Bab 30: Berlatih adalah Menempa Batin

Imortalidade Eterna: Começando pela Pílula Demoníaca! Vá preencher as letras. 2578kata 2026-07-31 14:39:13

Halaman (1/3)

Perahu melaju di tengah sungai, sementara riak air berkilauan diterpa cahaya.

Li Ciyuan menatap permukaan sungai, lalu tiba-tiba menoleh kepada lelaki tua di sisinya. “Pak Tua, menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan laku spiritual?”

Mendengar pertanyaan itu, lelaki tua tersebut tampak tertegun sejenak. Kemudian, wajahnya berubah menjadi penuh perenungan.

Ia menurunkan dayung dari tangannya, memandang ke kejauhan, lalu berkata perlahan, “Tuan Muda, meskipun aku ini orang kasar dan tidak berpendidikan, menurutku laku spiritual, kalau dijelaskan terus terang, adalah melatih hati.”

“Lihatlah air sungai ini. Kadang tenang seperti cermin, kadang bergelora diterjang ombak. Bukankah itu seperti kehidupan? Kita manusia biasa setiap hari harus menghadapi berbagai macam hal. Ada suka, duka, marah, bahagia, keberhasilan, kegagalan, kehormatan, dan penghinaan. Namun, bagaimanapun juga, hati tidak boleh kacau. Jika hati kacau, seseorang akan mudah kehilangan arah.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Laku spiritual berarti menempa hati agar tetap sederhana dan tenang. Menghadapi perubahan dunia, kita harus mampu mempertahankan ketenangan dan keteguhan batin. Seperti air sungai ini, sebesar apa pun badai yang menerjang, pada akhirnya ia akan kembali tenang. Itulah pemahamanku tentang laku spiritual. Entah benar atau tidak.”

Mendengar hal itu, hati Li Ciyuan tergerak. Ia menatap lelaki tua itu dalam-dalam.

Di balik kata-kata sederhana tersebut, ternyata tersembunyi pemahaman yang mendalam mengenai jalan kehidupan dan kebenaran.

Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk memuji. “Pak Tua, pandangan Anda sungguh luar biasa. Saya telah mendapat pelajaran.”

Lelaki tua itu melambaikan tangannya dan tersenyum polos. “Tuan Muda terlalu memuji. Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam hati. Anda adalah seorang yang menempuh laku spiritual, tentu pandangan Anda jauh lebih tajam daripadaku.”

Matahari senja perlahan condong ke barat. Sisa cahaya keemasan menyinari permukaan sungai.

Setelah turun dari perahu, Li Ciyuan menyerahkan sepuluh keping perak kepada lelaki tua itu sambil tersenyum. “Pak Tua, simpanlah uang ini. Terima kasih karena telah mengantarku.”

Lelaki tua itu tertegun, lalu menggelengkan kepala.

Perjalanan ini tidak mungkin berharga sebanyak itu. Terlebih lagi, Li Ciyuan telah turun tangan menaklukkan siluman dan menyelamatkan nyawanya. Bagaimana mungkin ia masih menerima uang dari pemuda itu?

Li Ciyuan tersenyum tipis. “Terimalah. Kurasa Anda lebih membutuhkannya daripada aku.”

Mata lelaki tua itu memerah. Ia menerima uang tersebut dengan wajah penuh rasa terima kasih. “Kalau begitu, semoga perjalanan Anda selamat.”

“Terima kasih.”

Li Ciyuan turun dari perahu di bawah cahaya senja. Di dalam hatinya, kata-kata lelaki tua itu masih terus bergema—laku spiritual berarti menempa hati.

Ia menyusuri jalan pegunungan. Ketika langit mulai gelap, ia memutuskan untuk bermalam di sebuah kuil tua yang telah runtuh di depan sana.

Kuil tua itu sudah lama terbengkalai. Rumput liar di depannya telah tumbuh setinggi lutut.

Sebuah patung dewa tanah yang telah rusak berdiri seorang diri di sana. Di dekat pintu depan, terdapat sebuah sumur yang memancarkan kesan menyeramkan.

Meskipun tempat itu dahulu merupakan kuil, dupa dan persembahan telah lama berhenti. Suasananya membuat siapa pun merasa tidak nyaman.

Di dalam kuil tua tersebut, sudah ada lima atau enam pedagang keliling yang sedang menghangatkan diri di dekat api.

Ketika melihat Li Ciyuan masuk, salah seorang pedagang bertubuh tambun langsung membelalakkan mata.

Pemuda itu membawa pedang di punggungnya. Sepertinya ia orang dari dunia persilatan! Katanya, kuil tua seperti ini tidak aman. Jika mereka bersama, setidaknya mereka bisa saling menjaga.

Ia pun menyapa dengan ramah, “Saudaraku, kemarilah dan duduk di dekat api. Cuaca sungguh dingin!”

“Terima kasih.”

Halaman (1/3)

Li Ciyuan tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban, lalu berjalan ke dekat perapian dan duduk.

Ia menyadari bahwa di sudut ruangan duduk seorang pengemis lusuh. Orang itu diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seolah-olah segala sesuatu di sekitarnya tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Ketika malam semakin larut dan suasana menjadi sunyi, para pedagang mulai mengobrol.

Seorang pedagang bertubuh tinggi dan kurus menghela napas. “Dunia sedang tidak aman. Bagi kita yang mencari nafkah dengan berdagang keliling, hidup juga tidak mudah.”

“Benar. Kudengar ada siluman di pegunungan sebelah depan. Kita harus lebih berhati-hati,” ujar pedagang berambut pendek dengan wajah cemas.

Li Ciyuan hanya mendengarkan percakapan mereka dalam diam tanpa ikut menyela.

Gluuk... gluk...

