Bagian 56: Ada Sesuatu atau Tidak
Fajar baru saja menyingsing, suara burung raja udang terdengar riang. Meskipun Cao Ning'er telah mengalihkan pandangannya, dari sudut matanya ia masih bisa melihat Dan Fei melangkah lebar ke arahnya. Entah mengapa, jantungnya berdebar keras bagaikan genderang perang.
Mendengar pertanyaan Dan Fei, wajah Cao Ning'er memerah, lalu seketika bertanya, "Siapa yang mencarimu?"
"Hah?"
Sebenarnya Dan Fei ingin mencari alasan untuk berbincang, sekalian berdiskusi tentang urusan rumah makan, tapi rasanya seperti menabrak tembok. Ia tersenyum kikuk, "Itu Deng Yi, bocah itu bilang semalam kau..."
"Dia pasti melihat hantu," sahut Cao Ning'er datar.
"Aku juga berpikir begitu." Dan Fei hanya bisa mengangguk.
Cao Ning'er memandang ke kejauhan, bertanya pelan, "Ada apa kau mencariku?"
"Benar, aku memang mencarimu." Dan Fei merasa siapa pun yang mencari itu sama saja, ia menyingkirkan masalah kecil yang mengganggu pikirannya, lalu berkata sungguh-sungguh, "Aku ingin bicara soal urusan rumah makan dengan Nona Besar, bolehkah?"
"Hmm?" Cao Ning'er tampak acuh, tanpa sadar kembali menggigit bibir merahnya.
"Ini soal rumah makan..."
"Oh. Kalau begitu kita bicarakan di rumah makan saja," potong Cao Ning'er, lalu menoleh ke arah gerbang kediaman. Tak lama kemudian, sebuah kereta kuda keluar dari dalam. Kusir menghentikan kereta di samping Cao Ning'er, memberi hormat, lalu perlahan kembali ke dalam.
"Ayo." Cao Ning'er naik ke kereta, tapi tidak menurunkan tirai. Melihat Dan Fei masih berdiri termangu, ia mengerutkan kening, "Ada apa?"
Naik kereta tanpa kusir? Dan Fei merasa aneh, lalu bertanya, "Nona Besar mau ke mana?"
"Ke rumah makan."
"Lalu di mana pelayanmu, Cui'er?" tanya Dan Fei lagi.
"Kau mencarinya?" Cao Ning'er bertanya dingin.
"Untuk apa aku mencari dia?" Dan Fei merasa memukuli Deng Yi saja masih terlalu ringan, ia enggan ikut campur urusan mereka, "Aku hanya merasa biasanya Nona Besar selalu pergi bersama pelayan."
"Dia ada urusan." Cao Ning'er menjawab sekenanya, dan mulai tak sabar, "Cepatlah, ikut aku."
"Lalu kusirnya? Tanpa kusir bagaimana jalan?" Dan Fei menggaruk kepala.
"Kusir juga ada urusan."
"Hah?" Dan Fei melongo menatap Cao Ning'er, "Nona Besar, kau baik-baik saja?"
"Aku juga ada urusan." Cao Ning'er berdeham ringan, "Aku harus ke rumah makan, kusir dan Cui'er ada urusan masing-masing, aku juga sedang buru-buru, tak sempat cari kusir lain, jadi kau saja yang mengemudi."
"Hmm?" Dan Fei tercenung beberapa lama.
"Kau juga ada urusan?" Cao Ning'er tak tahan bertanya, lalu segera berkata, "Meski ada urusan, pekerjaan utama harus diutamakan. Apa, kau bahkan tak bisa mengemudi kereta?"
Tak ada pilihan, Dan Fei pun naik ke kereta. Memang ia belum pernah benar-benar mengemudi, tapi bukankah kalau belum pernah makan daging babi, setidaknya pernah lihat babi berlari? Mengemudi, tinggal bilang 'jalan' dan 'berhenti'. Ia mengangkat cambuk, mengayunkan ringan di udara, "Jalan!"
Dua ekor kuda itu penurut, perlahan melaju ke depan.
"Berhenti!" Dan Fei tiba-tiba berseru.
Kereta langsung berhenti, wajah cantik Cao Ning'er pucat, ia meloncat keluar dari kereta dan memeluk pinggang Dan Fei erat-erat, jantungnya berdegup kencang.
Tak tahu berapa lama, terdengar suara Dan Fei, "Nona Besar, kau tak apa-apa?" Cao Ning'er segera melepaskan pelukannya, merasa wajahnya panas membara, ia menahan malu dan marah, "Ada apa denganmu, bisa mengemudi atau tidak?"
"Itu tadi ada yang ingin menabrak... bukan, Tuan Muda menghalangi jalan."
Dan Fei memang belum mahir mengemudi, saat melihat seseorang tiba-tiba menerobos, ia kira ada penipu yang hendak mencari gara-gara, jadi buru-buru menarik tali kekang.
Cao Fu sudah terduduk di tanah sejak tadi. Melihat Cao Ning'er melepaskan Dan Fei, ia baru bangkit, menepuk debu di celana, "Dan Fei, turunlah. Aku ada urusan denganmu," takut Cao Ning'er menghalangi, Cao Fu buru-buru menambahkan, "Sebentar saja!"
Dan Fei turun dari kereta, ditarik Cao Fu ke sudut, tak tahan berkata, "Apa memangnya?"
"Kenapa kau malah jadi kusir?" Cao Fu heran.
Kau tanya aku, aku harus tanya siapa?
Melihat Dan Fei diam saja, Cao Fu tak bertanya lebih lanjut, hanya berkata, "Aku baru teringat satu hal penting." Ia merendahkan suara, berbicara misterius, "Sepertinya Xiahouw Heng tak akan bilang rencana mereka padaku."
