Bab Seratus Empat Puluh Tiga: Keagungan Sang Tuan Muda
Mereka berdua mengerahkan seluruh tenaga untuk menggunakan teknik pelarian. Kecepatan mereka secepat kilat, dan dengan segera mereka berhasil menyusul Fuyi. Meskipun Kera Iblis Lengan Panjang masih mengejar di belakang, kecepatannya sungguh memprihatinkan, sehingga mustahil baginya untuk dapat menyusul mereka.
"Tunggu, ada orang di sana!"
Tepat ketika Li Lingfeng dan saudaranya baru saja mendahului Fuyi, Fuyi berseru dengan lantang, lalu mendaratkan awan terbangnya. Mendengar seruan itu, kedua bersaudara tersebut menghentikan cahaya pelarian mereka dan mendarat kembali ke tanah.
"Bruk! Bruk! Bruk!"
Begitu mereka menginjakkan kaki di tanah, mereka merasakan getaran kecil yang beriringan dengan suara langkah kaki.
Fuyi langsung tersenyum pahit dan berkata, "Bencana iblis sialan ini sepertinya sangat bernafsu mengejar kita."
"Kalau begitu, mari kita lari ke arah lain, tunggu apa lagi?" tanya Li Mu dengan bingung.
Namun, Li Lingfeng mengerutkan keningnya, lalu berkata sambil merenung, "Tetapi jika iblis ini terus mengejar kita, para sesama murid yang sedang bertempur di depan mungkin akan berakhir tragis."
"Peduli amat dengan mereka!" jawab Li Mu dengan nada meremehkan.
Li Lingfeng menggelengkan kepalanya dan berkata, "Apakah kau lupa ucapan Cendekiawan Berjubah Putih di atas panggung tadi? Sekarang kesembilan puncak telah tiada, yang tersisa hanyalah Qingqiu. Jika para sesama murid di depan gugur dalam pertempuran, yang merugi tetaplah kekuatan Gunung Qingqiu kita."
Li Mu mencibir dan berkata, "Orang-orang ini licik bukan main. Apakah perkataan mereka bisa dipercaya?"
Li Lingfeng berkata, "Guru telah kembali ke Gunung Qingqiu dengan kekuatan tingkat Dewa Iblis dan menggetarkan kedelapan Raja Iblis, mengapa kita tidak bisa mempercayainya?"
Li Mu hendak membantah, tetapi Fuyi mengangguk dan berkata, "Entah benar-benar membuang perselisihan masa lalu untuk bersatu atau hanya berpura-pura bekerja sama, hal ini bukanlah sesuatu yang perlu kita pikirkan. Bagaimanapun juga, musuh kita saat ini hanya satu, yaitu para iblis beserta para penjilat mereka. Di masa-masa krisis seperti ini, siapa pun yang berdiri di garis depan menentang para iblis adalah kawan kita."
Li Mu tertegun sejenak. Ia tidak pernah menyangka Fuyi, seseorang yang hampir buta huruf, dapat mengucapkan kata-kata bijak seperti itu. Tatapannya penuh dengan rasa terkejut dan curiga saat melihat ke arah Fuyi.
Namun, Li Mu tidak tahu bahwa selama sepuluh tahun terakhir, Fuyi sering mendapat didikan dari Zhang Tianyu dan ditanami konsep perjuangan melawan iblis oleh Wei Ziye. Pemikirannya saat ini sudah berada di tingkat yang jauh berbeda dibandingkan saat mereka berada di Tambang Netherworld.
Terutama setelah mengalami peristiwa Long Xiaoyun, pemahamannya tentang prinsip ini menjadi semakin mendalam karena itu adalah contoh nyata yang hidup. Saat itu, hubungan mereka dengan Long Xiaoyun bagaikan air dan api. Namun, demi perjuangan besar melawan iblis, ketika menghadapi sang penjilat Feng Yihan, mereka memilih berada di pihak yang sama. Demi melindungi Fuyi, Long Xiaoyun bahkan mengorbankan nyawanya.
Lebih parahnya lagi, setelah kematiannya, kepalanya dipenggal oleh Feng Yihan dan dipajang di gerbang kota!
Adegan itu terus berkelebat di benak Fuyi, itulah sebabnya hari ini ia mampu mengucapkan rentetan kata-kata yang sama sekali tidak sesuai dengan gaya bicaranya biasanya.
