Bab 33: Cemburu yang Begitu Menggelora
Dia benar-benar tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, pikirannya sempat kosong sejenak.
Saat tusukan itu melayang, Feng Chao dengan sigap dan tangkas berdiri di depannya. Ujung pena itu menggores lengannya, dan darah pun langsung merembes keluar.
"Feng Chao!"
Jiang Nairan memegang lengan pria itu dengan cemas. Saat melihat luka yang berdarah itu, raut wajahnya langsung berubah kelam. Ia menoleh dan berkata, "Di mana petugas keamanan? Bawa dia pergi dari sini!"
Petugas keamanan yang baru saja tiba segera bertindak dan mengamankan Cheng Yanqin. Sambil meronta-ronta, Cheng Yanqin berteriak dengan kasar, "Jiang Nairan! Kau bukan manusia! Kau tidak tahu berterima kasih, kau berhati busuk! Aku tidak pernah berbuat jahat padamu, tapi kau malah memperlakukan putri kandungku seperti ini! Lepaskan aku!"
Jiang Nairan mencibir, "Apa buktinya kalau aku menjebak Jiang Qingyu? Bicara soal itu, aku justru ingin bertanya padamu, setelah dua puluh tiga tahun membesarkanku, kenapa kau sama sekali tidak percaya padaku?"
"Kau... kau!" Cheng Yanqin terdiam dengan sorot mata yang gelisah. Ia lalu berteriak dengan nada seolah paling benar, "Itu karena kelakuanmu tidak baik! Dari kecil sudah tidak benar!"
"Hah."
Mungkin karena sudah terlalu sering dikecewakan, saat mendengar ucapan ibu angkatnya itu, hatinya justru tidak lagi merasa sakit.
"Bawa dia pergi," ujar Jiang Nairan sambil mengangguk ke arah petugas keamanan.
Cheng Yanqin diseret pergi sambil terus mengoceh penuh makian. Di luar kantor, sekretaris dan asisten berkerumun di dekat pintu, mengintip dengan penuh rasa ingin tahu. Jiang Nairan berkata dengan dingin, "Sampaikan perintah ini, dilarang menyebarkan rumor di dalam perusahaan. Jika aku sampai mendengar sesuatu yang tidak seharusnya, ingatlah nasib Zhou."
"Baik."
"Baik."
Jiang Nairan menatap lengan Feng Chao dengan kening berkerut, "Aku akan mengantarmu ke rumah sakit terlebih dahulu."
"Ini luka ringan, tidak apa-apa," jawab Feng Chao yang tampak tidak terlalu peduli.
"Tetap saja, kita harus memeriksanya."
Atas desakan Jiang Nairan, mereka pun pergi ke rumah sakit.
...
Di sisi lain.
Jiang Qingyu dihantui mimpi buruk selama beberapa hari berturut-turut. Setiap kali teringat bagaimana pria berminyak itu menyentuhnya dan dirinya yang justru terbuai hingga meminta ciuman, ia merasa mual. Ia tidak tahu apakah Pei Ji akan mempermasalahkan hal itu atau menganggapnya kotor. Sikap Nenek Pei terhadapnya sudah sangat buruk, ia tidak boleh kehilangan Pei Ji sebagai sandarannya.
"Ah!"
Perawat yang tidak sengaja menyenggol lukanya dengan kapas membuat Jiang Qingyu yang sedang kalut langsung meluapkan amarahnya. Ia menepis tangan perawat itu dengan kasar, "Apa kau tidak punya mata?!"
"Maaf, maafkan saya!" perawat itu membungkuk berulang kali untuk meminta maaf.
Jiang Qingyu memutar bola matanya dengan tidak sabar, "Pergi!"
"Tapi luka Anda belum..."
"Apa kau tidak mendengar ucapanku? Pergi!"
"Baik."
Setelah perawat itu keluar, Jiang Qingyu bersandar pada bantalnya dengan perasaan sesak. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang seharusnya ia perbuat?
Ponselnya berdering. Jiang Qingyu melirik peneleponnya lalu menjawab dengan kesal.
"Ada apa? Apa maksudmu? Kenapa kau pergi ke perusahaan dan membuat keributan?"
Cheng Yanqin berkata dengan nada merasa terzalimi, "Aku sedang membelamu! Biar semua orang di perusahaan melihat seperti apa sebenarnya Jiang Nairan itu."
"Kau!" Jiang Qingyu sangat marah, "Sudahlah, sekarang bagaimana? Bagaimana situasinya?"
Cheng Yanqin menjawab dengan sengit, "Ada seorang pria yang menghalangi tusukan untuk Jiang Nairan, kalau tidak, aku pasti sudah membuatnya membayar mahal!"
Seorang... pria?
Jiang Qingyu menutup telepon dengan pikiran yang melayang. Mungkinkah itu Feng Chao? Guru sekaligus asisten Jiang Nairan. Ia segera menelepon Pei Ji, namun panggilannya tidak dijawab.
Mendengar nada sambung yang terus berbunyi, ekspresi Jiang Qingyu perlahan berubah dingin. Ia menggenggam ponselnya erat-erat lalu menekan nomor lain.
