Bab 54: Kolam Naga Beracun (Bagian 2)
Andai saja mental Yuan Baizhi tidak cukup kuat, mungkin dia sudah muntah. Bahkan wajah Tetua Besar Lin pun terlihat sangat tidak enak. Jika bukan karena ekspresi Feilong yang tetap datar tanpa perubahan sedikit pun, Yuan Baizhi pasti sudah mengira inilah cara Suku Hutan Lebat memberi peringatan pada Keluarga Lin mereka.
"Itu adalah harga yang harus mereka bayar karena melanggar kehendak Dewa Sejati. Sebelum upacara persembahan langit, setiap hari mereka harus menahan sengatan dari lima racun," ujar Feilong dengan tenang.
Melihat nasib ketiga orang itu, Yuan Baizhi tidak lagi berharap bisa mendapatkan informasi yang diinginkannya dari mulut mereka. Namun, ia tetap mencatat perlakuan Suku Hutan Lebat ini dalam hati. Membunuh saja cukup dengan satu tebasan, siapa sangka orang-orang suku ini yang tampak sederhana ternyata berhati kejam. Ia bertekad, kelak tidak akan pernah berurusan lagi dengan mereka.
"Tetua Besar, mari kita pergi. Melihat keadaan mereka, kita pun tak bisa bertanya apa-apa lagi."
Feilong memang hanya bertugas mengantar mereka. Soal apakah mereka mendapat jawaban atau tidak, itu bukan urusannya. Begitu mereka ingin pergi, Feilong juga tak banyak bertanya, langsung saja membawa mereka keluar dari penjara bawah tanah.
Begitu keluar, Yuan Baizhi tidak melihat keberadaan Lu Manman dan rombongannya, hatinya jadi tegang. Namun ia tidak gegabah menanyakan keberadaan mereka, karena ia belum mengetahui latar belakang Lu Manman dan khawatir jika bertindak ceroboh malah akan merugikan mereka.
Kepala suku kemudian menyiapkan tempat tinggal untuk Yuan Baizhi dan yang lain, memaksa mereka untuk menunggu hingga menyaksikan sendiri bawahannya dipersembahkan dalam upacara baru boleh pergi. Melihat keadaan bawahannya, untuk pertama kalinya Yuan Baizhi merasakan kemarahan yang begitu besar. Jika bukan karena Suku Hutan Lebat memiliki perlindungan alam dan ilmu rahasia mereka, mungkin suku ini sudah punah sejak lama.
Keluarga Lin merupakan kekuatan rahasia paling penting milik Keluarga Yuan, tidak boleh sampai jatuh. Jika tidak, Yuan Baizhi tak akan sudi menahan diri seperti ini.
Pelayan kepala suku mengantar Yuan Baizhi ke kamar tamu, saat itu juga Yuan Baizhi menahan amarah hingga memecahkan sebuah cangkir.
"Tuan Muda, kalau bisa jangan bermusuhan dengan Suku Hutan Lebat. Hamba tahu Anda sangat marah, tapi ini semua salah mereka sendiri yang terlalu jumawa. Aturan pertama di benteng adalah rendah hati, tapi mereka jadi lupa diri karena kekuasaan yang mereka pegang selama ini, hingga akhirnya berujung petaka. Mereka memang pantas mendapatkan pelajaran," ujar Tetua Besar Lin, salah satu dari sedikit orang yang tahu rahasia sebenarnya Keluarga Lin. Ia khawatir Yuan Baizhi tidak bisa menahan amarah dan malah akan memicu konflik baru.
"Aku mengerti, Tetua Besar tidak perlu bicara lagi. Aku tahu mana yang lebih penting. Coba cari tahu keberadaan Nona Lu dan rombongannya, tapi ingat, jangan sampai ada yang tahu apapun tentang mereka."
"Baik, Tuan Muda."
Kediaman Meizhen adalah tempat paling penting kedua setelah rumah kepala suku. Pelayan biasa tidak bisa sembarangan masuk. Biasanya hanya Meizhen sendiri yang ada di sana, namun kali ini ia menyesal karena tidak meminta pelayan menemaninya. Ia marah lalu pergi keluar, tak ada yang menjaga beberapa orang tamu itu.
