Bab Seratus Lima Puluh: Tantangan Peringkat
“Tenang saja. Di sini aku tidak akan berbuat apa-apa kepadamu. Aku datang kali ini hanya untuk menantang peringkatmu sebagai murid. Itu tentu tidak melanggar aturan sekte, bukan?”
Melihat penampilan Chu Xudong yang tampak garang di luar, tetapi sebenarnya rapuh, Lin Tian mendengus dingin dan berkata penuh penghinaan.
Saat Chu Xudong baru saja keluar, Lin Tian telah diam-diam merasakannya dengan secuil kesadaran spiritual. Dalam sekejap, ia sudah mengetahui seluruh keadaan Chu Xudong dengan jelas.
Jangan tertipu oleh kenyataan bahwa Chu Xudong telah menembus tingkat kesembilan Alam Pascabakat. Ia mencapai terobosan itu dengan meminum obat spiritual secara paksa, sehingga energi dalam tubuhnya mengambang dan auranya tidak stabil. Di antara para ahli tingkat kesembilan Alam Pascabakat, ia hanya termasuk golongan paling rendah.
Menghadapi orang semacam ini, bahkan jika Lin Tian membiarkannya menggunakan kedua tangan dan kedua kaki, ia tetap dapat membereskannya dengan mudah tanpa mengerahkan banyak tenaga.
Mendengar bahwa Lin Tian ternyata datang untuk menantangnya, hati Chu Xudong seketika menegang. Baru sekarang ia teringat bahwa meskipun tingkat kultivasi Lin Tian sudah cukup tinggi, karena selama ini belum pernah menantang murid lain, peringkatnya masih berada di kisaran seribu lebih.
Karena itu, tantangan Lin Tian terhadap Chu Xudong sepenuhnya sesuai dengan aturan Sekte Xuantian. Sama sekali tidak ada pelanggaran terhadap aturan sekte, yang berarti tidak seorang pun dapat menghalangi pertarungan mereka.
Memikirkan hal itu, tubuh Chu Xudong mulai gemetar. Perlahan-lahan tubuhnya menegang, sementara hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum merembes ke seluruh tubuhnya. Wajahnya pun sedikit memucat.
“Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Bukankah Zhao Pengyu dan yang lainnya sudah turun gunung untuk membunuh Lin Tian? Bagaimana mungkin dia masih muncul di sini?”
“Selain itu, aku juga telah membuat Li Junbang terluka parah. Dengan hubungan Lin Tian dan Li Junbang, dia pasti tidak akan membiarkanku begitu saja. Ini benar-benar celaka!”
Pikiran Chu Xudong menjadi kacau balau. Berbagai macam pemikiran langsung membanjiri benaknya, membuat kepalanya berdengung dan kecemasannya mencapai puncak.
Tiba-tiba, suara yang mengandung hawa dingin menusuk membuyarkan lamunannya.
“Sudah, jangan buang waktu lagi. Cepat ikut aku. Aku tidak tertarik berdiri di sini menunggumu melamun!”
Tubuh Chu Xudong bergetar ringan. Dalam sekejap, keringat dingin membasahi dahinya. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha menenangkan diri, lalu memutar otaknya dengan cepat.
“Kalau mau pergi, ayo pergi! Lin Tian, kau kira orang lain takut kepadamu? Jangan harap aku juga takut! Karena kau sendiri yang datang mencari kematian, jangan salahkan aku jika aku menghajarmu dan menunjukkan kehebatanku!”
Meski berteriak keras kepada Lin Tian, Chu Xudong sebenarnya sedang memberanikan diri. Ia memancarkan aura tajam dari tubuhnya, lalu berjalan keluar dengan langkah lebar dan kepala tegak.
Saat itu, Chu Xudong telah memutuskan untuk bertarung melawan Lin Tian. Dengan tingkat kultivasinya di tingkat kesembilan Alam Pascabakat, ia seharusnya masih mampu bertahan beberapa jurus menghadapi Lin Tian.
Jika benar-benar tidak sanggup bertahan, ia akan segera mengaku kalah. Bagaimanapun, ketika mereka bertarung, ada pengurus sekte yang bertindak sebagai wasit di sisi arena, jadi ia tidak perlu khawatir Lin Tian akan bertindak terlalu kejam.
Dengan demikian, nyawanya pasti tidak akan terancam kali ini. Paling-paling, ia hanya akan mengalami sedikit penderitaan. Kelak, Dongfang Hongfei pasti akan membalaskan dendamnya.
Mata Lin Tian sedikit menyipit. Ia langsung memahami rencana Chu Xudong. Namun, jika Chu Xudong benar-benar mengira dirinya dapat melewati pertarungan ini dengan mudah, bukankah itu berarti ia terlalu meremehkan Lin Tian?
