Bab 75 Kemenangan Besar
Setelah kekuatan Gu Feicang mencapai tingkat penyihir menengah, perubahan yang terjadi bisa dibilang sangat luar biasa. Lingkaran Es Beku awalnya adalah sihir es tingkat empat, merupakan sihir serangan area yang sangat kuat, tak perlu diragukan lagi daya rusaknya. Sebenarnya, kekuatan Gu Feicang belum cukup untuk melepaskan sihir setingkat itu, namun karena kekuatan Lingkaran Es Beku lebih banyak bersumber dari bakat alami Aideli, Gu Feicang sudah bisa menggunakannya sejak masih menjadi magang sihir.
Hanya saja, karena tingkat sihirnya masih rendah, Lingkaran Es Beku yang ia ciptakan hanyalah versi sederhana dan tidak sempurna, sehingga daya rusaknya terbatas dan hanya bisa digunakan untuk bantuan. Namun, setelah kekuatannya meningkat ke tingkat penyihir menengah dan hampir menyamai penyihir tingkat tinggi, ditambah bakat Aideli yang bukan sekadar menguasai Lingkaran Es Beku, tetapi juga memperkuat daya rusaknya, maka Lingkaran Es Beku yang kini ia lontarkan meski hanya sihir tingkat tiga, tetap menjadi salah satu sihir tingkat tiga dengan kekuatan serangan paling tinggi.
Bayangkan saja, sihir serangan tingkat tiga bernama Gelombang Arcanum yang baru saja digunakan oleh Imam Agung Bogu, bahkan seorang pendekar tingkat empat saja hanya bisa menahan dengan susah payah. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya Lingkaran Es Beku yang dilontarkan Gu Feicang saat ini. Para murid pendekar tingkat satu dan dua, bahkan pendekar pemula dari bangsa manusia serigala dan centaurus, mana mungkin bisa bertahan? Satu demi satu orc membeku dan tewas seketika, sementara sebagian besar lainnya melambat karena efek salju dan es.
Pada saat itu, seorang pendekar yang tiba-tiba menyerang juga menerjang ke depan. Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang petarung tingkat tinggi. Dalam keadaan yang benar-benar tak siap, serangan mendadak seorang pendekar tingkat tinggi tidak kalah mematikan dari sihir Lingkaran Es Beku. Begitulah, formasi yang semula mengepung tiga pendekar, karena kemunculan mendadak Gu Feicang dan seorang pendekar lain, langsung terbuka celah.
"Sial, ternyata benar kau!" Melihat Gu Feicang yang tiba-tiba muncul, Imam Agung Bogu langsung menyadari bahwa semua ini adalah penyergapan yang telah direncanakan. Kebencian pun membara di hatinya. Namun saat ini Gu Feicang tidak punya waktu untuk berdebat, karena semakin banyak bala tentara orc berdatangan. Jika begini terus, tak seorang pun dari mereka bisa lolos.
"Wahai elemen air yang meresap di mana-mana, bawalah kekuatan pemurnian dunia ini, dengarkan doaku, dengan kekuatan suci, bersihkan segala kotoran di hadapanku, Pengusiran Suci!"
Gu Feicang mengangkat tongkat sihirnya, melafalkan satu mantra lagi yang langsung mengenai tiga pendekar. Seketika, berbagai sihir negatif pun lenyap, kecuali beberapa yang dilemparkan Imam Agung Bogu. Sebagai sesama penyihir menengah tingkat tiga, Imam Agung Bogu tetap sedikit lebih unggul dari Gu Feicang, sehingga sihir negatifnya belum mampu dihilangkan Gu Feicang.
Meski begitu, tiga pendekar itu langsung merasa tubuh mereka jadi ringan dan bertarung dengan jauh lebih tangguh. Mereka dengan cepat menebas para orc yang mengepung, lalu segera bergabung dengan Gu Feicang dan seorang pendekar lainnya. Berempat, mereka melindungi Gu Feicang dan melarikan diri ke arah hutan lebat.
