Bab Seratus Empat Puluh Delapan: Cahaya Keemasan Giok Ungu Muncul Kembali
Jin Shengtan saat ini sedang menderita luka parah, dan basa-basinya itu hanya bertujuan untuk mengorek informasi dari mulut Fuyi. Sayangnya, setiap kata yang diucapkan Fuyi sangat rapat tanpa celah, sekadar omong kosong yang tidak berdampak apa-apa, tanpa menyisakan secercah pun informasi substantif. Menyadari bahwa melanjutkan percintaan ini tidak akan membuahkan hasil, dia lantas tersenyum kepada Li Lingfeng dan berkata, "Terima kasih atas perhatian Sang Penerus, kalau begitu Kakak mohon diri."
Sambil berkata demikian, dia pun membawa dua orang rekan seperguruannya melangkah menuju gua tersebut.
Begitu mereka berlalu, Li Mu langsung mencibir, "Benar-benar menjijikkan, sampai-sampai merinding bulu kudukku."
Chen Lu turut menimpali, "Betul, kata-kata seperti itu jika keluar dari mulutnya memang terasa sangat menggelikan."
Fuyi tersenyum tipis dan berkata, "Mau bagaimana lagi, namanya juga saling membalas budi, kalau tidak nanti dikira aku tidak berpendidikan."
Li Mu tertawa terbahak-bahak. "Seolah-olah kau ini orang yang paling berpendidikan saja."
Mendengar itu, Chen Lu tersenyum kecil seraya berkata, "Seolah-olah kau ini orang yang paling berpendidikan saja."
Mendengar perkataan Chen Lu, Fuyi seketika terdiam seribu bahasa. Namun, ketika melihat Zhuque tertawa cekikikan, dia langsung menegur dengan geram, "Hei, apa ada hal yang separah itu untuk ditertawakan?"
Zhuque segera bersembunyi di balik punggung Chen Lu sambil menjulurkan lidahnya ke arah Fuyi, lalu tertawa semakin kencang, benar-benar bertingkah seperti seorang anak kecil.
Ulah itu membuat Fuyi sangat jengkel hingga seolah-olah asap mengepul dari kepalanya. Dia bersiap hendak memukul Zhuque, tetapi Chen Lu lekas mencegatnya sambil tersenyum manis, "Bukankah kau berpendidikan? Kalau begitu, bantu saja dia mencarikan sebuah nama."
Fuyi sontak tertegun, lalu balas bertanya, "Bukankah nama Zhuque sudah bagus? Menurutku itu cukup bagus..."
Chen Lu tersenyum kecil. "Bagus sih bagus, hanya saja kurang terasa begitu akrab."
Tanpa diduga, Zhuque malah bergumam pelan, "Tidak perlu, aku sudah punya nama..."
"Kau punya nama?" Chen Lu terkejut karena Zhuque tidak pernah menyinggung hal itu sebelumnya, lalu bertanya, "Kalau begitu, siapa namamu?"
"Eh..." Zhuque mengerjap-nerjap matanya yang besar bagaikan batu permata hitam, lalu merenung.
Melihat ekspresi Zhuque, semua orang menunjukkan wajah penuh curiga. Mengapa memikirkan nama sendiri saja harus memakan waktu begitu lama?
Tepat saat Fuyi hendak mendesak, terdengar suara Zhuque yang bagaikan berbicara pada diri sendiri, berbisik lirih, "Siapa namaku tadi ya? Eh... Feng... Feng... Benar, namaku Fengyao."
Lalu dia berkata dengan suara lantang kepada semua orang, "Betul sekali, namaku Fengyao."
Meskipun nama itu terdengar bagus, tetapi jika untuk mengingat sebuah nama saja perlu berpikir begitu lama, Fuyi mau tidak mau meragukan keaslian nama tersebut. Dia lantas bertanya, "Nama ini bukan kau buat-buat sendiri, kan?"
Zhuque mengerutkan keningnya, menatap tajam kepada Fuyi, dan berkata, "Namaku memang Fengyao. Aku ingat saat berada dalam kondisi setengah sadar, seorang Kakak perempuan memberitahuku."
