Bab Lima Puluh: Menyikat Bulu Sapi untuk Zhiqiang
Halaman (1/3)
Zhiqiang belum mati.
Di bawah langit malam, ia kembali dengan tubuh berlumuran darah.
Benar-benar “berlumuran darah” ia berjalan memasuki kandang sapi perah nomor tiga. Darah menetes dari bulu-bulunya ke tanah, sementara pada salah satu kukunya masih menempel bola mata entah milik siapa.
Han Chun bersama sekelompok besar pengurus sapi memandang Zhiqiang dari kejauhan. Di bawah cahaya lampu minyak yang redup dalam kandang, wajah mereka dipenuhi kegembiraan sekaligus ketakutan. Tak seorang pun berani mengucapkan sepatah kata. Zhiqiang saat itu benar-benar membuat gentar.
Sampai akhirnya Su Qi keluar dari belakang Zhiqiang...
“Hai, selamat malam, keluarga!” sapa Su Qi sambil melambaikan tangan.
“Ah, itu Su Qi!”
“Su Qi sudah kembali! Su Qi diselamatkan Zhiqiang dari Balai Penegakan Hukum!”
“Hah? Kenapa Su Qi hanya mengenakan celana dalam panjang? Di mana bajunya?”
Semua orang merasa gembira sekaligus bingung.
Su Qi melirik Zhiqiang, tatapannya penuh rasa bersalah seperti seorang istri kecil yang baru dimarahi.
Namun ia tak berani banyak bicara. Ia tertangkap basah oleh Zhiqiang sedang berbuat serong—masih berani mencari alasan?
Melihat Su Qi kembali, Han Chun dan yang lain seolah langsung memperoleh keberanian. Mereka dengan riang mengerumuninya.
Su Qi buru-buru mengingatkan, “Berhenti. Area dalam radius lima meter dari Zhiqiang adalah zona terlarang bagi kehidupan. Kalian lupa?”
Han Chun, Bao Piduan, dan yang lain segera mundur beberapa langkah, tetapi kegembiraan di wajah mereka tetap sulit disembunyikan.
Chen Tao mencarikan pakaian milik pengurus sapi yang telah meninggal untuk diselimutkan kepada Su Qi. Tian Caifeng membawa bangku kecil agar semua orang dapat duduk sambil berbincang.
“Kak Su, kau tahu? Begitu mendengar kau dikurung di Balai Penegakan Hukum, Zhiqiang langsung mengamuk. Demi menyelamatkanmu, ia meratakan Balai Penegakan Hukum. Besok pagi pasti akan ada tontonan seru,” kata Bao Piduan penuh semangat.
Su Qi terkejut mendengarnya.
Dalam perjalanan pulang tadi, ia memang melihat halaman Balai Penegakan Hukum terbakar hebat. Banyak orang berteriak dan menangis, sementara para penjaga berzirah besi mengepung lokasi. Keributannya sangat besar. Ternyata semua itu ulah Zhiqiang.
Dan Zhiqiang melakukannya demi dirinya.
Hati Su Qi terasa hangat. Ia menoleh kepada Zhiqiang.
Namun Zhiqiang justru memalingkan kepala dan mendongak empat puluh lima derajat ke langit.
Bagi Zhiqiang, meratakan Balai Penegakan Hukum hanyalah perkara sepele!
Han Chun menghela napas. “Orang-orang bilang Zhiqiang kejam dan haus darah. Tapi menurutku, ia lebih punya perasaan daripada sebagian manusia. Selama ini Su Qi tidak sia-sia merawatnya.”
Ucapan itu jelas menyindir Song Gang.
Su Qi kurang lebih dapat menebak pikiran Han Chun. Ia hanya berkata, “Kapten Song juga hanya menjalankan tugasnya. Itu bisa dimengerti.”
Ia tidak menceritakan perincian masalah tersebut, karena khawatir seseorang keceplosan dan mencelakakan Song Gang.
Beberapa orang bertanya bagaimana mungkin Zhiqiang masih hidup, padahal mereka jelas-jelas melihatnya melompat dari gedung.
