Pengulitan Hantu Bagian Empat Belas Mayat Tanpa Kulit
Dengan napas yang mulai teratur, Dadan melanjutkan ceritanya, “Saat itu kurasa aku mungkin terkena semacam ilmu sihir lagi. Kalau terus berlari tanpa arah, jelas bukan solusi. Akhirnya aku hanya bisa berjalan tanpa tujuan di lorong gelap itu. Tak lama kemudian, aku teringat adegan ketika si monyet gadungan itu membuka pintu dari dinding batu. Aku pun mencoba meraba-raba dinding, berharap menemukan sesuatu yang baru. Tak kusangka, aku benar-benar menemukannya.”
“Kau juga menemukan pintu?” aku menyela penasaran.
“Benar, aku menemukannya. Tapi begitu pintunya terbuka dan aku masuk, sialnya, ternyata di dalamnya kosong. Aku langsung jatuh ke bawah, rasanya seperti tiba-tiba membuka jendela lalu melangkah keluar. Siapa yang mendesain tempat beginian, hampir saja aku mati di situ,” ujar Dadan dengan nada dongkol.
Menurut penuturan Dadan, tempat ia jatuh memang mirip dengan yang kualami, hanya saja ia tidak bertemu dengan gunungan tengkorak. Orang ini memang punya syaraf yang tebal, kalau tidak, mana mungkin namanya Dadan Nekad. Saat baru saja menemukan aku dan melihat gunungan tengkorak itu, ia tetap tenang saja, membuatku benar-benar kagum.
Namun, aku tetap lebih tertarik pada delapan belas tiang kayu di depan kami yang di atasnya terdapat benda mirip mutiara yang bercahaya. Hanya saja Dadan melarangku menyentuh tiang-tiang itu, membuatku heran. Barang sebagus itu tak membuat Dadan tergoda? Jarang sekali terjadi.
Dengan nada trauma yang belum sepenuhnya hilang, Dadan bercerita bahwa setelah jatuh ke bawah, ia memang sempat kebingungan dan panik, tidak tahu harus berbuat apa. Setelah lama terdiam, ia pun berjalan tanpa arah.
Sekitar setengah jam ia meraba-raba dalam kegelapan, akhirnya, berkat lampu senter matanya serigala yang dibawanya, ia melihat sebuah tiang kayu berwarna emas yang ukurannya jauh lebih besar dan megah dibanding yang kulihat saat ini. Karena rasa penasaran, Dadan pun perlahan berjalan mendekati tiang kayu raksasa itu.
Entah dari apa benda-benda mirip bola kaca bercahaya itu dibuat, ternyata setiap kali ada manusia hidup yang mendekat, mereka akan bersinar dengan cahaya remang yang menyeramkan. Awalnya, Dadan yang punya nyali besar pun sempat terkejut. Namun, secara tak sengaja, ia melihat di balik tiang-tiang kayu itu ada banyak bayangan mirip manusia namun bukan manusia, berlutut dengan sopan di sana. Secara refleks, Dadan berteriak lantang. Karena tak ada reaksi, ia pun menembak ke arah mereka.
Terdengar suara tembakan, namun bayangan-bayangan aneh itu tak banyak berubah. Dadan pun mendekati mereka dengan hati-hati. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata itu patung batu berbadan manusia dan berkepala serigala, sama seperti yang kulihat bersama si monyet. Namun, tembakan Dadan tadi membuat moncong serigala di patung itu hancur, membuatnya tampak semakin aneh dan menyeramkan di kuburan gelap ini.
Walaupun Dadan orangnya kurang peka, dihadapkan dengan benda-benda aneh seperti itu, apalagi sendirian di makam kuno yang gelap, tetap saja ia sempat ketakutan. Tapi setelah menyadari situasinya, ia kembali pada sikap nekadnya yang tak kenal takut.
