Bab 54: Melepaskan Sungguhan dan Berdamai Palsu
Semula, semua orang menduga Jiang Qingyu pasti akan merasa tidak rela setelah posisi wakil direktur umumnya direbut oleh anak kandung keluarga Jiang yang sebenarnya.
Tanpa diduga, ia justru dengan murah hati mengadakan sebuah jamuan makan untuk merayakan kenaikan jabatan Jiang Naran.
Tindakan ini mendatangkan banyak pujian.
Pasangan suami istri keluarga Jiang pun merasa lega karenanya.
Selama jamuan makan berlangsung, Jiang Naran bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, ia makan dan minum dengan tenang.
Pei Ji duduk di hadapannya, lalu mengeluarkan sebuah kotak dan menyerahkannya kepadanya, "Ini hadiah ucapan selamat yang diminta nenekku untuk kuberikan kepadamu."
Nenek Pei?
Keempat orang di meja makan itu langsung tertegun.
Jiang Naran menarik kembali pikirannya, lalu menerima kotak itu dengan senyuman paling sopan di wajahnya, "Terima kasih. Tolong sampaikan rasa terima kasihku atas niat baik Nenek Pei."
Pei Ji menjawab dengan datar dan mengalihkan pandangannya.
Xiao Qiurong melirik sekilas ke arah ekspresi Jiang Qingyu yang tampak tidak senang, lalu batuk kecil dengan lembut dan berkata, "Naran, sepertinya Nyonya Besar Pei sangat menyukaimu."
"Nenek Pei terlalu memujiku." Jiang Naran membalas dengan senyuman yang menyiratkan sopan santun sekaligus jarak.
Seolah-olah ketidaknyamanan pada malam itu tidak pernah ada.
Xiao Qiurong meredupkan tatapannya dengan perasaan canggung.
Begitu celah tercipta, sangatlah sulit untuk menghilangkannya.
Jamuan makan itu berlalu dengan tenang.
Setelah selesai makan, Jiang Naran dipanggil oleh Jiang Lin Cheng untuk mengobrol sejenak, lalu ia bersiap untuk pergi.
"Naran."
Jiang Qingyu tiba-tiba memanggilnya.
Ia menoleh dan melihat pasangan serasi itu berdiri di bawah cahaya rembulan.
"Ini untukmu, hadiah dariku dan Pei Ji untukmu." Jiang Qingyu berlari kecil mendekat dan menyelipkan sebuah kotak ke tangan Jiang Naran.
"……Terima kasih."
Reaksi Jiang Naran tampak biasa saja.
"Apa kau akan langsung kembali ke apartemen?" Jiang Qingyu mengerutkan kening. "Sudah larut malam, dan kau juga minum, jadi kau tidak bisa menyetir. Sebaiknya menginap saja di sini malam ini."
Kata-kata itu terucap seolah-olah dirinyalah pemilik rumah ini.
Jiang Naran malas menanggapi niat terselubung itu. "Tidak perlu, aku sudah memesan layanan pengemudi pengganti."
"Kalau begitu baiklah." Jiang Qingyu memasang ekspresi serba salah. "Namun Naran, aku tahu kau sibuk bekerja, tapi luangkanlah waktu untuk pulang dan menemani Ayah dan Ibu."
"Akan aku lakukan."
Jiang Naran tidak berniat meladeninya. Ia melirik jam tangannya dan langsung berkata, "Pengemudi penggantinya sudah hampir tiba, aku pergi dulu."
"Hati-hati di jalan, beri tahu kami kalau sudah sampai," pesan Jiang Qingyu dengan penuh perhatian.
"Baik."
Begitu membalikkan badan, Jiang Naran baru tersenyum tipis.
Entah apakah Jiang Qingyu bisa tidur nyenyak malam ini, mengingat ia harus bersandiwara sepanjang malam.
Setelah orang yang pergi itu menghilang dari pandangan, Jiang Qingyu baru menarik kembali pandangannya. "Pei Ji, kau……"
Pria itu terdiam tanpa suara, pandangannya terpaku lekat-lekat ke arah kepergian Jiang Naran.
Hatinya terasa seperti dicengkeram sesuatu.
"Pei Ji? Ada apa?" tanya wanita itu dengan suara lembut, jemarinya mencengkeram lengan pria itu posesif.
"Tidak apa-apa." Pei Ji menarik kembali pandangannya.
Sepanjang malam berlalu, Jiang Naran bahkan nyaris tidak meliriknya sama sekali.
Ia duduk di hadapannya seolah-olah dirinya hanyalah udara kosong.
"Kalau begitu, hari sudah malam, pergilah beristirahat." Jiang Qingyu menggigit bibir bawahnya dengan malu-malu. "Sudah larut, menginaplah di sini malam ini, aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan tambahan selimut."
Bagi pria dan wanita dewasa, makna dari ucapan seperti itu sudah sangat jelas.
Pei Ji menoleh dan meliriknya sekilas.
Wanita inilah yang telah ia putuskan untuk dinikahi.
Ia berdandan dengan sangat cantik, ia memiliki budi baik padanya…… namun hati Pei Ji justru setenang air di waduk.
Di bawah tatapan penuh harap dari Jiang Qingyu, Pei Ji melepaskan cengkeraman tangan wanita itu dari lengannya. "Aku masih ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan, aku pulang dulu. Tidur lebih awal."
Usai berkata demikian, Pei Ji pun pergi.
Jiang Qingyu menatap kosong ke arah punggung pria itu, air matanya nyaris tumpah.
"Qingyu." Xiao Qiurong berjalan mendekat dan merangkul pundaknya.
"Ibu juga melihatnya." Jiang Qingyu tersenyum getir seraya berkata, "Selama jamuan tadi, Pei Ji terus menatap Naran."
