Bab 3: Dari Siswa Biasa Menjadi Siswa Berprestasi
Baik ujian maupun tes, bagi para jenius belajar, tentu saja tidak menjadi beban di hati mereka. Hanya melalui ujianlah dapat terlihat perbedaan antara sang jenius dan si pecundang. Dalam arti tertentu, mereka bahkan menantikan ujian itu, karena di dalam lautan ilmu, mereka dapat berdiri di puncak segalanya dengan penuh kepercayaan diri.
Waktu berlalu tanpa terasa, dua jam pelajaran Bahasa Indonesia pun melesat begitu saja, namun bagi sebagian orang, waktu terasa sangat lambat.
Yao Senang adalah salah satu yang tersiksa karenanya. Selalu menempati posisi kedua dari bawah, saat tes berlangsung, dia gelisah, menoleh ke kiri dan kanan, semua tulisan di lembar soal memang dikenalnya, tetapi ketika dirangkai dalam sebuah soal, ia pun kebingungan.
Setelah ujian usai, ada yang bersuka cita, ada pula yang muram. Yao Senang langsung duduk di depan Lin Fan dengan wajah penuh kekhawatiran, seraya berkata, “Habis sudah, tes kali ini, satu soal pun aku tak bisa jawab. Pulang nanti pasti habis dipukuli Ayah.”
Melihat wajah Yao Senang yang bulat dan lucu, Lin Fan hampir saja ingin mencubit pipinya. Ia berkata, “Tapi kan, bukan pertama kalinya juga ayahmu memukulmu. Lama-lama juga terbiasa.”
Yao Senang meliriknya sekilas, lalu menghela napas lega, “Tapi, Fan, untung ada kamu. Setidaknya aku masih bisa sedikit terhibur.”
“Kenapa memangnya?”
“Karena setiap kali ujian, kamu selalu jadi yang paling akhir. Aku, meskipun buruk, masih ada di posisi kedua dari bawah. Jadi, setiap kali ayah memukulku, aku selalu sebut namamu. Dengan begitu, ayah tak terlalu murka, dan aku pun tak terlalu parah kena pukul. Hehe.”
Mata Yao Senang menyipit bahagia, menggantung di wajahnya yang bulat itu. Terpampang jelas dua kata ‘pantas digebuk’, namun anehnya, orang tak jadi marah padanya.
“Dasar gendut, bisa-bisanya kau lebih parah lagi?”
“Tentu saja bisa.”
“……”
Lin Fan hanya bisa menggelengkan kepala, benar-benar kalah dengan kelakuan kocaknya, malas meladeni, ia memilih diam. Ia sudah bertekad, kali ini akan membuktikan diri dengan perbuatan, dan mungkin Yao Senang belum sadar bahwa kali ini, urutan terakhir pasti milik si gendut itu.
Sebab, kali ini Lin Fan akan menorehkan perubahan gemilang pertamanya, membuat semua orang tahu bahwa ia bukanlah pecundang.
“Oh iya, kemarin sepulang sekolah, aku lihat kamu dibawa pergi sama Sun Bingxin dan kawan-kawannya. Mereka nggak apa-apain kamu, kan?” tanya Yao Senang. Kemarin, ia memang sempat melihat Lin Fan digiring oleh beberapa preman kecil sekolah.
Semula ia mengira Lin Fan akan dipukuli habis-habisan. Tapi nyatanya, Lin Fan baik-baik saja, pulang tanpa luka sedikit pun. Bukankah itu aneh dan tak masuk akal?
“Tidak apa-apa, cuma diancam dua tiga kata, lalu mereka pergi,” jawab Lin Fan malas. Meski ia berkata bahwa ia adalah reinkarnasi putra mahkota, siapa pula yang akan percaya?
Yao Senang pun tak percaya. Ia tahu betul Sun Bingxin dan gengnya, mana mungkin begitu saja melepas Lin Fan? Tapi...
“Sun Bingxin nggak masuk kelas, ya?” Matanya yang licik mencari-cari ke seluruh kelas, tapi tak menemukan Sun Bingxin, bahkan Wang Xiaohuan pun tak ada. “Aneh, mereka ke mana?”
Semalam, Sun Bingxin mungkin mengira dirinya telah membunuh orang, jadi sembunyi di rumah dan tak berani keluar. Sedangkan Wang Xiaohuan? Dipukuli Lin Fan sampai bengkak, mana punya muka untuk masuk kelas. Pasti sekarang lagi sembunyi di rumah sakit.
