Sebuah kecelakaan membawa Chen Xin, seorang aktor figuran di Hengdian, kembali ke tahun 2008. Sejak saat itu, kisah legendaris miliknya pun dimulai.
Tahun 2008, awal musim panas.
Angin sepoi-sepoi melintasi perbukitan, cahaya mentari yang berpendar menembus dedaunan hijau dan jatuh di tanah, di samping pepohonan berdiri nisan-nisan batu yang berderet hingga tak terlihat ujungnya.
Di batu-batu nisan itu terukir jelas nama-nama mereka yang kini bersemayam di bawahnya...
Tak diragukan lagi, tempat ini adalah sebuah pemakaman.
Di sudut tenggara pemakaman, di depan sebuah nisan baru, tersusun persembahan berupa apel, bunga segar, dan lain-lain, juga seorang pria muda yang berdiri di hadapannya.
Pria itu bernama Chen Xin, ia menatap sepasang pria dan wanita paruh baya yang tersenyum di foto nisan itu, lalu bergumam, "Ayah, Ibu, semoga perjalanan kalian tenang. Nanti kalau ada waktu, aku akan datang menengok kalian lagi."
Sebenarnya, Chen Xin bukanlah anak kandung dari pemilik nisan baru itu. Lalu mengapa ia memanggil pria dan wanita di foto itu ayah dan ibu?
Ceritanya lumayan panjang...
Singkatnya, Chen Xin yang berdiri di depan nisan itu memang putra dari pemilik pusara, namun jiwa yang menghuni tubuhnya berasal dari orang lain di tahun 2021.
Di kehidupan sebelumnya, ia hanya lulusan SMA yang terpengaruh internet, mengira dunia hiburan mudah menghasilkan uang. Setelah lulus SMA, ia langsung pergi ke pusat perfilman terbesar di Tiongkok—Kota Film Hengdian—dan menjadi pemeran figuran, bermimpi suatu hari bisa berdiri di puncak.
Impian itu memang indah, namun realitasnya sangat pahit. Saat tiba di Hengdian, ia baru sadar bahwa ingin sukses di sana adalah s