"……" Xiao Qiurong tidak tahu bagaimana harus menghiburnya.
Jiang Naran sama sekali tidak berusaha merayu Pei Ji sepanjang acara. Namun, tatapan Pei Ji justru bagaikan direkatkan oleh lem.
"Tenanglah, Pei Ji sudah mengatakan bahwa ia akan menikahimu."
"Tapi ia semakin bersikap dingin padaku." Jiang Qingyu menunduk sambil mengusap matanya. "Ibu, aku tahu. Perusahaan maupun Pei Ji, semuanya adalah milik Naran. Jika ia menginginkannya, aku bisa mengembalikan semuanya kepadanya."
"Jangan bicara sembarangan," ucap Xiao Qiurong dengan nada penuh rasa iba. "Naran tidak akan merebut Pei Ji darimu."
"Lalu bagaimana dengan Pei Ji?" Jiang Qingyu tersenyum masrah. "Sepertinya hanya jika Naran sudah menikah, barulah Pei Ji bisa melepaskan hatinya."
"……" Xiao Qiurong merasa tergugah oleh gagasan tersebut dan mulai memikirkannya secara serius.
Dalam perjalanan pulang, Jiang Naran sedang membaca surel menggunakan komputer tabletnya.
Tiba-tiba, sebuah mobil menyalip dengan kecepatan tinggi dan langsung berhenti di jalur mereka.
Untunglah pengemudi pengganti itu memiliki refleks yang cepat dan langsung menginjak rem darurat.
Kepala Jiang Naran nyaris membentur kaca jendela.
"Ada apa?"
"Entahlah, ada mobil yang menghalangi jalan di depan," jawab sang pengemudi. "Aku akan turun memeriksanya, Anda tetap di dalam mobil saja."
Jiang Naran baru saja hendak mengiyakan ketika ia melihat sesosok orang yang tidak asing turun dari mobil tersebut.
Alisnya mengernyit, dan ekspresinya perlahan-lahan berubah menjadi serius.
Pei Ji berjalan mendekat, lalu membuka pintu mobil bagian belakang. "Keluar."
"……" Ada masalah apa ini, untuk apa?
Jiang Naran memasang senyum sopan untuk menolak, "Tuan Pei, sudah larut malam, aku masih harus terburu-buru pulang. Jika ada urusan apa pun, kita bicarakan saja besok..."
Belum sempat kalimatnya selesai.
Tanpa banyak bicara, Pei Ji langsung menariknya keluar.
Kelopak mata Jiang Naran berkedut kencang.
"Tolong, kembalikan mobil ini." Setelah berpesan dengan sopan kepada sang pengemudi, Pei Ji langsung memasukkan Jiang Naran ke dalam mobilnya sendiri.
Kemudian, tanpa memberi kesempatan bagi wanita itu untuk melawan, ia berjalan memutar ke kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan langsung melaju pergi.
Jiang Naran kembali nyaris membentur kaca jendela untuk kedua kalinya.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya dengan senyum kaku, "Tuan Pei, atas segala tindakan yang Anda lakukan ini, Anda seharusnya sudah memikirkan penjelasan apa yang akan diberikan, bukan?"
Pei Ji bergeming tanpa suara, tangannya yang mencengkeram roda kemudi semakin mengerat.
Tidak ada.
Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.
Tidak mendapat jawaban, Jiang Naran berkata dengan nada kesal, "Tuan Pei, jika Anda tidak bisa menjelaskannya, tolong turunkan aku."
Begitu ingin menghindarinya, ya? Apa dirinya ini semacam monster yang menakutkan?
Pei Ji menginjak pedal gas, membuat mobil itu melaju semakin kencang.
Pemandangan di kedua sisi jalan nyaris berubah menjadi bayangan buram.
Dorongan ke belakang yang kuat membuat Jiang Naran merasa tertekan, hingga ia mencengkeram pegangan tangan di pintu mobil dengan erat karena ketakutan.
"Pelankan lajunya!"
"Tutup mulutmu."
Nada suara Pei Ji terdengar jengkel.
Jiang Naran menggigit bibirnya, lalu mengumpat dalam hati bahwa pria itu sudah gila.
Dirinya bahkan tidak mencari masalah dengannya dan sudah berusaha menghindar sedemikian rupa, lalu apa lagi yang membuat pria ini tidak puas?
Sepanjang perjalanan, keduanya tidak lagi berbicara sepatah kata pun.
Hingga akhirnya mobil tersebut berhenti di bawah gedung Sheng Shi.
Jiang Naran dipenuhi tanda tanya. "Apa maksudnya ini?"
"Naik ke atas." Setelah melontarkan dua kata itu, Pei Ji melangkah lebih dulu menuju gedung.
"……" Sungguh tidak masuk akal! Sudah larut malam begini, alih-alih bermesraan dengan Jiang Qingyu, untuk apa ia menyeretnya datang ke perusahaan?
Di wilayah kekuasaannya ini, apakah memukulinya akan terasa lebih leluasa?
Jiang Naran sempat merasa khawatir tidak tentu arah sejenak, sebelum akhirnya berjalan naik dengan tenang.
Ia tidak pernah mencari masalah dengan Pei Ji, jadi jika pria itu berani memukulnya, ia pasti akan melawan sampai titik darah penghabisan!
Lantai paling atas adalah area kantor Pei Ji.
Jiang Naran sering datang ke tempat itu sebelumnya, sehingga ia sudah cukup hafal.
Pintu kantor tidak terkunci dan lampunya menyala. Ia mendorong pintu dan melangkah masuk, mendapati Pei Ji sedang duduk di balik meja kerjanya sambil membalik-balik dokumen.
"???"
Situasinya semakin terasa aneh.