"Oh?" Fuyi mulanya tertegun, tetapi kemudian seketika sadar bahwa Zhuque sama sekali tidak berbohong. Kakak perempuan yang ia maksud adalah wanita yang pernah menghukumnya beberapa kali sekaligus menyelamatkan nyawanya beberapa kali.
Mereka berdua ternyata pernah berkomunikasi?
Memikirkan hal ini, Fuyi buru-buru bertanya, "Di mana Kakak perempuan yang kau maksud itu sekarang?"
"Eh..." Zhuque kembali merenung cukup lama sebelum menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak ingat. Setelah mengatakan sederet hal aneh kepadaku, dia pergi begitu saja..."
"Oh..." Meskipun dipastikan bahwa wanita itu adalah jiwa lain di dalam tubuh Zhuque, tampaknya wanita itu sendiri pun tidak menyadarinya.
"Tolong..."
Tepat pada saat itu, suara rintihan meminta tolong dari wanita malang tersebut kembali terngiang di benak Fuyi. Dia lantas menoleh ke sekeliling, tetapi mendapati bahwa selain Li Mu yang sedang melihat-lihat ke kiri dan ke kanan seperti dirinya, orang-orang lain sama sekali tidak mendengar suara tersebut.
"Kalian mendengar suara itu lagi?" Li Lingfeng bertanya setelah melihat ekspresi kedua orang itu tampak sedikit aneh.
Li Mu mengangguk. "Suara itu selalu terdengar setiap beberapa menit sekali. Namun, karena sudah bersiap-siap, tidak ada masalah besar. Hanya saja, suara kali ini rasanya terdengar lebih dekat."
Chen Lu merasa agak bingung dan berkata, "Tampaknya suara ini memang penuh kejanggalan. Entah mengapa hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya, apakah mereka berdua memiliki kesamaan tertentu?"
"Sama-sama laki-laki." Meskipun Zhuque mengenakan rupa yang sangat jelita dan memiliki bentuk tubuh gadis remaja kelas atas, jiwa di dalam tubuhnya bagaikan anak berumur enam atau tujuh tahun. Dia sama sekali tidak terbebani oleh hal tersebut, malah tertawa kecil dan berkata setengah bercanda.
Chen Lu menggelengkan kepala. "Kakak Li juga laki-laki."
Zhuque tertawa. "Bagaimana kalau dia sebenarnya menyamar menjadi laki-laki seperti Yu Si?"
"Eh..."
Mendengar Fuyi bergeming dengan suara "eh", Li Lingfeng langsung berseru dengan geram, "Bisakah kalian berhenti membuat keonaran!"
Melihat Li Lingfeng marah, orang-orang seketika meredakan tawa dan memasang ekspresi serius, kendati sorot mata mereka sama sekali tidak menunjukkan kesungguhan.
Melihat kelompok ini, Li Lingfeng merasa pusing. Sebelum Zhuque dan Li Mu mengambil wujud manusia, kelompok mereka tergolong normal. Meskipun terkadang mereka juga berseloroh, secara keseluruhan mereka masih cukup wajar. Semenjak kedua orang itu mengambil wujud manusia, terutama sepulangnya dari alam penyiksaan, Zhuque seolah-olah menjadi orang yang berbeda, bersikap seperti anak kecil yang liar sepanjang hari.
Adapun Li Mu, tampaknya karena tidak berbicara selama sepuluh tahun, dia ingin melampiaskannya sekaligus, mengucapkan apa saja yang terlintas di kepalanya tanpa memedulikan situasi.
"Mari kita pergi melihatnya..." Fuyi berkata sambil tersenyum.
Sambil berbicara, dia mengambil Pedang Ilahi Zhuque dari cincin spasialnya dan menggenggamnya di tangan. Tepat saat hendak melangkah, lengannya tiba-tiba ditarik oleh Li Mu. Tampak mata Li Mu berbinar-binar, menatap lekat-lekat pada pedang di tangan Fuyi. Rupanya, karena sebelumnya tidak sempat, sekarang akhirnya dia mendapat kesempatan. Li Mu berkata sambil tersenyum, "Bolehkah aku melihatnya sebentar?"