Anak ini ternyata cukup cerdas, pikir Dan Fei dalam hati.
"Kalau begitu, lebih baik cari tahu lewat Nona Ruxian. Aku yakin Xiahouw Heng takkan bisa menyembunyikan apa pun dari dia."
Bukankah kau juga begitu? Dan Fei mengernyit, tapi tetap mengangguk, "Ide itu bagus juga."
Cao Fu girang mendapat persetujuan Dan Fei, ia mengulurkan tangan, "Kalau begitu, berikan padaku!"
"Apa?"
"Setengah saputangan itu." Cao Fu berkedip-kedip, "Kau berikan padaku, aku pakai sebagai tanda pengenal, bilang kau yang menyuruhku, dengan begitu aku bisa mendapat kepercayaan Nona Ruxian, bicara dengannya, lalu cari tahu rahasia untuk kita."
Jelas, kecerdikan anak ini dipakai untuk hal beginian. Dan Fei baru sadar niat Cao Fu sebenarnya.
Melihat Dan Fei diam saja, Cao Fu memohon, "Dan Fei, berikan saja saputangan itu. Anggap saja aku memohon. Aku tahu kau pasti tak suka Ruxian, lagipula... adikku dan kau sudah saling bersentuhan, bagaimana kalau aku jadi mak comblang agar adikku menikah denganmu?"
Dan Fei terkejut, buru-buru berkata, "Tuan Muda, jangan asal bicara, siapa yang sudah bersentuhan?"
"Bagaimana tidak? Barusan aku lihat sendiri adikku memelukmu saat tak ada orang," jawab Cao Fu yakin.
Ampun, aku menyerah!
Dan Fei segera membungkam mulut Cao Fu, mengeluarkan setengah saputangan dari saku, Cao Fu girang, langsung hendak mengambil, namun Dan Fei menahan, "Tukar dengan uang."
Tanpa banyak bicara, Cao Fu mengeluarkan dua keping emas kecil, Dan Fei baru menyerahkan saputangan itu. Cao Fu gembira bukan main, tanpa berkata apa-apa lagi, langsung lari.
Dalam hati, Dan Fei berpikir, kelak tetap harus menemui Nona Ruxian. Satu saputangan saja bisa ditukar emas sebanyak ini, tak heran di negeri seberang sana barang-barang perempuan yang katanya 'asli' laris manis, rupanya dari dulu sampai kini memang ada pasar untuk pria-pria aneh. Ya, ini peluang bisnis besar, nanti bisa diwujudkan kalau ada kesempatan.
Sembari berpikir, ia menyimpan emas itu lalu naik ke kereta lagi. Kali ini ia mengemudi dengan mantap.
Kereta melaju ringan, angin sepoi-sepoi menyapa. Sejak Dan Fei naik ke kereta, Cao Ning'er diam saja, berlama-lama sampai akhirnya berkata pelan, "Apa yang Cao Fu katakan padamu?"
"Tak ada apa-apa." Dan Fei tak merasa itu hal besar.
"Soal Ruxian, kan?" Cao Ning'er berkata datar.
Dan Fei merasa firasat wanita ini memang luar biasa, akhirnya mengaku, "Ya, Nona Besar tahu dari mana?"
"Aku lihat kau memberikan saputangan pada Cao Fu," jawab Cao Ning'er lirih. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya lagi, "Kenapa tak kau simpan saja saputangan itu?"
"Untuk apa disimpan?" Dan Fei tertawa kecil, "Bukan barang berharga juga."
Kuda-kuda melaju ringan, suasana di dalam kereta hening.
Setelah lama, Cao Ning'er bertanya pelan, "Kau lelah?"
Dan Fei tertegun, hanya menggeleng, lalu mendengar Cao Ning'er berkata, "Pelan saja mengemudinya, aku tak terburu-buru."
Kereta pun melambat, Dan Fei tak menoleh, tapi dari nada suara Cao Ning'er ia menangkap kelembutan yang jarang terdengar. Mumpung suasana baik, ia pun bicara, "Nona Besar, tentang rumah makan..."
"Nanti saja di rumah makan."
Kereta berjalan santai, angin berhembus lembut, sinar matahari menghangatkan. Cao Ning'er menatap punggung Dan Fei, menggigit pelan bibir merahnya, matanya turut menghangat.
Tadi malam, entah kenapa, ia tiba-tiba ingin bicara dengan Dan Fei, namun bertemu Deng Yi dan karena satu ucapan, ia malah bersembunyi. Setelah dipikir-pikir, ia menyesal.
Hal yang tak sempat ia katakan kemarin, akankah ia utarakan hari ini?
Setelah lama, Cao Ning'er bertanya lirih, "Jika kau tak lagi jadi bagian keluarga Cao, apakah kau pasti akan pergi ke Kota Ye?"
"Apa?" Dan Fei terkejut, dalam hati bertanya-tanya, bagaimana wanita ini bisa tahu, padahal ia belum pernah menceritakan ke siapa pun, tapi akhirnya mengangguk, "Benar, Nona Besar, kau tahu dari mana?"
"Kenapa kau mengemudi pelan sekali?" Suara Cao Ning'er mendadak dingin, "Ayo percepat, jangan malas!"
Ada apa dengan wanita ini?
Barusan kau sendiri yang suruh pelan, bukan?
Dan Fei tertegun, lalu hanya bisa mengeluh dalam hati. Ia punya rencana besar, tapi dari tiga orang yang bisa diandalkan, dua malah suka mengacau. Mana mungkin ia bisa menang taruhan dengan Xiahouw Heng?
---ps: Masih harus minta dukungan suara dan koleksi, haha, rasanya seperti beberapa tahun lalu. Mohon dukungannya! Terima kasih!