Ketika yakin patung-patung itu tidak berbahaya, Dadan mulai tergoda oleh ‘mutiara’ palsu di atas tiang kayu itu dan ingin memilikinya.
Dadan memang tipe orang yang langsung bertindak saat terpikirkan sesuatu. Begitu melihat bola bercahaya itu, ia pun langsung berbalik dan mencoba memanjat tiang kayu emas itu. Sayangnya, tiang itu terlalu besar dan tinggi, segala cara sudah ia coba, tetap tak bisa naik.
Saat ia sedang putus asa, entah karena tak sengaja menyentuh sesuatu atau sebab lain, tiba-tiba terdengar suara berderak dari tiang kayu raksasa itu.
Untung Dadan punya refleks cepat. Begitu suara muncul, ia langsung melompat mundur. Di hadapannya, permukaan tiang kayu emas itu perlahan terbuka, naik ke atas membentuk pintu kayu. Saat pintu itu terbuka, dari dalam tiang kayu mengalir cairan hitam berbau asam menusuk.
Ketika cairan itu mengalir separuh, Dadan tertegun. Ia melihat di dalam tiang itu ada sesosok mayat tanpa kulit, seperti baru saja dikuliti, seluruh tubuhnya berlumuran darah, dan matanya yang menonjol tampak sangat menakutkan.
Kalau tadi Dadan hanya tertegun, kali ini ia benar-benar hampir tak sanggup menahan takut. Mayat tanpa kulit itu tiba-tiba menggerakkan sudut mulutnya, tampak gigi-gigi putih yang mengerikan, lalu dari tenggorokannya keluar suara “gugu” yang membuat bulu kuduk berdiri. Matanya yang menonjol bergerak-gerak, seolah mencari fokus, dan ketika menatap Dadan, ia berhenti bergerak.
Makhluk mirip bola daging itu, begitu melihat Dadan, seperti setan kelaparan yang menemukan mangsa. Ia mengeluarkan tawa aneh, langsung melesat keluar dari tiang kayu raksasa itu, membawa bau amis busuk, dan menyerang Dadan.
Sebagai Dadan Nekad, ia hanya sempat terpaku sesaat, lalu langsung bereaksi. Ia mengangkat senapan tua satu-satunya yang punya daya rusak besar, dan menembak tepat ke arah bola daging yang menyergapnya.
Senapan tua milik Dadan itu memang berdaya ledak luar biasa, hentakan baliknya pun kuat, berbeda dengan senapan berburu biasa. Suara tembakannya memekakkan telinga, dan pelurunya menghantam dada bola daging itu, memercikkan darah ke mana-mana. Seketika bau amis makin menyengat, udara pun dipenuhi aroma daging hangus, dan daging di sekitar peluru yang menembus menjadi hitam dan busuk, benar-benar menjijikkan.
Menurut Dadan, apapun makhluknya, kalau kena tembakan seperti itu pasti tak akan selamat. Ia sangat yakin dengan keandalannya menembak.
Tapi siapa sangka, di tempat seperti ini, di makam kuno entah dari abad ke berapa, segala hal bisa terjadi.
Setelah tembakan itu, tubuh bola daging itu hanya sedikit terhuyung, tak terlihat perubahan ekspresi, namun Dadan bisa merasakan kemarahan dari wajah menakutkan itu. Segera, makhluk itu kembali mengeluarkan suara aneh dan melompat menerjang Dadan.
Melihat itu, Dadan sadar kali ini yang ia hadapi bukan makhluk biasa, dan serangan fisik mungkin tak ada gunanya. Seandainya punya senjata yang lebih dahsyat dan bisa menembak kepala makhluk itu, mungkin baru bisa membunuhnya. Dadan sempat ingin menembak sekali lagi, namun senapan tuanya yang hanya dua laras itu tak memungkinkan untuk langsung diisi ulang dalam situasi seperti ini.