Mendengar perkataan Fuyi, Li Lingfeng langsung menimpali, "Benar sekali. Konflik antara kedelapan Raja Iblis dan kita terjadi karena perebutan posisi Kaisar Iblis, bukan karena dendam kesumat yang mendalam. Terlebih lagi, siapa di antara mereka yang tidak memiliki dendam berdarah dengan para iblis? Khususnya Ginkgo dan Orang Tua Ratapan. Setelah pasangan kultivasi Ginkgo ditangkap oleh para iblis, ia disiksa secara keji hingga dipaksa bunuh diri, sementara Orang Tua Ratapan merasakan kepedihan luar biasa karena kehilangan anak tercintanya tiga ratus tahun yang lalu. Di masa depan saat perang melawan iblis meletus, kedua orang ini pasti akan berjuang habis-habisan tanpa kenal lelah. Oleh karena itu, aku percaya begitu Guru naik ke tingkat Dewa Iblis dan melihat ada harapan bagi bangsa kita, mereka pasti akan membantu dengan sepenuh hati tanpa niat berkhianat."
Li Mu dibuat bungkam oleh rentetan argumen Li Lingfeng dan hanya bisa mengangguk pasrah seraya berkata, "Baiklah, tidak perlu dibahas lagi. Aku ikuti saja keputusanmu."
Melihat ekspresi enggan Li Mu, Li Lingfeng tentu tahu apa yang ada di dalam hati saudaranya itu. Ia pasti masih menyimpan kebencian terhadap kedelapan Raja Iblis atas tindakan penekanan mereka di masa lalu yang menyebabkan kematian ayah mereka. Itu adalah dendam kesumat yang sama sekali tidak dapat diselesaikan hanya dengan beberapa patah kata. Bahkan dirinya sendiri, bukankah ia juga sangat membenci kedelapan Raja Iblis itu hingga ingin mencincang mereka berkeping-keping? Ketahuilah, setidaknya ia saat ini masih memiliki seorang ibu, sedangkan dalam kudeta berdarah itu, yang direnggut darinya adalah kedua orang tuanya...
Namun, meskipun semua ini dipicu oleh kedelapan Raja Iblis, pihak yang benar-benar merenggut nyawa keluarga mereka adalah bangsa iblis!
Itulah musuh yang sesungguhnya!
Musuh yang takkan pernah bisa hidup berdampingan di bawah langit yang sama!
Oleh karena itu, Li Lingfeng memilih untuk memaafkan mereka dan bekerja sama.
Saat ini, Li Mu jelas belum bisa memahami prinsip tersebut. Kendati demikian, karena masalah telah sampai di titik ini, membicarakannya lebih jauh hanya akan mengungkit kembali luka lama. Ia kemudian berkata kepada Fuyi, "Waktu mendesak, mari kita pergi membantu, jika tidak, akan terlambat saat kera iblis itu tiba."
"Baik."
***
Selanjutnya, Li Mu dan Li Lingfeng memimpin di depan, sementara Fuyi melindungi ketiga wanita di belakang. Mereka bergerak cepat menuju lokasi pertempuran di depan.
"Tring! Tring! Tring!..."
Suara dentingan senjata logam semakin mendekat. Kedua bersaudara Li menghentikan cahaya pelarian mereka dan bergerak cepat maju dengan memanfaatkan bayangan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di medan pertempuran. Namun, begitu melihat orang-orang yang bertarung di hadapan mereka, Li Lingfeng merasa sedikit kesal.
Mengapa demikian?
Ternyata, pihak-pihak yang bertempur saat ini berjumlah sepuluh orang secara keseluruhan. Dua orang dari salah satu pihak telah tewas, sementara empat orang yang tersisa semuanya berpenampilan seperti seorang Taois. Li Lingfeng mengenali dua di antara mereka, yaitu pemuda bernama Bu Yu yang sebelumnya mengeluarkan teknik "Tangan Misterius Taiyi" dan You Ming yang membelah penghalang menggunakan teknik pedang roh. Meskipun mereka tidak mengetahui nama You Ming, mereka memiliki kesan yang sangat mendalam terhadap pedang abadi berwarna hijau kebiruan itu.
Dua iblis kecil lainnya tidak mereka kenal, tetapi melihat kultivasi mereka yang hanya berada di alam Inti Iblis serta pakaian yang mereka kenakan, sudah pasti mereka adalah murid dari sekte Ginkgo. Sementara itu, iblis kecil di alam Transformasi Wujud yang terakhir kali menggunakan teknik "Manifestasi Hukum Langit dan Bumi" untuk menghancurkan segel serta satu orang asing lainnya telah lama jatuh bersimbah darah.
