Bab 102: Aku Ingin Bernyanyi
"Haruskah sampai seperti ini? Apa menjadi artis di Korea memang sehebat itu?" Tang Menglong menghela napas. Mungkin ia bisa memahami impian menjadi bintang, tapi untuk impian menjadi bintang di Korea, ia tetap saja tak bisa mengerti. Namun, begitulah dunia hiburan dan masyarakat Korea, tak ada yang bisa dilakukan.
Tentang Kim Hyun-a, Tang Menglong sudah beberapa kali berinteraksi dengannya. Selain pertemuan aneh mereka yang pertama, ia juga pernah bertemu beberapa kali di toko. Biasanya Tang Menglong akan bercanda sedikit dan mereka pun cukup akrab. Alasan memilih Kim Hyun-a kali ini, pertama karena ia sudah cukup terkenal, kedua untuk menambah anggota, dan ketiga karena sifat baik hati Tang Menglong yang kadang membuatnya sulit menolak permintaan orang.
Kemarin, Tang Menglong mendengarkan Kim Hyun-a melampiaskan perasaannya cukup lama dan akhirnya mengetahui banyak tentang hidup gadis itu. Hubungan mereka pun jadi lebih dekat, meski belum sampai pada tahap kabur dari rumah bersama.
Barulah saat ini Tang Menglong menyadari, gadis satu ini memang berjiwa liar, sama sekali bukan tipe anak manis. Ia pun membayangkan jika benar-benar kabur malam-malam begini, bagaimana jika bertemu orang aneh seperti dirinya... eh, maksudnya orang asing yang mencurigakan? Apa yang akan terjadi?
"Yah, memang nasibku sial," ia mengeluh.
Tang Menglong pun berjalan cepat keluar dari kawasan pertokoan, lalu menyetop sebuah taksi di mulut jalan dan meluncur menuju Distrik Seocho.
Di sebuah gang kecil di Distrik Seocho, kebanyakan di sekitarnya adalah bangunan empat atau lima lantai, juga beberapa rumah satu-dua lantai. Di salah satu bangunan lima lantai, tepatnya di lantai dua, itulah tempat Kim Hyun-a berada.
Saat ini Kim Hyun-a mengenakan celana pendek hitam dan kaos tanpa lengan hitam, duduk di atas ranjang sambil membuat alat pelarian dari sprei. Walaupun hanya lantai dua, naluri waspadanya cukup tinggi.
Beberapa waktu terakhir, ia hanya berdiam di rumah, memakan berbagai suplemen dan minum sup ayam hambar. Meski orang tuanya tidak benar-benar mengurungnya, kenyataannya ia pun tak tahu harus ke mana. Kontraknya memang masih di JYP, tapi kini ia merasa tak perlu kembali ke sana, dan perusahaan pun sudah bicara jelas, kontrak bisa diselesaikan sesuai keinginannya.
Namun, kemarin Park Jin-young menelepon dan membuatnya terkejut, menawarinya merilis album baru. Untuk detailnya, ia diminta menghubungi Tang Menglong, lalu diberikan nomor Tang Menglong.
Semua ini terasa seperti mimpi baginya. Akhirnya ia memang menghubungi Tang Menglong, tetapi karena masih ada rasa kesal, ia memilih menghubungi di waktu yang sangat larut.
Semua hal yang dikatakan Tang Menglong begitu menggembirakan, namun pada akhirnya Tang Menglong membuat satu syarat: setelah kali ini, ia harus istirahat setidaknya enam bulan untuk memulihkan kondisi tubuh.
Itu bukan demi siapa-siapa, melainkan demi dirinya sendiri. Jika tidak, walaupun bisa debut lagi, hasil akhirnya pun takkan lebih baik dari sebelumnya.
Akhirnya Kim Hyun-a menyetujui, tapi saat ia mengabarkan dengan penuh semangat kepada orang tuanya, ayahnya malah sangat menentang hingga mengunci pintu kamar, membuatnya hampir gila.
Jadi setelah "pertimbangan matang" selama lima menit, ia memutuskan untuk "kabur dari penjara".
Kim Hyun-a yang baru berusia enam belas tahun, sejatinya hanyalah seorang gadis remaja yang sedang memberontak.
Kabur dari rumah... sungguh menegangkan.
Pukul 22.20, Distrik Seocho, Jalan Ketiga, di gang bawah bangunan berwarna biru.
Peristiwa: Kim Hyun-a kabur dari rumah
Alat yang digunakan: tiga helai sprei.
Pelaku: Kim Hyun-a, Tang Menglong (tanpa sengaja terlibat)
Dampak peristiwa: sangat buruk (para pelajar jangan meniru perbuatan ini).
Sesuai SMS yang dikirim Kim Hyun-a, Tang Menglong tak kesulitan menemukan lokasi "penjemputan".
