Bab 59 Tiga Pria, Satu Drama?
“……”
Jiang Nairan tertegun sejenak, menoleh ke kanan dan ke kiri, baru menyadari bahwa para pengawal itu sudah tidak ada.
Saat ia sedang merasa penasaran, Pei Ji tanpa banyak bicara langsung duduk di kursi pengemudi.
“???”
Ia terkejut, lalu segera berputar dan duduk di kursi penumpang. “Tuan Pei, Anda ini…… Mmph!”
Ucapan itu bahkan belum selesai.
Mobil sudah melesat pergi.
Ia tersentak kaget dan buru-buru mengenakan sabuk pengamannya.
Sepanjang perjalanan, Pei Ji menolak untuk berkomunikasi, memasang ekspresi seolah-olah semua orang berhutang lima juta padanya, lalu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
“……” Betapa bertanggung jawab, sepertinya status Tang Zhou sebagai adik ipar cukup berarti di hati Pei Ji.
Jiang Nairan melirik Tang Zhou dengan sedikit rasa iri.
Namun kemudian ia mendapati pria itu sedang menatapnya dengan tatapan seolah-olah ia seorang idiot.
“!!!” Jiang Nairan langsung melayangkan sebuah tamparan ringan ke kepala Tang Zhou tanpa sungkan. “Kakakmu ini hampir kehabisan sel otak sepanjang malam hanya demi mengeluarkanmu dalam keadaan utuh, apa itu tatapan yang pantas kau berikan kepada penyelamatmu?”
“……” Tang Zhou memalingkan wajahnya dan menolak untuk berbicara.
Jiang Nairan mendengus dingin, lalu langsung membawa pemuda itu ke ruang medis untuk dibalut lukanya.
Untungnya itu hanya luka luar, dan semuanya selesai ditangani dalam waktu singkat.
“Aku akan mencari waktu untuk menghapus tato di tubuhmu itu,” ucap Jiang Nairan setelah membayar biaya pengobatan dan mengambil obat, lalu menceramahi Tang Zhou saat mereka keluar. “Kau masih seorang pelajar, apa kau benar-benar mengira dirimu gangster jalanan?”
“…… Apa hubunganmu dengan pria di bar itu?” Tang Zhou tentu tidak bodoh; bagi seorang pelajar, mustahil ada orang yang sengaja mencarinya sekadar untuk mencari masalah tanpa alasan.
“Oh, dia cuma seorang pria kenalan kencan buta,” helat Jiang Nairan. “Waktu kencan buta terakhir kali, aku membatalkannya secara sepihak, jadi sepertinya dia merasa kesal dan ingin memberiku pelajaran lewat kamu.”
“Kencan buta?” Tang Zhou sangat terkejut. “Bukankah kau sudah punya Pei Ji? Apa dia akan membiarkanmu pergi kencan buta?”
“Hei, Kakak, sadarlah. Pei Ji itu calon kakak iparmu, kakak iparnya Jiang Qingyu,” kata Jiang Nairan sambil memutar bola matanya.
“Heh, kurasa hanya kau yang berpikir begitu,” cibir Tang Zhou. “Akulah yang menelepon Pei Ji. Aku bilang kau sedang dalam bahaya, dan tanpa pikir panjang dia langsung datang membawa orang.”
“……” Jiang Nairan tertegun, wajah cantiknya dipenuhi dengan rasa tidak percaya.
Melihat ekspresi kostumer yang dungu itu, Tang Zhou menggelengkan kepalanya tanpa berkata-kata. “Tentu saja, kalau mau, kau juga bisa terus berasumsi bahwa Pei Ji melindungimu hanya karena dia adalah calon kakak ipar Jiang Qingyu.”
Setelah berkata demikian, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan pergi dengan gaya keren.
Jiang Nairan segera mengejarnya sambil mengerutkan kening. “Kenapa rasanya kau begitu benci pada Jiang Qingyu?”
“Apa aneh? Aku juga cukup benci padamu,” jawab Tang Zhou dengan nada menyindir yang mencakup semuanya.
Pemuda ini benar-benar minta dipukul!
“Mengingat hari ini kau baru saja dijebak orang dan cinta pertamamu kandas sebelum sempat bersemi, aku tidak akan mempermasalahkannya denganmu.”
Tang Zhou meraba wajahnya sendiri dan berkomentar, “Aku mengenalnya, tapi aku tidak menyukainya. Kalau dia ditindas, aku tidak mungkin hanya diam melihatnya.”
“Begitukah?” Jiang Nairan bertanya dengan curiga. “Lalu tipe seperti apa yang kau suka?”
“……”
Tang Zhou menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi, lalu berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Makin hari anak ini makin songong saja…… batin Jiang Nairan sambil mengomel, lalu berjalan menyusulnya.
……
Jiang Qingyu baru mengetahui berita itu sehari setelah kejadian.
Cheng Yanqin berkata dengan penuh semangat di ujung telepon, “Kudengar Pei Ji pergi ke sana, lihatlah betapa mampunya dirimu, Qingyu. Demi kamu, Pei Ji bahkan turun tangan sendiri mengurus masalah adikmu.”
“Biasa saja, sudah sepatutnya begitu,” jawab Jiang Qingyu.
“Tentu saja, tentu saja. Siapa suruh anak perempuan kesayanganku ini berhasil mendapatkan menantu yang begitu baik. Kau ini memang ditakdirkan hidup beruntung,” ucap Cheng Yanqin semakin antusias.
Jiang Qingyu tersenyum tipis dan memotong ucapannya, “Baiklah, tapi bagaimana bisa Tang Zhou sampai menyinggung orang lain?”
“Ceritanya panjang kalau dibahas.”
