Bab 041 Kesempatan Langka untuk Berdua Saja
Ketika Ma Fendou kembali, sudah lewat sepuluh menit, dan di belakangnya mengikuti seorang anak kecil.
Dia sepertinya pernah mendengar nama anak itu, Zhao Wujin.
“Tante, halo.”
Sebuah sapaan tiba-tiba membuatnya terpaku di tempat. Anak kecil yang kurus tinggal kulit dan tulang itu memanggilnya tante, membuat tatapannya langsung beralih pada Ma Fendou.
Ma Fendou, yang usianya terpaut lebih dari satu dekade dari Zhao Wujin, hanya nyengir lebar, sama sekali tak tampak ada niat menegur.
Zhang Shiyu merasa pikirannya penuh kekacauan. Usianya baru dua puluh empat tahun, sama sekali tak terbayang seorang anak sepuluh tahunan memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
“Tante, Paman Fendou minta aku bantu bawakan barang. Ibuku masih menunggu, aku pergi dulu ya.” Zhao Wujin mengedipkan mata pada Ma Fendou, lalu melesat pergi.
“Ayo, ayo, makan. Anak kecil itu memang suka bicara seenaknya, jangan diambil hati.”
Melihat Zhang Shiyu yang hampir kehilangan kesabaran, Ma Fendou buru-buru bicara. Ia meniup debu dari sebongkah batu di sampingnya lalu melanjutkan, “Ayo, kita duduk dan makan. Sebentar lagi sepertinya ada acara lagi.”
Ia menyodorkan sepiring hidangan pada Zhang Shiyu, dan dengan agak memaksa mendudukkan gadis yang masih melamun itu di atas batu, sementara ia sendiri jongkok di sisi lain, mulai makan dengan lahap.
“Ceritakan padaku tentang kehidupan di kota besar.”
“Jangan-jangan kamu sengaja suruh dia memanggilku begitu.” Zhang Shiyu menatap Ma Fendou dengan wajah serius, tidak menjawab, malah balik bertanya.
Ma Fendou melirik diam-diam pada gadis yang sedang menatapnya, hatinya girang bukan main, tapi wajahnya tetap tenang. “Mana mungkin, aku terlihat seperti orang iseng? Coba saja daging babi hutan segar ini, masakan Bibi Zhang memang enak.”
Zhang Shiyu setengah percaya, setengah tidak. Tatapannya beralih ke daging babi hutan di piringnya—satu piring besar yang membuatnya terdiam. Sementara porsi di mangkuk Ma Fendou tampak jauh lebih sedikit.
Ia mencicipi sepotong daging babi hutan yang agak kehitaman itu, rasanya memang enak dan empuk.
Namun, melihat porsi yang cukup untuk tiga kali makan, ia ragu-ragu, ingin membagi sebagian pada Ma Fendou, tapi rasa malu dan sungkan menahannya.
“Ceritakan dong, seperti apa sih kota besar itu.”
Ucapan Ma Fendou membuyarkan lamunannya. Ia tidak menatap Ma Fendou, matanya menatap nyala api yang menjulang beberapa meter. Lama ia terdiam, sebelum akhirnya bergumam, “Gedung tinggi-tinggi, orang-orangnya tidak terlalu ramah. Tidak ada nyamuk, pokoknya sangat berbeda dengan di sini.”
Setelah berkata demikian, ia menoleh dan menatap Ma Fendou, bertanya lagi, “Ma Fendou, kamu kan tidak bodoh. Kenapa tidak mau meninggalkan desa ini?”
Ma Fendou selesai makan, lalu agak menjauh, mengambil sebatang rokok dan menghisapnya perlahan. “Dulu waktu kecil, aku ngambek sama orangtuaku yang meninggalkanku. Apa bagusnya kota besar itu, sampai-sampai anak sendiri pun ditinggal. Sekarang, kakek sudah tua, tetap harus ada yang menemani. Lagipula, aku tidak punya rasa suka dengan kota besar, kenapa harus mencari-cari ketidaknyamanan? Di desa ini, aku sudah cukup bahagia.”
“Setahun cuma dapat sedikit lebih dari sejuta, kamu rela?” tanya Zhang Shiyu dengan nada realistis. Saat ia kuliah dulu, uang segitu hanya cukup untuk sepasang sepatunya.
“Tidak rela, makanya aku mau jadi kaya raya di sini. Suatu hari nanti, aku akan berdiri tegak di depan mereka yang tak berhati itu, dan bicara tanpa beban.” Ma Fendou menyipitkan mata, menekan ibu jari dan telunjuknya hingga gepeng, suaranya berat memandang ke arah cahaya.
“Kamu yakin bisa berhasil? Meski aku suka lingkungan dan pemandangan di sini, desa ini terlalu tertinggal. Biaya yang dibutuhkan jauh di luar bayanganmu sekarang.”
Zhang Shiyu menatap lelaki licik yang suka mengambil untung kecil itu, namun kini ia melihat sedikit ketegasan dan keberanian yang tidak pernah ia temukan sebelumnya di desa itu.
