Bab 60: Nafsu Berdarah
Kedua lengan Chang Ying tercabik dengan paksa, di bagian yang putus hanya terlihat daging dan darah yang berantakan, sedangkan kedua kakinya terkulai lemas di atas rerumputan dalam posisi yang aneh dan menyedihkan, tampaknya sudah tak berguna lagi. Tak heran jeritan memilukannya tadi terdengar demikian mengerikan; entah apa yang telah dilakukannya hingga membuat orang itu bertindak sekejam itu. Tapi, itu bukan urusannya.
Masih ada napas tersisa; begitu lemah hingga hampir tak terdengar. Dengan satu gerakan, Fu Ba langsung menyeret tubuh Chang Ying beserta lengannya yang terputus, dan di tempat kejadian hanya tersisa genangan darah yang kian menggelap, tanpa jejak lain. Yuan Luo Zhi meredam keganasan dan kelam dalam hatinya, melangkah pelan keluar. Begitu ia melihat sosok yang patuh berdiri menantinya di bawah sinar rembulan, sorot matanya perlahan menjadi lembut.
Setiap kali teringat tangan Chang Ying yang berusaha menyentuh A Li, ia tak bisa menahan dorongan untuk menerkam dan mencabik-cabiknya! A Li adalah miliknya—mana bisa orang lain menginginkannya?
Angin malam berembus perlahan. Sosok itu melangkah dalam cahaya bulan, tiap langkah seolah melintasi lorong waktu. Aura penguasa yang ia miliki kian menonjol, namun matanya lembut, seolah menampung seluruh gemerlap bintang, dan di dalamnya hanya ada satu orang: A Li.
Adegan seperti ini, seolah pernah terjadi sebelumnya.
Yuan Luo Zhi melihat A Li hanya menatapnya dalam diam, membuat sudut bibirnya terangkat tanpa bisa ditahan. “A Li, jangan-jangan kau sampai terpesona melihatku?”
A Li tersadar seketika, wajahnya merona, merasa musim semi ini mendadak terasa panas. Ia mengipas-ngipas dengan tangan, bergumam pelan entah apa kepada dirinya sendiri, tapi Yuan Luo Zhi mendengarnya dengan jelas.
“…Kenapa harus setampan ini…”
Tiba-tiba suara auman harimau memecah lamunan A Li. Ia tertegun, menoleh ke arah gelap di kejauhan, lalu menarik napas panjang.
Biarkan saja.
Ia menarik lengan Yuan Luo Zhi, matanya kembali berbinar penuh tipu daya, “Ayo kita lihat Wang Yan!”
Di ruang interogasi.
Wang Yan merasa baru saja lolos dari maut, namun tubuhnya masih bergetar hebat. Apa yang ia lihat barusan adalah kengerian yang belum pernah ia alami selama hampir tiga puluh tahun hidupnya. Meskipun tangannya berlumuran darah, ia tetap saja takut.
Kegelapan belum sepenuhnya sirna, pikirannya masih terbenam dalam bayangan, tiba-tiba ia mendengar suara tetesan yang samar. Seperti… tetesan air yang jatuh ke lantai, dalam sunyi yang mencekam, suara itu terdengar sangat jelas, setetes demi setetes, seolah jatuh di atas jantungnya sendiri dan menimbulkan sensasi merinding.
Tubuhnya menegang kembali! Ia meringkuk ketakutan di depan meja, menahan napas, tak berani bersuara sedikit pun, seolah dengan begitu ia bisa selamat.
Tiba-tiba setetes cairan hangat mengenai dahinya, membuatnya melompat kaget, “Ah!”
Rasa ini tak akan pernah ia lupakan!
Hari itu, ketika pisaunya menebas, darah yang memercik ke wajahnya terasa persis seperti ini!
Wang Yan seolah jatuh ke dalam jurang es! Ia kira sudah lolos dari maut, tapi ternyata itu hanya ilusi! Dalam ketakutan, ia merasakan sesuatu merayap di lantai, suara gesekan pakaian bagai jarum yang menusuk kepalanya, membuat Wang Yan tak yakin apakah dirinya masih di ruang interogasi ataukah di kamar berlumuran darah itu…
Hari itu, nenek Ping Ping datang dengan membawa surat vonis pengadilan, katanya ingin membereskan barang cucunya. Kalung giok antik di lehernya berkilauan di mata Wang Yan.