Pihak lawan yang mengenakan pakaian dari kulit binatang juga mereka kenali. Orang yang bertarung paling beringas adalah Jin Shengtan, anak angkat Raja Singa Emas. Namun, yang membuat mereka terkejut adalah, selain Jin Shengtan yang merupakan sosok ahli di alam setengah langkah Kesengsaraan Petir, lima orang lain yang dipimpinnya ternyata juga berada di alam akhir Transformasi Wujud.
Setiap jurus yang mereka gunakan sangat kejam dan mematikan. Para murid dari pihak Ginkgo sama sekali bukan tandingan mereka dan terus dipukul mundur. Kendati demikian, seorang iblis kecil berAlam Inti Iblis kembali ditebas mati oleh Jin Shengtan.
Dilihat dari situasi saat ini, pertempuran kedua belah pihak tampaknya belum berlangsung lama. Mengingat kesenjangan kekuatan yang begitu besar, pastilah iblis kecil di alam Transformasi Wujud yang mahir dalam teknik "Manifestasi Hukum Langit dan Bumi" itu bertarung habis-habisan hingga mempertaruhkan nyawa, jika tidak, kelompok Ginkgo pasti sudah dikalahkan sejak lama.
"Kakak, sepertinya mereka adalah orang-orang dari sekte Ginkgo dan Raja Singa Emas," bisik Li Mu.
Li Lingfeng tentu saja melihatnya dengan jelas. Dengan wajah muram, ia berkata, "Aku tahu."
Setelah berkata demikian, ia menoleh ke belakang.
"Apa yang harus kita lakukan? Kita bantu pihak yang mana?" tanya Li Mu.
"Tunggu Fuyi datang, lalu suruh kedua belah pihak menghentikan pertarungan. Jika ada pihak yang tidak mendengarkan, bunuh saja pihak itu!" ucap Li Lingfeng dengan gigi kertup ketika melihat iblis kecil alam Inti Iblis terakhir dari pihak Ginkgo kembali dibantai.
Li Mu langsung mengerti. Ia mengangguk, lalu menoleh ke belakang sembari menunggu kedatangan Fuyi.
Namun, situasi di medan perang berubah dalam sekejap mata. Sebelum Fuyi sempat tiba, Bu Yu memperlihatkan celah pertahanan. Jin Shengtan tertawa terbahak-bahak dan mengayunkan golok panjangnya untuk menebas pinggang pemuda itu. Jika tikaman golok itu mendarat, Bu Yu pasti akan terbelah menjadi dua bagian dan tewas mengenaskan.
"Tunggu Fuyi!"
"Hentikan!"
Li Lingfeng memperingatkan Li Mu dengan suara rendah, lalu berteriak keras. Memegang tombak panjangnya bagaikan anak panah yang lepas dari busur, ia berubah menjadi seberang cahaya perak dan melesat untuk membunuh Jin Shengtan.
Jin Shengtan sempat tertegun sejenak karena teriakan tersebut, membuat ayunan goloknya melambat setengah detik. You Ming langsung memanfaatkan kesempatan emas ini dengan mendorong Bu Yu ke samping menggunakan telapak tangannya, sehingga menyelamatkan nyawa pemuda itu dari maut di bawah golok Jin Shengtan. Kendati demikian, lengan You Ming sendiri tersayat oleh golok tersebut, menyemburkan darah segar yang tampak sangat mengerikan.
Melihat musuh yang datang menyerang dengan ganas, Jin Shengtan buru-buru menangkis dengan goloknya. Pada saat yang sama, dua orang rekan sekelompoknya melompat keluar dan bersama-sama mengeroyok Li Lingfeng, sementara tiga orang lainnya memanfaatkan momen saat You Ming terluka untuk berupaya membunuh dirinya dan Bu Yu sekaligus.
Bagaimanapun juga, tingkat kultivasi Jin Shengtan lebih tinggi. Dengan tebasan goloknya, ia berhasil menjatuhkan tombak panjang Li Lingfeng ke tanah. Tepat ketika ia mengangkat goloknya hendak menebas, barulah ia melihat dengan jelas bahwa orang yang datang ternyata adalah sang Tuan Muda "Xuantianzun".
Bagaimanapun, statusnya adalah murid Kaisar Iblis dan Tuan Muda bangsa Iblis. Meskipun Jin Shengtan memamerkan kultivasinya yang tinggi dan merupakan salah satu tokoh terkemuka di bawah kedelapan Raja Iblis, identitas Li Lingfeng terpampang nyata di sana, sehingga ia tidak berani bertindak sembarangan dan terpaksa menghentikan tebasannya secara paksa.
