Bab 40: Sosok Berpakaian Hitam
"Ning Xi, ternyata benar kau."
Xiang Qiao tanpa basa-basi merenggut tudung kepala Ning Xi, lalu berseru dengan nada yang dibuat-buat, "Nona Kedua, bukankah ini pelayan kasar kita yang dulu dijual ke rumah bordil? Entah guna ilmu hitam apa yang ia pakai, sampai-sampai bisa menjadi orang kepercayaan Pangeran Li."
Pangeran Li adalah tunangan Nona Kedua.
"Gadis ini tidak hanya berkhianat, tapi juga tidak tahu malu karena merebut pria milik tuannya. Benar-benar zaman sudah edan, moral manusia sudah merosot."
Semua orang teralihkan perhatiannya oleh keributan itu. Wei Yan memberikan kode kepada Xiang Qiao.
Xiang Qiao bersedekap, menatap Ning Xi dengan pandangan merendahkan: "Nona Kedua bukanlah orang yang picik. Jika kau bersujud tiga kali di hadapan Nona, maka masalah ini akan dianggap selesai."
Hari ini, ia bertekad menginjak-injak harga diri Ning Xi di depan semua orang agar gadis itu tidak lagi berani memamerkan diri.
"Aku tidak mau."
Jika dulu, ia pasti akan langsung bersujud tidak peduli apakah ia bersalah atau tidak. Namun, setelah mengalami fitnah, perdagangan manusia, dan siksaan kejam, bahkan sosok yang lemah pun akan memiliki sisa keberanian.
Ning Xi menolak bersujud pada Wei Yan, namun dua pelayan lainnya segera mencengkeramnya, menyeretnya ke hadapan Wei Yan, dan menendang lipatan lututnya dengan keras.
Lutut Ning Xi menekuk, menghantam tanah dengan bunyi yang menyakitkan.
Gadis muda yang tadi duduk bersama Ning Xi merasa tidak tega, lalu bangkit berdiri dan berkata, "Nona Wei Kedua, dia sudah bukan pelayanmu lagi, mengapa kau begitu agresif?"
Wei Yan meliriknya sekilas, lalu mencibir, "Hanya putri seorang menteri, beraninya kau mengaturku? Cermin dirimu dulu sebelum bicara."
"Kau—"
Gadis itu hendak membalas, namun Wei Yan langsung mengangkat tangan dan memerintahkan pengawal yang dibawanya, "Buang gadis cerewet ini keluar."
"Baik."
Saat pengawal hendak mendekat, Ning Xi berseru keras: "Nona Kedua, mengapa harus melampiaskan amarah pada orang lain? Bukankah pada akhirnya kau hanya ingin aku bersujud dan meminta maaf? Aku akan melakukannya, cukup?"
Melihat Ning Xi akhirnya menyerah, suasana hati Wei Yan membaik. Ia mengibaskan tangan, menyuruh pengawal mundur.
Ia menatap Ning Xi lagi dan berkata, "Bukan sekadar bersujud, setiap kali kau bersujud, kau harus berteriak 'Hamba tahu salah'."
Ning Xi mengepalkan tangannya perlahan. Di dalam hatinya bercampur aduk antara amarah, rasa tidak terima, dan yang paling dominan adalah ketidakberdayaan.
Sejak dijual ke kediaman Adipati, ia terus-menerus bersujud di sana-sini. Pelayan dengan pangkat lebih tinggi merundungnya, bahkan pelayan pria rendahan pun ingin memanfaatkannya.
Setelah bersusah payah berada di sisi majikan, ia tetap saja menjadi mangsa yang siap disembelih. Meski menanggung kepedihan yang luar biasa, ia hanya bisa menelan ludah dan menahan tangis.
Siapalah dia? Hanya seorang pelayan rendahan.
Ning Xi menahan napas, memejamkan mata, dan bersiap untuk bersujud.
"Ning Xi, kemari!"
Sebuah suara angkuh terdengar.
Ning Xi tersentak membuka mata. Ia melihat Xiao Qi datang bersama Putri Ping Le. Sang pria tampak tinggi dan gagah, sementara sang wanita tampil mempesona dan anggun; sungguh pasangan yang serasi.
Hanya saja, wajah tampan Xiao Qi tampak gelap, diselimuti aura pembunuh yang membuat orang gemetar ketakutan.
Kegembiraan di mata Ning Xi sirna seketika saat melihat ekspresi pria itu. Ia teringat peringatan Xiao Qi saat mereka datang agar tidak memancing masalah.
Apakah kini ia telah membawa masalah bagi pria itu?
"Jangan biarkan aku mengatakannya untuk kedua kali."
Di tengah kepanikan, Xiao Qi sudah berdiri di depannya. Tatapannya semakin dingin. Ning Xi melepaskan tangan yang mencengkeram bahunya dan berusaha bangkit dengan tertatih. Namun, karena lututnya terlalu sakit, ia terjatuh kembali setelah melangkah dua kali.
Untungnya, sebuah tangan besar dengan sigap menahan pinggangnya yang ramping, mendekapnya erat ke dalam pelukan.
Mencium aroma gaharu yang familiar, Ning Xi menghela napas lega. Xiao Qi menahan amarah yang meluap, dadanya bergetar saat ia berkata dengan suara sedingin es, "Apa yang kukatakan padamu sebelumnya? Kau adalah perwakilanku. Siapa pun yang berani menyentuhmu, berarti tidak menghormatiku!"
Kalimat itu ditujukan pada Ning Xi, namun matanya tertuju pada Wei Yan.
Meski hawa dingin terpancar dari tubuhnya, wajahnya justru memulas senyum yang mengerikan: "Nona Wei, silakan jelaskan."
Ning Xi terpaku. Ia tidak menyangka Xiao Qi akan berhadapan dengan Wei Yan demi dirinya. Ia tidak ingin merusak rencana pernikahan mereka, namun di lubuk hatinya, ia merasa Wei Yan tidak pantas untuk Xiao Qi.
Ia menggigit bibir, tetap diam.
"Pangeran, mengapa kau begitu agresif?" Wei Yan bertanya dengan mata merah, menunjuk Ning Xi, "Dia hanyalah seorang pelayan. Apakah Pangeran akan menghancurkan pernikahan kita hanya karena dia? Sebenarnya, apa arti diriku di hatimu?"