Bab 5: Perlawanan
Tak lama kemudian, Lian Xia membawa payung dan berlari menyusul Zhang Deyou.
Lian Xia memaksakan senyum seolah-olah ia sedang bersikap ramah:
"Nona Shaohua, sulit sekali saya mencari Anda! Ayo, segera ikut saya kembali! Air hangat sudah disiapkan di kamar mandi untuk Anda!"
Lian Shaohua segera menangkap maksudnya dan menatap Zhang Deyou dengan penuh rasa terima kasih. Zhang Deyou mengangguk paham dan berkata:
"Nona Lian Xia adalah orang yang paling baik hati di Istana Cheng Huan. Jika Nona Shaohua membutuhkan sesuatu di kemudian hari, jangan sungkan untuk mengatakannya pada Nona Lian Xia."
Lian Xia tersenyum canggung, menyerahkan payung kertas minyak kepada Lian Shaohua, lalu berkata:
"Silakan Nona pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, saya masih ada dua hal yang ingin dibicarakan dengan Kasim Zhang."
Lian Shaohua tidak lagi bersikap rendah diri seperti biasanya. Ia bahkan tidak melirik atau berterima kasih pada Lian Xia. Ia hanya mengangguk ke arah Zhang Deyou, sedikit menekuk lututnya sebagai tanda perpisahan.
Tinggallah Lian Xia yang terpaku dengan raut wajah penuh keterkejutan.
Lian Shaohua sangat mengenal Zhang Deyou. Pria itu selalu bertindak dengan perhitungan yang matang. Jika ia berani membela Lian Shaohua, itu berarti ia memegang kartu as yang dapat menjatuhkan Lian Xia, dan ia yakin Lian Xia tidak akan berani membeberkan apa pun. Jika tidak, Zhang Deyou tidak mungkin melakukan hal tersebut.
Lian Shaohua melangkah dengan tenang menuju kamar mandi. Begitu pintu dibuka, benar saja ada air hangat, namun jelas bukan air yang disiapkan untuknya.
Sebab, di samping bak kayu itu tidak hanya terdapat kelopak bunga, tetapi sabun mandi yang digunakan pun telah dicampur dengan minyak mawar.
Lian Shaohua tanpa sungkan menuangkan seluruh kelopak bunga ke dalam bak, lalu menanggalkan pakaiannya yang basah kuyup dan masuk ke dalam air hangat yang beraroma sedap itu.
Suhu air yang cukup panas membuat Lian Shaohua menarik napas panjang, ia memejamkan mata karena merasa begitu nyaman.
Sejak masuk ke istana, ia tidak pernah sekalipun mandi dengan air hangat. Setiap kali ia hanya mengambil sendiri seember air yang belum dingin benar, lalu mengelap tubuhnya dengan kain. Jika sesekali mendapatkan air hangat, ia hanya bisa merendam kakinya yang bengkak.
Terbiasa hidup menderita, Lian Shaohua hampir lupa betapa nikmatnya berendam di air hangat.
Ia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
Sering orang berkata bahwa waktu berlalu begitu cepat seperti kuda putih yang melompati celah sempit.
Orang yang mengatakan hal itu pastilah belum pernah merasakan penderitaan.
Bagi Lian Shaohua, setiap hari di istana terasa seperti setahun lamanya.
Meskipun pemilihan selir enam bulan lagi adalah kesempatan besar bagi Lian Shaohua, enam bulan adalah waktu yang terlalu lama. Ia bahkan tidak yakin bisa bertahan hidup sampai saat itu.
Lian Shaohua perlahan membuka matanya dan melepas kepalan tangannya yang erat.
Karena takdir telah memberikan kesempatan emas, ia tidak akan melewatkannya.
Suara pintu yang didobrak keras menghentikan lamunan Lian Shaohua.
Lian Xia menerjang masuk dengan gigi terkatup rapat, ia menjambak rambut Lian Shaohua yang terurai di belakang dan memaki:
"Dasar perempuan rendahan! Jangan pikir karena kau sudah mendekati seorang kasim, kau bisa menginjak-injak kepalaku!"
Lian Shaohua tidak panik. Ia mengulurkan lengan kirinya ke atas untuk melilit leher Lian Xia, lalu menekannya dengan kuat. Tubuh Lian Xia pun merosot ke bawah. Lian Shaohua menarik sanggul rambut Lian Xia dan tanpa ragu membenamkan kepala perempuan itu ke dalam bak mandi.
Kepala Lian Xia ditekan sekuat tenaga oleh Lian Shaohua ke dalam air. Entah sudah berapa lama, tenaga Lian Xia yang meronta kian melemah, dan cengkeraman tangannya pada rambut Lian Shaohua pun mengendur.
Barulah saat itu Lian Shaohua menarik kepala Lian Xia ke atas, lalu menghempaskannya dengan keras ke lantai.
Lian Shaohua keluar dari bak mandi, dengan tenang mengambil handuk di sampingnya untuk membalut tubuh, lalu berjalan tanpa alas kaki menuju ke hadapan Lian Xia sambil berkata:
"Kakak sudah lama berada di istana, sebaiknya berhati-hatilah saat berbicara. Hubungan saya dan Kepala Kasim Zhang sangat bersih, sama sekali tidak ada urusan pribadi."
Lian Xia yang merasa marah dan kesal terus memuntahkan air dari mulutnya, ia menyumpah dengan terbata-bata:
"Kau... kau sungguh... begitu kejam... berpura-pura lugu... untuk menipu orang..."