Bab 4 Apakah kau mengenali sapu tangan ini?
Halaman (1/3)
Pekarangan Huazhao adalah tempat paling indah di kediaman Adipati, dengan tata letak dan perabotan yang sangat apik. Di dalam ruangan, bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, tirai sutra merah muda memancarkan keharuman, dan setiap sudutnya menunjukkan betapa anak perempuan sah keluarga itu sangat disayangi dan diistimewakan.
Ning Xi melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia tidak berani menoleh ke sana kemari, lalu dengan patuh membungkuk hormat, "Hamba Ning Xi, menghadap Nona Muda Kedua."
Wei Yan tengah berbaring santai di atas dipan sutra es, membiarkan pelayan utamanya, Xiangqiao, mewarnai kuku jarinya dengan pacar merah. Pelayan lainnya bertugas mengipasi dirinya. Keduanya tampak sedang berbincang sesuatu yang membuat Wei Yan tertawa hingga tubuhnya berguncang. Ia sama sekali mengabaikan keberadaan Ning Xi di bawah sana.
Ning Xi tetap mempertahankan posisi setengah berjongkok. Hendak berdiri pun tidak pantas, hendak berlutut pun tidak diminta. Tak lama kemudian, kakinya mulai kram. Ia menggertakkan gigi, berusaha keras menahan tubuhnya yang gemetar. Setelah setengah batang dupa berlalu, Ning Xi merasa kakinya seolah membatu, mati rasa hingga tidak lagi merasakan apa pun. Saat ia hampir limbung, barulah terdengar suara ringan dari atas, "Bangunlah."
"Terima kasih, Nona Muda Kedua."
Ning Xi terhuyung saat berdiri tegak dan mengembuskan napas panjang.
"Kau Ning Xi?"
Wei Yan bangkit berdiri, menghampiri Ning Xi, lalu dengan jemari yang dihiasi pacar merah, ia mengangkat dagu Ning Xi dengan lembut. Ia menatap wajah gadis itu sejenak, "Sebelumnya, Pangeran Li yang memperlakukanmu seperti ini, bukan?"
Tatapan Wei Yan menyapu tubuh Ning Xi, membuat suasana mendadak menjadi dingin.
Halaman (2/3)
Jantung Ning Xi berdegup kencang, tidak tahu harus menjawab apa. Ekspresi Wei Yan tidak tampak marah, namun kuku jarinya mencengkeram dagu Ning Xi dengan cukup kuat, "Parasmu memang lumayan, tidak heran bisa menarik perhatian Pangeran Li."
Ning Xi merasa seolah ada pisau kecil yang menusuk kulitnya, terasa sangat sakit. Ia tidak berani menghindar, pun tidak berani mengakui. Wei Yan sepertinya tidak berniat mendengarkan penjelasan darinya, ia mengeluarkan sapu tangan kain katun bersulam bunga anggrek, "Kenal benda ini?"
Melihat sapu tangan itu, wajah Ning Xi memucat seketika. Ia pergi dengan tergesa-gesa saat itu hingga melupakan benda yang begitu penting ini. Secara naluriah, ia menyangkal, "Itu bukan milik hamba."
Entah apakah Wei Yan mempercayainya atau tidak. Wei Yan melemparkan sapu tangan itu kepada pelayan Xiangqiao, "Ini ditemukan di rak bunga dekat gudang anggur. Pergilah periksa, siapa saja yang hari ini mendatangi tempat itu!"
Telapak tangan Ning Xi berkeringat karena tegang. Dalam sekejap, berbagai pemikiran melintas di benaknya, dan setiap pikiran itu seolah menuju jalan buntu.
"Tak perlu takut, aku tidak akan memakanmu." Melihat Ning Xi yang tampak jujur, terlintas ejekan di mata Wei Yan. Tangan giok yang tadi mencengkeram dagu Ning Xi kini berpindah ke bahunya, dengan lembut ia mengusap bagian kain kasar yang robek dan berserabut pada pakaian Ning Xi, "Sudahlah, mulai sekarang mengabdilah di Pekarangan Huazhao."
Wei Yan berbalik dan duduk kembali ke atas dipan, lalu melambaikan tangan dengan tidak sabar, "Xiangqiao, bawa dia pergi."
Halaman (3/3)
Xiangqiao adalah pelayan utama Wei Yan yang bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari sang Nona serta mengatur para pelayan lain di pekarangan tersebut. Ia sedikit lebih tua dan memiliki watak yang tegas. Setelah mengatur kamar untuk Ning Xi dan memberikan petunjuk mengenai tugas-tugas harian, Ning Xi yang masih menyimpan sedikit harapan bertanya kepadanya, "Hanya selembar sapu tangan biasa, mengapa Nona sampai bersusah payah mencari pemiliknya?"
"Pangeran Li telah menodai seorang pelayan di kediaman Adipati kita." Nada bicara Xiangqiao penuh rasa jijik dan amarah, "Jika itu orang lain mungkin tidak masalah, tetapi wanita rendahan ini berasal dari kediaman kita sendiri. Bukankah itu menjijikkan?"
Ning Xi meremas jemarinya, lalu menanggapi dengan setuju.
"Berani-beraninya dia mengincar pria milik Nona kita, sungguh nyali yang sangat besar. Begitu orang ini tertangkap, aku pasti akan membuatnya dikurung dalam kerangkeng babi."
Melihat ekspresi Ning Xi yang kosong, Xiangqiao mengira gadis itu kelelahan, ia pun menepuk bahu Ning Xi, "Sudahlah, istirahatlah. Aku akan kembali ke sana sekarang, jika ada apa-apa, carilah aku lagi."
Xiangqiao menutup pintu. Kaki Ning Xi lemas seketika, ia jatuh terduduk di atas kursi. Tangannya yang saling bertaut tidak berhenti gemetar. Bunga anggrek di sapu tangan itu adalah hasil sulamannya sendiri, dan ia juga pernah menyulam motif yang sama untuk orang lain. Jika penyelidikan berlanjut, mereka akan segera mencurigainya.
Dirinya mati tidaklah masalah, tapi bagaimana dengan adiknya? Adiknya yang sakit parah itu sepenuhnya bergantung pada upah bulanannya untuk bertahan hidup. Tidak, ia harus bertahan hidup.