Sebagai pewaris ahli upacara, Meizhen menguasai ilmu rahasia dan merupakan sosok paling istimewa di Suku Hutan Lebat. Ia juga perempuan tercantik dan terkuat di suku itu. Semua laki-laki di suku bisa ia pilih sesuai keinginannya. Jika tidak pernah bertemu dengan Tianjizi sebelumnya, mungkin Meizhen sudah memilih laki-laki terbaik dari suku, menikah dan melahirkan penerus ahli upacara, lalu mendidik dan mewariskan ilmu rahasia itu.
Tapi Meizhen justru bertemu Tianjizi, seorang pria yang mampu bertahan hidup begitu lama dikelilingi kawanan ular di Lembah Tebing Misteri, jelas kemampuan pria itu tak perlu diragukan lagi. Sikap Tianjizi yang dingin dan menahan diri itu sangat memikat hati Meizhen.
Meski kini marah karena pria yang ia sukai tiba-tiba muncul seorang istri, Meizhen tidak berniat menyerah begitu saja. Setelah pernah merasakan jatuh cinta, mana mungkin ia mau berkompromi lagi.
Elang Hitam melihat Lu Manman tertidur di atas meja, wajahnya memancarkan rasa iba. Lu Manman baru berusia tiga belas tahun, tapi demi Hei San Ye, ia rela melakukan apa saja. Inilah sebabnya orang-orang di Gunung Tieji sangat menyayangi Lu Manman.
Selama ini, Tianjizi juga dalam kondisi waspada dan kelelahan. Dengan kehadiran Lu Manman dan Elang Hitam, ia bisa sedikit mengendurkan syarafnya. Ditambah lagi dengan obat racikan Lu Manman yang manjur, ia pun perlahan tertidur.
Jika ingin menahan Tianjizi agar tetap di suku, Meizhen harus berunding dengan kepala suku dan para tetua. Dulu semua orang mendukungnya karena merasa Tianjizi beruntung terpilih oleh Meizhen, mereka tidak menyangka Tianjizi akan menolak. Kini Tianjizi sudah punya istri dan anak, jelas ia tidak ingin menikah dengan Meizhen, bahkan ingin pergi bersama istrinya. Dalam situasi ini, kepala suku dan para tetua belum tentu setuju kalau Meizhen ingin memaksa Tianjizi tetap tinggal.
Meizhen segera pergi ke balai musyawarah Suku Hutan Lebat dan meminta orang untuk memanggil para tetua dan kepala suku.
Tak lama kemudian mereka semua tiba. Kepala suku tersenyum ramah pada Meizhen, "Meizhen, begitu mendadak memanggil kami, apa ada kabar bahagia?"
Ia mengira pria yang diselamatkan Meizhen sudah bertemu keluarganya dan akan menikah dengan Meizhen, makanya kepala suku tampak begitu ramah. Meizhen memang ia besarkan sendiri, sudah seperti cucunya sendiri.
Namun, tak disangka, Meizhen malah meneteskan air mata dan langsung berlutut, memberi hormat besar sesuai adat suku. Dengan nada sedih ia berkata, "Kepala Suku, aku ingin menahan Liancheng tetap di sini, mohon Kepala Suku dan para Tetua merestui."
Tetua Ketiga, yang paling menyayangi Meizhen setelah kepala suku, buru-buru bertanya, "Apa yang terjadi? Jangan khawatir, selama ada kami, tidak ada yang bisa menolakmu. Feilong pun tidak bisa menentang."
"Benar," sahut para tetua serempak.
Sebelum Tianjizi muncul, Feilong diam-diam sudah dianggap calon suami ahli upacara. Feilong sendiri pun merasa akan menikahi gadis tercantik di suku. Namun kini semua berubah. Kepala suku dan para tetua mengira Meizhen khawatir ditentang, tapi bagi mereka, Meizhen tetap lebih penting daripada Feilong.
"Bukan soal Feilong, ini tentang dua tamu yang datang hari ini, istri dan paman Liancheng," ujar Meizhen hati-hati menceritakan masalahnya.
"Apa? Anak itu ternyata sudah menikah? Gadis kecil tadi itu istrinya? Berani sekali menipu ahli upacara kita, menipu sampai urusan pernikahan! Cari anak itu, seret dia ke upacara persembahan langit," Tetua Ketiga langsung naik pitam sebelum kepala suku sempat bicara.
