Bab 23: Menjelang Wabah Penyakit

Jalan kehidupan terbentang panjang dan penuh tantangan. SatuBayar 2150kata 2026-02-07 21:10:11

Xiuyuan dengan hati-hati melirik Lu Manman. “Nona Lu, apakah ada yang tidak beres dengan An’er?”

Lu Manman melihat ekspresi ketakutan mereka semua, lalu melepaskan tangan si bocah kecil, mengambil sebuah botol hitam kecil dari tasnya, menuangkan satu pil sebesar kacang hijau, dan menyerahkannya pada Xiuyuan. “Larutkan obat ini dengan air, setiap orang dari kalian minum satu teguk. Setelah itu, baru akan kujelaskan.”

Tanpa keraguan sedikit pun, mereka semua menuruti perintah, patuh meneguk air itu, bahkan si bocah kecil yang masih linglung pun ikut minum. Setelah itu, Lu Manman bertanya pada Xiuyuan, “Selain Yunyang, kalian pernah pergi ke mana lagi? Lima hari lalu, kalian ada di mana?”

Selama ini Lu Manman selalu bersikap lembut di depan mereka, tapi kini melihat sikapnya yang serius, mereka semua jadi ketakutan.

“Lima hari lalu, kami menginap di sebuah desa di luar Kota Yunyang. Saat itu sudah terlalu malam, kami khawatir tak sempat masuk kota, jadi kami menumpang di rumah seorang tua. Setelah itu, kami masuk ke Kota Yunyang, bekerja beberapa hari, dan hari ini baru sampai di sini.”

“Kalian semua selalu bersama sejak awal?”

“Iya, kami semua berangkat bersama dari Jingyang satu bulan lalu. Kami para calon sarjana dari Jingyang, hanya saja asalnya berbeda desa,” jawab yang lain.

Mendengar penjelasan mereka, wajah Lu Manman makin suram, tapi ia tak berkata apa pun lagi. Ia hanya memasukkan tangannya ke mulut lalu meniupkan peluit pendek yang tajam. Tak lama, seekor burung aneh terbang masuk. Lu Manman langsung meraih tangan Xiuyuan dan melukainya, lalu menyobek sehelai kain, menuliskan sesuatu dengan darah, dan mengikatkannya pada kaki burung. Burung itu pun segera terbang pergi. Xiuyuan agak kesal, jelas-jelas mereka punya tinta, tapi Lu Manman malah memakai darah. Namun melihat ekspresi Lu Manman, Xiuyuan menahan diri untuk tidak bertanya.

Setelah itu, Lu Manman menatap mereka dan berkata, “Kalian harus bersyukur pada hujan ini, sehingga aku bisa bertemu kalian di sini. Kalau tidak, beberapa hari lagi kalian semua akan jadi mayat, dan anak kecil ini besok pun sudah tiada.”

Ucapan Lu Manman membuat mereka semua terkejut tak percaya. Lu Manman menatap salah satu dari mereka yang tampak paling tenang, lalu melanjutkan, “Kalian cari mati sendiri dengan menumpang di desa itu. Sekarang, mungkin semua penduduk desa sudah mati. Untung saja penyakit ini tidak menular secepat wabah pes, kalau tidak, seluruh Kota Yunyang akan celaka akibat ulah kalian.”

“Anak ini masih kecil, jadi sakitnya cepat muncul. Kalian yang dewasa, paling lama bisa bertahan satu-dua hari lagi. Ini adalah penyakit menular yang bermutasi, berasal dari virus hasil ekstraksi binatang beracun yang mati karena racun. Masa inkubasinya paling lama sepuluh hari, untuk anak kecil paling lama lima hari. Kalau aku terlambat dua hari lagi, kalian takkan bisa kuselamatkan. Tahu tidak, obat yang baru saja kalian minum itu harganya sepuluh ribu emas satu pil, bisa menetralkan sebagian besar racun, tapi kalian masih harus minum obat beberapa hari lagi untuk mengeluarkan sisa racunnya.”

Mendengar angka sepuluh ribu emas, mereka bahkan belum sempat merasa takut, ketika Lu Manman sudah menambahkan, “Ingat kembalikan uangnya nanti, beserta bunganya.”

Sekonyong-konyong, wajah mereka yang semula nyaris menangis haru kini berubah seperti langit runtuh. Mereka bahkan tak sanggup mengeluarkan sepuluh tael perak, apalagi sepuluh ribu emas, itu sama saja seratus ribu tael. Jual diri pun takkan cukup.