Melihat Chu Xudong telah berjalan menuju arena, Lin Tian pun diam-diam mengikuti dari belakang.
Para murid luar yang mengikuti mereka juga tampak sangat bersemangat. Mereka saling memanggil teman dan berangkat bersama untuk menyaksikan keramaian langka ini.
Tak lama kemudian, Lin Tian dan yang lainnya tiba di arena yang telah disediakan sekte. Arena itu panjang dan lebarnya mencapai lebih dari dua puluh zhang, seluruhnya tersusun dari bongkahan-bongkahan besar batu besi hitam.
Batu besi hitam itu berwarna hitam mengilap dan sangat keras. Kekuatannya sama sekali tidak kalah dibandingkan besi murni. Namun, meski demikian, beberapa retakan kecil telah muncul di permukaan arena.
Jelas, retakan-retakan itu dihasilkan oleh energi dahsyat yang terpancar ketika para murid luar bertarung sehari-hari. Kekuatan kultivasi mereka benar-benar tidak boleh diremehkan.
Lin Tian dan Chu Xudong berdiri di atas arena dengan jarak tiga zhang. Di antara mereka berdiri seorang pria paruh baya.
Pria paruh baya itu adalah wasit dalam pertarungan kali ini. Hanya dengan berdiri di sana, ia sudah memancarkan aura dahsyat yang menyelimuti seluruh arena.
Menurut pengindraan Lin Tian, tingkat kultivasi wasit itu telah mencapai puncak Alam Pascabakat. Energi dalam tubuhnya sangat murni dan tebal, membuatnya layak disebut seorang ahli.
Sebenarnya hal itu tidak mengherankan. Bagaimanapun, para murid luar sekte memiliki kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh. Begitu mereka bertarung, energi dahsyat akan berhamburan ke segala arah.
Jika tidak ada seorang ahli yang bertindak sebagai wasit, dan mereka tidak mampu menahan diri tanpa ada yang menghentikan, sangat mungkin terjadi korban yang tidak perlu.
“Kurasa aku tidak perlu mengulangi aturan pertarungan. Jika kalian berani menyerang dengan niat membunuh, kalian tentu tahu akibatnya. Kalau begitu, mari kita mulai!”
Setelah mengatakan itu kepada Lin Tian dan Chu Xudong, sosok sang wasit bergoyang ringan dan berubah menjadi bayangan kabur. Ia menghilang dari tempatnya, lalu dalam sekejap muncul di tepi arena.
Setelah wasit menyingkir dari antara mereka, Chu Xudong mengangkat kedua tangannya dan mengepalkan tinju. Tubuhnya sedikit merendah, kedua kakinya menancap kokoh dalam kuda-kuda, sementara seluruh perhatiannya tertuju pada setiap gerakan Lin Tian di hadapannya.
Lin Tian memandang sikap Chu Xudong dengan wajah tenang. Ia mendengus dingin. Seketika, aura yang sangat kuat, disertai niat membunuh yang ganas dan mengamuk, menerjang Chu Xudong seperti gelombang pasang yang bergulung-gulung.
Bahkan para murid luar yang mengelilingi arena pun merasa seolah-olah sebuah puncak setinggi seribu zhang menekan dada mereka. Napas mereka pun terasa semakin sulit.
Chu Xudong merasakan tekanan yang tak tertandingi mengunci seluruh auranya dalam sekejap. Tangan dan kakinya mendadak terasa dingin, seolah-olah ribuan jarum baja menusuk setiap bagian tubuhnya.
“Jangan bilang aku tidak memberimu kesempatan. Cepat serang aku. Kalau tidak, sebentar lagi kau tidak akan memiliki kesempatan sama sekali!”
Menatap ekspresi Chu Xudong yang sedikit ketakutan, Lin Tian berkata dengan tenang. Dari tubuhnya terpancar keyakinan diri yang luar biasa.
Wajah Chu Xudong menjadi sangat muram. Ia tahu Lin Tian tidak berlebihan. Jika terus berhadapan seperti ini, seluruh semangat tempurnya akan terkikis oleh Lin Tian. Setelah itu, ia bahkan tidak mungkin lagi melancarkan serangan.
Ia segera mengerahkan seluruh kekuatannya. Seketika, hembusan angin keras menyebar ke segala arah di sekelilingnya, disertai suara siulan yang bersahut-sahutan.
“Terima satu jurusku!”
Chu Xudong berteriak keras. Kilatan cahaya melintas di matanya, lalu ia melayangkan satu pukulan. Udara seakan berubah keruh, diiringi ledakan keras. Gelombang energi bergulung-gulung dan dalam sekejap telah tiba di hadapan Lin Tian.