Bab Dua Puluh Delapan: Kecelakaan di Jalan Menuju Kencan
Chen Xin sudah pernah bermain dalam banyak drama, namun belum pernah mencoba sitkom. Jenis pertunjukan ini agak mirip dengan teater, ekspresi dan gerak tubuh aktor pun dibuat lebih dramatis seperti di atas panggung. Alasannya sama, televisi hanya sebesar itu dan jumlah aktor di depan kamera cukup banyak, sehingga perlu ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang berlebihan agar penonton di rumah bisa merasakan kehadiran para aktor.
Adegan saling sindir antara Lü Ziqiao dan Chen Meijia berlangsung terputus-putus selama sekitar setengah jam. Chen Xin pun merasa, membawakan drama ini dengan gaya teater adalah pilihan terbaik. Mirip seperti sandiwara yang selalu tampil di acara malam tahun baru.
Setelah saling bertengkar, pendeta gadungan dan Chen Meijia yang hanya numpang makan minum tidak membongkar kedok satu sama lain, melainkan bersama-sama menghadiri pernikahan pengantin. Hu Yifei sebagai perencana pernikahan dan Zeng Xiaoxian sebagai pembawa acara pernikahan pun terlibat pertengkaran hebat demi kelancaran acara. Setelah pernikahan yang “tak terlupakan seumur hidup”, kedua mempelai mengusulkan agar apartemen ini dinamai Apartemen Cinta. Pemilik rumah, demi memberi restu, menawarkan diskon setengah harga sewa dan gratis biaya listrik air untuk mereka.
Lü Ziqiao dan Chen Meijia, agar bisa menikmati diskon sewa dan gratis listrik air, pura-pura menjadi pasangan dan berhasil menipu semuanya, lalu tinggal di Apartemen Cinta dengan status pasangan. Namun setelah mereka benar-benar pindah, baru sadar bahwa walaupun sewa mereka tinggal setengah, tetap saja untuk kamar berempat, mereka masih membayar harga penuh.
Dalam kondisi keuangan yang genting, mereka pun mengusulkan untuk mencari satu orang lagi agar bisa berbagi biaya. Di saat bersamaan, seorang pria tampan yang tampak intelektual—Guangu Shenqi, seorang komikus—masuk ke apartemen. Dia aslinya ingin mencari Hotel Aisen, namun tersasar ke tempat ini. Karena kesulitan bahasa dan rayuan Lü Ziqiao serta Chen Meijia, akhirnya Guangu juga tinggal di Apartemen Cinta.
Di sisi lain, Lin Wanyu, putri kaya yang baru kabur dari rumah, juga karena masalah keuangan akhirnya memilih tinggal bersama Lu Zhanbo di Apartemen Cinta dengan alasan sebagai pasangan.
Karena ini pertama kalinya sutradara Wei Zheng menggarap drama berseri panjang, ia kurang pengalaman. Akibatnya, setelah seminggu syuting, baru selesai dua episode pertama yang mengisahkan ketujuh tokoh utama masuk Apartemen Cinta.
Hari itu Sabtu, Chen Xin sudah bilang pada Kak Ying sejak siang bahwa ia akan menemuinya setelah pulang syuting malam. Jam delapan malam, usai syuting, Chen Xin yang baru selesai mandi langsung mengambil kunci mobil dan bersiap pergi.
Kebetulan Chen He juga baru selesai mandi dan hendak keluar. Melihat Chen Xin mengambil kunci, ia bertanya, “Ke mana, Chen?”
“Udara makin dingin. Aku mau pulang sebentar ambil beberapa baju,” jawab Chen Xin asal-asalan. Padahal, syuting “Apartemen Cinta” mengambil latar musim panas, sementara sekarang musim dingin. Para pemain pun harus memakai pakaian musim panas saat syuting.
Di dalam ruangan masih lumayan, karena ada AC. Tapi kalau syuting di luar, cukup menyiksa. Seperti waktu hari kedua syuting, saat adegan pernikahan di kompleks apartemen, para wanita harus pakai rok tipis, seharian hampir kedinginan diterpa angin. Para pria masih mending, bisa pakai kemeja dan jas tipis di luar.
Chen He tak berpikir macam-macam. Ia berkata, “Kebetulan aku juga mau keluar, ayo bareng saja.”
Mereka turun bersama naik lift. Chen Xin bertanya, “Kamu mau ke mana?”
“Aku mau beli sesuatu, kau antar aku ke Bund saja,” jawab Chen He sambil menepuk bahu Chen Xin dan berjalan keluar.
“Bund? Kenapa jauh-jauh ke sana untuk beli barang? Dekat sini juga ada supermarket,” tanya Chen Xin heran. “Jangan-jangan kamu mau kencan sama cewek?”
Chen He tertawa, “Terus terang saja, pacarku datang ke Shanghai, aku mau menemuinya.”
Chen Xin samar-samar ingat bahwa mantan istri Chen He sudah dikenalnya sejak SMP, lalu baru menikah beberapa tahun lalu. Hubungan mereka pun sempat diguncang skandal perselingkuhan. Apakah Chen He sudah menjalin hubungan dengan Zhang Zixuan sebelum bercerai dengan istrinya, itu belum jelas. Namun yang pasti, wanita yang ia temui sekarang adalah mantan istrinya.