Namun mereka semua bukan tipe yang suka berutang. Xiuyuan menggertakkan gigi, “Saya akan menulis surat utang untuk Nona. Kalau seumur hidup saya tak bisa melunasi, biar keturunan saya yang meneruskannya.”

Yang lain pun mengikuti, satu per satu menandatangani surat perjanjian, wajah mereka lesu tak berdaya. Lu Manman menerima surat itu dengan tenang, membereskan semua barang, lalu berkata, “Kalian tak perlu merasa rugi. Walaupun kalian di Yunyang hanya sebentar, dan penduduk sana tak makan makanan yang sama, virus ini tetap menular. Lagipula, penduduk desa itu pasti sudah tiada, mungkin harus membakar seluruh desa. Bayangkan nasib mereka, kalian jauh lebih beruntung, cukup minum satu teguk air obat sudah sembuh. Mereka lebih menderita, meski ketika ditemukan belum sakit, jadi lebih mudah diobati, tapi tetap saja harus direbus dalam tong arak selama tiga hari, dan minum obat setengah tahun baru benar-benar sembuh. Semua penderitaan itu, waktu yang terbuang, bagi kalian yang hendak menempuh ujian negara, pasti tak sanggup menanggungnya.”

Mereka hanya bisa mengangguk diam-diam. Sungguh, mereka beruntung. Kalau terlambat sedikit saja, mati pun tak apa, tapi bisa menulari lebih banyak orang tak bersalah, nama mereka akan tercemar selamanya.

Satu-satunya hal yang membuat Lu Manman sedikit lega adalah, meski mereka agak lamban, tapi tak ada yang sok benar menyuruhnya membagikan obat gratis demi menolong rakyat. Kalau ada yang seperti itu, pasti sudah diracun Lu Manman dari awal.

Sementara itu, Liu Xiner sedang duduk tenang di kamar pengantin. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang hinggap di dekat tangannya. Liu Xiner pelan-pelan mengangkat sedikit kerudungnya, lalu melihat seekor burung yang agak jelek (jelek? Kau sendiri yang jelek! Aku keturunan burung phoenix yang agung!) dengan sehelai kain terikat di kakinya. Liu Xiner membuka kain itu, di atasnya ada tulisan darah: “Ada desa di luar kota terjangkit wabah, harus dibakar dan kubur dengan kapur tohor. Wabah di Yunyang paling lama tiga hari lagi akan meledak. Beritahu Tuan Chen, penawarnya: rendam dalam arak panas tiga hari untuk mengurangi bahaya, lalu cari tabib menggunakan resep penyakit menular, satu ramuan tiap sepuluh hari, minum setengah tahun, akan sembuh total. Ini bisnismu yang pertama, jangan lupa tukarkan ke emas.”

Liu Xiner tahu pesan itu dari Lu Manman. Mungkin saat akan pergi, Lu Manman menemukan hal ini. Tanpa peduli pernikahannya belum selesai, Liu Xiner langsung membuka kerudung, mengambil pena dan menyalin isi pesan darah itu, tentu bagian soal pembagian uang tidak ikut disalin.

Tak lama, Liu Xiner membuka pintu kamar, tanpa menghiraukan tatapan heran para tamu, menggandeng suaminya dan berlari, “Cepat, ada urusan besar, kita cari Tuan Gubernur!”

Suami Liu Xiner, seorang pria yang sangat lembut, melihat istrinya begitu cemas, sama sekali tidak menegur karena melanggar tata krama, malah berkata penuh sayang, “Baik, aku ikut sekarang juga.”

Orang-orang pun melihat seorang pria berbaju pengantin berlari kencang di jalanan kota. Sampai di kantor gubernur, pria itu sudah terengah-engah, “Cepat, aku harus bertemu Tuan Gubernur, ada urusan sangat mendesak!”

Tuan Gubernur, yang tadinya hendak beristirahat, akhirnya menerima suami Liu Xiner di ruang tamu. “Ada urusan apa, sampai kau begitu tergesa ingin bertemu denganku?”

Pria itu langsung menyerahkan surat di tangannya. Begitu membaca, Tuan Chen nyaris jatuh saking kagetnya, lalu berkata dengan suara tajam, “Apa ini benar?”

Pria itu mengangguk berulang kali, “Benar, benar, ini dari istriku, putri sulung keluarga Liu.”

Tuan Chen segera berteriak, “Pengawal! Cepat, jemput Nona Liu ke sini, dan cari sekretaris serta pengawal Lin untukku!”