Fuyi tersenyum tipis. "Baiklah, pegang yang KUAT!"
Fuyi menekankan pengucapan ketiga kata tersebut dengan sangat berat, tetapi Li Mu tidak menyadari maksudnya. Dia menerima Pedang Ilahi Zhuque dengan satu tangan dari Fuyi. Siapa sangka, pedang kayu yang panjangnya tiga kaki tiga inci itu memiliki berat yang luar biasa besar, jangankan tidak dipegang dengan kuat, bahkan jika dipegang dengan kuat pun dia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk mengangkatnya.
"Aduh!" Diiringi jeritan kaget Zhuque, Pedang Ilahi Zhuque terlepas dari tangan Li Mu. Untung saja Fuyi sudah bersiap sejak awal. Sekelebat bayangan melintas, dan pedang kayu wisteria itu kembali berada di genggamannya, sehingga Li Mu terhindar dari nasib tragis tertusuk ujung pedang di bagian kakinya.
Dahi Li Mu seketika dibanjiri keringat dingin. Dia berkata kepada Fuyi, "Benda apa ini, mengapa begitu berat?"
Fuyi tersenyum. "Benda bagus."
Sambil berkata demikian, dia tidak lagi memedulikan Li Mu, melainkan berjalan sendiri secara berhati-hati menuju arah asal suara meminta tolong tersebut.
Butuh waktu cukup lama bagi Li Mu untuk memulihkan diri. Dia buru-buru menyusul dan bertanya kepada Chen Lu, "Nona Chen Lu, terbuat dari apa benda itu, mengapa begitu berat?"
Chen Lu tersenyum kecil. "Kayu."
"Kayu apa?" Li Mu mendesak bertanya.
Chen Lu tersenyum. "Kayu tanpa nama."
"Oh..." Namun, pada saat itu juga dia tiba-tiba teringat bahwa sebelum bertemu dengan kera iblis tadi, pedang ini selalu dipegang oleh Zhuque. Dengan kata lain, makhluk yang berwajah gadis kecil menggemaskan bertubuh seksi, tetapi sebenarnya berjiwa anak kecil yang kekanak-kanakan itu, memiliki tenaga yang jauh lebih besar daripadanya.
Memikirkan hal ini, tatapannya kepada Zhuque dipenuhi rasa terkejut, lalu dia kembali bertanya, "Kenapa dia bisa mengangkatnya?"
"Hehehe, iri ya!" Zhuque mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi, persis seperti penampilannya saat masih berwujud burung.
Fuyi menoleh ke belakang dan melihat rupa Zhuque, membuatnya teringat kembali pada wujud makhluk kecil itu saat baru lahir. Dia tersenyum dan berkata, "Fengyao, penampilanmu saat itu sangat jelek."
"Kau!" Zhuque langsung murka begitu mendengarnya, lalu menyemburkan semburan api ke arah Fuyi.
Fuyi terkejut bukan kepalang, tubuhnya buru-buru mengelak untuk menghindar. Siapa sangka, seketika itu juga terdengar sebuah jeritan pilu. Saat menoleh ke sumber suara, tampak seekor roh penasaran tanpa sengaja terbakar oleh api Zhuque, dan hanya dalam sekejap mata, roh itu musnah tak berbekas, menyisakan jeritan tersebut.
Tepat pada detik itu pula, tiga sosok roh penasaran tiba-tiba melesat dari depan dan menerkam ke arah Fuyi serta kawan-kawan.
Fuyi langsung terkejut. Pedang Ilahi Zhuque di tangannya seketika memancarkan nyala api merah setinggi tiga kaki. Ilmu Pedang Tiangang digerakkan, dan tiga kilatan cahaya merah menyambar berturut-turut, menebas hancur ketiga roh penasaran tersebut.
"Roh penasaran?" Li Mu berseru kaget.