Pagi pun berlalu cepat. Siang harinya masih ada satu jam pelajaran Bahasa Indonesia lagi. Dan saat itu, hasil ujian Bahasa Indonesia telah diumumkan. Begitulah cepatnya para guru di negeri ini.
Hanya dalam beberapa jam, puluhan lembar soal Bahasa Indonesia sudah selesai dikoreksi.
Ibu guru datang membawa tumpukan kertas ujian ke kelas, wajahnya tampak tegang dan agak masam. Entah karena sedang masuk masa menopause atau gangguan haid.
“Sebelum kita mulai pelajaran, saya ingin mengatakan sesuatu. Dalam tes kali ini, sebagian besar hasil kalian membuat saya puas. Tapi selalu saja ada segelintir murid yang membuat kelas tertinggal. Siapa mereka, saya tidak akan sebut. Kalian pasti tahu sendiri.”
Ucapan guru itu membuat para murid saling lirik, dan dua orang yang langsung terlintas adalah Lin Fan dan Yao Senang, anggota ‘Duo Tak Terkalahkan’. Saat itu, Yao Senang menunduk dalam-dalam di bawah meja, muka merah padam. Ucapan gurunya jauh lebih tajam daripada sekadar disebut nama.
Sementara Lin Fan, tampak santai saja. Melihat Lin Fan yang tak terpengaruh, Ibu Guru Qi Yanyan semakin geram, dalam hati membatin, “Benar-benar tak bisa dibina, sampah!”
Tentu saja, kata-kata itu tak mungkin ia ucapkan. Keluar dari mulut seorang guru hanya akan menjatuhkan martabat. Lagi pula, memaki seorang pecundang hanya membuat diri sendiri tak berharga.
Ibu Guru Qi melirik Lin Fan dan mendengus, lalu lanjut berkata, “Ujian itu untuk menguji kemampuan nyata seseorang. Bagaimana pun kemampuanmu, tunjukkan saja apa adanya. Walaupun kamu dapat nilai terendah, itu tetap kemampuanmu sendiri.”
“Tapi ada juga murid yang saat pelajaran tak pernah serius, saat tes malah menyontek, menyalin jawaban teman. Kalau nanti UN tertangkap menyontek, risikonya bisa dikeluarkan dari sekolah!” Ibu Guru Qi menepuk meja dengan kesal.
Semua murid kebingungan, bertanya-tanya dalam hati, siapa yang menyontek?
“Sebagai pelajar, tidak jujur itu salah. Kalau baru tes saja sudah menyontek, bagaimana nanti di masyarakat? Sekarang menyontek, besok bisa jadi pencuri. Kebiasaan kecil bisa berubah jadi kejahatan besar, yang akhirnya masuk penjara.”
Begitulah para guru di negeri ini, suka membesar-besarkan masalah kecil sampai seolah-olah langit runtuh. Walaupun maksudnya baik, tapi sering kali terlalu berlebihan.
Semua murid makin bingung, tak paham kenapa gurunya begitu marah.
Yao Senang menunduk di meja, lalu berbisik pelan pada Lin Fan, “Ih, si nenek menopouse itu kumat lagi. Fan, kamu bikin dia marah lagi, ya?”
Lin Fan mengangkat bahu, “Kau kira aku segitu gabutnya? Mana mungkin aku cari masalah sama perempuan tua macam itu.”
Guru Qi Yanyan ini, sejak pertama mengajar di kelas 36 IPA, memang tak pernah suka pada Lin Fan. Sedikit-sedikit mencari-cari masalah, senang sekali menyulitkan Lin Fan di depan kelas.
Setiap kali selesai menghardik, selalu berlindung di balik dalih moral, katanya demi kebaikan Lin Fan agar kelak jadi orang berguna. Tapi semua orang tahu, itu hanya alasan semata.
“Pasti memang menopause sama haidnya berantakan. Udah tua, masih suka marah-marah. Nanti bisa-bisa mati sendiri gara-gara emosi,” Yao Senang menggerutu.
“Yao Senang, berdiri! Ngomong apa kamu di bawah sana?” Guru Qi Yanyan menunjuk Yao Senang. Ia merinding, tahu bahwa ini saatnya kena semprot.
