Bab 5: Saudari
Setelah menuangkan air panas, mencuci dan membasuh, selesai membereskan Ning Lei, lalu mengantarnya ke tempat Ning Weidong, belum sampai pukul sembilan, Ning Weiguo dan istrinya sudah berbaring, sambil mendengarkan sandiwara radio dan bercakap-cakap.
Alasan utama mereka mengirim anaknya ke tenda antigempa untuk tinggal bersama adik iparnya bukan karena rumah tidak muat lagi, melainkan karena Wang Yuzhen berniat punya anak kedua.
Tahun lalu aturan mulai diperketat, jika tidak segera melahirkan, kesempatan itu akan hilang.
“Hari ini apa yang dikatakan ayahmu, tolong kamu perhatikan baik-baik,” Wang Yuzhen mendorong Ning Weiguo, “Ayahmu beberapa tahun ini kesehatannya memang kurang baik. Sekarang memang sudah kembali bekerja, tapi usia dan kondisi tubuhnya sudah begitu, tiga empat tahun lagi pasti pensiun... Beberapa tahun ke depan ini masa yang sangat penting. Kamu harus bisa menggantikan posisinya, supaya ada perkembangan selanjutnya. Kalau nunggu sampai ayah pensiun, kata-katamu nanti sudah tak seberpengaruh sekarang.”
Ning Weiguo hanya menggumam, “Aku tahu.”
Wang Yuzhen melirik sebal, “Jangan cuma ‘hmm hmm’ saja, ijazah kursus D3 itu tahun ini harus kamu dapatkan apa pun caranya! Dua tahun lalu ujian masuk universitas dibuka lagi, dua tahun lagi para mahasiswa itu lulus, tiap tahun jumlah lulusan universitas akan puluhan ribu, ijazah sekolah menengah saja sudah tidak ada harganya.”
Ning Weiguo mengernyit, “Masa sebegitunya?”
Perbedaan latar belakang keluarga keduanya pun mulai terlihat di sini.
Ning Weiguo memang cerdas dan mampu, tapi ada hal-hal yang harus didengar dan dipelajari sejak kecil.
Wang Yuzhen sejak kecil sudah terbiasa mendengar orangtuanya membicarakan berbagai urusan, hal-hal seperti itu bahkan sampai sekarang pun Ning Weiguo belum pernah tahu.
Wang Yuzhen hanya mendengus, tidak memperpanjang perdebatan, lalu mengalihkan topik, “Oh ya, di kantor kamu tahun lalu sudah ada rumor tentang pembangunan rumah dinas baru, sekarang tahun baru sudah lewat, pasti sebentar lagi ada kabarnya. Jangan sampai kamu tidak tahu apa-apa, tolong lebih perhatikan.”
Ning Weiguo membalikkan badan, tangannya mulai nakal, “Ah, kamu terlalu khawatir, masa aku bisa sembarangan soal ini?”
Wang Yuzhen menjawab kesal, “Aku khawatir juga demi keluarga besar Ning! Adikmu itu, sudah sebesar itu, masih tinggal di sana, kalau kita berdua tidak cari cara pindah supaya tempatnya bisa dilepas, bagaimana dia bisa cari jodoh? Hanya tenda antigempa sekecil itu, mana ada gadis yang mau?”
Begitu disebut, Ning Weiguo langsung tak bisa membantah.
Orang lain tidak tahu, tapi dia sendiri paling paham, selama ini Wang Yuzhen benar-benar sudah menjalankan peran sebagai kakak ipar dengan sangat baik.
Wang Yuzhen melanjutkan, “Dan juga soal Bai Fengyu, bukan aku ada prasangka sama dia, di halaman depan ada Shi Xiaonan, kalau soal cantik, tidak kalah, kenapa aku tidak pernah bilang apa-apa tentang dia? Kamu saja yang tidak lihat, musim panas lalu, adikmu bertelanjang dada di halaman, dia itu cara mandangnya...”
Ning Weiguo tertegun, “Ada kejadian begitu?”
Dia benar-benar tidak tahu.
Wang Yuzhen hanya mendengus, “Pokoknya aku sudah bilang, secepatnya carikan jodoh untuk adikmu. Kalau di rumah sudah ada wanita yang mengawasi, yang di luar tidak akan berani macem-macem.”
...
Keesokan paginya.
Ning Weidong bangun, meregangkan tubuh.
Tahun baru baru saja lewat, sekolah belum mulai, Ning Lei belum perlu masuk kelas. Kemarin dari rumah kakeknya membawa lebih dari sepuluh buku cerita berseri “Kisah Keluarga Yang”, sampai lebih dari jam sepuluh malam baru tidur, tidurnya seperti babi mati, waktu kasur berderit pun tidak bangun.
Ning Weidong mengenakan pakaian, merapikan diri sebisanya.
Di masa itu, mencuci pakaian di musim dingin sangat merepotkan, sudah capek-capek mencuci bersih, dijemur di luar, mengeras membeku, belum kering sudah tertutup debu batu bara.
