Bab 31: Lereng Bawah Desa Terlantar [4]
Apa yang disebut sebagai ilmu dalam dunia Liu Shoucai dan Xiaobai sangatlah jelas; itu bukanlah energi dalam tubuh atau kekuatan sejati seperti dalam novel wuxia, juga bukan elemen magis seperti dalam kisah fantasi. Ilmu adalah cara menukar kebajikan dengan hak akses atas hukum alam. Berapa banyak kebajikan yang dikorbankan, sebanyak itu pula hak yang didapat, sesederhana itu.
Setiap dewa adalah orang yang penuh kebajikan, kebajikannya seperti lautan. Namun, adakah yang pernah melihat para dewa menebar ilmu di seluruh dunia? Ilmu itu adalah barang konsumsi! Kebajikan adalah fondasi segalanya; jika kehilangan kebajikan, jatuh dari singgasana dewa bukanlah hal yang menyenangkan.
Dibandingkan dengan kebajikan para dewa, pendeta, dan biksu, orang seperti Liu Shoucai justru keluar dari ranah itu. Mereka tidak terkontaminasi oleh kekuatan kebajikan. Ini adalah hal yang ajaib, karena menurut aturan alam semesta, makhluk atau benda yang tidak tersentuh kebajikan seharusnya tidak ada. Setetes air, sehelai rumput, bahkan sebuah gunung pun memiliki kebajikan.
Hanya Liu Shoucai, seorang pengendali roh, yang tidak menyimpan kebajikan. Secara terang-terangan, orang seperti ini tidak bersentuhan dengan sebab akibat. Namun, segala sebab akibat sudah ditentukan oleh langit!
Sejak mengetahui dirinya adalah seorang pengendali roh, Liu Shoucai sudah paham, meski sering menyebut sebab akibat, setiap kejadian tetap berada dalam lingkup sebab akibat, yakni sudah ditakdirkan oleh langit! Inilah yang membuat Liu Shoucai tak bisa berbuat apa-apa; bahkan jika suatu hari ia mati, itu pun sudah ditentukan oleh hubungan sebab akibat.
Satu-satunya dorongan Liu Shoucai untuk tetap bertahan adalah karena buku itu. Namun, setelah beberapa tahun, Liu Shoucai menyadari bahwa analisis tentang pengendali roh dalam buku itu tidak sempurna, banyak dugaan yang luas, buku yang sifatnya seperti catatan pribadi, bukan seperti kitab yang menurunkan ajaran, seolah dua sahabat melintasi waktu saling berbagi cerita. Sang maha guru menulis isi percakapannya dengan gaya sendiri, meninggalkannya bagi generasi berikutnya.
Dengan dahi berkerut, Liu Shoucai bertanya lirih pada Xiaobai, "Untuk mengendalikan tempat ini di luar waktu, berapa banyak kebajikan yang dibutuhkan?"
Xiaobai menjulurkan lidahnya, seperti anjing yang terengah-engah, "Satu batu merah kebajikan untuk satu detik, coba kau hitung sendiri berapa banyaknya?"
Liu Shoucai tercengang, dalam hati menghitung-hitung, dengan kecepatan mengumpulkan kebajikan selama beberapa tahun ini, butuh jutaan tahun untuk membuang satu tahun di sini. Apalagi tempat ini sudah terbengkalai lebih dari tiga puluh tahun.
Xiaobai mengendus-endus kuat, berkata dengan nada aneh, "Menjaga waktu tetap diam membutuhkan banyak kebajikan, bahkan dewa pun tak mampu. Tapi ada satu cara yang mungkin bisa menjelaskan keadaan di sini."
"Apa itu?" Liu Shoucai bersemangat. Tempat ini seperti gudang harta yang bisa bergerak, sayang tidak bisa diakses secara aktif, hanya bisa menerima jawaban secara pasif. Xiaobai, sebagai roh warisan, entah berapa generasi burung api biru yang tersimpan di dalam tubuhnya, dari masa paling gila sampai sekarang, tak ada yang tahu berapa tahun telah berlalu. Yang jelas, isi kepala makhluk ini terlalu banyak, sampai membuat orang iri.
"Tidak tahu," Xiaobai berusaha mengingat, menekan pelipisnya seperti manusia, tapi setelah lama mencoba, akhirnya menggeleng dan menyerah.
"Ingatan ini sepertinya tidak membiarkan Tuan Bai tahu!" Xiaobai berkata demikian dengan mata penuh kemarahan; ingatan miliknya sendiri tapi tak boleh diketahui. Bisa dibayangkan, generasi sebelumnya atau entah berapa generasi burung api biru yang meninggalkan warisan pasti sangat hebat.
"Lupakan saja, aku akan melihat feng shui desa ini, kau periksa apakah tempat ini bersih atau tidak, biarkan Badou menemanimu. Tiga batang rokok ada di Badou." Liu Shoucai mengatur, melambaikan tangan sambil membawa kompas feng shui pergi lebih dulu.
Liu Shoucai punya pemikiran sendiri; rahasia Xiaobai terlalu banyak. Setelah bertahun-tahun mengenal, Xiaobai tetap misterius, tak diketahui asal atau tujuan. Meski sudah menjadi saudara sehidup semati, Liu Shoucai merasa tidak sepatutnya menyelidiki pikiran makhluk seperti itu.
Semakin banyak yang diketahui, semakin takut untuk tahu.
Liu Shoucai memang seperti itu; berada di luar sebab akibat, ia bisa tidak peduli, bahkan bisa membiarkan orang mati tanpa menolong.