Suara Li Mu bahkan belum surut ketika empat bayangan hitam lainnya muncul, diiringi embusan angin suram serta lolongan tajam, menerkam ke arah rombongan.
Ilmu Pedang Tiangang kembali dikerahkan. Kilatan cahaya merah melintas sekali lagi, dan keempat roh penasaran itu pun ditebas oleh Fuyi.
"Kenapa rasanya tidak ada habisnya." Melihat belasan roh penasaran lainnya bermunculan setelah yang sebelumnya ditebas, Li Mu berseru ngeri.
"Sekalipun tidak ada habisnya, harus dihabiskan!" seru Fuyi lantang. Dia langsung mengeluarkan Cermin Penutup Surga dari cincin spasialnya dan menekan tombol Zhuque. Sepotong cahaya merah terpancar, dan belasan roh penasaran itu seketika dimurnikan oleh sumber api.
"Bagaimana kalau kita pergi bersembunyi di dalam gua itu dulu?" Yu Si merasa ketakutan dan mengusulkan gagasan tersebut.
Namun, Li Lingfeng menggelengkan kepala. "Sebelum keluar dari Gua Qingqiu ini, kelompok Jin Shengtan adalah musuh, bukan kawan. Saat ini kita hanya punya dua pilihan, maju dan bertempur, atau mundur ke belakang."
Tepat pada saat itu, Fuyi tiba-tiba melihat giok ungu di dada Chen Lu memancarkan cahaya keemasan yang berkedip-kedip, membuatnya tertegun. Keadaan seperti itu terakhir kali terjadi di Gunung Baiyun, di mana berkat bimbingan giok ungu tersebut mereka berhasil menemukan Gerbang Selatan Surgawi. Keraguan pun melanda hatinya!
Mungkinkah bagian depan sana sama seperti Gerbang Selatan Surgawi, yaitu menyimpan serpihan Istana Surgawi yang hancur?
Memikirkan hal ini, Fuyi telah mengambil keputusan untuk maju dan menyelidiki situasi yang sebenarnya. Kendati demikian, dia tidak menceritakan hal tersebut, melainkan hanya tersenyum dingin dan berkata, "Tentu saja maju dan bertempur. Aku ingin melihat apakah makhluk-makhluk yang tidak takut mati ini benar-benar bisa dibasmi sampai habis."
Sambil berbicara, dia memegang Pedang Ilahi Zhuque di satu tangan dan Cermin Penutup Surga di tangan lainnya, lalu melanjutkan langkah ke depan. Setiap kali melangkah maju, semakin banyak pula roh penasaran yang bermunculan.
Saudara-saudara dari keluarga Li masing-masing menggenggam tombak dan pedang panjang, mengikuti di belakang Fuyi. Sementara itu, Zhuque dan Chen Lu mengapit Yu Si di tengah dan berjalan di paling belakang.
Ketika rombongan telah berjalan sejauh seratus tombak, jumlah roh penasaran yang telah ditebas telah mencapai jutaan jiwa. Fuyi mulai merasa sedikit lelah, tetapi di sepanjang perjalanan dia sesekali menoleh untuk memperhatikan giok ungu milik Chen Lu. Frekuensi cahaya keemasan itu memang semakin cepat, membuat hatinya semakin yakin bahwa pasti ada sesuatu di depan sana yang beresonansi dari jarak jauh dengan giok ungu tersebut. Dia pun mempercepat langkahnya.
Tiba-tiba, pandangan rombongan menjadi gelap gulita. Dunia yang terang benderang itu berubah menjadi malam pekat yang membuat jemari tangan sendiri pun tidak kelihatan. Embusan angin dingin menerpa wajah silih berganti, dan tangisan hantu yang menyeramkan terdengar bersahut-sahutan, membuat Yu Si gemetar ketakutan. Untung saja Chen Lu dan Zhuque memapahnya, kalau tidak dia pasti sudah jatuh lemas ke tanah.
Li Lingfeng tertegun sejenak dan berkata kepada Fuyi, "Bagaimana kalau kita kembali saja?"