Bab 13 Kesombongan
Sebenarnya, He Chi sangat sibuk. Berdasarkan ingatannya, tiga bulan lagi Jerman akan secara resmi menyerah kepada Blok Sekutu, menandatangani perjanjian gencatan senjata akhir setelah menanggung kerugian besar. Namun sebelum itu, pemerintah Jerman seperti seorang penjudi yang hampir kehabisan modal, mempertaruhkan seluruh taruhannya di garis barat. Sebagai komandan garis barat, Ludendorff mengerahkan semua kekuatan yang ada dan memberikan pukulan telak kepada pasukan gabungan Inggris-Prancis.
Di sepanjang garis Sungai Somme dan Aisne, pasukan Jerman melancarkan taktik “kelompok serbu” yang sangat khas. Taktik ini bisa dibilang sebagai cikal bakal perang kilat, memanfaatkan kecepatan pasukan untuk menyusup di antara celah pertahanan musuh, melakukan terobosan terfokus, memutus jalur transportasi, dan memecah hubungan antar posisi pertahanan, sehingga menciptakan peluang bagi serangan frontal.
Sebenarnya, Jerman nyaris berhasil. Hanya dalam hari pertama, mereka sudah maju sejauh 13 mil, lalu terus-menerus menggerogoti garis pertahanan Sekutu. Baru setelah Sekutu mengerahkan cadangan hingga 27 divisi, mereka berhasil menghentikan gelombang serangan Jerman ini. Saat itu, pasukan terdepan Jerman hanya berjarak 37 mil dari Paris. Bisa dibilang, andai saja saat itu Jerman masih punya sedikit saja potensi perang tersisa, atau jika mereka bisa menambah 30–50 ribu pasukan ke medan perang, mungkin kisah Perang Dunia Pertama akan sangat berbeda.
Dalam situasi seperti ini, yang dipikirkan He Chi adalah bagaimana bertahan hidup. Ia perlu mengerahkan semua sumber daya yang bisa digunakannya dan sama sekali tak punya waktu untuk bermain-main dengan kucing Persia peliharaan keluarga yang ingin mewawancarainya.
Karena tak ada waktu untuk berbelit-belit, He Chi memutuskan bertindak cepat. Ia memandang wartawati yang memasang wajah superior di depannya, lalu setelah berpikir sejenak, ia berkata dalam bahasa Inggris, “Nona, maksud Anda ingin mewawancarai saya?”
“Benar. Saya ingin melakukan wawancara khusus dengan Anda mengenai pertempuran sebelumnya,” jawab Christine sambil tetap berusaha membenahi kancing bajunya yang salah tempat.
“Oh, begitu. Semua itu bohong. Saya hanya pion untuk keperluan propaganda. Anda boleh pulang sekarang,” kata He Chi tanpa menoleh.
“Kalau begitu, kita bisa mulai dari... Tunggu, Anda mengakui semua itu bohong?” Christine terkejut dan mendongak.
“Ya, saya akui. Semua itu dibuat-buat oleh bagian propaganda. Bohong! Saya sangat sibuk, jadi saya rasa topik wawancara bisa kita sudahi sampai di sini,” ujar He Chi sambil terus bekerja tanpa menoleh.
“Tapi... sudah selesai begitu saja...” Gadis itu memutar matanya, lalu spontan menarik tangan He Chi. “Tidak bisa! Anda belum memberitahukan saya soal di balik layar. Apakah Anda diancam? Apa tujuan mereka menutupi kebenaran? Peran apa yang Anda mainkan dalam semua ini?”
Rentetan pertanyaan itu membuat kepala He Chi pening. Ia terpaksa menoleh, menatap Christine yang tampak tak mau mengalah, lalu menggelengkan kepala.
“Nona, saya benar-benar sibuk. Ada urusan penting yang harus saya urus. Haruskan hari ini juga Anda bicara dengan saya?”
“Tapi wawancara saya juga sangat penting. Hari ini saja, sekarang juga! Segera!” Christine tak mau mundur selangkah pun.
“Baiklah, mari kita bicara,” demi mengakhiri kejaran itu, He Chi memutuskan untuk mengambil langkah tegas. “Kalau begitu, mari kita bicarakan soal perang ini.”
“Baik!” Christine dengan semangat mengeluarkan buku catatannya, siap menulis, meski dalam hati ia merasa ada yang ganjil. “Aneh, bukankah seharusnya saya yang menentukan topik wawancara?”
