Bab 37: Lukisan dan Kaligrafi Berharga Fantastis
Halaman (1/3)
Sisi memutar bola matanya lebar-lebar ke arah langit-langit.
Bibinya memang perempuan yang sangat memandang status dan keuntungan. Ketika bisnis ayah dan ibunya sedang berjaya, ia sering datang bersama kedua putranya, mengeluhkan kemiskinan dan memohon bantuan kepada mereka.
Namun, saat bisnis ayah dan ibunya mengalami kerugian, ia akan menghilang lebih cepat daripada kelinci, takut mereka datang meminjam uang kepadanya.
Sekarang, tiba-tiba ia menelepon untuk menanyakan kabar. Sisi merasa bibinya pasti sudah melihat video yang baru saja beredar.
Melihat dirinya mendadak memperoleh begitu banyak uang untuk melunasi gaji para karyawan yang tertunggak, bibinya pasti mengira ia masih memiliki banyak uang.
Sisi tidak akan tertipu!!!
“Aku baik-baik saja sendirian di sini. Terima kasih atas perhatianmu.”
Tanpa menunggu jawaban, Sisi langsung menutup telepon, lalu memblokir nomor tersebut.
Memikirkan bahwa bibi kandungnya seperti itu, dan pamannya juga tidak lebih baik, Sisi yang masih polos dalam menghadapi dunia akhirnya mendapat pelajaran berharga.
Kerabat seperti itu, tidak punya pun tak masalah!
Memikirkan hal itu, Sisi berharap dirinya terlahir di zaman dahulu. Memang zaman itu tidak semaju masa kini, tetapi hati manusia masih penuh perasaan. Mereka jauh lebih baik daripada kerabat-kerabat tak tahu berterima kasih yang berhati serigala dan berjiwa anjing.
Contohnya saja Permaisuri Yun. Meskipun mereka berasal dari dua dunia yang berbeda dan sama sekali tidak memiliki hubungan darah, perempuan itu benar-benar tulus memperhatikannya.
Begitu pula kedua bocah kecil itu. Setiap kali melihatnya sedih dan terluka, mereka juga akan ikut meneteskan air mata.
Perasaan benar-benar diperhatikan seperti ini, sepertinya dahulu hanya bisa ia rasakan dari ayah dan ibunya.
…
Keesokan paginya, setelah menyiapkan makanan dan permainan untuk kedua bocah kecil itu, Sisi buru-buru turun ke bawah.
Sebelum pukul setengah sembilan, Tang Xu sudah menunggunya di luar pusat perbelanjaan. Mereka pun langsung pergi ke lokasi pelelangan.
Tidak semua orang berhak memasuki tempat seperti itu. Selain para penjual seperti Paman Tang dan Tetua Guo, setiap peserta lain harus membayar uang jaminan dalam jumlah besar agar dapat masuk.
Terlebih lagi, uang jaminan itu harus diserahkan beberapa hari sebelumnya. Sekarang, Sisi dan Tang Xu sudah terlambat untuk membayarnya.
Karena itu, meskipun telah datang, mereka hanya bisa menunggu di luar.
Sisi sendiri tidak merasa kecewa. Ia memang tidak tertarik pada barang antik. Kalau masuk pun, ia hanya akan mengetahui lebih awal harga keempat lukisan dan kaligrafinya.
Setelah mengantar Paman Tang dan Tetua Guo masuk, mereka duduk menunggu di sebuah kafe tepat di seberang tempat pelelangan.
Pelelangan dimulai pukul sepuluh pagi dan berakhir pada tengah hari.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Menjelang tengah hari, Sisi dan Tang Xu mulai menunggu di depan pintu.
Mereka melihat orang-orang keluar satu per satu. Semua orang membicarakan hal yang sama.
Hari ini, dalam pelelangan tersebut muncul empat karya kaligrafi dan lukisan dari Kerajaan Daqi yang terjual dengan harga setinggi langit.
Bahkan ada yang berkata bahwa kalau saja uang mereka cukup, mereka pasti akan menawar barang antik langka itu untuk dibawa pulang dan dikoleksi.
Mendengar percakapan orang-orang itu, Tang Xu dengan bersemangat meraih lengan Sisi.
“Sisi, kau dengar? Mereka bilang keempat karya itu terjual dengan harga setinggi langit.”
Sisi juga sangat bersemangat, hanya saja ia tidak tahu berapa sebenarnya harga yang dimaksud.
Ia dan Tang Xu tidak mengenal orang-orang yang membicarakan lukisan dan kaligrafi itu. Mereka juga tidak enak hati jika harus bertanya terlalu mendetail. Untuk mengetahui berapa harga fantastis yang berhasil dicapai keempat karya tersebut, mereka hanya bisa menunggu Paman Tang dan Tetua Guo keluar.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka melihat Paman Tang dan Tetua Guo keluar dengan wajah berseri-seri.
Banyak orang mengerumuni mereka dari depan maupun belakang. Sepertinya mereka semua adalah rekan seprofesi, dengan tatapan penuh iri dan dengki.
Setelah berbasa-basi singkat dengan orang-orang itu, Paman Tang dan Tetua Guo baru berjalan ke arah mereka.