"Mereka mau kabur! Kejar! Centaurus, panah! Lemparkan tombak! Jangan biarkan mereka lolos!" Melihat kelima orang itu berhasil menerobos keluar dari Kota Klis dan berlari menuju hutan, Imam Agung Bogu berteriak keras. Membawa seorang penyihir seperti Gu Feicang, bahkan beberapa pendekar sekalipun tak bisa berlari terlalu cepat.
"Wahai desahan Ibu Pertiwi, dengarkanlah doaku, dengan kekuatan tanah, tenangkanlah kegundahanku, hadanglah luka dari kehampaan tak bertepi, bersinarlah, Perisai Suci Bumi!"
Saat centaurus mulai menyerang dari kejauhan, Gu Feicang pun tidak tinggal diam. Ia mengayunkan tongkat sihir, dan elemen tanah yang pekat segera berkumpul membentuk perisai besar yang melindunginya di tengah. Inilah salah satu keuntungan menjadi penyihir menengah; ia kini menguasai banyak sihir peningkatan tingkat tiga, sehingga punya pertahanan yang cukup. Bukankah sebelumnya perisai Imam Agung Bogu bahkan tak tertembus panah dari ketapel besar?
Perisai magis yang mampu menahan serangan ketapel tentu tidak mudah dipecahkan oleh serangan centaurus. Sedangkan keempat pendekar tanpa perisai magis, sebagai petarung tingkat tinggi, mereka memiliki daya tahan dan kecepatan menghindar yang jauh di atas Gu Feicang, sang penyihir rapuh. Dengan demikian, lima orang itu bertarung sambil mundur dan akhirnya berhasil masuk ke dalam hutan lebat.
"Kejar! Habisi mereka!" Imam Agung Bogu terus meraung-raung, mantranya pun dilontarkan tanpa henti. Ledakan demi ledakan mengguncang hutan dan debu tebal membubung tinggi.
Tiba-tiba, terdengar suara rajawali dari langit. Imam Agung Bogu langsung terlonjak, menengadah, dan melihat bayangan besar meluncur tajam ke arahnya.
"Celaka! Griffin! Bertahan, cepat bertahan!" Melihat tubuh besar itu, Imam Agung Bogu pucat pasi, suaranya berubah tajam seperti orang yang kehilanggan kendali. Bukan hanya dirinya, semua orc di situ juga berubah wajah ketakutan. Griffin, monster tingkat tiga, mengorbankan kekuatan sihir demi tubuh yang sangat kuat, sehingga fisiknya setara dengan monster tingkat empat. Kalau sebelumnya, centaurus masih bisa menahan serangan griffin dengan tombak panjang mereka.
Namun kini, karena perintah Imam Agung Bogu barusan, semua tombak sudah dilemparkan. Mereka benar-benar tak berdaya menghadapi sergapan griffin. Apalagi, kemunculan griffin terlalu tiba-tiba, tidak memberi waktu untuk bereaksi. Dengan suara keras bak bom jatuh, griffin mendarat dengan kuat, kedua cakar besarnya yang tajam menancap di bahu Imam Agung Bogu, lalu mengangkatnya dan terbang ke hutan lebat.
"Celaka! Griffin membawa lari Imam Agung Bogu! Kejar, cepat kejar!"
Melihat kejadian itu, semua orc tertegun, lalu buru-buru mengejar. Namun saat itu, beberapa griffin lagi menerjang mereka. Untungnya, kali ini para penyihir rusa sudah bersiap dan segera melafalkan mantra. Di bawah ancaman peluru sihir, bahkan griffin pun tak berani sembarangan menyerang. Akan tetapi, karena terhalang beberapa griffin itu, griffin yang membawa Imam Agung Bogu sudah lenyap di cakrawala.
Tak lama kemudian, beberapa griffin masuk ke hutan lebat. Salah satu griffin membawa Gu Feicang terbang menuju Kota Suci York. Saat para orc masuk ke hutan, mereka hanya menemukan kehampaan. Para griffin dan pendekar itu seolah lenyap begitu saja, tak meninggalkan jejak.