Itulah yang paling Meizhen takutkan, para tetua ingin menghukum Tianjizi. Ia pun buru-buru memohon, "Tetua Ketiga, bukan salah dia. Dia masih belum sadar selama ini karena racun, dia tidak sengaja menipuku."
Kepala suku menahan Tetua Ketiga, "Sudah, Dengarkan dulu penjelasan Meizhen. Jika memang anak itu hanya ingin memanfaatkan kedudukan Meizhen, dihukum seberat-beratnya pun pantas." Lalu kepala suku menoleh ke Meizhen, "Kau ingin menahan anak itu, lalu apa yang akan kau lakukan terhadap istrinya?"
Meizhen menenangkan diri, "Aku ingin memberi harta yang cukup pada gadis itu, asal ia mau meninggalkan Liancheng."
Kepala suku mengernyit, "Tapi kita semua sudah lihat sendiri, meski terlihat lembut, gadis itu begitu keras kepala, menembus Lembah Tebing Misteri yang begitu berbahaya demi mencari pemuda itu. Aku rasa ia tidak akan mudah menyerah."
Meizhen jadi bungkam. Kepala suku dan para tetua sangat menyayanginya, demi Meizhen mereka sudah membuat pengecualian terbesar dengan menerima Tianjizi sebagai anggota suku. Mereka tidak mungkin menerima perempuan lain untuk berbagi suami dengannya, itu adalah pantangan utama bagi ahli upacara. Jika Tianjizi berani melanggar, pasti akan dihukum mati. Suku Hutan Lebat tak pernah memberi ampun pada pelanggar aturan, bahkan Meizhen sendiri pun tak berani sembarangan melanggar.
"Panggil orang ke Gedung Ahli Upacara, bawa anak itu ke sini, dan sekalian dua tamu hari ini," perintah kepala suku. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun meremehkan ahli upacara mereka, jadi ia ingin menangani langsung.
Lu Manman yang sedang tertidur lelap segera dibangunkan Elang Hitam, "Yun'er, kepala suku memanggil kita."
Tianjizi juga dibangunkan dengan kasar. Elang Hitam segera maju membantu Tianjizi berdiri. Walau bahasa mereka berbeda, bahasa tubuh sudah cukup menjelaskan maksudnya.
Lu Manman dan Tianjizi saling menatap, mereka menyadari akan menghadapi ujian berat. Untung saja mereka sudah menyusun alibi bersama.
Tak lama kemudian mereka bertiga dibawa ke serambi kecil di depan balai musyawarah. Karena mereka bukan anggota suku, mereka tidak boleh masuk ke balai. Akhirnya, mereka berdiri di serambi.
Tetua Ketiga lebih dulu bertanya pada Tianjizi, "Kau sudah punya istri, kenapa menipu Meizhen dan bilang ingin menikah dengannya? Sekarang seluruh suku sudah tahu, tapi tiba-tiba muncul istrimu. Anak muda, berani main-main dengan Suku Hutan Lebat, hanya ada satu pilihan: mati."
Lu Manman sudah berdiri manja di samping Tianjizi, tangan Tianjizi pun hati-hati merangkulnya. Mereka tampak seperti pasangan pengantin baru yang saling mencintai.
Perilaku itu jelas membuat Meizhen dan beberapa tetua yang belum tahu duduk perkara semakin marah.
"Kurang ajar! Di depan para tetua, kau masih berani bersikap seperti ini. Kau menganggap Meizhen itu apa!"
"Meizhen, orang seperti ini tidak pantas kau cintai, seret saja ke upacara persembahan langit, biar menyesal lahir ke dunia ini!"
Kepala suku juga menatap marah pada Tianjizi dan Lu Manman, "Berani menipu anggota suku kami, kau hanya pantas mati!"
Tianjizi tersenyum tipis, "Kapan para senior mendengar dari mulutku sendiri kalau aku mau menikah dengan Nona Meizhen? Meizhen memang penyelamatku, tapi bukan berarti aku harus menikah dengannya. Lagipula aku sudah punya istri dan anak. Kebaikan Nona Meizhen, aku sangat berterima kasih dan akan membalas sekuat tenaga."
"Maksudmu, dari awal sampai akhir, kau tidak pernah berniat menikah dengan Meizhen? Semua itu hanya keinginan Meizhen sendiri?" tanya Tetua Ketiga dengan nada tajam, seolah kalau Tianjizi mengiyakan, ia akan langsung menghabisinya di tempat.