Pemilik sebelumnya malas repot, juga malu minta kakak iparnya mencucikan, jadi terpaksa seadanya saja.
Namun Ning Weidong tidak mau asal-asalan, ia menarik sebuah kotak kayu kecil dari bawah ranjang, mengeluarkan satu jaket luar, meski kusut, setidaknya masih bersih.
Dia berkaca di cermin kecil di atas ambang jendela, di samping jam weker.
Belum mencuci muka, sudut matanya masih belekan, rambut separuh panjangnya berminyak.
Dia menyisir beberapa kali, berpikir mau potong rambut di mana, lalu membawa cangkir teh untuk sikat gigi keluar.
Pagi hari adalah waktu orang-orang berangkat kerja, halaman langsung ramai.
Meskipun keran air sudah masuk ke rumah, tapi karena banyak penghuni, pagi-pagi harus cuci muka, sikat gigi, dan masak sarapan, tidak mungkin semuanya dilakukan di dalam rumah.
Sebagian besar orang menampung air dengan cangkir teh, sikat gigi di tepi saluran pembuangan di tengah halaman, lalu kembali ke rumah untuk membasuh muka di atas rak wastafel.
Jam tujuh pagi ada satu kali bus, perjalanan ke Pabrik Baja Bintang Merah sekitar empat puluh menit.
Ning Weidong bersiap berangkat kerja, mengunyah gigitan terakhir kue minyak, keluar dari rumah atas, lalu melihat pintu rumah Bai Fengyu terbuka. Dari dalam keluar seorang gadis mengenakan jaket katun bermotif bunga, rambut dikepang dua.
Sekilas terlihat berusia tujuh belas atau delapan belas tahun, mirip Bai Fengyu, kulitnya sama putih bercahaya, bahkan lebih muda dan segar dengan pipi kemerahan, sangat cantik.
Ning Weidong sedikit terkejut, teringat kemarin sore ada tamu di rumah Bai Fengyu, ternyata seorang gadis.
Melihat wajahnya, kemungkinan besar itu adik perempuan Bai Fengyu atau kerabat dekat.
Bai Fengyu pun keluar dari belakang.
Ning Weidong sama sekali tidak canggung karena kejadian kemarin, melihat Bai Fengyu tersenyum dan mengangguk, ia pun menyapa, “Kak.”
Di mata Bai Fengyu terbersit kepedihan, lalu memperkenalkan, “Ini adik keduaku, Bai Fengqin.” Lalu kepada gadis di sampingnya, “Fengqin, panggil Kak Weidong.”
Bai Fengqin menatap Ning Weidong, seolah menilai, lalu menyapa dengan suara jernih, “Kak Weidong, halo~”
Ning Weidong mengangguk, meski Bai Fengqin sangat cantik, ia tak ingin banyak bicara.
Kehadiran Bai Fengqin terasa begitu mendadak.
Selain itu, selama uang dua ratus yuan belum diterima, Bai Fengyu pasti belum akan menyerah.
Ning Weidong berkata, “Kak, aku sudah telat kerja, aku jalan dulu ya~” Sambil bicara, ia benar-benar bergegas pergi, melangkah cepat melewati pintu bulan.
Bai Fengqin tak menyangka Ning Weidong akan bereaksi seperti itu.
Bai Fengyu pun belum sempat bicara.
Sejak kemarin pagi, saat Ning Weidong mengantar uang, tiba-tiba pingsan, lalu siuman lagi, perasaannya sudah tidak sama.
Dulu setiap Ning Weidong melihatnya, entah malu atau kikuk, matanya selalu berbinar, tapi barusan tidak lagi.
“Kak~” Bai Fengqin cemberut dan menginjak tanah.
Bai Fengyu menggenggam tangan adiknya, “Sudah, berangkat sekolah dulu~ Nanti kalau ada apa-apa, pulang baru dibahas.”
...
Ning Weidong keluar dari halaman samping, di halaman depan kembali menyapa banyak orang.
Halaman depan adalah halaman utama rumah empat penjuru ini, dulu ada satu pintu besar berhias, tapi kemudian dibongkar demi kenyamanan.
Sekarang, halaman depan sebenarnya terdiri dari dua halaman yang digabung, rumah selatan di halaman itu dulunya adalah rumah tambahan.
Karena luas, otomatis jumlah penghuni lebih banyak, di halaman tempat keluarga Ning hanya ada lima keluarga, di sini sampai sembilan keluarga, lebih dari lima puluh orang.
Ning Weidong sepanjang jalan menyapa, keluar dari pintu gerbang halaman, tak sadar menghela nafas lega.
Ia cepat-cepat menyusuri gang, sampai di jalan raya.
Karena sudah pernah mencoba sebelumnya, ia pun sudah hafal jalan, naik bus dengan mudah berbekal kartu langganan.
Di dalam bus penuh sesak, bau bensin menyengat di udara tertutup, bus pun berjalan berguncang menuju Pabrik Baja Bintang Merah.