Hanya saja, ia tidak mengerti mengapa Li Lingfeng tiba-tiba "sakit jiwa" dan datang mencampuri urusannya. Bagaimanapun juga, saat kudeta dua puluh tahun yang lalu, Ginkgo yang memiliki kekuatan terbesarlah yang memimpin gerakan tersebut. Sekarang, ketika mereka membantai para murid Ginkgo, mereka seharusnya merasa senang. Karena itu, dengan rasa curiga ia bertanya, "Apa maksud dari tindakan Tuan Muda ini?"
Li Lingfeng tidak pernah menyangka Jin Shengtan akan memperhitungkan identitasnya dan tidak jadi membunuhnya. Ia menghela napas panjang dan berkata, "Kakak Shengsheng, bisakah kau meminta para sesama Senior untuk menghentikan pertarungan terlebih dahulu dan mendengarkan perkataanku?"
Jin Shengtan ternyata masih cukup menghormati Li Lingfeng. Ia berkata kepada kelima saudara seperguruan di belakangnya, "Hentikan sebentar, mari kita dengar apa yang ingin dikatakan oleh Tuan Muda."
Tan disangka, begitu Jin Shengtan mengucapkan kata-kata itu, kelima orang tersebut memang menghentikan tangan mereka, tetapi seorang pria berwajah lancip dan bermulut mirip monyet tertawa terbahak-bahak. "Untuk apa Kakak Senior takut padanya? Dia hanyalah sampah di tingkat pertengahan alam Transformasi Wujud."
"Adik Junior, jangan bicara sembarangan. Dia adalah murid Kaisar Iblis dan Tuan Muda bangsa kita, statusnya sangat mulia..." Sesaat setelah suara itu mereda, seorang pria berwajah mesum menimpali dengan nada menyindir.
"Oh... Ternyata orang ini adalah Tuan Muda ya. Hormat kami, hormat kami," ujar pria bermulut lancip tadi dengan senyum sinis. Namun, nada bicaranya sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat, dan meskipun mulutnya berkata hormat, ucapannya dipenuhi dengan rasa meremehkan.
Li Lingfeng langsung diliputi amarah yang membara, sayangnya situasi saat ini memaksanya untuk menahan bara amarah di dalam dadanya.
Hanya saja, kata-kata tersebut justru memantik amarah yang membara di dalam diri Li Mu yang bersembunyi di kegelapan. Mengabaikan peringatan Li Lingfeng sebelumnya, ia langsung melompat keluar, menghunuskan pedang baja tiga kaki ke arah ketiga orang yang baru saja berbicara itu seraya berteriak, "Kalian..."
Namun, sebelum kata-katanya selesai, ia dicegah oleh bentakan Li Lingfeng.
Kedua orang itu tertegun sejenak, lalu si bermulut lancip tertawa. "Wah, ternyata cuma sampah di tingkat awal alam Transformasi Wujud, haha!"
"Dia sepertinya cukup arogan," timpal si pria berwajah mesum itu lagi.
Mendengar ucapan kedua orang itu, Li Mu dibuat sangat murka hingga nyaris meledak. Namun, melihat Li Lingfeng sedang menatapnya tajam, ia tidak berani berbuat gegabah dan hanya bisa mendengus dingin, menggertakkan gigi menatap kedua orang itu sambil berharap bisa membunuh mereka di tempat.
Jin Shengtan tersenyum tipis dan berkata, "Tuan Muda mohon jangan tersinggung, mulut kedua adik perguruanku ini memang agak pedas."
Meskipun apa yang diucapkan Jin Shengtan terdengar cukup ramah di telinga, di hadapan Li Lingfeng, hal itu sama sekali tidak sekadar tampak di permukaan saja.
Bagaimanapun, Li Lingfeng adalah Tuan Muda bangsa Iblis secara de jure. Kedua orang itu telah melakukan kejahatan besar karena melawan atasan, sebuah pelanggaran yang seharusnya diganjar hukuman mati. Bahkan jika kepala mereka tidak dipenggal, mereka setidaknya harus dihukum seratus kali cambukan sebagai peringatan kepada yang lain. Namun, bagi Jin Shengtan, masalah itu seolah-olah hendak diselesaikan hanya dengan sepatah kata saja, yang jelas-jelas merupakan bentuk pengujian terhadap kekuatan aslinya.
Meskipun Li Lingfeng tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memicu konflik, jika ia membiarkan masalah ini berlalu begitu saja, ia khawatir upaya menghentikan pertarungan ini akan sia-sia.