Tiba-tiba, terdengar suara aneh dari dalam sumur. Para pedagang langsung gemetar ketakutan.

“S-suara apa itu?” tanya pedagang berambut pendek dengan tegang.

“J-jangan takut. Mungkin hanya suara angin,” kata pedagang tambun itu.

Namun, meskipun mengucapkan kata-kata tersebut, suaranya sendiri terdengar sedikit bergetar.

Pada saat itu, kabut tebal mulai menyelimuti bagian luar kuil tua.

Malam semakin pekat. Nyala api di dalam kuil bergoyang-goyang, memantulkan bayangan-bayangan yang belang-belang di dinding.

Tiba-tiba, embusan angin dingin menyapu tempat itu. Pintu dan jendela tua berderit, seolah-olah sesuatu sedang mendekat secara diam-diam.

Para pedagang tanpa sadar merapat satu sama lain. Kegelisahan yang tidak dapat dijelaskan mulai memenuhi hati mereka.

Saat itulah, pintu utama kuil tua perlahan terbuka. Hembusan udara dingin yang menusuk langsung menerpa wajah semua orang.

Sosok seorang perempuan muncul di ambang pintu. Rambutnya terurai hingga ke bahu, wajahnya sepucat kertas, sementara sepasang matanya tampak dalam dan kelam.

Pakainnya compang-camping, tetapi tetap tidak mampu menyembunyikan kecantikannya yang luar biasa.

Namun, kecantikannya membawa aura yang begitu menyeramkan hingga membuat bulu kuduk meremang.

Tak... tak... tak...

Perempuan itu perlahan melangkah masuk ke dalam kuil. Langkahnya ringan tanpa suara, seolah-olah ia datang dari dunia lain.

Sepasang mata kelamnya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada para pedagang yang duduk di dekat api.

Pada saat itu, semua orang merasakan tekanan yang tidak dapat dijelaskan.

Para pedagang diliputi ketakutan, tetapi mereka tidak mampu memalingkan pandangan. Rasa ngeri yang kuat memenuhi hati mereka.

Krek... krek...

Seluruh kuil tua jatuh ke dalam kesunyian. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah bunyi kayu terbakar di dalam perapian.

Para pedagang menahan napas, takut gerakan sekecil apa pun akan mengundang masalah yang tidak perlu.

Halaman (2/3)

Dalam keheningan itu, perempuan tersebut membuka bibir merahnya perlahan. Suaranya dingin dan samar, seperti datang dari kejauhan.

“Orang-orang baik, bolehkah aku menumpang bermalam di sini? Malam sudah larut. Aku hanyalah seorang perempuan lemah dan benar-benar tidak punya tempat untuk pergi.”

Suaranya lembut, tetapi mengandung kekuatan yang sulit ditolak. Tanpa sadar, orang-orang ingin menyetujui permintaannya.

Namun, ketakutan dalam hati para pedagang sama sekali tidak mereda. Sebaliknya, rasa takut itu justru semakin kuat.

Mereka saling berpandangan dan melihat keraguan yang sama di mata masing-masing.

Pedagang berambut pendek menelan ludah. Dengan terpaksa, ia bertanya, “Nona, dari mana asalmu? Mengapa kau masih sendirian di luar pada malam selarut ini?”

Perempuan itu tersenyum tipis, tetapi senyumnya menyimpan sesuatu yang ganjil.

“Namaku Xiaolian. Aku tinggal di pegunungan dekat sini. Namun, di tengah perjalanan, aku bertemu para perampok dan melarikan diri kemari dalam kepanikan. Kumohon, berbaik hatilah dan izinkan aku berlindung di sini malam ini.”

Meskipun penjelasannya terdengar masuk akal, kecurigaan di hati para pedagang tetap sulit dihilangkan.

Pada saat itulah, Li Ciyuan perlahan berkata, “Karena Nona sedang berada dalam kesulitan, tentu kami tidak akan membiarkanmu menghadapi bahaya seorang diri. Namun, kuil ini sudah rusak. Jika Nona tidak keberatan, bermalamlah di sini untuk sementara.”

Begitu mendengar ucapannya, para pedagang diam-diam merasa keadaan menjadi buruk. Namun, mereka sudah terlanjur berada dalam situasi sulit dan tidak punya pilihan selain mengangguk setuju.

“Terima kasih, semuanya.”

Xiaolian tersenyum tipis. Di bawah cahaya api, senyum itu tampak semakin ganjil.

Ia berjalan perlahan ke dekat perapian, lalu duduk dengan anggun, seolah-olah tempat itu adalah panggung miliknya sendiri.

Namun, tepat ketika ia duduk, pedagang berambut pendek tiba-tiba menyadari sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Di belakang Xiaolian, ternyata tidak ada bayangan sama sekali!

“Hah? Nona Xiaolian, kenapa... kenapa kau tidak memiliki bayangan?” tanyanya dengan suara gemetar.

Begitu kata-kata itu terlontar, semua orang memandang Xiaolian dengan ketakutan.

Li Ciyuan tetap duduk di samping dengan wajah tenang, mengamati semua yang terjadi dalam diam.

Disinari cahaya api, wajah perempuan itu tampak semakin pucat. Di dalam sepasang matanya yang dalam dan kelam, seakan tersembunyi kesedihan serta kebencian yang tak berujung.

Mendengar pertanyaan itu, wajah Xiaolian berubah drastis, tetapi perubahan tersebut hanya berlangsung sekejap.

Ia menghela napas pelan, lalu perlahan bangkit berdiri.

Menghadap Li Ciyuan, ia tiba-tiba berlutut di lantai.

“Tuan sakti, kumohon selamatkan aku.”

Suaranya dipenuhi permohonan dan keputusasaan.

Halaman (3/3)