“Bu, saya tadi sedang menegur Lin Fan, kok,” Yao Senang malah melempar kesalahan ke Lin Fan. Mereka berdua memang sahabat karib, dan di saat seperti ini, tentu saja saling menjatuhkan.
“Apa?”
“Tadi Lin Fan bilang, Ibu marah-marah karena...,” Yao Senang sengaja bersikap manja, menahan ucapan.
“Karena apa? Katakan!”
“Katanya karena Ibu menopause sama haidnya berantakan.”
Spontan seluruh kelas tertawa terbahak-bahak. Ada yang sampai menahan perut, tak bisa menahan tawa. Sementara wajah Ibu Guru Qi merah padam, bukan karena ingin tertawa, melainkan karena marah dan malu. Ini benar-benar penghinaan terbuka.
Sementara Lin Fan melongo, “Apa-apaan ini? Jelas-jelas si gendut itu yang ngomong!”
“Sialan, dasar gendut, kau—”
“Bu, lihat, Lin Fan mau memukul saya!” Yao Senang buru-buru mengadu, melihat Lin Fan sudah mengangkat buku hendak memukulnya.
Memang, Guru Qi Yanyan sejak awal tak suka pada Lin Fan. Ditambah isu menyontek, dan ucapan barusan, ia makin naik darah, “Lin Fan, berdiri!”
Awalnya Lin Fan ingin menjelaskan, tapi melihat gurunya sudah seperti itu, ia tahu mau bicara apapun percuma, takkan dipercaya. Maka, tak perlu buang-buang tenaga.
“Saya sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar, baru kali ini bertemu murid seperti kamu. Di kelas tidak serius, di rumah tidak belajar, ujian malah menyontek. Tak bisa apa-apa, menyontek malah jagonya.”
Menyontek?!
Guru Qi Yanyan akhirnya mengungkapkan tuduhan menyontek. Sebenarnya ia tidak ingin menyebut nama, tapi Lin Fan dirasanya sudah kelewatan, menyontek saja sudah parah, berani-beraninya menghina guru pula.
Murid seperti itu, tak perlu diberi muka lagi.
Begitu mendengar Lin Fan dituduh menyontek, kelas langsung hening. Semua mata memandang Lin Fan dengan heran. Yao Senang pun menatap Lin Fan dengan bingung.
Ternyata yang dimaksud guru tadi adalah Lin Fan.
“Bu, saya tahu Ibu tidak suka pada saya. Tapi berdasarkan apa Ibu bilang saya menyontek? Segala tuduhan harus pakai bukti. Kalau Ibu tidak punya bukti, walaupun Ibu guru, saya bisa tuntut Ibu atas pencemaran nama baik,” ujar Lin Fan.
Melihat Lin Fan begitu yakin dan tanpa rasa bersalah, Guru Qi Yanyan makin emosi, “Masih saja merasa benar? Kalau kamu tidak menyontek, bagaimana bisa dapat nilai tertinggi di kelas?”
Nilai tertinggi di kelas?!
Seketika kelas sunyi. Semua saling memandang tak percaya. Si pecundang dapat nilai tertinggi? Matahari terbit dari barat, kah? Mana mungkin?!
Yao Senang menatap Lin Fan dengan kagum, “Fan, menyontek itu salah, lho...”
“Minggir kau!” Lin Fan mencibir, “Aku tak menyontek. Kenapa aku tak boleh dapat nilai tertinggi?”
Guru Qi menimpali, “Semua tahu kemampuanmu. Kalau bukan menyontek, mana mungkin dapat nilai setinggi itu?”
Lin Fan memandang seluruh kelas. Semua menatapnya tak percaya. Tidak ada satu pun yang yakin ia bisa meraih nilai tinggi dengan usaha sendiri.
“Kalau memang Ibu tak percaya, kenapa tidak langsung saja tes saya di depan kelas, biar jelas saya menyontek atau tidak?”
“Itu kamu yang bilang, ya. Kalau nanti kamu tak bisa jawab, jangan salahkan diri sendiri kalau malu.”
Lin Fan tertawa sinis, “Aku tidak menyontek. Yang malu nanti justru Ibu, karena sudah menuduh tanpa dasar.”
Suasana kelas pun memanas. Pertarungan antara Lin Fan dan Guru Qi Yanyan pun dimulai.