Bab 007: Kakek dan Cucunya, Dua Generasi Manusia
Ma Fendou pun pergi, akhirnya ia tetap membawa daging kelinci yang lebih berbumbu dan mudah dicerna itu.
Kakak Liu menyalakan sebatang rokok, berdiri di pintu puskesmas sambil memandangi Ma Fendou yang perlahan menghilang ditelan gelap malam.
“Kak Liu, Ma Fendou itu tampaknya tidak bodoh, kenapa dia mau bertahan di desa ini?” tanya Zhang Shiyu, penuh rasa ingin tahu tentang Ma Fendou, tapi ia hanya membicarakannya diam-diam.
“Aku pernah dengar sedikit. Orang tuanya juga pergi seperti itu, dan setelah itu mereka tidak pernah kembali.”
“Jadi dia tidak mau pergi juga?”
“Mungkin saja…”
Zhang Shiyu hanya merasakan simpati terhadap situasi seperti itu, ia tak terpikir makna yang lebih dalam. Melihat Kak Liu tak bicara lagi, ia pun tak berminat bertanya lebih jauh, toh ia memang bukan tipe orang yang suka bergosip.
Ma Fendou berjalan di tengah malam, beberapa anjing kampung seolah mencium aroma masakan, bukannya menggonggong, mereka justru mengibas-ngibaskan ekor dan tampak memelas.
“Pergi, pergi, kalian ini bodoh, diberi makan kepala kelinci saja sudah bagus, makanan enak pun kalian inginkan,” katanya sembari mengibaskan tangan pada dua ekor anjing kampung itu.
Setiap kali mengingat kakeknya, ia selalu teringat pada kedua orang tuanya yang pergi meninggalkan rumah saat usianya lima tahun, dan hampir dua puluh tahun tak pernah kembali—itulah luka terdalam dalam hatinya.
Dulu saat menjelang tahun baru, ia biasa berdiri di gerbang desa menunggu, seharian penuh hingga senja. Setelah agak dewasa, ia tak pernah menunggu lagi.
Sejak saat itulah, ia mulai belajar berbagai keterampilan yang dikuasainya sekarang—agar setidaknya dirinya tidak kelaparan.
Ia tidak tinggal bersama kakeknya, selain karena bosan mendengar omelan, juga karena alasan yang satu itu.
Tiba di depan pintu, ia mengetuk dan berseru, “Kakek, ini aku.”
Tak ada basa-basi, hanya empat kata singkat.
Beberapa saat kemudian, pintu kayu berderit terbuka. Seorang lelaki tua berambut putih memegang tongkat bambu berdiri di ambang pintu, menatap Ma Fendou dengan wajah serius.
Tatapan aneh melintas di matanya, ia bertanya dengan suara berat, “Bikin masalah apa lagi? Ingat datang ke sini?”
“Tidak, hanya tersisa sedikit daging kelinci, aku bawakan untuk Kakek,” jawab Ma Fendou dari depan pintu. Kakeknya tak menyuruh masuk, ia pun tak berniat masuk.
“Kau tak bisa bicara yang lebih baik?” Lelaki tua itu menatapnya dengan galak.
Ma Fendou mengerutkan dahi, memalingkan muka, tak menanggapi, hanya mendorong piring di tangannya sedikit ke depan, “Cepat simpan, aku harus kembalikan piringnya ke pemiliknya.”
Lelaki tua itu diam saja, menerima piring itu lalu melangkah perlahan ke dalam rumah.
Di dalam sangat gelap, lampunya kecil sekali, cahayanya hanya mampu menerangi sedikit. Lama kemudian, lelaki tua itu kembali dengan piring kosong, menaruhnya di tangan Ma Fendou.
Tanpa sepatah kata, Ma Fendou berbalik pergi.
Lelaki tua itu memandangi punggung cucunya, menghela napas. Ada rasa kecewa, tapi ia pun tak tahu harus berkata apa. Dulu ia sempat meminta cucunya pergi mencari penghidupan di luar, tapi reaksi keras dari cucunya itu tak pernah ia bayangkan.
“Cucuku yang keras kepala, mana bisa kaya raya di tempat begini, kenapa kau menyusahkan diri sendiri!” Lelaki tua itu mengeluh pelan, lalu menutup pintu.
Baru saja ia membalikkan badan, suara ketukan terdengar lagi.
Saat dibuka, ia melihat sosok yang tak diduga. Ma Fendou kembali.
“Kakek, menurut Kakek, aku pantas jadi kepala desa?” Ma Fendou langsung bertanya, pertanyaan yang mengganjal di hatinya sepanjang jalan pulang.
“Hari ini manjat rumah Nyai Zhao, besok masuk lubang, lusa gali kuburan buat orang?!” Lelaki tua itu mengetuk-ngetuk tongkatnya, nadanya keras.
