidak sia-sia ia merombak jadwal kerjanya secara gila-gilaan demi persiapan ini, bahkan sampai memadatkan jadwal syuting dramanya agar bisa selesai lebih cepat.
Terlebih lagi, siapa tahu ia bisa memanfaatkan film ini untuk mendekatkan diri dengan Sutradara Wang. Kemarin ia memang bersikap agak terlalu menjilat, tapi mau bagaimana lagi... Mengingat sosok yang sedang ia layani saat ini, Gu Ning mengerutkan keningnya dengan perasaan muak.
Tepat pada saat itu, ia menangkap sosok Tan Yi yang sedang berjalan ke arahnya. Langkah kakinya seketika terhenti secara refleks.
Tan Yi tentu saja juga melihatnya, namun ia terus melangkah lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun, seolah-olah Gu Ning hanyalah embusan angin lalu.
Selalu saja begini!
Gu Ning menggertakkan giginya dengan geram.
Tidak peduli berapa tahun telah berlalu, ia akan selalu membenci wajah kaku tanpa ekspresi milik Tan Yi dan sikapnya yang selalu memandang rendah dirinya.
Padahal dulu yang dihujat habis-habisan adalah Tan Yi, dan sekarang yang sedang diterpa rumor buruk pun masih Tan Yi...
—Tapi mengapa pria itu tidak bisa hancur selamanya saja?
Orang-orang yang menghujatnya dulu sudah bubar, dan ia bahkan bisa melejit kembali lewat drama web berbiaya rendah. Bahkan topik tren negatif kemarin yang mengungkit masa lalunya pun tiba-tiba diredam oleh seseorang tanpa meninggalkan jejak...
Atas dasar apa dia bisa seberuntung itu?!
Gu Ning memaksakan otot wajahnya untuk membentuk ekspresi penuh perhatian, meski tatapan matanya menyiratkan kedengkian yang pekat.
"Sekadar mengingatkan sesama rekan yang debut di angkatan yang sama, audisi saat ini adalah untuk peran utama kedua."
"Tidak usah repot-repot."
Tan Yi sama sekali tidak menoleh dan terus berjalan lurus menuju ruang audisi.
Gu Ning mendengus sinis. Semula ia berniat untuk langsung pergi, namun kini ia mendadak berubah pikiran. Ia memilih berdiri di sudut koridor, menunggu Tan Yi keluar.
Namun setelah beberapa saat berlalu, Tan Yi belum juga keluar.
Waktu terus bergulir hingga hampir melampaui durasi audisinya sendiri, namun Tan Yi masih belum menunjukkan batang hidungnya.
Sepuluh menit lagi berlalu, dan tetap belum keluar juga!
Ia hampir mengira matanya yang bermasalah, berpikir jangan-jangan Tan Yi sebenarnya sudah pergi tanpa ia sadari.
Saat itu hari sudah menjelang siang. Koridor tidak lagi seramai sebelumnya. Tan Yi adalah peserta audisi terakhir untuk peran utama kedua, sehingga tidak ada yang terlalu memperhatikan waktu.
Kecuali Gu Ning.
Akhirnya, Tan Yi keluar juga.
Fuh...
Gu Ning mengembusan napas lega begitu melihat penampilan pria itu dengan jelas.
Wajah Tan Yi tampak tegang dengan langkah kaki yang terburu-buru. Otot-otot wajahnya kaku dan tatapan matanya kosong tanpa fokus. Begitu keluar dari ruangan, ia langsung bergegas menuju ke arah lift.
Pasti dia tidak lolos!
Di dalam ruangan audisi.
"Dia yang bernama Tan Yi? Aslinya jauh lebih tampan daripada di foto!"
Audisi sesi pagi telah berakhir. Peng Hao tidak terburu-buru pergi; ia merapikan tumpukan kertas di atas meja dengan santai sambil berdecak kagum, "Kupikir Gu Ning yang tadi sudah cukup bagus, ternyata yang lebih hebat justru muncul belakangan. Ini yang dinamakan... menyimpan yang terbaik di akhir?"
