Bagian 46: Bumi Terlalu Berbahaya
Hati Dan Fei terasa agak gentar. Ia teringat kata-kata Cao Ning'er sebelumnya bahwa pelayan itu dulu menjual dirinya ke keluarga Cao demi membalas dendam. Apakah itu benar? Jika dendam lama dan baru dijumlah, menyelesaikan masalah ini dengan mulus jelas bukan perkara mudah.
Xiahou Heng langsung tertawa terbahak-bahak. “Zhen Rou mungkin memang tak secantik Nona Ruxian, tapi keluarga Zhen dari Hebei juga keluarga terpandang, mana mungkin berhubungan dengan seorang pelayan? Nona Ruxian sungguh pandai bercanda.”
Ruxian hanya mengangguk, namun matanya yang penuh rasa ingin tahu kembali menatap Dan Fei, seolah ingin menebak apakah ucapannya tadi benar atau tidak.
Dan Fei sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun, bahkan tak ingin bersikap seolah menanggung beban dendam. Ia hanya tersenyum tipis, dan mendengar Xiahou Heng melanjutkan, “Dan Fei, tuanmu bilang urusan apotek keluarga Cao bisa kau bereskan setelah kembali. Sekarang kau sudah kembali, bagaimana kau akan menyelesaikannya?”
Hati Dan Fei langsung panas. Ia tak perlu menebak lagi, jelas bahwa Cao Fu dijadikan kambing hitam, dan dirinya hanya dipakai sebagai tameng.
Ia sama sekali tak tertarik pada Zhen Mi ataupun Zhen Rou. Ia hanya ingin menjalani hidup tenang di tempat baru ini, menjadi orang sukses yang sederhana, berbisnis properti, mengumpulkan sedikit uang, menikmati hidup dengan makan, minum, bermain, dan dihormati orang lain—itulah keinginannya yang sederhana.
Namun, keinginan paling sederhana pun sulit tercapai. Dunia ini terlalu berbahaya, Mars pun tak bisa ia tuju, apalagi kalau tiba-tiba muncul pembunuh dari Pluto—bisa-bisa ia belum sampai ke Kota Ye sudah mati di jalan. Ia selalu ingin hidup rendah hati, tapi kenapa semua orang justru memaksanya untuk bertindak?
Melihat sikap Xiahou Heng yang terus mendesak, Dan Fei tiba-tiba tersenyum, “Tuan Xiahou, cara menyelesaikannya amatlah mudah. Cuma aku khawatir kau tak sanggup menanggung akibatnya.”
Apa?
Xiahou Heng langsung membelalakkan mata, semua yang hadir pun terkejut.
Semua orang memandang Cao Fu dan Dan Fei. Awalnya mereka hanya menanti tontonan, namun mendengar ucapan Dan Fei barusan, mereka benar-benar terperangah. Di negeri ini ada hukum, dalam bidang tertentu pun ada aturan. Selama masih di dalam lingkaran ini, harus patuh pada peraturannya.
Cao Cao melarang keluarga sendiri berjudi, tentu demi mencegah konflik akibat kecanduan judi yang bisa merusak keharmonisan. Orang yang berjudi dengan baik memang ada, namun sama langkanya dengan panda. Kebanyakan orang kalau sudah mabuk judi, pertumpahan darah pun sering terjadi.
Namun, Cao Pi dan kawan-kawan jelas tak mengindahkan perintah ayah mereka.
Dari dulu hingga kini, perilakunya para generasi kedua itu hampir sama saja. Cao Pi, Xiahou Heng, Cao Fu dan yang lain memang tidak “menyusahkan ayah”, tapi mereka tetap memanfaatkan pengaruh ayah mereka.
Cao Pi bisa membuka taruhan, Xiahou Heng dan Cao Fu mungkin tak perlu menjilat Cao Pi, tapi untuk diterima dalam lingkaran itu, mereka harus ikut berjudi. Namun mereka masih tahu batas, begitu Cao Fu kalah taruhan dan harus merelakan apotek keluarga, Xiahou Heng memang berniat menagih, tapi setelah Cao Ning'er mengancam, ia pun tak melangkah lebih jauh.
Jika urusan ini sampai ke telinga Cao Cao, dan kebetulan suasana hati Cao Cao sedang buruk, semua bisa kena getahnya. Bahkan kalau Cao Hong tahu sekalipun, Cao Fu pasti tetap akan kena masalah, sementara yang lain hanya dapat malu.
Karena itulah, Cao Fu semakin tak bisa mengangkat kepala. Buruk dalam berjudi mungkin masih bisa dimaklumi, tapi menanggung utang dan tak bisa membayar adalah aib terbesar.
Xiahou Heng pun menganggap utang itu sebagai utang macet, tak benar-benar berniat menagih, hanya ingin menekan Cao Fu. Siapapun yang berada di posisi itu, pasti sulit membayar utang taruhan sebesar itu. Maka ketika mendengar Dan Fei berkata menyelesaikan masalah itu sangat mudah, bahkan menantang Xiahou Heng, semua pun terkejut.
Sesaat kemudian, Xiahou Heng hanya bisa tertawa sinis, “Kau ini masih terlalu pagi untuk bermimpi. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang tak bisa kutanggung. Apa sih ‘pendapat hebatmu’? Katakan saja!”