Oleh karena itu, ia mencibir dingin dan berkata, "Kedua orang ini telah menghinaku secara lisan, yang itu sama artinya dengan menghina Guru, sekaligus menghina seluruh Gunung Qingqiu. Apakah Kakak Senior Jin tidak tahu hukuman apa yang pantas untuk pelanggaran ini?"
Begitu Li Lingfeng mengucapkan kata-kata itu, bukan hanya kedua orang tadi, bahkan Jin Shengtan pun terkejut. Meskipun ucapannya tadi mengandung niat untuk menguji, ia sebenarnya juga meminta maaf dengan tulus. Ia sama sekali tidak menyangka Li Lingfeng akan bersikap begitu tegas. Walaupun saat ini Kaisar Iblis Wei Ziye telah menerobos ke alam Dewa Iblis dan menjadi orang terkuat di Qingqiu, pengaruh kekuatan dari kedelapan Raja Iblis tidak boleh diremehkan. Li Lingfeng berani menggunakan statusnya untuk menekan dirinya secara terang-terangan pada saat seperti ini, membuatnya merasa sedikit panik untuk sejenak.
"Jangan-jangan dia benar-benar memiliki kartu truf?" batin Jin Shengtan menebak-nebak.
Melihat Jin Shengtan tertegun, Li Lingfeng tahu bahwa pria itu sedang menimbang untung rugi di dalam hatinya. Selama bertahun-tahun mengikuti Wei Ziye, ia juga telah mempelajari beberapa trik intrik dan sangat memahami prinsip memanfaatkan situasi selagi panas. Oleh karena itu, ia tidak memberi kesempatan kepada Jin Shengtan untuk berpikir, melainkan langsung mendengus dingin. "Kakak Senior, jika kau tidak tahu, biarkan aku yang memberitahumu. Kejahatan yang dilakukan oleh kedua orang ini adalah makar melawan atasan, dan kejahatan seperti itu layak dihukum mati!"
Begitu Li Lingfeng melontarkan kalimat tersebut, kedua orang tadi langsung terkejut dan buru-buru menoleh kepada Jin Shengtan. Mereka melihat Jin Shengtan mengerutkan kening dengan ekspresi serba salah di wajahnya, yang seketika menumbuhkan firasat buruk di hati mereka. Si pria bermulut lancip menjadi panik, lalu berubah menjadi kemarahan karena malu. Ia menunjuk ke arah Li Lingfeng dan memaki, "Kau, bajingan yang mengandalkan kekuasaan orang lain, apakah kau percaya..."
"Plak!"
Belum sempat orang itu menyelesaikan kata-katanya, sebuah suara tamparan yang nyaring terdengar. Semburat darah segar mengalir dari sudut bibirnya, sementara separuh wajah sebelah kirinya membengkak tinggi, menyisakan lima bekas cetakan jari yang tampak sangat mengerikan.
Orang itu sempat merasa pandangannya berkunang-kunang sesaat dan tidak melihat dengan jelas siapa yang memukulnya. Ia mengira Li Lingfeng yang telah bertindak, sehingga ia kembali memaki dengan kalap, "Kau, si murahan..."
"Kurang ajar!"
Sayangnya, sebelum kata-katanya rampung, Jin Shengtan membentak keras, lalu membalikkan tangan dan menampar pipi sebelah kanannya yang lain. Seketika itu juga, kedua sisi wajahnya membengkak secara simetris. Penampilannya yang tadinya bermulut lancip beberapa detik lalu kini seketika berubah menjadi bulat tembem, tampak agak menggelikan.
Jin Shengtan kembali membentak dengan suara menggelegar, "Ikat kedua orang ini! Masing-masing beri hukuman tampar mulut sebanyak lima puluh kali! Setelah kita keluar dari Gua Qingqiu, seret mereka ke Aula Dewa Suci untuk mendengarkan keputusan Yang Mulia Kaisar Suci!"
Mendengar titah Jin Shengtan itu, kedua orang tersebut langsung ketakutan setengah mati. Iblis kecil berwajah mesum itu tampaknya memiliki sedikit kepekaan membaca situasi; ia langsung berlutut di atas kedua lututnya dan memohon kepada Li Lingfeng, "Tuan Muda, mohon ampuni kami. Hamba dibutakan oleh keserakahan sesaat sehingga berani menyinggung kemuliaan Tuan Muda. Mohon Tuan Muda bermurah hati dan melepaskan hamba kali ini."