Su Qi berkata bahwa dirinya sendiri masih kebingungan.
Ia melihat dengan mata kepala sendiri Zhiqiang melompat dari menara setinggi seratus meter, jatuh hingga daging dan darahnya tercerai-berai. Bahkan ia sendiri yang mengumpulkan jasad Zhiqiang sebanyak satu karung.
Semua orang menatap Zhiqiang dengan penuh tanda tanya.
Mungkin hanya Zhiqiang sendiri yang mengetahui jawabannya.
Namun Zhiqiang malah mengangkat lehernya dengan bangga, seolah-olah melompat dari gedung juga bukan perkara besar baginya!
Sambil mengibaskan ekor, ia berjalan ke tepi palungan air. Kemudian ia mengguncangkan bulu-bulunya yang berlumuran darah dan melirik Su Qi dengan tatapan penuh arti.
Su Qi belum sempat memahami maksudnya ketika Bao Piduan buru-buru berkata, “Kak Su, Zhiqiang sepertinya ingin mandi!”
Han Chun menepuk kepalanya.
“Kalau mau bilang mandi, katakan ‘bersuci’, karena Tuan Qiang suka istilah itu. Kalau ia mendengar kau menyebutnya mandi, ia akan menendangmu sampai mati.”
Sambil berkata begitu, Han Chun menahan Su Qi yang hendak bangkit untuk membantu menyikat dan menggosok tubuh Zhiqiang.
“Tunggu sebentar.”
Lalu ia memandang para pengurus sapi lainnya dan berteriak, “Siapa yang memiliki sapi betina sehat? Bawa kemari untuk bersuci bersama Zhiqiang!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Setelah itu ia menambahkan, “Yang pantatnya besar dan seksi. Yang jelek jangan dibawa!”
Beberapa pengurus sapi yang baru saja hendak berdiri dengan canggung kembali duduk. Sementara itu, gadis pengurus sapi, Tian Caifeng, tersenyum penuh percaya diri lalu bangkit untuk menjemput sapinya.
Barulah Han Chun menjelaskan, “Kalian belum pernah bekerja di arena adu sapi dan belum pernah merawat Zhiqiang, jadi kalian tidak tahu. Saat bersuci, Zhiqiang tidak pernah sendirian. Ia membutuhkan sapi betina cantik untuk menemaninya. Kalau tidak, ia akan kesal. Dan kalau sudah kesal, ia akan menendang-nendang.”
“Di arena adu sapi, beberapa pengurus tewas ditendang Zhiqiang karena mengabaikan hal ini. Su Qi, kau harus mengingatnya dan jangan lengah!”
Semua orang mendengarkan dengan mulut ternganga.
Su Qi pun berkeringat dingin. Mengingat Zhiqiang adalah sapi pejantan yang genit, ia dapat memahami maksud Han Chun tentang sapi betina yang harus mandi bersamanya. Ia segera mengepalkan tangan dan berterima kasih atas peringatan Han Chun.
Tak lama kemudian, Tian Caifeng membawa sapi yang dipeliharanya.
Orang-orang di halaman itu telah menghabiskan sepanjang hidup mereka bersama sapi. Mereka seperti lelaki tua yang terlalu sering melihat perempuan—hanya dari cara berjalan saja, mereka dapat mengetahui perempuan seperti apa yang ada di hadapan mereka. Sekilas saja, mereka sudah tahu bahwa sapi betina milik Tian Caifeng bukan sapi biasa.
“Satu kata: menggoda!”
“Benar. Sapi betina ini benar-benar menggairahkan. Melihatnya membuatku teringat pada Luoshan!”
“Dari bentuk kakinya saja aku tahu pengalamannya kaya. Ia pasti bisa duduk sampai tanah pun tersedot!”
Beberapa pengurus sapi senior memberikan penilaian setinggi langit.
Han Chun menoleh kepada Su Qi. “Bagaimana menurutmu?”
