Bab 58: Wanita Rumah Tangga yang Ideal
"Bagaimanapun, nasi sudah menjadi bubur, apa gunanya aku mempedulikan beberapa menit ini? Lebih baik aku bersikap lebih santai," ujar Su Yue.
Chu Huaifeng menatap kedua kakinya yang rapat, lalu berkata, "Jika kau benar-benar bersikap santai, aku bisa menganggap diriku sangat beruntung bisa menikmati pemandangan indah ini."
"Kurang ajar!" Su Yue mendelik ke arahnya. "Cepat cari. Jika kau tidak bisa menemukannya, kau boleh meminta tolong padaku untuk mengambilkannya."
"Tidak perlu. Jika tidak salah, benda itu seharusnya berada di dalam meja teh ini," kata Chu Huaifeng sambil melirik meja teh di depannya.
Su Yue langsung terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Tadi saat aku mengatakannya padamu, kau langsung berdiri seolah ingin memastikan sesuatu. Rupanya saat itu kau ingin membuka meja teh ini," kata Chu Huaifeng sambil tersenyum. "Menurutmu, apakah caraku menebak ini sudah cukup pintar?"
"Kau memang pintar. Meja tehku ini adalah meja mekanis yang bisa digunakan untuk menyembunyikan beberapa benda." Su Yue meliriknya, lalu tiba-tiba tersenyum lagi. "Hanya saja, cara membukanya cukup rumit. Tuan Chu, bisakah kau mengerahkan kepintaranmu lagi untuk mengeluarkan batu giok itu?"
"Kau ini benar-benar suka merepotkan orang, rasanya seperti sedang memilih suami masa depan saja. Dahulu saat Putri Wencheng menikah pun tidak kerepotan ini," kata Chu Huaifeng dengan nada takjub, tetapi ia tetap mengulurkan tangan dan menepuk kaki meja di sisinya, lalu berjalan ke sisi Su Yue dan menepuk rangka meja di sana. Setelah itu, ia menekan bagian tengah meja dengan satu tangan dan menariknya. Seketika itu juga, seluruh meja berubah bentuk dan mengembang ke segala arah!
Meja teh yang tadinya hanya bisa menampung dua atau tiga orang untuk minum teh bersama, kini cukup luas untuk delapan orang.
Chu Huaifeng meraba bagian bawah meja, dan dalam sekejap ia menemukan sebuah kompartemen rahasia, lalu mengeluarkan sebuah lempengan batu giok dari dalamnya. Kualitas bahan batu giok itu sangat baik, dan di permukaannya terukir tulisan aksara Chu dari Zaman Negara-Negara Berperang yang berbunyi: "Semoga Raja Wu dari Chu hidup abadi bersama langit."
Namun, setelah meliriknya sekilas, Chu Huaifeng langsung tahu bahwa benda itu bukanlah barang asli. "Sepertinya barangmu telah ditukar."
"Benar dugaanku." Mendengar kata-kata itu, harapan terakhir Su Yue pun pupus.
Sengaja membiarkan Chu Huaifeng mengambilnya sendiri tadi bukanlah karena ia tidak cemas, melainkan agar harapan itu pupus sedikit lebih lambat.
Chu Huaifeng membalik lempengan batu giok itu dan menemukan selembar kertas kecil tertempel di bagian belakangnya, yang bertuliskan sebuah kalimat dengan jelas: "Pendekar Pencuri Surga Pernah Kesini."
"Pendekar Pencuri Surga!" Wajah Su Yue sedikit berubah melihat isi tulisan itu, namun ia langsung menerima kenyataan bahwa harta karurnya telah dicuri.
"Jika tangan dingin itu yang beraksi, kehilangan barang ini tidak bisa dibilang terlalu dirugikan."
"Memang tidak bisa dibilang dirugikan," angguk Chu Huaifeng.
Ayahnya, Chu Xiaofeng, pernah menceritakan kepadanya bahwa ada sembilan pendekar top di dunia persilatan, dan Pendekar Pencuri Surga adalah salah satunya. Identitas kelamin dan usia orang ini tidak diketahui, bersikap antara hitam dan putih, serta merupakan satu-satunya dari kesembilan pendekar top tersebut yang tidak pernah membunuh orang.
Namun, asalkan benda itu telah menarik perhatian Pendekar Pencuri Surga, tidak peduli seberapa tersembunyi tempat penyimpanannya, baik di dalam maupun di luar negeri, hasilnya hanya akan ada satu: pasti akan dicuri. Selain itu, di tempat kejadian akan ditinggalkan sebuah barang tiruan serta sebuah catatan kecil bertuliskan "Pendekar Pencuri Surga Pernah Kesini" sebagai tanda peringatan yang ramah, membuat korban sadar sepenuhnya bahwa barang mereka telah dicuri.
Orang itu bahkan bisa dikatakan cukup baik hati.
"Hanya saja, sebaiknya kau segera mengumumkan masalah ini secepat mungkin. Jika tidak, Nona Kedua Su bisa salah paham dan masalahnya akan menjadi besar."
"Hah, kau begitu mengkhawatirkan dia salah paham padaku?" Su Yue terkekeh pelan dan berbicara tidak sesuai dengan isi hatinya. "Selama bertahun-tahun kami selalu bersitegang, aku sama sekali tidak takut dia salah paham."
