Bab Dua Puluh Delapan: Kuil Dao Tongtian
Untuk benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh iblis di dalam hatinya, seseorang harus membayangkan dirinya sebagai iblis, lalu dengan cara-cara iblis kembali memerankan adegan mengerikan saat iblis itu membantai korbannya. Setelah semalam penuh menganalisis dan memikirkan petunjuk kasus, Ziwu mulai memerankan ulang beberapa adegan di tempat kejadian berdasarkan petunjuk yang telah didapatnya.
Setiap kali selesai melakukan rekonstruksi, kening Ziwu selalu dipenuhi butir-butir keringat tanpa terkecuali.
Petunjuk yang saat ini berhasil dikumpulkan Ziwu antara lain: setiap kali pelaku membunuh korban, ia selalu dengan sangat hati-hati menguliti jaringan kulit korban. Selain itu, pelaku juga selalu mengambil satu organ dalam dari tubuh setiap korban, dan pada tiga kasus ini, organ yang diambil berbeda-beda, namun semuanya mengandung keanehan yang sama.
Ketiga korban dalam kasus ini semuanya perempuan, berusia dua puluh lima tahun, dan diketahui dua korban pertama adalah teman sekolah semasa SMA. Adapun apakah korban ketiga memiliki hubungan dengan dua korban sebelumnya, masih perlu menunggu penyelidikan lebih lanjut dari tim kasus kriminal.
"Aku rasa sekarang kita sebaiknya berbicara dulu dengan keluarga korban ketiga, siapa tahu kita bisa mendapatkan beberapa petunjuk dari mereka," bisik Ziwu pelan.
Mereka kemudian berkendara menuju rumah korban, Ivana. Di rumah, hanya ada ibu Ivana yang tampak menatap kosong pada foto di tangannya. Kepergian orang terkasih secara tiba-tiba memang selalu sulit diterima oleh keluarga yang ditinggalkan. Sang ibu kini sedang meluapkan rasa pilu dan rindu di dalam hatinya di depan foto putrinya.
Begitu Ziwu dan Lin Rou memasuki ruangan, barulah sang ibu diam-diam menghapus air matanya dengan tisu, lalu dengan mata yang bengkak menatap keduanya.
"Anak perempuanku sudah bertunangan, dan sebulan lagi akan menikah dengan tunangannya. Tak kusangka, cincin pertunangan itu justru menjadi pertanda kepergiannya dari dunia ini."
Kalimat sederhana itu penuh dengan kerinduan seorang ibu yang sangat mendalam pada putrinya. Terasa jelas betapa sang ibu yang putus asa itu bahkan ingin sekali menggantikan putrinya menghadapi maut.
Namun, semua sudah terjadi. Air mata penyesalan tak akan mengubah apa pun. Yang bisa dilakukan sang ibu sekarang hanyalah memberitahukan semua yang ia tahu kepada tim penyidik. Hanya dengan tertangkapnya pelaku keji ini, kepanikan yang melanda Kota Bunga bisa segera berakhir, dan mimpi buruk yang tampaknya tak berujung ini bisa segera usai.
Setelah melakukan penelusuran, tim kasus kriminal menemukan bahwa kehidupan korban sehari-hari sangat sederhana. Selain bekerja di kantor, ia selalu menghabiskan sisa waktunya di rumah. Saat tim menunjukkan foto-foto dua korban kasus sebelumnya kepada ibu Ivana untuk dikenali, ekspresi sang ibu langsung berubah aneh.
"Yang di foto kedua aku kurang begitu ingat, tapi yang difoto pertama itu aku pernah lihat. Aku pernah melihatnya di salah satu foto di ponsel ayah Ivana, sepertinya dia pramugari."
"Aku ingat waktu itu ayah Ivana ikut tur ke luar negeri yang diadakan oleh agen perjalanan, dan di pesawat, Ivana dan ayahnya sempat berfoto bersama."
"Di foto itu, pramugari ini juga ada. Waktu itu aku sempat memuji dia karena cantik. Ada apa? Jangan-jangan gadis itu juga sudah meninggal?" tanya ibu Ivana.