"Halo, Sekretaris Lin. Apakah Pei Ji ada? Aku meneleponnya, tapi tidak diangkat."
"Nona Jiang, Pak Pei baru saja menerima telepon dan langsung pergi dengan terburu-buru," jawab Sekretaris Lin dengan nada bingung, "Bukankah Anda yang meneleponnya? Melihat raut wajah Pak Pei, seolah-olah langit akan runtuh. Saya pikir terjadi sesuatu pada Anda."
Jiang Qingyu tidak lagi mendengar apa pun yang dikatakan di telepon, ia meremas ponselnya dengan kuat. Tidak mungkin kebetulan sekali, bukan? Apakah Pei Ji pergi mencari Jiang Nairan?
...
Di rumah sakit.
Dokter sedang mengobati luka Feng Chao, sementara Jiang Nairan berdiri di sampingnya dengan raut wajah serius.
"Tidak apa-apa," Feng Chao berusaha menghiburnya karena takut Jiang Nairan merasa bersalah, "Ini hanya luka kecil, sebenarnya tidak perlu ke rumah sakit pun tidak masalah."
"Tidak bisa bicara begitu, kau terluka karena aku," Jiang Nairan tersenyum getir, "Bisa dibilang, aku berhutang budi padamu."
"Aduh, anak muda, jangan bicara begitu," dokter yang telah selesai membalut luka itu pun terkekeh, "Sudah kewajiban pria untuk melindungi wanita. Saat bahaya datang, jika pacarmu tidak melindungimu dan malah lari meninggalkanmu, baru saatnya kau berpikir untuk mencari pacar baru."
Kedua orang yang bersangkutan saling melirik dengan canggung. Jiang Nairan menggeleng, "Dokter, Anda salah paham, kami bukan sepasang kekasih."
Mungkin karena bosan bekerja, dokter itu pun mencoba menjodohkan mereka, "Kalau begitu, apa kau masih lajang? Jika iya, pertimbangkanlah dia. Pemuda ini rela berkorban demi dirimu, karakternya pasti baik..."
Di luar pintu, Pei Ji yang telah mendengarkan cukup lama akhirnya tidak tahan lagi dan langsung mendorong pintu hingga terbuka. Ia datang karena mendengar Jiang Nairan terluka, namun tidak menyangka akan mendengar percakapan seperti itu.
*Brak!* Suara pintu yang terbuka mengejutkan ketiga orang di dalam ruangan.
"Pei Ji?" Jiang Nairan tampak terkejut, "Kenapa kau ada di sini? Kau... ada yang tidak enak badan?"
Pei Ji meliriknya dengan dingin, lalu menatap dokter itu dengan tajam, "Apa Anda salah tempat kerja?"
"..."
Mungkin karena aura Pei Ji yang terlalu kuat, dokter itu menggeleng ketakutan.
Pei Ji mencibir, "Begitu ya? Kupikir Anda bekerja di kantor catatan sipil."
"..."
Dokter itu yang sudah makan asam garam kehidupan, mengarahkan pandangannya secara bergantian pada ketiganya dan langsung mengerti. Oh, ternyata cemburu!
Feng Chao menatap Pei Ji dan sedikit tersadar. Musuh, ya? Tapi kelihatannya tidak seperti itu.
Di ruangan itu ada empat orang, hanya Jiang Nairan yang kebingungan. Bahkan setelah keluar, ia masih merasa heran, "Pei Ji, apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"
Seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman. Pei Ji menjawab dengan wajah dingin, "Tidak."
"Lalu untuk apa kau ke rumah sakit?"
"Hanya lewat."
"..."
Hanya lewat, alasan yang luar biasa. Jiang Nairan tidak tahu harus berkata apa lagi. Dalam lamunannya, ia tiba-tiba terpikir sebuah ide yang tak masuk akal, "Jangan-jangan, kau datang untuk mencariku?"
Feng Chao diam-diam mengangguk, ya, benar sekali.
Rahang Pei Ji mengeras, ia mendengus, "Mimpi apa kau siang-siang begini?"
"..." Jiang Nairan menggaruk dagunya. Ia tidak bisa disalahkan jika merasa percaya diri, pasalnya segala tanda memang mengarah ke sana. Pei Ji muncul di sini secara kebetulan, tidak mungkin dia datang untuk menjenguk Feng Chao, kan?
Suasana mendadak kaku. Pei Ji merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan Jiang Nairan yang seolah ingin mengatakan sesuatu. Saat ia hendak membalas dengan pertanyaan 'apa rumah sakit ini milik keluargamu?', sebuah suara lembut terdengar.
"Pei Ji, kau di sini rupanya."
Ketiganya menoleh dan melihat Jiang Qingyu berlari kecil mendekat, lalu menggandeng lengan Pei Ji dengan manja, "Aku sudah mencarimu ke mana-mana. Bagaimana, apa kau sudah menyelesaikan urusanmu dengan Nairan?"
Urusan?
Jiang Nairan mengerutkan kening.