"Ini bukan masalah takut atau tidak, melainkan apakah hal itu perlu dilakukan atau tidak. Jelas sekali ada seseorang yang sengaja merencanakan konspirasi ini agar kalian berdua bersaudara saling bermusuhan." Chu Huaifeng berkata, "Apakah kau benar-benar ingin membiarkan dalang di balik layar ini mencapai tujuannya?"
"Hih, aku mengerti, nanti aku akan mengumumkan berita ini," dengus Su Yue kesal.
Chu Huaifeng tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Jika tidak ada hal lain, aku pergi dulu."
"Kau mau langsung pergi?" Su Yue tertegun.
Chu Huaifeng tersenyum. "Kenapa, kau merasa berat melepaskanku?"
"Pergi sana! Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan teh ini. Tadi sudah tersentuh olehmu, tidak apa-apa kalau kau habiskan dulu baru pergi," kata Su Yue buru-buru.
Chu Huaifeng tersenyum sambil menghabiskan teh di cangkir itu, kemudian berjalan turun ke lantai bawah.
"Aku akan mengantarmu." Su Yue berdiri dan mengejarnya.
Melihat mereka turun bersama, Paman Feng tersenyum dan berkata, "Nona Besar, Tuan Chu, apakah pembicaraannya sudah selesai?"
"Sudah selesai." Chu Huaifeng tersenyum sambil mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya, namun tidak melihat Duan Baobao. "Ngomong-ngomong, di mana Nona Duan?"
"Oh, maksudmu Baobao ya, dia sedang kebelet jadi baru saja ke toilet. Apakah Tuan Chu mencarinya untuk suatu urusan?" Paman Feng tersenyum ramah.
Sebenarnya, Duan Baobao pergi ke tempat lain setelah Paman Feng membongkar isi hatinya karena ia bingung bagaimana harus menghadapi Su Yue ke depannya. Mendengar suara langkah kaki mereka turun, Duan Baobao sengaja menghindari tempat itu.
Chu Huaifeng berujar "oh" dan berkata, "Tidak ada urusan apa-apa."
"Kalau begitu, cepatlah pergi, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan," desak Su Yue.
Begitu melihat Chu Huaifeng pergi tanpa menoleh sedikit pun, ia kembali menghentakkan kakinya dengan kesal. "Pria ini, saat pergi bahkan tidak tahu caranya menengok ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal. Sama sekali tidak punya sopan santun."
"Nona Besar, Anda sendiri yang mendesak Tuan Chu untuk cepat pergi, tapi sekarang Anda malah merasa dia pergi terlalu cepat, bukankah sikap Anda terlalu plin-plan?" tanya Paman Feng sambil tersenyum.
Wajah Su Yue memerah, ia berkata dengan rasa malu bercampur kesal, "Paman Feng, jangan sembarangan bicara. Siapa juga yang mengharapkannya berjalan pelan-pelan? Aku juga tidak plin-plan!"
"Nona Besar, terkadang jujur pada isi hati sendiri itu sangat penting. Kalau tidak, secerdas apapun Tuan Chu, dia tetap tidak akan mengerti apa yang ada di dalam pikiran Anda. Jodoh yang tadinya bisa terajut indah justru harus terlewatkan begitu saja hanya karena sifat Anda yang plin-plan," nasihat Paman Feng dengan sungguh-sungguh. "Sudah waktunya bagi Anda untuk jujur kepada Tuan Chu."
"Paman Feng, Anda salah paham. Aku baru bertemu dengannya beberapa kali saja, aku tidak punya ketertarikan seperti itu padanya, dan selamanya tidak mungkin punya ketertarikan seperti itu." Jantung Su Yue berdegup kencang, ia buru-buru berlari ke lantai atas.
Melihat punggung Nona Besarnya, Paman Feng hanya bisa menggelengkan kepala dalam hati. "Nona Besar masih terlalu gengsi, kuharap Tuan Chu tidak pergi terlalu cepat."
Setelah membereskan urusan kedua saudari keluarga Su itu, Chu Huaifeng sempat berkeliling sejenak di toko giok dan jalanan barang antik. Ia mencoba meraup sedikit rezeki nomplok dengan serendah mungkin menarik perhatian, baru kemudian pulang ke rumah.
Begitu mendorong pintu rumah dan menyalakan lampu, ia mendapati seluruh ruangan tampak sangat terang. Li Qiqi tampak kelelahan dan berbaring miring di atas sofa ruang tamu, roknya bahkan tersingkap dan memperlihatkan pemandangan yang membuat hati siapa pun bergejolak penuh gairah.
Chu Huaifeng menarik napas dalam-dalam dan hendak membuang muka agar tidak melihat, tetapi ia melihat Li Qiqi tiba-tiba bergerak sedikit, memperlihatkan sepotong renda hitam.
Kedua matanya langsung terpaku seketika.
Bagaimana mungkin seorang pria bisa mengalihkan pandangan dari pemandangan seperti itu?
Kecuali jika ia masih anak-anak yang pemalu dan merasa risih untuk melihatnya.
Melihat Li Qiqi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun, tanpa sadar Chu Huaifeng melangkah mendekat, membuat pemandangan itu terlihat semakin jelas di matanya.