"Peribahasa aslinya itu 'menyimpan yang terbaik di awal'," sahut Wang Zeyue pasrah. Ia melirik ke arah pintu, membatin betapa cepatnya Tan Yi melarikan diri.
Andai saja langkah kaki pria itu sedikit lebih lambat, mungkin mereka bisa naik ke atas bersama-sama.
"Eh, jadi bagaimana, Sutradara Wang, Tuan Muda Wang? Bagaimana menurutmu? —"
"Tidak apa-apa, pakai saja namaku sebagai alasan."
Peng Hao sedang membicarakan perihal pihak Beiting Entertainment yang menginginkan peran utama kedua tersebut untuk aktor mereka.
Pasalnya, jauh sebelum audisi dimulai, pihak Beiting sudah memberikan isyarat yang sangat gamblang. Popularitas Tan Yi tidak setinggi Gu Ning, dan ia juga tidak memiliki penyokong kuat di belakangnya. Peng Hao yang posisinya di industri hiburan belum terlalu kokoh tentu merasa sungkan untuk menolak mereka secara langsung.
Setelah menolak ajakan makan siang Peng Hao dengan sopan, Wang Zeyue menaiki lift menuju lantai atas dengan santai.
"Kau..."
Suara Sistem di dalam benaknya terdengar agak lesu.
Setelah sempat terputus sejenak kemarin, Sistem segera kembali aktif, dan ia hampir saja dibuat syok hingga terputus kembali oleh tindakan Wang Zeyue.
Wang Zeyue telah membantu meredam tren pencarian negatif yang seharusnya menyebar luas, bahkan memberi peringatan keras kepada Produser Feng.
Ini adalah awal yang sangat baik, meski motifnya sedikit bergeser dari niat murni seorang "penolong".
Namun itu tidak masalah, asalkan tidak memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan karier Tan Yi. Bagaimanapun, tujuan akhir mereka adalah menjaga agar sang Anak Keberuntungan tidak terjerumus ke jalan yang salah.
Siapa yang mengira bahwa setelah membaca pesan teks itu, sudut bibir Wang Zeyue tiba-tiba terangkat, lalu ia mengirimkan sebuah pesan yang sangat mungkin memengaruhi kesehatan fisik dan mental Tan Yi.
Ya, lahir dan batin.
"Tuan Rumah, kau... hanya sekadar bercanda, kan?" Sistem bukannya memihak Tan Yi, ia hanya khawatir kondisi mental sang Anak Keberuntungan akan memengaruhi jalannya roda dunia.
Sorot mata Wang Zeyue menyiratkan senyuman tipis.
"Tentu saja."
Saat melihat Tan Yi tadi, perasaannya agak campur aduk, namun di saat yang sama ia merasa hal itu sudah sewajarnya terjadi.
Di satu sisi, ia menilai penampilan luar dan karisma Tan Yi sangat cocok dengan karakter tersebut; ia bahkan sempat berpikir untuk menyuruh Tan Yi mencoba peran utama kedua ini. Namun di sisi lain, ia merasa bantuannya kemarin menjadi agak sia-sia.
Peran ini sudah pasti aman di tangan Tan Yi.
Memang benar, jika bukan karena variabel seperti dirinya, Tan Yi tidak akan pernah mencoba audisi untuk peran ini. Namun secara objektif, penampilan Tan Yi sangat layak mendapatkannya, bahkan jauh melampaui ekspektasi Wang Zeyue.
Terhadap aktor berbakat yang memiliki sikap kerja yang baik, Wang Zeyue selalu bersedia memberikan bantuan.
Perusahaan Xinze dan Beiting pada dasarnya memang bersaing. Ia tidak keberatan untuk merusak sedikit keharmonisan semu atau jalinan kerja sama kecil di antara kedua pihak.
Namun, ia masih merasa agak merugi. Jadi, nanti...