Su Qi mengacungkan ibu jari. “Sangat mantap!”
Memang, sapi betina itu benar-benar montok.
Mungkin karena terlalu sering diperah, ambingnya sedikit mengendur. Namun bokongnya padat dan berkilau, bentuk yang sangat langka di kalangan sapi—seperti buah persik. Seluruh bulunya putih laksana salju, bagaikan putri salju di antara para sapi perah.
“Bukan. Ia tidak bisa disebut putri salju. Paling-paling ia hanya ibu muda dari kalangan sapi perah. Ia sudah ditunggangi banyak sapi jantan, dan aku telah memeliharanya selama tujuh tahun,” Tian Caifeng menjelaskan dengan bangga. “Namanya Yanan. Karena mengikuti margaku, namanya menjadi Tian Yanan.”
Su Qi memperhatikan bahwa ketika berbicara, mata Tian Caifeng terus melirik Chen Tao. Maka ia tersenyum dan berkata, “Adik Caifeng sangat pandai memelihara sapi. Kalau kau pandai mengurus rumah dan merawat lelaki, kau pasti juga luar biasa... Chen Tao, bagaimana menurutmu?”
Wajah Chen Tao memerah. Ia mengangguk berulang kali. Apa pun yang dikatakan Kak Su pasti benar.
Melihat Su Qi membantu dirinya dan Chen Tao, Tian Caifeng langsung merasa lebih akrab dengannya. Dengan murah hati, ia menyerahkan tali kekang sapi kepada Su Qi.
Su Qi membawa sikat bulu sapi, menggiring sapi betina muda Tian Yanan ke sisi Zhiqiang, lalu menyiramkan air seember demi seember dari atas. Darah dan kotoran yang menempel di tubuh Zhiqiang pun tersapu. Ia mengangkat sikat, bersiap mulai menyikat bulunya.
Dari kejauhan, Han Chun buru-buru mengingatkan, “Su Qi, hati-hati saat menyikat! Atur kekuatanmu. Jangan sampai membuatnya kesakitan. Perhatikan terutama kaki dan ketiaknya. Zhiqiang takut geli. Kalau kau membuatnya geli, ia juga akan menendang-nendang. Selain itu, sikatlah searah pertumbuhan bulu dan bentuklah bulunya dengan rapi...”
Han Chun memberikan begitu banyak petunjuk.
Su Qi mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia tahu kemampuan menyikat bulunya sendiri tidak terlalu hebat. Ia tidak berani bertaruh bahwa Zhiqiang tidak akan menendangnya.
Karena itu, ia segera memandang panel di antara kedua alisnya.
“Tingkatkan kemampuan menyikat bulu.”
Panel itu langsung berubah.
“Menghabiskan satu poin kemampuan. Kemampuan menyikat bulu meningkat menjadi tingkat mahir.”
Sekejap kemudian, telapak tangan Su Qi terasa panas. Sikat bulu yang digenggamnya mendadak terasa begitu akrab, seolah-olah ia telah menyikat sapi selama lebih dari sepuluh tahun.
Ia memandangi sikat itu, lalu memandangi bulu Zhiqiang. Dalam sekejap, puluhan metode menyikat muncul di benaknya.
Tatapan penuh percaya diri memancar dari matanya.
Ia menegakkan pinggang, mengayunkan tangan, lalu mengguyurkan seember air. Sikat bulu pun menari di udara.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Gosok-gosok, sikat-sikat, srek srek srek...”
Gerakannya sangat berirama.
Pinggang dan lengannya bergerak bersamaan. Lengan dan sikat bulu itu berpadu dengan begitu luwes dan harmonis. Sekali sapuan, bulu Zhiqiang yang semula berantakan berubah dari gaya rambut cepak menjadi belahan samping.
Inilah peningkatan keterampilan.
Inilah penafsiran atas seni.
Bao Piduan, Chen Tao, dan para pengurus sapi baru lainnya terpana. Mereka merasa bulu memang seharusnya disikat seperti itu, pinggang memang seharusnya digoyangkan seperti itu, lengan memang seharusnya diayunkan seperti itu, dan sikat memang seharusnya digenggam seperti itu.