Chang Ying bilang, benda itu sangat berharga dan harus didapatkan. Mereka telah merencanakannya sejak lama. Dengan kalung itu, Chang Ying punya modal untuk mencari kekayaan, dan Wang Yan tak perlu lagi jadi ibu tiri.
Maka, ia menipu nenek itu masuk ke neraka yang telah ia siapkan.
Orang tua itu tak punya tenaga untuk melawan, sangat mudah bagi Wang Yan untuk mengatasinya. Namun, nenek itu menatapnya dengan tajam! Tatapan itu membuat Wang Yan gelisah, hingga akhirnya ia tak mampu menahan diri…
Pisau yang baru ia beli itu sangat tajam, bahkan kulit pun terbelah tanpa suara. Tapi tenaganya kurang, tak bisa membunuh dalam sekali tebas.
Dengan dingin, Wang Yan menatap nenek tua yang berlumuran darah itu meraung kesakitan. Tak mengapa, mulutnya sudah disumpal, suara dari tenggorokannya tak akan ada yang mendengar.
Nenek itu masih berusaha merangkak ke arah pintu, menyeret jejak darah panjang di lantai, wajahnya penuh derita, masih ingin melihat cucu tersayangnya. Hubungan nenek-cucu mereka sangat erat, rupanya anak kecil yang ia tipu keluar ternyata kembali!
“Cepat lari… Nak… Cepat lari…” Di detik-detik akhir hidupnya, nenek itu berhasil meludahkan kain penutup mulut dan mengucap kata terakhir dengan sisa tenaga, lalu nyawanya pun melayang, sorot matanya yang keruh benar-benar padam.
Mungkin saat itu mata Wang Yan dipenuhi darah dan ketakutan, atau mungkin memang sejak awal ia sejahat itu?
Anak kecil itu ketakutan sampai beku, membuatnya mudah disingkirkan.
Maka, nenek dan cucu itu akhirnya bersatu dalam kematian.
Dan kini, suara merangkak di lantai itu terdengar lagi! Kali ini ditambah bau amis darah yang kuat! Ia kembali!
Tiba-tiba, tangan basah dan lengket mencengkeram pergelangan kakinya! Rasa dingin menyelimuti, Wang Yan menjerit, tubuhnya gemetar hebat tanpa sanggup bergerak!
Lampu ruang interogasi tiba-tiba menyala lagi, tapi Wang Yan justru berharap lampu itu mati! Karena cahaya itu memperlihatkan jelas bekas seretan panjang dari langit-langit sampai ke kakinya, juga sosok hantu yang mencengkeram pergelangan kakinya!
Wajah keriput penuh noda darah, mata penuh dendam menatapnya tajam! Di sampingnya berdiri sosok kecil, wajah pucat tanpa ekspresi, mata gelap tanpa cahaya, di lehernya luka besar yang masih mengucurkan darah, menetes-netes ke wajah Wang Yan! Anak itu bersuara nyaring, “Bibi, sakit sekali…”
“Tidak… jangan… jangan bunuh aku! Tolong! Ada siapa?! Tolong aku!”
“Aku tidak mau membunuh kalian! Aku tidak mau!”
“Yang membunuh kalian itu Chang Ying! Cari dia! Jangan cari aku!”
“Aaaaah!”
Dengan teriakan kacau balau, ia justru mengungkap sendiri kejahatan yang telah ia lakukan!
A Li dan Yuan Luo Zhi berdiri di luar ruang interogasi. Di samping mereka, Xiao Lu dan beberapa polisi lain menonton Wang Yan yang meraung-raung sendirian, bergerak ketakutan ke sudut ruangan, seolah sedang menghindari sesuatu yang tak kasat mata.
Xiao Lu berdeham pelan, berbisik pada A Li, “Kalau kau tidak bilang malam ini kebenaran bakal terungkap, aku tidak akan percaya dia mau mengaku. Sebenarnya kami berencana memulangkan dia lalu mengawasinya pelan-pelan, tapi kau tiba-tiba bilang malam ini semuanya akan jelas. Setelah berpikir panjang, aku putuskan percaya padamu.”
A Li tersenyum, “Manusia itu, pada dasarnya takut mati.” Setelah berkata demikian, ia melangkah pelan bersama Yuan Luo Zhi meninggalkan kantor polisi. Urusan berikutnya bukan lagi tanggung jawabnya.
Namun, saat tahu alasan sebenarnya Wang Yan membunuh, A Li tetap merasa terkejut.