*Klik.*
Terdengar suara kunci pintu digital yang terbuka.
Wang Zeyue memang sudah memberi tahu kode sandi pintunya kepada Tan Yi terlebih dahulu. Begitu melangkah masuk, ia langsung melihat sosok Tan Yi yang sedang duduk kaku di atas sofa.
"Tuan Muda Wang," sapa Tan Yi seraya langsung berdiri tegak. Ia menyunggingkan senyuman tipis sambil sedikit mengatupkan bibirnya.
Wang Zeyue dapat melihat dengan jelas bahwa pria itu sedang berusaha keras untuk bersikap sewajar mungkin. Langkah kakinya bahkan sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah takut dinilai kurang sopan atau asal-asalan.
Agak menyedihkan, batin Wang Zeyue.
Ia mengulurkan tangan, mengisyaratkan agar Tan Yi tidak usah menuangkan air untuknya. Kemudian, ia mengedikkan dagunya ke arah pintu kamar tidur, dengan sikap yang persis sama seperti tiga hari lalu di kamar hotel yang lain.
Bedanya, tempat yang pertama adalah kamar mandi yang sempat membuatnya bernapas lega, sedangkan tempat yang kedua ini adalah kamar tidur yang seketika membuat sekujur tubuhnya meremang.
"Tuan Muda Wang... saya," Tan Yi merasa tenggorokannya belum pernah sekerontang ini sebelumnya, "saya akan pergi membersihkan diri dulu..."
Wang Zeyue meliriknya sekilas.
Entah hanya ilusinya saja atau bukan, berkat kepekaan profesionalnya sebagai seorang aktor, Tan Yi yang otaknya sedang membeku seolah menangkap kilasan senyum tipis di wajah pria itu.
Namun, ia sudah tidak memiliki sisa energi lagi untuk menganalisis detail ekspresi tersebut.
Padahal ia tidak meminum obat apa pun, namun tubuhnya mendadak dibanjiri keringat dingin.
—Seharusnya ia tidak menaruh harapan kosong. Wang Zeyue hanya terkesan lebih mudah diajak bicara dibanding yang lain. Fakta bahwa pria itu tidak menyentuhnya terakhir kali bukan berarti ia tidak akan melakukannya kali ini. Namun, jika kali ini ia menyerahkan dirinya... lalu apa arti penolakannya yang keras terhadap Produser Feng sebelumnya?
Seharusnya sejak awal ia menjauh saja.
Meski secara sadar ia menghindari tatapan Wang Zeyue, otaknya masih merekam dengan jelas aura intimidasi yang menekan tersebut.
Di dalam dadanya mendadak bergejolak emosi pekat yang terdistorsi hingga hampir menyerupai kemarahan yang mendalam. Bagaikan seekor binatang buas yang telah lama kelaparan, memancarkan hasrat liar untuk mencabik-cabik apa saja di hadapannya.
Enam tahun penuh lamanya, mengapa—
"Kenapa malah melamun? Kemarilah."
Suara Wang Zeyue terdengar memanggil dari dalam kamar.
Tan Yi tahu ia harus segera mengambil keputusan. Pintu apartemen tidak dikunci. Ia hanya perlu berbalik pergi, mengabaikan semua aturan industri yang kacau dan kesepakatan terselubung itu.
Namun, tanpa alasan yang jelas, matanya seolah bergerak di luar kendali untuk memandang ke arah Wang Zeyue.
?
"..."
Pintu kamar tidur yang terbuka lebar membuat dirinya bisa melihat jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga ke langit-langit di dalam kamar, serta sebuah balkon kecil di luarnya.
Wang Zeyue sedang duduk di atas kursi ayunan di balkon kecil itu sambil menyandarkan kepalanya dengan malas. Sinar matahari tengah hari di awal musim dingin menyirami tubuhnya, membagi bayangan di wajahnya menjadi sisi terang dan gelap yang kontras.