Orang awam hanya melihat keramaian, sedangkan orang ahli memahami seluk-beluknya.
Tian Caifeng dan beberapa pengurus sapi senior semakin lama semakin terkejut. Pada akhirnya, mereka berseru serempak, “Manusia dan sikat menyatu!”
“Ya ampun! Su Qi telah mencapai tingkat penyatuan manusia dan sikat! Dalam tekanan yang luar biasa, ia kembali memperoleh pencerahan tentang keterampilan menyikat bulu. Ia telah menjadi seorang maestro penyikat bulu!”
Han Chun menyahut dengan penuh semangat, “Benar! Manusia dan sikat menyatu! Kandang sapi nomor tiga kini memiliki seorang jagoan tangguh lagi!”
“Jagoan tangguh penyikat bulu!”
“Dalam perlombaan keterampilan beternak sapi tahun ini, Su Qi pasti dapat merebut satu piala untuk kandang sapi nomor tiga!”
Han Chun terlalu bersemangat. Wajahnya memerah dan ia berputar-putar di tempat seperti gasing.
Sebagai kepala pengurus kandang, keterampilan beternak para pengurus di kandang nomor tiga berada di bawah tanggung jawabnya. Semua itu berkaitan dengan penilaian kinerja dan bonus akhir tahunnya.
Hanya jika para pengurus sapi berprestasi, ia dapat memperoleh lebih banyak penghargaan. Dengan begitu, ia bisa lebih sering pergi ke Menara Bulan Merah dan membantu kakak perempuan Su Qi meningkatkan pencapaiannya.
“Srek, srek, srek!”
Sikat bulu menari di udara, menghilangkan seluruh kotoran pada tubuh Zhiqiang. Zhiqiang menyipitkan mata karena nyaman, sementara dari mulutnya tanpa sadar keluar suara aneh, “Mmm... huf... mooo...”
Sapi betina muda di sampingnya memandang iri. Ia terus-menerus menggesekkan bokongnya ke tubuh Su Qi.
“Kau benar-benar menggoda, ya!” Su Qi tersenyum penuh pengertian, lalu berteriak ke arah kejauhan, “Sikat lagi!”
Bao Piduan yang cekatan segera melemparkan sebuah sikat baru. Su Qi menangkapnya dengan satu tangan, lalu mulai bekerja dengan kedua tangan sekaligus.
Atas bawah, srek srek srek.
Satu orang menyikat dua sapi.
Manusianya kelelahan, tetapi sapinya merasa sangat nyaman.
Han Chun dan yang lain di kejauhan sampai terpaku.
Pengurus sapi lain akan berkeringat deras saat menyikat bulu, sampai-sampai orang harus menutup hidung ketika melewati mereka. Namun cara Su Qi menyikat bulu bagaikan sebuah pertunjukan seni yang memanjakan mata.
Mereka bahkan berharap diri mereka sendiri dapat disikat naik turun oleh Su Qi.
Akhirnya, bulu di punggung sapi selesai disikat. Kini tibalah bagian selangkangan dan ketiak.
Bulu di tempat itu sangat sulit disikat.
Han Chun mengepalkan tangan dengan gugup. Sambil mengawasi sosok Su Qi, ia berkata, “Ketiak manusia sangat sensitif, begitu juga ketiak sapi. Karena itu, bulu di sini sangat sulit disikat, tetapi tetap harus dibersihkan.”
“Kalau bulu ketiak disikat dengan baik, tidak akan terasa sakit ataupun geli. Kalau dilakukan dengan buruk, rasanya akan sakit sekaligus geli. Dahulu, tidak sedikit pengurus sapi yang tewas saat menyikat bulu ketiak Zhiqiang.”
Bao Piduan dan sekelompok pengurus sapi lainnya menahan napas. Mereka menatap Su Qi dengan tegang.
Pada saat itu, Su Qi bergerak...