Bab 97: Teman Bermain Datang
Alkisah, Monyet dan Beruang membawa surat izin dari markas untuk melapor ke pabrik senjata, bersama seorang petugas yang kebetulan hendak keluar menyelesaikan urusan. Ketika mereka sampai di hutan, matahari sudah tepat di atas kepala.
"Kak Monyet, menurutmu kita dipindahkan ke pabrik senjata itu buat apa, ya? Kita kan nggak paham soal alat-alat itu!" kata Beruang.
"Mana aku tahu buat apa!" jawab Monyet. Selesai berkata, ia menoleh pada prajurit yang ikut bersama mereka, "Eh, Saudara, maksudku, kawan, kalian memindahkan kami ke pabrik senjata itu buat apa? Kami juga nggak bisa bikin senjata atau peluru!"
"Aku juga nggak tahu! Nanti kalian sampai sana juga bakal jelas. Kalau atasan sudah memindahkan kalian, pasti ada gunanya. Atau jangan-jangan kalian berdua melakukan kesalahan?" jawab prajurit itu.
"Kami berdua jadi tentara baik-baik, mana mungkin buat salah. Atasan bahkan mau mengangkat aku jadi komandan peleton, dan Beruang jadi ketua regu! Kami ini tentara pilihan, mana mungkin berbuat salah!" Monyet buru-buru menimpali.
"Kalau begitu aku juga nggak tahu kenapa. Mungkin karena melihat kalian punya keahlian tertentu?" ujar prajurit itu.
"Melihat keahlian kami?" Monyet menggaruk-garuk kepalanya.
"Kak, kita kan nggak punya keahlian apa-apa, selain buka pintu paksa dan sedikit merampok. Kita nggak bisa yang lain," kata Beruang di sampingnya.
"Omong kosong! Itu kau sebut keahlian? Masa pabrik senjata butuh kita buat buka pintu, mencuri, dan merampok?" Monyet memaki, tapi mulutnya tetap bergumam.
"Coba pikir, soal keahlian kita itu tak ada yang tahu, selain Si Dungu. Tapi sekarang pun kita tak tahu dia di mana, masak dia ada di pabrik senjata? Rasanya tak mungkin, mana betah dia di sana!"
"Si Dungu itu, apa maksudmu Insinyur Hu?" tanya prajurit itu.
"Hah! Insinyur Hu? Bukan, namanya Hu Hao!" jawab Monyet agak terkejut, dalam hati samar-samar merasa memang benar Hu Hao.
"Ya, namanya Hu Hao, juga dipanggil Si Dungu. Dia insinyur di tempat kami, sangat hebat!" kata prajurit itu.
"Kak, lebih baik kita pulang saja, jangan ke pabrik senjata!" seru Beruang sambil berhenti. Monyet juga menelan ludah, lalu bertanya pada prajurit itu, "Kau yakin di pabrik senjata ada Si Dungu bernama Hu Hao? Dia punya kakak bermarga Zhang?"
"Ada, kakaknya itu direktur pabrik kami!" jawab prajurit itu, agak heran melihat Monyet begitu tegang, tapi tetap memastikan jawabannya.
"Sialan, pantes saja kami dipanggil ke pabrik senjata! Rupanya dia di sana, susah payah aku lepas dari dia, sekarang harus ketemu lagi, mati aku!" Monyet meraung setelah mendengar jawaban pasti dari prajurit itu.
"Kak, kita mundur saja, kalau tidak kamu bakal dipukuli lagi!" kata Beruang.
"Mundur apa! Kita sudah susah payah keluar dari sana, baru sekali coba usaha sendiri hampir saja celaka. Sekarang susah payah jadi tentara, mau mundur ke mana lagi!" keluh Monyet dengan wajah sedih.
"Eh, kalian ini kenapa sih? Apa menakutkannya pabrik senjata? Insinyur Hu itu biasanya baik, asal jangan ganggu dia saja!" ujar prajurit itu.
"Tapi dia suka memukul orang, tidak?" tanya Monyet.
"Nggak juga, cuma waktu itu dia memukul Komandan Li dari pleton penjaga, sampai terbaring di ranjang empat hari baru bisa bangun! Sekarang Komandan Li malah jadi pengawal Direktur Zhang. Lalu waktu itu juga sempat memukul orang dari bagian politik, sampai sekarang masih dirawat di rumah sakit! Selebihnya aku belum pernah lihat dia memukul orang, malah kakaknya hampir dua hari sekali memukuli dia!" kata prajurit itu.