“Nona Sisi, malam ini kau harus mentraktir Paman Tang dan Tetua Guo makan besar. Ha ha ha…” Sambil berkata begitu, Paman Tang sudah naik ke mobil Tang Xu.
Melihat Sisi masih terpaku di tempat, Tetua Guo memanggilnya, “Gadis kecil, jangan melamun terus. Ayo naik mobil, kita bicarakan di dalam.”
Sisi mengangguk kaku, lalu mengikuti kedua lelaki tua itu naik ke mobil.
Begitu duduk dengan tenang, Paman Tang kembali tertawa lepas.
“Nona Sisi, hari ini Paman Tang akan membuatmu penasaran dulu. Coba tebak, berapa harga jual keempat karya itu?”
Bagaimana mungkin Sisi bisa menebaknya?
Ia sama sekali tidak memahami barang antik, terlebih lagi lukisan dan kaligrafi dari Kerajaan Daqi. Sebelum hari ini, bahkan kedua lelaki tua di hadapannya pun tidak tahu berapa nilai benda-benda tersebut.
Namun, demi menjaga suasana hati Paman Tang, Sisi tetap menyebutkan sebuah angka.
“Paman Tang, apakah harganya lebih dari seratus juta?”
Tetua Guo yang duduk di samping tampak gelisah.
“Mana mungkin hanya seratus juta? Kau terlalu meremehkan koleksi milik ayahmu.”
Sisi membelalakkan mata. “Kalau begitu, sebenarnya berapa harganya?”
Melihat gadis kecil itu mulai tidak sabar, Paman Tang tidak tega lagi menggodanya.
“Gadis kecil, keempat karya itu hari ini terjual dengan harga fantastis, totalnya mencapai empat ratus dua puluh juta.”
“Apa? Paman Tang, berapa katamu?” Angka itu terdengar begitu tidak nyata bagi Sisi.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Melihat Sisi masih meragukannya, Tetua Guo kembali mengingatkan, “Gadis kecil, Paman Tang tidak mungkin membohongimu. Malam ini akan ada siaran ulang berita tentang pelelangan hari ini. Saat itu kau bisa melihatnya sendiri. Keempat karya itu adalah barang yang paling diperebutkan dalam pelelangan.”
Sebelum ini, Sisi hanya berpikir bahwa keempat karya tersebut mungkin bisa terjual lebih dari seratus juta. Jika ia mendapatkan beberapa puluh juta, ia sudah akan sangat puas.
Ia sama sekali tidak menyangka keempat karya itu ternyata bisa terjual dengan harga setinggi itu.
Setengah bagian yang ia terima sudah lebih dari cukup untuk melunasi pinjaman bank. Bahkan untuk membeli persediaan yang akan digunakan Qi Mohan selama enam bulan ke depan pun seharusnya masih mencukupi.
Sisi begitu gembira sampai matanya berkaca-kaca.
“Paman Tang, Tetua Guo, malam ini kalian ingin makan apa? Aku yang mentraktir.”
Ucapan Paman Tang sebelumnya sebenarnya hanya candaan. Ia sudah hidup selama bertahun-tahun, mana mungkin membiarkan seorang gadis kecil mentraktirnya makan? Terlebih lagi, ia dan Tetua Guo juga memperoleh keuntungan yang sangat besar dari transaksi tersebut.
Mereka mendapatkan uang dalam jumlah besar hari ini tanpa perlu menanam modal sedikit pun. Keuntungannya bahkan melampaui keuntungan dari bisnis apa pun yang pernah mereka jalankan.
Bukan hanya Sisi yang tidak mampu menenangkan diri, Paman Tang dan Tetua Guo pun sama.
Mereka sudah lanjut usia. Dengan memiliki kekayaan sebesar itu, bahkan jika pensiun saat ini juga, mereka sudah bisa hidup tanpa mengkhawatirkan uang.
“Malam ini biar aku yang mentraktir,” kata Paman Tang sambil tertawa lebar.
“Tidak, tidak, biar aku saja,” Tetua Guo tidak mau kalah.
“Guo Tua, kalau soal bisnis kau merebutnya dariku, itu masih bisa dimaklumi. Tapi kenapa untuk mentraktir makan pun kau harus bersaing denganku?” Paman Tang mulai kesal.
“Aku juga mendapatkan uang. Apa salahnya kalau aku yang mentraktir?” balas Tetua Guo.
“Kau mendapatkan uang, memangnya aku tidak?” Paman Tang semakin tidak senang.
Melihat kedua lelaki tua itu hendak kembali bertengkar sampai wajah mereka memerah dan leher menegang, Tang Xu buru-buru menengahi.
“Paman, Tetua Guo, soal siapa yang mentraktir bisa kita bicarakan nanti. Sisi sudah menunggu di sini selama beberapa jam. Bukankah sekarang sebaiknya kalian menyelesaikan pembagian uangnya terlebih dahulu?”
Ucapannya ternyata sangat manjur. Kedua lelaki tua itu langsung berhenti bertengkar.
Paman Tang berkata, “Dua karya milikku terjual tepat seharga dua ratus juta. Sekarang juga akan kutransfer seratus juta ke rekeningmu.”
Setelah berkata demikian, Paman Tang menundukkan kepala dan mulai mengutak-atik ponselnya untuk mentransfer uang kepada Sisi.
Halaman (3/3)