Namun, tim penyidik tidak memberikan penjelasan banyak dan malah mengalihkan perhatian ibu Ivana dengan pertanyaan lain, "Maaf, apakah Anda tahu di mana ayah Ivana sekarang?"
"Ah, dia merasa kematian putrinya sangat tidak adil. Katanya, kalau tidak meminta bantuan orang untuk melakukan upacara, arwah anak kami bisa bergentayangan sebagai hantu penasaran."
"Itulah sebabnya sekarang ayah Ivana pergi ke Vihara Tongtian di Kota Bunga untuk berdoa, dan ingin meminta Guru Lingxu di vihara itu untuk mengadakan upacara pelepasan arwah bagi Ivana."
Mendengar penjelasan itu, Ziwu dan Lin Rou tidak bisa menahan keterkejutan mereka. Meski zaman sekarang sudah memasuki era teknologi, kepercayaan tahayul masih tetap berakar di benak masyarakat. Namun, hal-hal seperti ini menyangkut kepercayaan, dan bahkan polisi seperti mereka pun tak berhak mencampuri.
Karena itu, setelah mengetahui keberadaan ayah Ivana, Ziwu dan Lin Rou langsung menuju Vihara Tongtian. Mereka pun berhasil menemukan ayah Ivana di sana.
Dari penuturan ayah Ivana, Ziwu dan Lin Rou mengetahui bahwa dulu ia mengikuti paket tur keliling tujuh negara selama lima belas hari yang diadakan oleh biro perjalanan Junhua, dan Ivana menjadi pemandu wisata. Itu adalah kali pertama ayah Ivana bepergian ke luar negeri, sehingga Ivana mengabadikan momen itu dengan berfoto bersama ayahnya.
Saat itu, rombongan mereka menaiki penerbangan internasional milik maskapai Biru Langit, dan korban pertama, Lili, adalah pramugari pada penerbangan itu. Sebuah foto yang diambil secara tidak sengaja telah mengaitkan tiga korban dalam kasus ini. Mungkin Ivana sendiri pun tidak pernah menyadari betapa pentingnya foto itu.
Untuk saat ini, itulah informasi yang didapatkan oleh tim penyidik. Selebihnya masih harus menunggu Xiao Li dan Wang Jin kembali dari Rumah Sakit Spesialis Kulit untuk perkembangan lebih lanjut.
Ketika Ziwu dan Lin Rou hendak meninggalkan Vihara Tongtian setelah berpamitan dengan ayah Ivana, mereka tiba-tiba melihat seseorang yang sangat dikenali di aula utama vihara. Setelah didekati, ternyata orang itu adalah anak tunggal pemilik Grup Farmasi Bei, yang sebelumnya pernah menggoda dua korban di klub malam namun akhirnya diusir oleh kedua korban tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lin Rou dengan sedikit menahan emosi, sementara Ziwu sangat memperhatikan gerak-gerik orang itu.
Begitu Lin Rou mengucapkan kata-kata itu, tubuh lelaki itu tampak bergetar tanpa sadar, namun kemudian ia tersenyum lembut seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Setelah ragu sejenak, Bei Zi'an baru menjawab pelan, "Eh, bukankah ini dua polisi ya? Kenapa? Apa aku berdoa di vihara ini melanggar hukum?"
"Tidak, kami hanya penasaran saja," jawab Lin Rou sambil meliriknya dengan kesal, lalu tidak berkata apa-apa lagi.
"Aku memang sering datang ke sini untuk berdoa, memohon kepada dewa-dewa di sini agar keluargaku sehat selalu, usahaku lancar, istriku... ah, pokoknya dewa-dewa di sini sangat manjur. Kenapa? Kalian sudah memecahkan kasusnya? Atau kalian juga mau minta perlindungan dewa di sini?" Ucapan Bei Zi'an saat itu penuh nada olok-olok dan sama sekali tidak mempedulikan status Ziwu dan Lin Rou sebagai polisi.