“Kalau tidak mencoba, siapa yang tahu. Keajaiban itu kadang terjadi…”
Ma Fendou menjawab santai, lalu kembali menatap Zhang Shiyu, tiba-tiba memperlihatkan deretan giginya yang putih sambil tersenyum, “Jadi, kenapa penerima keajaiban itu tidak boleh aku?”
Zhang Shiyu tertegun. Ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari Ma Fendou.
Betapa kuatnya hati, atau barangkali betapa percaya dirinya, atau barangkali begitu bodohnya, sehingga bisa mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak masuk akal.
Ucapan itu membuatnya memandang Ma Fendou dengan cara baru. Ia juga teringat ucapan Kak Liu, “Dia itu banyak menyimpan rahasia.”
“Ma Fendou, bisakah kamu jangan terlalu…”
Ucapan Zhang Shiyu belum selesai, kekagumannya sekejap berubah jadi rasa sebal, karena laki-laki kurang ajar itu mengambil setengah daging babi hutan dari piringnya.
Matanya membelalak, pipinya menggembung karena marah, “Kamu kok licik banget sih!”
“Aku cuma licik sama kamu, suka nggak?” Ma Fendou menaikkan alis, tergelak, dan sekejap membawa kabur piringnya.
Sebuah batu kecil melesat nyaris mengenai kaki Ma Fendou. Melihat batu itu menggelinding jauh, ia membatin, “Gadis kota memang beringas.”
Ia berhenti, menoleh ke belakang, tetap tersenyum lebar. Bagi Ma Fendou, amarah kecil Zhang Shiyu adalah pemandangan indah, memberinya keberanian untuk melangkah lebih jauh.
“Fendou, Fendou…”
Tiba-tiba terdengar suara memanggil dari kejauhan. Ia menoleh dan melihat Paman Li.
Beberapa saat lagi Paman Li Chunsheng akan menjadi ayah angkat Ma Fendou. Ia berjalan mendekat dan saat melihat Zhang Shiyu, segera tersenyum, “Dokter Zhang juga di sini rupanya. Aku pinjam Fendou sebentar, nanti aku kembalikan.”
Menarik Ma Fendou menjauh, Li Chunsheng tersenyum, “Bagaimana, ada kemajuan?”
“Paman…” Ma Fendou tampak ragu, akhirnya tidak jadi memanggil “ayah angkat”, lalu melanjutkan, “Paman, ada apa ya?”
“Kakekmu bilang persiapan tarian selanjutnya sudah dimulai, kamu harus ikut.”
“Apa? Aku kan nggak bisa nari…”
“Nggak apa-apa, para orang tua masih ingat gerakannya, tinggal pura-pura saja.” Li Chunsheng tersenyum pada Dokter Zhang di kejauhan, menepuk bahu Ma Fendou.
Ma Fendou pun direkrut jadi peserta tambahan, bersama beberapa pemuda lain yang dipaksa orangtua mereka naik ke panggung.
Seorang kakek di pinggir mulai memperagakan gerakan tarian, wajahnya selalu tersenyum.
Ma Fendou memandang gerakan canggung itu dengan hati berat, beberapa pemuda lain pun tampak kikuk.
Kira-kira dua puluh menit berlalu, belasan orang akhirnya bisa meniru beberapa gerakan sederhana. Di bawah komando Kepala Desa, seluruh warga mulai bernyanyi dalam bahasa daerah, bertepuk tangan mengikuti irama.
Ma Fendou berdiri di barisan terdepan, memamerkan gerakan yang baru dipelajarinya, matanya mencari-cari Zhang Shiyu yang hanya kelihatan separuh kepala di antara kerumunan.
Ia sedikit mengangkat dagu, entah gadis itu melihatnya atau tidak. Entah mengapa, ia sangat ingin Zhang Shiyu menyaksikannya menari dari kejauhan.
Zhao Wujin, tangan kanan Ma Fendou, saat itu sedang menggelinding di tanah sambil menahan perut, tertawa terbahak-bahak sejak Ma Fendou naik ke panggung. Selama ini, ia belum pernah melihat Paman Fendou seperti itu. Sebelumnya, Paman Fendou-nya itu takkan pernah melakukan hal semacam ini.
Menurut dia, itu kelakuan orang bodoh saja.
Entah sejak kapan, muncul sosok wanita menawan di samping Zhang Shiyu.
Wanita itu meregangkan badan, gerakannya sangat mirip dengan Ma Fendou tadi, entah siapa meniru siapa.
“Kak Liu!” Zhang Shiyu berseru senang setelah menyadari siapa yang datang.
“Itulah Ma Fendou yang sebenarnya, lihat betapa dalam ia menyembunyikan dirinya.”
Ia menatap Ma Fendou di tengah kerumunan, berbicara dengan tenang, seakan-akan berkata pada Zhang Shiyu, dan sekaligus pada dirinya sendiri.