Bangkit dari kematian, seberkas api merah menggantikan jantung yang berdetak... Cermin penyingkap iblis mengubah wajahnya menjadi sesuatu yang terasa akrab sekaligus asing... Siapakah aku sebenarnya? Apakah aku manusia ataukah arwah gentayangan? Siapakah anak takdir sebenarnya, dan siapakah yang mengucapkan dusta besar itu? Untuk tujuan apa semua ini terjadi? Di masa tergelap umat manusia, seorang manusia biasa yang sama sekali tak memiliki kekuatan, tiba-tiba memperoleh Warisan Sembilan Dewa Abadi yang terkuat sejak zaman purba. Apakah ini kehendak langit? Ataukah semua hanyalah buah rekayasa manusia?
Di lapisan paling bawah tambang gelap itu, udara dipenuhi bau menusuk yang khas, tercipta dari kelembapan yang tak pernah tersentuh matahari sepanjang tahun, bercampur dengan kotoran manusia, bau keringat, dan aroma busuk lainnya. Sulit membayangkan ada manusia yang sanggup bertahan di tempat seperti ini bahkan hanya semenit saja.
Namun, di tengah lingkungan seperti itu, di tanah luas yang sengaja dipisahkan untuk tempat istirahat para budak, lebih dari lima ratus budak berbaring terlelap. Masih tersisa setengah jam sebelum waktu kerja pagi dimulai. Semuanya tidur nyenyak di atas "wilayah" masing-masing, suara dengkuran bergema tanpa henti. Sulit dipercaya bagaimana mereka bisa bertahan hidup di tengah kondisi yang sedemikian buruk.
Di antara mereka, seorang pemuda dengan wajah cukup tampan tampak sedang dihantui mimpi buruk. Keringat membasahi seluruh kepalanya, tubuhnya gemetar hebat, seolah-olah dilanda emosi yang sangat kuat.
Beberapa saat kemudian, ia terbangun dari mimpi buruknya. Sepasang matanya yang kosong menatap langit-langit gua tanpa ekspresi, hingga setetes air terbentuk di ujung batu yang runcing akibat kelembapan, lalu jatuh tepat di dahinya. Barulah ia benar-benar sadar.
“Siapa sebenarnya aku…” Tatapan pemuda itu penuh kebingungan...
Selama sebulan terakhir, mimpi itu selalu datang setiap malam. Begitu nyata, seolah-olah bukan mimpi melainkan kenangan yang memang miliknya. Yang membuatnya heran, mimpi itu perlahan-lahan menghilang dari ingatan setiap kali ia terjaga, tak peduli sekeras apa ia berusaha, ia tetap tak