Walaupun makhluk itu tampak canggung dan berat, ternyata kecepatannya luar biasa. Dalam sekejap, ia sudah tiba di depan Dadan dan menjatuhkannya ke lantai.
Dadan tak tinggal diam. Dalam posisi terjepit di lantai, ia mengayunkan gagang senapan ke kepala bola daging itu. Sensasi pukulannya seperti menghantam daging mati, membuat telapak tangannya terasa sakit.
Makhluk itu mengeluarkan jeritan aneh, bola matanya yang menonjol tadi, kini satu sisi langsung kempes akibat pukulan keras itu, membuat wajahnya yang sudah menakutkan menjadi semakin menyeramkan.
Makhluk itu membuka mulut besarnya yang tak berbibir dan mencoba menggigit leher Dadan. Dadan kaget, tapi segera menarik satu tangan dan menahan leher bola daging itu dengan lengan, sehingga makhluk itu tak bisa menggigitnya. Namun, bau busuk dari mulut makhluk itu hampir saja membuat Dadan pingsan.
Tenaga makhluk itu sangat besar. Dadan yang biasanya kuat pun mulai kewalahan, mulut makhluk itu makin dekat ke lehernya. Dadan sudah basah oleh keringat dingin.
Melihat mulut itu semakin dekat, Dadan mengerahkan seluruh tenaga, menendang perut makhluk itu sekeras mungkin hingga makhluk itu terpental lebih dari dua meter.
Begitu lepas dari cengkeraman, Dadan segera melompat bangun dan berlari sekencang-kencangnya. Jika orang biasa yang kena tendangan seperti itu, minimal beberapa tulang rusuknya pasti patah. Kalau bukan Dadan Nekad, sudah jadi bangkai. Si monyet itu benar-benar tepat memilih temannya.
Tapi makhluk itu tampaknya tak terlalu terpengaruh, hanya terhenti beberapa detik sebelum kembali bangkit dan mengejar Dadan dengan kecepatan tinggi.
Kini Dadan benar-benar berlari mati-matian. Namun, makhluk itu terlalu cepat, dan celakanya Dadan justru terpojok di sudut buntu, tak bisa lagi mundur. Ia sendiri sudah tak tahu harus berbuat apa menghadapi makhluk mengerikan di depannya.
Makhluk menjijikkan itu kini tidak langsung menyerang. Seolah-olah ia punya pikiran, bahkan sisa satu matanya yang masih utuh menatap Dadan dengan senyum mengejek. Seperti kucing yang bermain-main dengan tikus tangkapannya, membiarkan tikus itu lari sebelum akhirnya dilahap.
Sekali pun Dadan Nekad, kini ia benar-benar diteror ketakutan. Kakinya gemetar hebat, ia menempel di dinding kasar, tak peduli lagi ukiran apa yang ada di sana. Matanya terpaku pada makhluk itu, sambil perlahan memasukkan peluru ke senapannya dan memikirkan cara untuk lolos dari situasi mengerikan ini.
Saat itulah, secara tak sengaja, Dadan melihat ada sebuah lubang melingkar yang tampak seperti terowongan buatan di sisi kirinya. Ia pun memberanikan diri, perlahan menggeser tubuh ke kiri menuju lubang itu, sambil tetap waspada terhadap makhluk di depannya.
Begitu makhluk itu hanya berjarak tiga meter darinya, ia justru berhenti, seolah berkata, “Coba saja kau lari ke mana lagi.” Mungkin Dadan memang belum ajal, sebab mata kiri makhluk itu yang sudah penyok akibat pukulan senapan, membuatnya hanya menatap Dadan dengan rasa puas, belum menyadari adanya lubang di sebelah kiri.
Ketika Dadan hampir mencapai lubang itu, makhluk itu tampaknya dari sudut matanya yang masih utuh, menyadari niat Dadan. Ia pun menjadi sangat marah, dan mendadak melompat dengan buas, ingin mencabik Dadan hidup-hidup demi melampiaskan dendamnya.