Bab Lima: Kasus Harus Terpecahkan dalam Tiga Hari
Iblis pembuka tengkorak telah pergi tanpa jejak, dan sifat manusia yang polos pun sudah terdistorsi, kemerosotan moral layaknya palu besar yang berat dan tak berperasaan, terus menerus menghantam masyarakat yang telah penuh noda, juga hati manusia yang kian aneh. Hidup di masa kini, manusia yang lelah dan putus asa, langkah selanjutnya hendak ke mana, sudah bukan lagi kesadaran subjektif yang dapat mengaturnya; yang bisa mereka lakukan selain menebak tanpa arti, hanyalah menunggu tanpa daya.
Di sebuah gang buntu yang agak terpencil, sinar matahari yang menyengat terhalang sempurna oleh bangunan-bangunan tinggi di sekelilingnya. Pada musim panas yang terik, tempat teduh yang sulit ditemukan tentu saja menarik minat orang yang lewat. Diao Gaolang, seorang manusia yang seharusnya tak bersalah, kehilangan nyawanya yang berharga hanya karena satu langkah yang salah. Untungnya, ia hidup sendirian, takkan ada yang menangis pilu di malam hari karena kematiannya.
Di ruang rapat yang sejuk, Lin Rou menatap para polisi di depannya tanpa henti. Setiap hati mereka kini terasa beku, bukan karena pendingin ruangan, tetapi akibat pengaruh iblis pembunuh itu. Satu per satu foto korban pembunuhan tergantung pada papan putih; walau tampak sederhana, kisah yang tersembunyi di baliknya patut direnungkan. Apakah Li Rongjun dan Diao Gaolang benar-benar penjahat yang tak terampuni?
Pertanyaan ini terus menggelayut dalam benak Lin Rou, namun tak kunjung menemukan jawaban yang memadai. Ia mengangkat cangkir, meneguk teh panas di dalamnya, lalu akhirnya berkata dengan suara dalam, "Jelaskan kasusnya."
“Di antara dua kasus ini, tidak ada terlalu banyak kesamaan. Satu-satunya benang merah yang menyatukan keduanya adalah bekas pembelahan tengkorak pada jasad korban,” jelas Wang Jin seraya meletakkan laporan di atas meja.
“Korban pertama meninggal karena asfiksia mekanik, setelah itu pelaku menggunakan alat pemotong untuk membuka tengkorak korban, lalu menggigit otak korban dengan mulutnya sendiri. TKP pertama adalah pondok penjaga hutan di pegunungan.”
“Di dalam pondok itu, tak ditemukan petunjuk atau sidik jari yang berarti. Lokasi tampaknya telah dibersihkan oleh pelaku. Ia punya kemampuan menghindari penyelidikan. Namun motif sebenarnya pelaku menggigit otak korban masih dalam penyelidikan.”
“Korban kedua tewas karena dipukul dengan benda tumpul dari belakang. Setelah korban meninggal, pelaku menggunakan benda tajam seperti pisau untuk menusuk tubuh korban beberapa kali, sehingga tempat kejadian penuh dengan genangan darah.”
“Setelah itu, pelaku menggunakan alat khusus untuk membedah kepala korban, tapi kali ini tampak terburu-buru, tepi potongan pun tak beraturan. Laporan autopsi menyebutkan bahwa bagian otak korban juga hilang.”
“Hanya saja, hilangnya bagian otak kali ini bukan karena gigitan, melainkan seperti dipotong dengan pisau, karena ada bekas potongan yang rata melingkar di bagian otak yang hilang, dan area yang diambil pun lebih luas. Inilah satu-satunya kesamaan kedua kasus: pembelahan tengkorak untuk mengambil otak.”
“Yang patut dicatat, hasil analisis darah Diao Gaolang menunjukkan kadar alkohol yang tinggi, berarti saat menjelang kematian, korban sedang mabuk. Ini membuka peluang bagi pelaku untuk beraksi.”
“TKP berada di gang buntu yang sunyi, diapit bangunan tinggi enam lantai atau lebih, dan di ujungnya ada tembok setinggi satu meter tujuh puluh. Orang dewasa bisa dengan mudah memanjatnya. Tim olah TKP menemukan jejak kaki yang tak utuh di dinding itu.”