“Pacarmu ke Shanghai, kenapa nggak langsung ke lokasi syuting saja?” tanya Chen Xin penasaran.
“Di lokasi banyak orang, dia nggak suka keramaian.”
Sebagai orang yang tahu bagaimana akhir hubungan Chen He dan pacarnya, Chen Xin sempat berpikir, haruskah ia menyarankan agar mereka putus saja? Tapi setelah dipikir-pikir, ia bingung cara menjelaskan sesuatu yang belum terjadi. Kalau benar-benar diungkapkan, hubungan mereka bisa jadi renggang.
Chen Xin hanya tersenyum, “Aku jadi penasaran, secantik apa sih pacarmu, sampai kamu bisa setia selama ini?”
“Besok, nanti kamu bisa lihat sendiri.”
Menyebut pacarnya, wajah Chen He penuh senyum. Jelas sekarang mereka sangat saling mencintai, meski akhirnya kisah cinta itu akan berakhir sebagai lelucon.
Mereka mengobrol santai. Dalam perjalanan ke Bund, Chen Xin mendapat telepon dari Kak Ying yang menanyakan apakah ia sudah selesai syuting. Begitu telepon ditutup, Chen He langsung menggoda, “Empat tahun jadi teman lama, masih main rahasia begini? Chen, kamu keterlaluan!”
Chen Xin mengambil kotak rokok, menyalakan sebatang, lalu melemparkan kotak itu ke Chen He. “Hubungan kami rumit, kamu juga nggak bakal paham.”
“Bukannya cuma jadi simpanan? Apa susahnya dimengerti?”
Baru selesai bicara, Chen He sadar ia salah bicara dan buru-buru meralat, “Nggak, maksudku bukan begitu.”
Chen Xin hanya tertawa santai, “Kamu nggak perlu menjelaskan. Aku tahu apa yang kamu pikirkan, juga apa yang Jin Ming dan Wenwen pikirkan. Nggak masalah, sungguh, aku memang simpanan, dan apapun yang kalian katakan, aku nggak akan marah. Aku nggak peduli penilaian orang lain, itu melelahkan. Yang penting aku nyaman.”
“Kamu berubah, Chen. Dulu kamu nggak seperti ini,” kata Chen He sedikit mengernyit.
“Semua orang akan berubah. Satu-satunya yang tak berubah, adalah perubahan itu sendiri. Aku ngomong jujur, jangan tersinggung. Sekarang kamu dan pacarmu saling cinta, kamu sangat mencintainya, dia juga. Tapi beberapa tahun lagi, kamu akan sadar, dia sebenarnya tidak mencintaimu seperti yang kamu bayangkan. Jadi saranku, dalam mencintai, sisakan sedikit ruang. Kalau nanti harus berpisah, nggak akan terlalu sakit.”
“Aku dan pacarku sudah kenal sejak SMP, sepuluh tahun bersama, nggak mungkin berpisah...”
“Pasangan yang menikah puluhan tahun saja bisa bercerai, kenapa kamu yakin kalian nggak akan putus? Nggak ada yang bisa memastikan...”
“Ngobrol sama kamu itu bikin emosi, tahu nggak?”
“Kamu kesal karena tahu aku tidak salah.”
Saat itu, mereka hampir sampai di Bund. Chen Xin bertanya, “Dia di mana?”
“Di Hotel W. Kamu antarkan aku sampai depan saja,” jawab Chen He, suaranya tidak senatural tadi. Meski Chen Xin benar, ia tetap yakin hubungannya tak akan kandas, hanya saja ia tak tahu harus membantah bagaimana.
Chen Xin pun diam. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan Hotel W. Sebelum turun, Chen Xin berkata, “Anggap saja omonganku tadi angin lalu. Semoga kalian bersenang-senang malam ini.”
“Oke!” Chen He sedikit lebih ceria, lalu bertanya, “Kamu kapan pulang?”
“Belum tahu, mungkin besok pagi. Aku juga yakin kamu bakal pulang besok pagi. Kalau malam ini aku nggak pulang, besok pagi aku telepon kamu.”
“Kamu tadi bilang mau lihat pacarku? Nggak turun sekalian?”
“Nanti saja, kalau ikut kamu ke atas sekarang, rasanya aneh. Lain kali saja kita makan bareng.”
“Baik, sampai jumpa besok.”
Chen He melambaikan tangan, lalu masuk ke hotel. Setelah itu, Chen Xin memutar balik mobil menuju Hotel Junmao.
Namun saat mundur, ia merasa menabrak sesuatu. Begitu turun memeriksa, ia melihat seorang gadis tergeletak di tanah. Padahal tadi ia sudah memastikan bagian belakang mobil kosong, dari mana gadis itu tiba-tiba muncul?
Bagaimanapun juga, yang terpenting sekarang adalah memastikan apakah gadis itu terluka.
“Maaf, sungguh maaf. Kamu luka di mana?”
Gadis itu duduk sambil memegangi betis, wajahnya meringis kesakitan. Sepertinya betisnya terantuk.
“Bagaimana sih cara kamu nyetir? Aku segede ini, masa nggak kelihatan?”
Wah, galak juga gadis ini. Tapi saat wajahnya terangkat, bukankah dia...