"Hah! Sampai begitu?" seru Monyet.
"Kak, kalau tidak mundur, harus bagaimana?" tanya Beruang.
"Ayo, yang penting jangan cari gara-gara dengan dia. Ingat, Beruang, kita harus selalu dekat dengan Komandan Zhang, kalau tidak, tamat riwayat kita!" kata Monyet.
"Benar, Si Dungu itu cuma takut kakaknya, kita ikut saja dengan kakaknya, jadi pengawal dia saja!" jawab Beruang.
Sementara itu, Hu Hao merasa tidur di kantor terlalu panas. Ia mengambil jaring ikan, lalu di gerbang pabrik senjata yang berada di mulut gua, mengikat jaring itu di antara beberapa batang pohon untuk dijadikan hammock. Ia pun berbaring santai di sana. Kebetulan Komandan Zhang keluar hendak merokok, melihat Hu Hao tidur-tiduran seperti itu, ia pun mendekat.
"Bangun! Biar kakak coba!" Komandan Zhang melihat Hu Hao memejamkan mata, tahu adiknya itu belum benar-benar tidur, lalu berkata begitu.
Hu Hao mendengar suara itu, segera menghentikan latihan pernafasannya, membuka mata dan melihat kakaknya, lalu buru-buru berkata, "Kakak, kok malas-malasan keluar juga!" Ia bangun dan mempersilakan kakaknya berbaring.
Komandan Zhang pun rebahan dan berkata, "Eh, memang enak juga! Kau memang tahu caranya menikmati hidup!" Sambil berkata, ia mengeluarkan rokok dari saku bajunya.
"Aku keluar sekadar mau merokok, mana bisa seperti kau, malas banget!" Setelah berkata begitu, ia menyalakan rokok. Kini, Komandan Zhang hanya merokok milik Hu Hao saja, toh stok yang dibeli cukup untuk setengah tahun bagi mereka berdua.
"Hehe, Kak, gimana kalau aku buatkan satu lagi untukmu di sini, jadi kalau keluar bisa ikut rebahan juga?" tanya Hu Hao.
"Nggak usah, aku tak butuh itu. Kalau mau tiduran, tinggal suruh kau bangun saja. Kau tiap hari tiduran, kalau aku datang kau berdiri saja!" kata Komandan Zhang.
"Oh! Kalau begitu, Kak, kapan kita bisa keluar dari sini?" tanya Hu Hao.
"Sebentar lagi. Waktu itu Komandan Chen bilang, kalau mesin bubut sudah jadi, kita boleh keluar!" jawab Komandan Zhang sambil menatap dahan pohon di atas. Ia sendiri ingin cepat-cepat keluar, tapi mesin bubut itu rancangan Si Dungu, jadi ia harus bantu adiknya agar dapat penghargaan itu. Kalau rancangan orang lain, sejak arah angin dari atasan berubah, ia pasti sudah minta dipindah ke Komandan Chen. Tapi sekarang belum bisa, masih harus sabar menunggu.
Usai merokok, Komandan Zhang bangun dari hammock, "Kau juga jangan terus-terusan tiduran. Kalau ada orang cari kau, segera urus urusannya! Kalau mesin bubut itu cepat selesai, kita juga cepat keluar, paham?"
"Iya, tenang saja, Kak. Aku juga ingin keluar, bosan di sini!" kata Hu Hao.
"Bagus, kalau kau merasa bosan. Sudah, aku tak bicara lama-lama, sekarang Direktur Wang lagi awasi mesin bubut, aku mau keliling pabrik!" kata Komandan Zhang, hendak pergi.
Saat itu, ia melihat tiga orang melewati pos jaga dan masuk ke area pabrik senjata. Ia memperhatikan, lalu berkata pada Hu Hao, "Si Dungu, itu bukannya Beruang dan Monyet?"
Mendengar itu, Hu Hao langsung menoleh, lalu tertawa, benar saja, memang Beruang dan Monyet. "Hehe, akhirnya mereka datang juga. Kak, kau urus saja urusanmu, aku mau bersenang-senang!"
"Dasar bocah, jangan asal pukul orang!" kata Komandan Zhang sambil berlalu. Hu Hao meludah ke telapak tangannya, menggosok-gosok, lalu melangkah menuju Beruang dan Monyet!