Cheng Yanqin mengulang kembali kejadian hari kemarin.
Setelah mendengarkannya, ekspresi wajah Jiang Qingyu mulai sedikit berubah. “Nainai juga ada di sana hari itu?”
“Betul. Waktu orang itu menelepon, dia secara spesifik menyebut nama Nainai untuk datang menebusnya,” kata Cheng Yanqin tanpa paham duduk perkaranya. “Tenang saja, orang yang mempersulit adikmu itu sepertinya adalah pria kenalan kencan butanya Jiang Nairan.”
“…… Kencan buta? Siapa?”
“Namanya Lin siapa ya, Lin Zhen?” Cheng Yanqin menepuk paha dan teringat. “Jadi kau tidak perlu khawatir, Jiang Nairan itu sepertinya tahu dia tidak bisa mengandalkan Pei Ji lagi, makanya dia beralih mencari pria lain.”
Lin Zhen?
Jiang Qingyu tersenyum tipis, ternyata itu dia.
Ponselnya kembali berdering, ia mengangkatnya. “Halo, semuanya sudah diatur? Baik, aku mengerti.”
Setelah menutup telepon, Jiang Qingyu dengan tenang merias alisnya di depan cermin.
Setelah hari ini, ia pasti bisa membuat Nenek Pei mengubah pandangannya terhadap dirinya.
……
Di dalam sebuah kafe.
Jiang Nairan sedang membalas pesan di ponselnya sambil mendongak untuk menatap pria di hadapannya.
Ia menghela napas tanpa daya. “Tuan Muda Lin, meskipun kita adalah rekan kencan buta, kita tidak harus berkencan secara langsung di dunia nyata. Kalau orang tua kita bertanya, katakan saja kita masih saling mengenal dan mendekati satu sama lain.”
Kariernya baru saja merintis, ia benar-benar tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu untuk urusan kencan buta.
Lin Zhen menatapnya dengan wajah yang tampak sangat kelelahan. “Kau salah paham.”
“?”
Lin Zhen terdiam sesaat, lalu dengan senyap mengeluarkan sebuah kotak dan mendorongnya ke hadapan wanita itu. “Silakan diterima.”
“……” Jiang Nairan tidak menerimanya. Disuguhi kopi dan diberi hadiah, jangan-jangan pria ini benar-benar memiliki niat tersembunyi terhadap dirinya?
“Kau salah paham!” Lin Zhen mendadak merasa kesal karena malu. “Aku hanya ingin memintamu membantuku memastikan, apakah Pei Ji benar-benar tidak mempermasalahkan insiden hari itu saat aku menghajar adik iparnya?”
Jiang Nairan menatapnya dari atas ke bawah dengan rasa tidak percaya, lalu menghela napas kagum dari lubuk hatinya. “Tidak kusangka kau ternyata begitu penakut ya?”
“Siapa yang tidak takut pada Pei Ji?” Lin Zhen membela dirinya. “Sampai sekarang, orang yang sudah menyinggungnya tapi masih bisa hidup dengan baik-baik saja, kurasa hanya kau seorang, kan?”
Jiang Nairan membatin dalam hati bahwa pria itu tidak perlu memujinya setinggi itu; di kehidupan sebelumnya, ia juga mati mengenaskan gara-gara menyinggung Pei Ji, hanya saja di kehidupan kali ini ia sedikit lebih tahu diri.
“Ambil kembali hadiahmu ini,” ucapnya. “Selama kau tidak berulah lagi di masa depan, Pei Ji tidak akan mencarimu untuk memperhitungkan masalah yang lalu.”
“Kau yakin?”
“…… Aku bersumpah.”
“Baguslah kalau begitu!”
Lin Zhen mengembuskan napas lega.
Pada saat itu, sebuah suara dingin menyela, “Jiang Nairan?”
Keduanya mendongak dan melihat Gu Siyan berjalan mendekat dengan wajah muram. Begitu melihat kotak yang terletak di atas meja, pria itu langsung salah paham. “Skandal Tuan Muda Lin yang kausuruh selidiki hari itu, jangan-jangan tujuannya adalah untuk memerasnya agar mau menjadi pacarmu?”
“……” Lin Zhen hampir melompat dari kursinya. “Apa? Skandal-skandal tentangku itu kausuruh selidiki olehnya?”
Pantas saja detailnya begitu luar biasa teliti, rupanya itu ulah dari pihak keluarga Gu!
Ujung mata Jiang Nairan berkedut kencang. Ia memijat dahinya sendiri dan berkata, “Silakan dilanjutkan mengobrolnya, aku pergi duluan.”
“Berhenti di situ,” hardik Gu Siyan dengan nada kesal. “Kau ini keterlaluan sekali! Tuan Muda Lin tidak bersalah apa-apa, bagaimana bisa kau memaksanya melakukan hal di luar kehendaknya?”
Lin Zhen merasa begitu malang hingga ingin menangis. “Bukan begitu, Tuan Muda Gu. Aku tidak punya dendam padamu, kenapa kau malah mencelakaiku?”
“Bukankah sekarang aku sedang membela dirimu?”
“Lalu kenapa sebelumnya kau justru menjebakku?”
“Kau pikir hanya kau satu-satunya yang kelemahannya dipegang oleh wanita ini?”
“……”
Situasi macam apa lagi ini!
Jiang Nairan berniat untuk kabur, namun begitu membalikkan badan, ia nyaris menabrak seseorang.
Tanpa harus mendongak, dari aroma samar yang harum itu saja ia sudah tahu siapa orangnya.
Apakah hari ini ia lupa melihat almanak? Kenapa bahkan Pei Ji juga ada di sini? Padahal bukan cuma kafe ini satu-satunya di seluruh kota!