Ma Fendou mengulum bibir, menaruh piring di lantai, menyalakan dua batang rokok, satu disodorkan ke sang kakek, satu lagi ia hisap sendiri.
“Aku serius!” katanya pelan setelah dua kali mengisap rokok.
Kakeknya tertegun mendengar ucapan cucunya, jemarinya yang kekuningan karena tembakau sampai bergetar.
Lama kemudian, ia bicara. Tak lagi memarahi cucunya, tak mengungkit kelakuan aneh cucunya selama ini, hanya berkata pelan, “Masuklah.”
Di bawah cahaya lampu yang temaram, di atas meja kayu tua yang penuh noda hitam legam yang seolah telah menyatu dengan kayunya, dua generasi duduk berhadapan. Di meja hanya ada dua piring acar dan semangkuk daging kelinci yang masih hangat. Si kakek menjilati bibir, lima jarinya seperti cakar elang meraih mulut kendi di samping kakinya dan menaruhnya di atas meja.
Ia menuangkan dua mangkuk arak beras, lalu meletakkan kendi itu kembali.
Didorongnya satu mangkuk ke hadapan cucunya, lalu mengambil sumpit dan perlahan menjepit sepotong daging kelinci.
Dengan perlahan, si kakek mengunyah, sesekali meneguk araknya.
Ma Fendou sama sekali tak menyentuh makanan atau minum arak beras buatan sendiri itu. Ia hanya menatap diam-diam, menunggu.
Lama kemudian, lelaki tua itu meletakkan mangkuknya, berkata pelan, “Kenapa tiba-tiba terpikir soal ini?”
“Mau cari uang, masa cuma andalkan kulit-kulit jelek itu, kapan bakal cukup.” Ma Fendou refleks menegakkan punggung, menjawab santai.
“Oh, kau mau cari uang dengan cara bagaimana?” Wajah lelaki tua itu berubah sedikit, tapi ia tetap bertanya sabar.
“Tenang saja, tak akan jual tanah atau yang aneh-aneh, paling jual hasil buruan saja.” Ma Fendou berkata ringan, sekilas memandang kakeknya—ia tahu apa yang sedang dipikirkan sang kakek.
“Heh…” Lelaki tua itu tertawa pendek, lalu meneguk araknya sebelum berkata, “Sejujurnya saja, aku jadi kepala desa empat puluh tahun, satu-satunya yang bisa kubanggakan cuma berhasil memasukkan listrik ke desa ini.”
“Mau jual tanah juga siapa yang mau beli, desa kita ini siapa yang mau, cuma dua ratusan orang, itu pun listriknya dulu aku usahakan setengah mati.”
“Mau cari uang, pergilah ke kota besar, jadi kepala desa di sini pun tak banyak gunanya.”
Dengan tangan yang sedikit bergetar, lelaki tua itu menjepit sepotong daging kelinci, daging yang berlumuran kuah itu melewati janggutnya sebelum masuk ke mulut.
Ma Fendou menghisap rokok, lalu menyalakan satu lagi, menghembuskan asap tebal sebelum berkata, “Aku tak akan pergi.”
Kata-katanya singkat, tapi tegas.
“Nanti kalau aku benar-benar mati, masih ada yang mengurus jenazahku, tak perlu kau seperti ini.”
Ma Fendou memalingkan kepala, enggan memandang kakeknya yang sudah mulai marah, baru setelah lama ia berkata, “Aku ingin mengajak orang-orang datang berburu ke sini, kelinci atau ayam hutan seratus, babi hutan lihat ukurannya, yang kecil lima ratus, besar seribu.”
Si kakek tersenyum, berkata pelan, “Lama-lama juga akan habis, lalu orang desa makan apa? Lagipula, kau pasang harga segitu, siapa yang mau? Itu namanya bodoh.”
Ma Fendou menyeringai, dalam hati ia setuju juga. Tapi mengingat komentar-komentar yang pernah ia baca, hatinya tergelitik. Kalau benar-benar berhasil, mungkin desa ini bisa hidup lebih baik.
“Sudahlah, bilang saja apa syaratnya biar aku bisa jadi kepala desa!” Ma Fendou mulai tak sabar, paling tidak ia bisa dapat sepuluh juta dari sistem aneh itu, uang sungguhan yang kalau hanya jual kulit, harus sepuluh tahun baru terkumpul.
“Kau ingin jadi kepala desa, itu tekad yang bagus. Kakek tak akan padamkan semangatmu. Tak perlu kau berbuat sesuatu yang hebat, di desa kita ada tiga puluh enam keluarga, asal dua puluh keluarga setuju kau jadi kepala desa, kakek langsung serahkan jabatan.”
“Benarkah?”
Lelaki tua itu menatap dengan mata membelalak, kali ini tanpa nada galak, mengetuk meja dengan punggung tangan, “Benar!”