Tianjizi menjawab singkat, "Benar."
Para tetua di balai musyawarah jadi bungkam, Meizhen pun hampir pingsan karena marah. Padahal tadi ia masih berniat membela Tianjizi agar tidak dihukum.
Lu Manman bahkan belum sempat melihat kepala suku bergerak, tahu-tahu tangan kepala suku sudah menggenggam pergelangan tangannya. Elang Hitam langsung mencabut pisaunya, Tianjizi pun hendak menarik Lu Manman, namun kepala suku membentak, "Biar aku periksa apakah kau benar-benar hamil."
Beberapa saat kemudian, kepala suku melepaskan tangan Lu Manman, "Ternyata benar, sudah lebih dari sebulan."
Wajah Meizhen seketika pucat pasi. Mendengar kabar saja sudah berat, apalagi membuktikannya sendiri.
"Berani-beraninya menerobos wilayah Suku Hutan Lebat dan Gedung Ahli Upacara, kalian melanggar aturan kami dan harus dihukum. Namun, jika kau bersedia menjadi anggota suku, hukuman itu bisa ditiadakan. Anak muda, sekarang kau punya dua pilihan: pertama, antar kedua tamu itu pergi dan anggap saja mereka tidak pernah datang, lalu lanjutkan pernikahanmu dengan Meizhen. Kedua, terima hukuman. Kalau kalian selamat, kalian boleh pergi."
Bukan hanya Tianjizi, bahkan Elang Hitam pun merasa Suku Hutan Lebat terlalu keterlaluan, ingin memaksa Tianjizi tetap tinggal. Hanya Lu Manman yang tetap tenang tanpa perubahan ekspresi.
"Kepala suku benar, ini wilayah kalian, tentu harus mengikuti aturan kalian. Apa hukuman yang harus kami jalani?" Lu Manman sudah tahu mereka tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja.
"Menurut adat, siapa pun yang menerobos wilayah Suku Hutan Lebat harus melewati Kolam Naga Beracun, jika berhasil, boleh pergi," jawab kepala suku santai. Padahal, bahkan anggota suku sendiri pun tidak berani sembarangan ke sana.
"Baik, aku akan mewakili suamiku."
"Tidak boleh," Tianjizi dan Elang Hitam berkata bersamaan.
Lu Manman menatap Tianjizi dengan penuh cinta, "Suamiku, tubuhmu belum pulih, mana mungkin membiarkanmu pergi," lalu ia berbisik di telinga Tianjizi, "Kali ini kau benar-benar berutang budi padaku."
Elang Hitam cemas menatap Lu Manman. Mungkin Hei San Ye lebih rela mati, Gunung Tieji lebih baik kehilangan nama baiknya daripada melihat Lu Manman dalam bahaya.
"Tak apa," balas Lu Manman sambil diam-diam menyentuh kantong ajaibnya.
Barulah Tianjizi dan Elang Hitam teringat, Lu Manman punya perisai super dari meteorit. Tianjizi yang tadi terharu karena pengorbanan Lu Manman, kini malah merasa seperti dicekik, sesak di dada.
Akhirnya mereka pun membiarkan Lu Manman menghadapi Kolam Naga Beracun.
Melihat Tianjizi lebih rela membiarkan istrinya yang sedang hamil menempuh bahaya daripada menikah dengannya, Meizhen pun tak sanggup lagi menahan perasaan. Ia kecewa pada Tianjizi yang dianggapnya lemah, lalu lari sambil menangis.
"Kepala suku, aku bersedia mewakili suamiku menghadapi Kolam Naga Beracun. Mohon tunjukkan jalannya."
"Kau yakin? Kau baru hamil sebulan lebih. Kau rela mengorbankan anakmu demi tidak meninggalkan suamimu? Jika kau mau pergi, suku kami akan memberimu ganti rugi."
"Tidak perlu, tolong antar saja."
Begitu mereka tiba di Kolam Naga Beracun, Lu Manman hampir saja kencing di celana. Mana mungkin itu disebut kolam naga, jelas-jelas itu sarang ular berbisa yang baunya luar biasa busuk. Belum lagi digigit ular, baunya saja sudah cukup untuk membunuh.