Dan Fei tahu Xiahou Heng sedang mengejeknya, tapi ia tak terburu-buru. Ia duduk di samping Cao Fu, menahan sakit lalu berbisik di telinganya, “Tuan muda, asal kau bisa menginjak Xiahou Heng, menarik perhatian Nona Ruxian, kau pasti mau melakukan apapun, bukan?”
Cao Fu yang tadinya seperti ayam kalah bertarung, kini seperti mendapat suntikan semangat, “Tentu saja!”
Selama ini ia menahan malu dan hinaan, mendengar Dan Fei berkata demikian, ia nyaris tak percaya, namun tetap ragu, “Tapi apa yang harus kulakukan?”
“Apa yang kuminta, pasti bisa kau lakukan,” bisik Dan Fei, lalu segera berdiri dan berkata, “Tuan Xiahou, tuanku memutuskan untuk bertaruh sekali lagi denganmu.”
Xiahou Heng sempat tercengang, lalu tertawa keras.
Cao Pi, Xiahou Mao dan yang lainnya pun ikut tertawa. Xiahou Mao bahkan berseru, “Lunasi dulu utangmu, baru bicara!”
Ruxian hanya mengerutkan kening melihat mereka semua menghina.
Namun Dan Fei tak bergeming, ia berkata dengan suara dalam, “Orang bilang, kalau berjudi bukan untuk kalah.” Ucapannya membuat semua terdiam, dalam hati bertanya-tanya, mengapa mereka belum pernah mendengar pepatah itu? Anak ini, kalau bicara soal judi, tampaknya memang punya pengetahuan.
“Kalau begitu, Tuan Xiahou, seharusnya kau beri kami kesempatan untuk membalikkan keadaan,” ujar Dan Fei perlahan. “Jika kami menang, taruhan apotek itu tak perlu disebut lagi.”
“Kalau kalian kalah?” Xiahou Heng menyindir, “Masih ada apa yang bisa kalian pertaruhkan?”
Dan Fei menatap dingin ke arah Xiahou Heng, lalu berkata perlahan, “Kalau kami kalah, kami akan membayar dua ratus emas padamu!”
Semua orang langsung heboh. Cao Fu nyaris pingsan, bahkan Cao Pi pun tampak tak percaya.
Perlu diketahui, meski keluarga Cao kini sangat berkuasa di utara, Cao Cao sendiri terkenal sangat hemat. Tercatat dalam sejarah, bahkan istri utamanya, Nyonya Ding, menenun dan menjahit sendiri, pakaian penuh tambalan pun tak jarang terlihat di rumahnya, kemewahan baru datang belakangan. Karena itulah, dari atas hingga ke bawah, warga Kota Xu pun, mau tak mau, mencontoh hidup hemat.
Bagaimanapun, itu kehendak penguasa. Yang cerdas, lebih baik menahan diri minum air putih di rumah, daripada mencari cara minum arak mahal di luar.
Di masa Han, emas dihitung per kati—satu kati sama dengan sepuluh ribu koin. Di masa kacau, harga emas lebih mahal lagi. Dua ratus emas sudah tergolong harta besar di Kota Xu. Bahkan Cao Pi sebagai putra mahkota, juga tak mudah mengeluarkan uang sebesar itu, apalagi Cao Fu.
Tak ada yang menyangka Dan Fei langsung menyebut taruhan sebesar itu, wajar semua terkejut.
Xiahou Heng awalnya terkejut, lalu tertawa geli, “Kau tak takut lidahmu tertelan sendiri kena angin kencang…” Ucapannya belum selesai, lidahnya hampir tergigit sendiri.
Ternyata Dan Fei mengeluarkan sebatang emas besar dari balik bajunya dan meletakkannya di atas meja, “Ini uang jaminannya.”
Semua memandang batang emas itu, lalu menatap Dan Fei, wajah mereka dipenuhi keheranan. Di antara mereka, hampir tak ada yang bisa langsung mengeluarkan emas sebanyak itu dari kantong sendiri. Bagaimana mungkin seorang pelayan bisa begitu kaya?
Cao Fu bahkan nyaris menelan lidahnya sendiri. Tadi ia memberikan sepotong kecil emas pada Dan Fei saja sudah terasa sakit hati, tapi karena terdesak, ia tak punya pilihan lain. Siapa sangka pelayan ini justru lebih kaya darinya.
Dan Fei menatap dingin Xiahou Heng, “Tuan Xiahou, menurutmu emas ini masih kurang?”
“Jelas kurang, sebatang emas ini saja tak cukup untuk membeli apotek,” Xiahou Heng melihat Dan Fei lebih kaya darinya, apalagi di hadapan wanita cantik, mana mau ia kalah pamor, “Siapa tahu kalian benar-benar bisa mengumpulkan dua ratus emas? Kalau tidak…”
“Maka kau boleh penggal kepalaku!” tegas Dan Fei tanpa ragu.
Ruangan pun seketika sunyi.
Semua menatap Dan Fei dengan tak percaya, tak menyangka pelayan ini begitu yakin dan berani. Mata Ruxian pun menampakkan secercah keheranan, lalu mendengar suara Dan Fei yang kembali bergema, “Bukankah Tuan Xiahou sangat menginginkan kepalaku?”
Melihat tatapan Dan Fei yang dingin dan tajam, entah kenapa, Xiahou Heng merasa bulu kuduknya meremang, hingga ia tak mampu berkata-kata.