Saat ini, Liu Shoucai paling ingin tahu hubungan feng shui desa ini dengan Desa Wangyue, apakah kepala desa misterius dari Desa Xiakan benar-benar ada di sini, dan apa sebenarnya... makhluk itu!
Setelah berpisah, Liu Shoucai memegang kompas feng shui di tangan kiri, sementara jari tangan kanan dililit cahaya keemasan yang tak terlihat oleh orang biasa. Inilah perbedaan Liu Shoucai dengan pendeta dan biksu biasa.
Pendeta dan biksu harus menyesuaikan jumlah kebajikan yang dimiliki untuk menggerakkan kompas feng shui; kebajikan yang dikumpulkan dari menolong orang, memberi sedekah, mungkin akan habis hanya dengan memilih tanah yang baik atau menghitung satu perkara. Pendeta berakhlak tinggi, meski tidak pelit pada kebajikan, tidak akan menggunakannya untuk urusan feng shui atau nasib seseorang.
Liu Shoucai berbeda!
Ia tidak peduli penggunaan kebajikan, asal bukan menelan 'batu merah kebajikan', Liu Shoucai sangat murah hati dalam menggunakan kebajikan! Lagi pula, Liu Shoucai sudah paham, untuk jadi dewa, hanya mungkin kalau kiamat datang. Kebajikan sebesar itu tidak akan pernah ada, bahkan jika ada sepuluh kali tsunami di Indonesia, Liu Shoucai tetap tak akan mendapat cukup kebajikan seperti yang dihitung di buku itu.
Sejak awal hingga akhir, penulis buku itu dengan samar mengajukan satu dugaan: alam semesta ini memiliki pikiran.
Dugaan itu sangat menakutkan; tak heran sang dewa besar dalam buku hanya bisa menggunakan dugaan samar untuk menyamarkan makna harfiah. Jika benar alam semesta memiliki pikiran, seperti makhluk bijaksana, bukan sekadar mengikuti hukum alam, apakah ia punya kesukaan sendiri?
Kemunculan pengendali roh berarti apa?
Harus diketahui, pengendali roh sangatlah unik; kalau saja bisa hidup abadi, mereka bisa dibilang menentang langit. Pengendali roh yang rajin dan beruntung, di masa akhir bisa menandingi dewa sejati, itu adalah keberadaan tertinggi! Di antara semua tingkat kehidupan makhluk yang diketahui, mereka adalah yang paling tinggi.
Dewa sejati! Membalikkan langit dan bumi, memutarbalikkan waktu, menjelajah seluruh jagat dalam sekejap, itu bukan berlebihan. Mereka seharusnya tidak ada di dimensi ruang ini; dewa sejati mewakili makhluk terkuat di dimensi ini. Tak terhitung berapa tahun evolusi, perubahan, peningkatan kekuatan yang diperlukan untuk mencapai itu. Terutama waktu dan keberuntungan sangat penting.
Namun, pengendali roh telah mematahkan 'tradisi' itu, dan inilah hal paling mengerikan.
Untungnya, pengendali roh tidak bisa melawan erosi waktu, jadi tak ada istilah seluruh dunia menjadi musuh pengendali roh. Lagipula, tak semua pengendali roh berhak menjadi dewa sejati. Liu Shoucai yakin dirinya tak bisa mencapai dewa sejati, bahkan dewa kelas rendah pun tidak mampu, karena makhluk seperti itu telah melampaui tingkatan. Meski yang paling rendah sekalipun, mereka punya hak untuk berkembang. Sementara manusia biasa, selamanya hanya bisa menjadi manusia biasa.
Karena pengendali roh dari generasi ke generasi tidak bisa jadi penguasa, mereka yang pandai berpikir menjadi sahabat baik bagi dua golongan Buddha dan Tao. Kebajikan seperti halnya uang, sangat berharga; apalagi bagi pengendali roh, cara, metode, dan jumlah memperoleh kebajikan sangat unggul.
Karena itu, pengendali roh tak perlu belajar secara khusus ilmu mengusir setan, menangkap arwah, atau ramalan. Cukup dengan ikut berkeliling bersama biksu dan pendeta, mereka tetap mendapat kebajikan seperti biasa, sementara pengendali roh bisa memperoleh sepuluh, seratus, bahkan seribu kali lipat. Ini adalah perbedaan yang mengerikan.
Karena itu, pengendali roh punya hubungan baik dengan golongan Buddha dan Tao.
Selain itu, kemunculan pengendali roh sangat istimewa; tak ada yang tahu kapan seorang pengendali roh mati, berapa lama sebelum pengendali roh berikutnya muncul.
Teman biksu Liu Shoucai pernah berkata, pengendali roh terakhir yang tercatat muncul empat atau lima ratus tahun lalu. Apakah di tengah-tengah ada pengendali roh yang belum sadar, tidak diketahui.
Liu Shoucai ingat pernah bertanya pada biksu itu, apakah pengendali roh masa itu pernah melakukan sesuatu yang luar biasa. Sang biksu berpikir lama lalu dengan iri berkata, "Sepertinya dia membantu seorang pangeran menyingkirkan kaisar, oh ya, dia juga masuk golongan Buddha. Menurutku dia hanya sekadar nama saja, detailnya tidak jelas. Orang itu sangat misterius, tapi golongan Tao dan Buddha mengenalnya, tak ada yang berani mengganggu."
"Wah, hebat sekali!" Liu Shoucai waktu itu sangat terkejut, setelah sadar dan menghitung dengan jari, langsung tidak iri lagi.
【Setelah membaca, jangan lupa vote!!!!!!】