Sisi wajah Wang Zeyue yang tertangkap oleh pandangan Tan Yi sepenuhnya diselimuti cahaya keemasan, memancarkan kesan yang entah bagaimana terasa hangat.
Emosi dan aliran darahnya yang sempat mendidih seketika membeku kembali.
Pada akhirnya, ia melangkah ke sana dengan patuh.
Melihat pria yang berdiri di hadapannya dengan ekspresi canggung tersebut, Wang Zeyue tidak dapat menahan senyum tipisnya, lalu berujar, "Pijat bahuku."
Ia memperhatikan bagaimana Tan Yi melangkah dengan kaku ke belakang kursi ayunan. Sepasang tangan kemudian mendarat di bahunya, namun dengan tekanan yang menyiratkan keraguan dan kebingungan.
Tanpa berniat membetulkannya, Wang Zeyue memejamkan matanya perlahan dan beristirahat dengan santai, "Ingin tahu hasil audisinya?"
Gerakan tangan di bahunya seketika terhenti sejenak.
"Ya."
"Peran itu milikmu."
"...Terima kasih, Tuan Muda Wang."
Walaupun sebelumnya ia sudah merasa cukup yakin, baru setelah mendengar kepastian langsung dari mulut pria inilah Tan Yi bisa benar-benar bernapas lega.
"Tidak perlu berterima kasih, itu karena kemampuanmu sendiri yang memang layak," sahut Wang Zeyue dengan nada santai seperti sedang mengobrol biasa. "Kandidat yang satunya lagi sebenarnya hampir dipastikan mendapat peran ini lewat jalur belakang. Kemampuan aktingnya pas-pasan. Jika kau tidak datang hari ini, peran tersebut kemungkinan besar akan jatuh ke tangannya.
"Tapi sayangnya kau datang... Ah, tidak, lebih tepatnya untung saja kau datang. Kalau tidak, film ini pasti akan dirusak olehnya. Hanya tinggal masalah seberapa parah kerusakannya saja."
Suara Wang Zeyue seolah memiliki daya pikat tersendiri. Hanya dengan beberapa kalimat saja, kecemasan Tan Yi perlahan-lahan mulai mencair. Menyadari bahwa sosok yang sedang dibicarakan adalah Gu Ning, lalu teringat akan ketegangan kecil yang terjadi sebelum audisi tadi, Tan Yi bahkan merasa ingin tertawa.
"Kalau begitu, saya harus lebih berterima kasih lagi kepada Anda. Di industri ini, kesempatan sering kali jauh lebih berharga daripada kemampuan semata. Jika bukan karena Anda, saya tidak akan pernah berpikir untuk mencoba audisi peran ini."
Ucapan tersebut terdengar sangat santun sekaligus menyenangkan, persis seperti yang diharapkan oleh Wang Zeyue.
Ia merasa sang Anak Keberuntungan ini memiliki potensi yang cukup menjanjikan. Padahal baru saja ia dibuat kebingungan setengah mati, namun kini ia sudah bisa mengendalikan dirinya kembali dengan sangat cepat dan baik.
Pijatan di bahunya pun terasa cukup nyaman.
Merasa rileks akibat pijatan tersebut, selang beberapa saat Wang Zeyue merasa posisinya agak terlalu ke kanan. Ia pun meminta Tan Yi untuk menggeser tangannya sedikit ke kiri.
"Di sini?"
"Hmm, sekarang terlalu ke kiri."
Karena malas mengarahkan dengan kata-kata, ia langsung meraih pergelangan tangan Tan Yi dan menuntunnya ke posisi yang tepat.
Pemuda di belakangnya seketika kembali menegang.
Wang Zeyue baru menyadarinya belakangan. Ia sempat tergoda untuk menjahilinya lagi, namun pada akhirnya ia melepaskan cengkeramannya dengan santai.
Bagaimanapun, ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan, dan akan lebih baik jika Tan Yi berada dalam kondisi yang cukup rileks.
—Karena hal itulah yang menjadi tujuan utama dari pesan teks yang ia kirimkan kemarin.