Bab Seratus Empat Puluh Sembilan: Gahar di Luar, Ciut di Dalam
Di bawah teriknya sinar matahari, tubuh Lin Tian seolah-olah memancarkan cahaya yang cemerlang. Dengan ekspresi dingin, ia melangkah demi melangkah menuju kediaman Chu Xudong.
Mengenai tempat tinggal Chu Xudong, Lin Tian sudah mengetahuinya lewat Zhang Yuanyang. Ditambah dengan peta Sekte Langit Misterius yang terpatri jelas di dalam benaknya, tujuannya kini sangatlah jelas.
Semula, peringkat Chu Xudong berada di bawah Li Junbang. Namun, setelah mengalahkan Li Junbang, ia seharusnya bisa merebut peringkat dan pekarangan kediaman pria itu, serta melangkah maju dengan pesat.
Hanya saja, duel antara keduanya terjadi di Kota Tianwu dan belum mendapat pengakuan resmi dari sekte. Oleh karena itu, Chu Xudong masih tinggal di pekarangan asalnya.
Akhirnya, ekspresi dan gerak-gerik Lin Tian menarik perhatian para murid luar yang berpapasan di jalan. Ketika melihat Lin Tian berjalan menuju ke arah tersebut, mereka langsung berbisik-bisik.
"Bukankah itu Lin Tian? Tak disangka ia bisa kembali tanpa luka sedikit pun, benar-benar di luar dugaan!"
"Siapa bilang! Selama ada orang yang menyinggung Tuan Muda itu, siapa pun itu tidak akan berakhir baik. Lin Tian ini cepat atau lambat pasti akan menemui ajalnya!"
"Sepertinya arah ini bukan jalan menuju kediaman Lin Tian, untuk apa dia ke mari?"
"Apa kau belum dengar? Beberapa hari yang lalu, Li Junbang terluka parah oleh Chu Xudong. Padahal, Li Junbang adalah sahabat baik Lin Tian. Arah yang ditujunya sekarang adalah kediaman Chu Xudong."
"Oh, kalau begitu cepat susul dan lihat! Sebentar lagi pasti ada pertunjukan menarik!"
Para murid itu membicarakannya dengan riuh. Sebagian dari mereka yang memiliki sumber informasi cepat langsung menebak tujuan Lin Tian. Dengan wajah penuh antusias, mereka bergegas mengikuti di belakang Lin Tian.
Lin Tian sama sekali tidak memperdulikan para murid yang mengekor di belakangnya. Justru, itulah yang ia harapkan; semakin banyak orang yang melihat, semakin baik.
Hanya dengan cara inilah ia bisa membalas dendam terhadap Chu Xudong dengan lebih baik, membuatnya kehilangan muka di hadapan banyak orang, serta mematahkan arogansi Dongfang Hongfei dengan kejam.
Beberapa saat kemudian, Lin Tian tiba di depan sebuah pekarangan. Setelah mengamati sebentar, tempat itu ternyata jauh lebih megah daripada kediamannya sendiri.
Lin Tian menarik napas perlahan, mengerahkan energi internal di dalam tubuhnya, lalu membentak dengan suara lantang, "Chu Xudong, aku, Lin Tian, telah kembali! Jika kau punya nyali, cepat keluar dan terimalah kematianmu, jangan bersembunyi di dalam!"
Seketika itu pula, suara tersebut meledak laksana petir di siang bolong. Suara gemuruh yang dahsyat menggema ke seluruh penjuru langit dan bumi, memancarkan gelombang suara kasat mata yang menyebar ke segala arah dan menyapu ke depan.
Dalam sekejap, gelombang suara itu menghantam dinding pekarangan. Dinding yang tadinya mulus dan putih bersih itu langsung retak dan memunculkan banyak sekali garis hitam.
Kedua daun pintu pekarangan juga terkena hantaman hebat tersebut. Pintu itu langsung hancur berkeping-keping, melesat masuk ke dalam halaman, dan jatuh ke tanah hingga menimbulkan kepulan debu.
Bahkan para murid yang berdiri di kejauhan untuk menonton pun merasa suara gemuruh itu bagaikan lonceng raksasa, membuat telinga mereka berdenging, pikiran mereka terguncang, dan kepala mereka terasa pusing berputar.
Para murid itu buru-buru mengerahkan energi internal di tubuh mereka untuk meredakan ketidaknyamanan tersebut. Saling bertukar pandang, mereka diliputi oleh rasa ngeri yang mendalam.
Meskipun mereka sudah tahu bahwa Lin Tian bukanlah orang sembarangan—kalau tidak, mustahil ia begitu diperhatikan oleh Dongfang Hongfei—
Namun, mereka sama sekali tidak menyangka Lin Tian akan sehebat ini. Hanya dengan mengeluarkan sebuah raungan, ia berhasil membuat darah seluruh murid bergejolak dan kesadaran mereka menjadi pusing.
