Bab Sepuluh: Gunung Huqi
Saat kembali ke Gunung Huqi, hari sudah terang benderang. Setelah melalui rangkaian peristiwa yang melelahkan, semua orang sudah kehabisan tenaga dan tak lama kemudian jatuh tertidur lelap.
Pagi hari di Gunung Huqi diselimuti kabut tipis. Sinar matahari menembus celah pepohonan, menyebarkan bayang-bayang yang berpola, menambah ketenangan dan kedamaian pada hutan tersebut. Di kaki gunung nun jauh di sana, sebuah sungai kecil mengalir gemericik. Beberapa gubuk sederhana tampak samar-samar di antara pepohonan di tepi sungai, dengan kepulan asap dapur yang membubung ke udara. Seiring kaum suku Tushan yang mulai terbangun, ada yang meregangkan tubuh, ada yang menguap, lalu mereka mulai menjalani rutinitas hari yang sibuk. Ada yang pergi menebang kayu ke gunung, ada yang mengambil air ke sungai, dan ada pula yang duduk di depan pintu, menikmati ketenangan dan keindahan pagi.
Melihat kehidupan kaum Tushan yang damai dan tenteram, hatiku dipenuhi berbagai perasaan. Pasti seperti inilah Qingqiu di zaman dahulu. Jika saja perselisihan itu tidak pernah terjadi, para rubah pasti hidup dengan sangat bahagia. Benar, mereka semua adalah sesama rubah, mengapa harus terus bertikai dan menghancurkan kehidupan yang begitu tenang dan damai ini?
"Keserakahan." Entah kapan Hu Qingqing sudah terbangun, ia berucap dengan suara lirih, "Keserakahan tidak hanya ada pada manusia, rubah pun memilikinya. Hanya saja, rubah lebih murni daripada kalian, itulah sebabnya mereka mudah ditipu, dimanfaatkan, disakiti, hingga akhirnya dijadikan bulu pakaian."
Melihat raut wajah Hu Qingqing yang murung, sesuatu yang selama ini tertidur di dalam hatiku seolah bergetar. Tanpa sadar, aku mengulurkan tangan untuk membelai wajah rupawan itu. Sang pemilik wajah menoleh sedikit, menghindari sentuhanku, "Jika tidak mencintai, janganlah memancing perhatian."
Masih dengan senyuman penuh teka-teki itu, serta sepasang mata rubah yang menyipit, namun kini senyumannya mengandung sindiran dan tatapannya penuh ejekan. Ah, benar. Rubah adalah makhluk yang berani mencintai dan berani membenci; jika tidak cinta, janganlah diganggu. Aku menghela napas dalam hati, lalu menarik tanganku kembali dengan sunyi.
Saat itu, Hu Tutu yang baru bangun tidur menatapku dengan mata bulatnya yang jernih, "Kakak Qingtu, bisakah kau menjadi pendamping rubahku?"
"Apa?"
"Tidak boleh!"
Satu kalimat Hu Tutu bagaikan petir di siang bolong yang membuatku dan Hu Qingqing melompat kaget. Terlihat pemuda berjubah perak itu dengan gusar menarik telinga si rubah kecil, "Kau yakin ingin menikahi binatang sejelek ini? Dia bahkan tidak diinginkan oleh rubah mana pun, apa kau benar-benar akan mengiyakannya?"
"Tutu, kau tahu apa artinya menjadi pendamping rubah?" tanyaku sambil menatap rubah kecil yang masih lugu itu. "Ini bukan sekadar permainan rumah-rumahan."
"Aku tahu. Rubah hanya mencintai satu orang seumur hidupnya, jika rubah sudah mencintai, berarti itu sungguh-sungguh. Aku, Hu Tutu, demi nama satu-satunya rubah merah berekor sembilan di keluarga Tushan, bersumpah akan melindungi Kakak Qingtu seumur hidup, mencintainya selamanya, dan tidak akan membiarkannya menderita sedikit pun!" Sambil telinganya ditarik oleh Hu Qingqing, rubah kecil itu menepuk dadanya dengan mantap, matanya yang besar memancarkan ketulusan yang mendalam. Begitu ucapan itu keluar dari mulutnya, genggaman tangan Hu Qingqing pada telinga Hu Tutu semakin erat, hingga aku bisa melihat urat-urat di tangannya menonjol.
"Aduh... Kak, jangan bilang kau... keberatan?" tanya rubah kecil itu sambil meringis kesakitan. Saat itu juga, tubuh Hu Qingqing mendadak kaku. Ia melepaskan tangan yang menjambak telinga adiknya, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam gua rubah. Melihat punggung pemuda itu yang tampak kesepian, aku menarik tangan si rubah kecil, "Dia tidak menyerah, kan?"
"Bukankah Kakak Qingtu sendiri yang menyuruhku mengatakannya? Apa salah? Aku juga sudah bersumpah, apakah nanti akan ada petir yang menyambarku? Apakah aku akan terpanggang? Ah... aku tidak mau..."
Aku memegang keningku, menatap pemuda yang kembali berpura-pura bodoh di depanku, lalu menggelengkan kepala dengan helaan napas sedih, "Hu Tutu, kau bilang kau adalah rubah merah berekor sembilan, kau..." Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, pemandangan di depanku membuat rahangku hampir jatuh karena terkejut.