Namun yang membuat Tang Menglong terkejut adalah tekad Kim Hyun-a. Bahkan, ia cukup kagum. Baru saja ia melangkah ke gang, sudah nampak sehelai sprei kuning menjuntai dari atas.
Dilirik jam di ponsel, tepat setengah jam berlalu sejak perjanjian. Disiplin sekali, benar-benar profesional.
Tang Menglong mendongak, melihat bayangan hitam muncul di jendela lantai dua, lalu seperti pencuri amatir, Kim Hyun-a merayap menuruni sprei dengan gerakan kaku.
Lantai dua ke bawah hanya sekitar lima atau enam meter, bagi lelaki seperti Tang Menglong, melompat pun bisa. Tapi bagi gadis seperti Kim Hyun-a tentu berbeda.
Baru beberapa detik menuruni sprei, Kim Hyun-a mulai merasa kelelahan. Dalam bayangannya, semua akan berjalan mulus, cukup sekali "swish", lalu "plak", dan sampai di bawah.
Tapi baru saja bergerak sedikit, tiba-tiba terdengar suara dari bawah.
"Cukup, ini berbahaya, cepat naik lagi!"
Suara mendadak itu membuat Kim Hyun-a kaget, genggamannya melemah, tubuhnya langsung meluncur ke bawah.
Melihat Kim Hyun-a jatuh, Tang Menglong segera melangkah besar dan menangkap gadis yang gagal kabur itu.
Di pelukan Tang Menglong, Kim Hyun-a masih bersiap untuk menjerit. Melihat gelagat itu, Tang Menglong langsung bereaksi. Menutup mulutnya? Tentu saja tidak...
"Duak!"
Tang Menglong menunduk dan memberikan hantaman kepala ke dahi Kim Hyun-a.
"Aduh!" Teriakan Kim Hyun-a berubah menjadi rintihan kesakitan, namun tidak cukup keras untuk membangunkan "sipir penjara".
Kini dengan celana pendek dan kaos hitam, Kim Hyun-a digendong gaya putri di pelukan Tang Menglong. Tangan kanan Tang Menglong secara kebetulan menyentuh bagian belakang tubuhnya. Sentuhan itu membuat Tang Menglong terkesima; gadis ini benar-benar "berisi". Tapi... benarkah hanya kebetulan?
Pandangan Tang Menglong cepat memindai, tangan kanannya pun sempat "mengevaluasi". Dalam hati ia memuji, "Gadis ini benar-benar menarik!"
Tiba-tiba terdengar suara dari jendela lantai satu. Tang Menglong buru-buru menggendong Kim Hyun-a keluar dari gang, baru setelah sampai di jalan utama ia menurunkan gadis itu.
Kim Hyun-a mengusap dahinya yang memerah, lalu menatap pria di sampingnya dan tiba-tiba tersenyum ceria. "Menglong Oppa, aku tahu kau pasti datang! Kau memang orang baik!"
"Mau coba lagi kena hantaman kepala?" tanya Tang Menglong, menatap Kim Hyun-a dari atas ke bawah dengan sorot mata tajam, terutama di bawah lampu jalan, dua kakinya yang putih begitu mencolok.
Kim Hyun-a mengusap kepalanya tanpa peduli, malah tersenyum manja. "Aku tahu Oppa orang baik, ayo kita pergi sekarang!"
"Ke mana?" tanya Tang Menglong, terkejut.
"Ke rumah Oppa, tentu saja!" sahut Kim Hyun-a seolah itu hal biasa.
Tang Menglong melangkah maju dan sekali lagi mengetuk dahi Kim Hyun-a, meski kali ini ia tidak menggunakan banyak tenaga.
Satu bunyi pelan, Kim Hyun-a kembali memegang dahinya.
"Jangan bercanda! Sudah kubilang kau masih di bawah umur. Kalau orang tuamu lapor polisi, aku bisa celaka!" ujar Tang Menglong tegas, jelas ia tidak main-main.
Kim Hyun-a manyun dan berseru kesal, "Yah, kau kuat tapi kenapa penakut sekali? Kalau tak mau, biar aku ke rumah So-hee saja!"
Melihat Kim Hyun-a berbalik hendak pergi, Tang Menglong langsung meraih tangan kanannya dan menyeretnya ke arah bangunan biru di samping.
"Aku tak mau pulang! Lepaskan aku!"
"Dasar brengsek, lepaskan! Kalau tidak aku akan teriak!"
"Menglong Oppa, kumohon lepaskan aku!"
"Kumohon, aku benar-benar tak bisa pulang... Aku ingin bernyanyi!!!"
"Aku ingin bernyanyi!!!"
"Aku ingin bernyanyi!!!!!"
"Aku ingin bernyanyi!!!!!!!"