Perlu diketahui bahwa para murid yang berani mengikuti dan menonton adalah mereka yang cukup percaya diri dengan kultivasi masing-masing. Kendati demikian, mereka tetap tidak mampu menahan serangan tunggal dari Lin Tian.
Memikirkan hal tersebut, mereka sempat bersorak ribut, tetapi kemudian langsung terdiam dan menatap Lin Tian di hadapan mereka dalam sunyi.
Ketika mereka teringat pada sosok Dongfang Hongfei yang berada di belakang Chu Xudong, samar-samar mereka merasakan bahwa sebuah gelombang besar sebentar lagi akan segera menerjang para murid luar.
Pada saat ini, sebuah bentakan keras tiba-tiba terdengar dari dalam pekarangan, "Keparat kecil mana yang begitu berani membuat kekacauan di tempatku!"
Begitu suara itu lenyap, sesosok bayangan melesat keluar dari dalam halaman, berdiri di atas tangga gerbang, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Tampak sosok itu adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun. Tubuhnya tinggi dan kekar, mengenakan jubah putih yang melekat erat di tubuhnya dan memperlihatkan otot-ototnya yang padat.
Wajahnya penuh daging dengan ekspresi suram. Matanya memancarkan nyala api kebencian, napasnya terengah-engah, dan ia langsung menyadari kehadiran Lin Tian yang berdiri di hadapannya. "Kaukah bocah sialan yang datang mencari masalah denganku? Nyalimu besar sekali, bahkan tidak tahu siapa aku!"
Orang ini adalah target utama Lin Tian dalam perjalanan kali ini, yaitu Chu Xudong. Sesaat sebelumnya ia sedang beristirahat di kamar, tetapi tiba-tiba dikejutkan oleh raungan keras yang membuatnya pusing tujuh keliling.
Kemarahan Chu Xudong langsung membuncah sampai ke ubun-ubun. Tanpa mendengar jelas apa yang diteriakkan oleh Lin Tian tadi, ia langsung menerjang keluar, berniat mencari pelakunya dan menghajarnya habis-habisan agar semua orang tahu kehebatannya.
Tabiat Chu Xudong memang sudah agak kejam dan penakut pada yang kuat namun sewenang-wenang pada yang lemah. Terlebih lagi sejak ia berlindung di bawah naungan Dongfang Hongfei, menerima pil obat anugerah darinya, dan kultivasinya meningkat, ia menjadi semakin angkuh.
Ia merasa dirinya kini termasuk tokoh terkemuka di antara para murid luar Sekte Langit Misterius. Selain kelompok orang-orang bawahan Dongfang Hongfei, siapa lagi yang berani menyinggung dirinya?
Namun, Chu Xudong sama sekali tidak menyangka bahwa hanya berselang beberapa hari saja, sudah ada orang yang berani datang memprovokasi ke tempatnya. Sungguh mencari mati! Ia harus menyiksanya dengan kejam untuk menegakkan wibawanya secara mutlak.
"Kau Chu Xudong? Betul, itu aku. Namaku Lin Tian. Kau seharusnya pernah mendengar namaku, dan tentu tahu juga alasan kenapa aku mencarimu!"
Menatap Chu Xudong dari atas ke bawah, Lin Tian menunjukkan senyum dingin di wajahnya dan berkata dengan nada datar kepada pria itu.
Mendengar perkataan Lin Tian, Chu Xudong tertegun sejenak. Saat berikutnya, ia teringat seketika dan langsung mengenali siapa sebenarnya sosok Lin Tian di dalam ingatannya.
Begitu menyadarinya, hati Chu Xudong mendadak ciut. Wajahnya sedikit panik saat ia langsung tahu bahwa kedatangan Lin Tian ini adalah untuk membalaskan dendam Li Junbang.
Meskipun tingkat kultivasinya telah meningkat satu tingkat, Chu Xudong tidak merasa dirinya akan mampu menjadi tandingan Lin Tian.
Harus diingat, Lin Tian di hadapannya ini adalah eksistensi yang sangat dipandang penting oleh Dongfang Hongfei. Zhao Penguy saja yang kekuatan tempurnya jauh melampaui dirinya hanya mampu bertarung imbang melawan Lin Tian, apalagi dirinya sendiri.
Mau tidak mau, otot wajah Chu Xudong berkedut tipis. Sambil mengepalkan tinjunya erat-erat, ia berkata dengan nada pura-pura mengancam, "Lin Tian, apa yang ingin kau lakukan? Jangan dikira aku takut padamu! Ketahuilah, ini adalah Sekte Langit Misterius, bukan tempat di mana kau bisa bertindak sesukamu!"