Awalnya ia mengira Wang Yan membenci nenek Ping Ping karena status ibu tirinya, tapi ternyata mereka hampir tak punya konflik. Musibah ini terjadi hanya karena sebuah kalung antik yang sangat berharga.
Pada akhirnya, semua karena uang. Ia tak percaya Wang Yan membunuh atas suruhan Chang Ying demi cinta sejati seperti yang dikatakan. Wang Yan sendiri hanyalah pisau tumpul yang dipakai Chang Ying.
Entah ketika darah panas itu menyiprat ke tubuhnya, adakah perasaan takut dan menyesal dalam hatinya? Kalung itu berhasil didapat, tapi apakah hati bisa tenang?
Keinginan sebagian orang memang seperti jurang tak berdasar, tak pernah bisa dipenuhi.
Namun… Wang Yan sempat menyebut soal kasino? Tampaknya ini bisa menjadi titik terang.
A Li menguap di punggung Yuan Luo Zhi yang kokoh, dan dalam langkah mantap pria itu, ia perlahan tertidur, masih sempat bergumam soal kasino.
Saat suara di punggung itu lenyap, Yuan Luo Zhi tersenyum, mengeratkan sandaran tubuh yang ia gendong.
Cahaya bulan menyelimuti mereka, bayangan di belakang memanjang, namun suasananya begitu damai dan harmonis.
Sementara di sisi lain.
Fu Bai Man terus berlari tanpa arah, tak tahu berada di mana, ranting-ranting menggores wajahnya hingga terasa perih, namun ia tak peduli. Angin berembus kencang, luka lama di kakinya tergores batu, tapi ia seolah tak merasakannya.
Nu Zhou mengejarnya dari belakang, khawatir terjadi sesuatu pada Fu Bai Man, tapi ia tak bersuara menyuruhnya berhenti. Meski tampak bodoh, ia tidak tolol. Malam ini, saat bertemu Fu Ba dan gagal membunuhnya, ia tahu Fu Bai Man pasti sangat terluka.
Dulu, gadis manja dan polos itu kini tumbuh dewasa setelah mengalami musibah. Setiap hari ia berlatih seperti orang gila hingga kelelahan, dan saat bertemu musuh besarnya pun ia mampu menahan diri.
Mungkin ia harus berterima kasih pada A Li. Tanpa A Li, entah bagaimana nasib mereka kini, mungkin sudah lama mati di tangan licik Fu Ba.
Tempat ini jauh dari kota, entah di bukit mana.
Fu Bai Man akhirnya berhenti, duduk dalam wujud aslinya di bawah sinar bulan, punggungnya tampak begitu kesepian.
“Aku ini sangat lemah, ya?” Tanpa menoleh, ia tahu Nu Zhou pasti ada di belakangnya.
Ia selalu ada di sisinya, kapan pun, di mana pun, tak pernah absen.
Nu Zhou bersandar pada batang pohon, langsung menjawab tanpa berpikir, “Tidak! Man Man, kau hebat.”
Fu Bai Man tersenyum, tapi air mata membasahi matanya, “Hebat apa? Aku hanya bisa melihat musuhku bersenang-senang, membiarkannya lolos di depan mata! Aku selalu tak berguna, bahkan orang terdekat pun tak mampu kulindungi!”
Nu Zhou panik, ia tak pandai berkata-kata, tak tahu cara menahan air matanya. Melihat mata yang seharusnya berseri-seri kini penuh rasa bersalah dan derita, hatinya ikut terasa sangat sakit.
“Man Man pasti akan membalas dendam, Man Man hebat, juga sangat berusaha, kepala suku tidak akan menyalahkanmu…” Ia berdiri kikuk di sampingnya, ingin menepuk punggungnya, tapi ragu.
Seorang pria kekar, kini bagaikan anak kecil yang bingung, ingin memeluk sesuatu yang sangat berharga tapi takut menyakitinya, begitu hati-hati.
Fu Bai Man menghela napas.
Bodoh sekali, menghibur orang pun tak bisa.
Namun ia tetap merasa tenang, lalu perlahan merebahkan diri di pangkuan Nu Zhou, menatap bisu ke arah rembulan di langit.
Nu Zhou sempat tercengang, lalu segera menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
“Nanti setelah kita membunuh Fu Ba, kita cari anggota suku yang masih hidup.” Ucap Fu Bai Man tiba-tiba. Ia punya firasat, kepala suku sudah memprediksi bencana ini, pasti ada persiapan, tak mungkin semua anggota suku…
“Baik.”
Ia akan selalu menemaninya, ke mana pun, kapan pun.