-----------------
Malam harinya, setelah mandi dengan air hangat di bak mandi khusus yang disiapkan untuknya di kamar terpisah, Christine mengenakan piyama sutra dari dalam koper lalu berjalan ke meja tulisnya. Kakinya yang ramping menginjak karpet, ia mengelus pipinya yang semula memerah karena bersemangat, kini rona itu telah lama pudar. Wartawati itu mengeluarkan pulpen dan mulai menulis surat untuk tunangannya:
“Kekasihku, Leon,
Saat menulis surat ini, aku sudah berada di garis depan selama tiga hari. Selain udara yang lembap dan gigitan nyamuk yang kadang membuat sulit tidur, semuanya baik-baik saja. Aku mengikuti sarankanmu, menempatkan diri di rumah sakit belakang garis pertahanan Somme. Di depanku ada tiga garis pertahanan dengan delapan ribu orang yang berjaga, jadi tak perlu terlalu khawatir soal keselamatan.
Leon, aku sekali lagi bersyukur bisa keluar dari rumah dan melihat dunia luar. Aku bertemu banyak orang berbeda. Hari ini aku bertemu seorang yang sangat tak sopan, bukan karena kasar atau bodoh, melainkan sombong. He, seorang tentara biasa dari negeri timur yang belum maju, entah mengapa mendapat pendidikan yang sangat baik. Ia menguasai empat bahasa termasuk bahasa ibunya, juga memahami sejarah dan filsafat. Bahkan di masa kita masih belajar bersama dulu pun, tak banyak orang seperti dia.
Awalnya kukira ini akan jadi wawancara yang sukses dan percakapan yang menyenangkan. Sampai kami membicarakan perang ini. Kepala He penuh dengan pemikiran aneh. Ia sama sekali tak menilai perang antara kita dan Jerman dari sudut keadilan, melainkan memakai sudut pandang yang aneh. Ia menganggap perang ini pada dasarnya adalah kelanjutan dari politik, merupakan keniscayaan dari kemacetan perkembangan ekonomi masyarakat Barat. Terus terang, meski aku tak setuju, setidaknya secara logika, teorinya cukup konsisten.”
Tiba di sini, Christine menggigit ujung pena—kebiasaan kecilnya saat marah—lalu melanjutkan menulis:
“Menurut teorinya, perang ini memang akan kita menangkan, tapi akar konflik tetap ada, dan tak sampai dua puluh tahun lagi, kita akan menghadapi perang lain. Sungguh mengada-ada. Siapa dia, peramal?
Tentu saja, ia tak sepenuhnya buruk, setidaknya ia cukup jujur. Tidak seperti para penipu di militer, He sejak awal sudah mengakui bahwa dirinya hanyalah tentara biasa yang membantu propaganda, dan semua ‘prestasi’ hanyalah cerita karangan.
Masalahnya, menurutnya semua itu bisa dimaklumi. Ia menganggap pengendalian opini publik adalah kunci dalam perang, bahkan arah opini publik itu sendiri adalah sebuah peperangan, yang ia sebut sebagai perang opini. Aku sama sekali tak bisa terima itu.
Sebagai jurnalis, mengungkap kebenaran dan membela yang lemah adalah tugas suci yang diberikan Tuhan padaku. Aku tak bisa melaporkan sesuatu yang bertentangan dengan fakta. Jika demi kemenangan kita harus mengorbankan keadilan, kemenangan itu sendiri jadi tak berarti, bukan?
Maaf, aku terlalu emosional. Leon, tunanganku, aku ingin mendengar pendapatmu. Apakah kau juga berpikir seperti aku? Kutunggu balasanmu.
Semoga hari-harimu di sisi Tuan Petain selalu baik-baik saja.
— Christine Seniel, yang mencintaimu”
Christine meletakkan penanya, memasukkan surat itu ke dalam amplop, menutupnya dengan lilin, dan bersiap untuk beristirahat. Namun tiba-tiba ia mendengar keributan di luar, tampaknya ada orang yang berteriak-teriak.
Didorong rasa ingin tahu, Christine mendekat dan membuka jendela.
Auuuuuuuuuu...
Seolah-olah ada sesuatu yang melengking keras, menusuk gendang telinganya hingga terasa sakit.
Auuuuuuuu...
Bum!
Belum sempat mengetahui apa yang terjadi, sebuah peluru artileri menghantam tepat di depan rumah, membuatnya pingsan seketika.