“Karena hanya setengah jejak, kami belum bisa mengetahui tinggi dan berat pelaku. Di area itu ada dua tong sampah, biasanya mobil pengangkut sampah mengganti tong tiga hari sekali, kalau musim panas bisa dua hari sekali.”
“Di sekitar TKP ada tiga kamera pengawas, namun gang itu adalah titik buta kamera, sehingga kami tak bisa membandingkan kejadian melalui rekaman. Kami menduga pelaku sangat mengenal lingkungan sekitar, karena ia sengaja menghindari kamera.”
“Namun, dari rekaman CCTV toko kelontong terdekat, kami mendapatkan rekaman yang sangat berharga.”
Setelah berkata demikian, Wang Jin segera menyalakan proyektor dengan remote di tangannya, menampilkan rekaman yang sudah disiapkan sebelumnya. Semua orang di ruang rapat menatap layar, namun dalam rekaman itu, belum tampak seorang pun.
Siang hari musim panas adalah waktu terpanas. Orang-orang biasanya memilih tidur siang di ruangan ber-AC. Jika ada yang keluar rumah pada jam sepanas itu, pasti ada urusan penting yang harus mereka lakukan.
Ketika rekaman sudah diputar setengahnya, Diao Gaolang tiba-tiba muncul, duduk di bangku di depan toko kelontong. Ia berteduh di bawah payung besar, akhirnya menemukan tempat sejuk untuk beristirahat.
Seperti kebiasaannya, ia memesan sebotol arak putih dengan kadar alkohol empat puluh sembilan persen dan sebungkus kacang tanah. Minum alkohol selalu bisa menenangkan hati Diao Gaolang yang gelisah—itulah alasan utama ia minum setiap hari.
Namun hari ini, Diao Gaolang tampak berbeda. Di wajah yang biasanya muram, justru terselip senyuman lembut. Dalam rekaman, terlihat ia sempat berbincang dengan pemilik toko, meski hanya sebentar.
Setelah menghabiskan sebotol arak putih, ia membayar kemudian beranjak pergi. Tak lama kemudian, dalam rekaman muncul sepasang kaki yang berlari cepat. Arah gerakan kaki itu seperti menuju ke lokasi Diao Gaolang, membuat polisi sangat memperhatikan detail ini.
Barangkali ini satu-satunya gambaran yang mempertemukan polisi dengan iblis pembuka tengkorak, namun hanya sepasang kaki saja, terlalu sedikit untuk menemukan petunjuk. Terlebih, sinar matahari sangat menyilaukan hingga bayangan kaki itu pun tampak samar.
“Apa-apaan ini? Susah payah dapat petunjuk, malah cuma sepasang kaki, kita harus mulai dari mana?” Keluhan Wang Jin seolah mewakili kegundahan semua anggota di ruang rapat. Wajah mereka jadi semakin suram, seakan harapan untuk memecahkan kasus ini kian menipis.
“Barusan kepala polisi sudah bicara dengan saya. Kasus iblis pembuka tengkorak ini sudah jadi perhatian pejabat kota. Kalau dalam tiga hari kita tak berhasil mengungkapnya, pasti akan ada kepanikan di masyarakat. Saat itu, tim kriminal kita bisa saja dipecat semua.” Wajah Lin Rou tetap dingin dan tegas, membuat semua orang merasa gentar.
“Lalu, kita harus bagaimana? Petunjuk cuma segini, masa kita harus tangkap orang sembarangan untuk melapor ke kepala polisi?” Ucapan Wang Jin kembali memancing kegelisahan para polisi.
“Tampaknya, aku hanya bisa mencarinya. Untuk mengungkap kasus ini, mungkin hanya dia yang punya kemampuan itu.” Setelah berkata demikian, Lin Rou langsung berdiri dan melangkah menuju pintu ruang rapat.
Tepat ketika ia hendak pergi, Wang Jin bertanya dengan heran, “Kepala, siapa yang akan kau cari? Kok terdengar begitu misterius?”
“Ziwu.” Saat Lin Rou menyebut nama itu, wajahnya untuk pertama kalinya menampakkan senyum tipis. Hal itu membuat para polisi di ruang rapat semakin penasaran, siapa sebenarnya Ziwu yang misterius ini.