Bab Enam Puluh Lima: Kepergian
Setelah Wang Sen, meskipun beberapa kasus masih terjadi di Istana Hitam Putih, tak ada lagi yang seberat dan menantang sebelumnya. Hal ini membuat Luo Qiuzhen merasa sedikit kecewa, bahkan mulai merindukan Ning Ye.
Luo Qiuzhen memang menyukai kasus-kasus penuh tantangan, asalkan tantangan itu masih bisa dipecahkan. Jika kasus terlalu sulit hingga tak bisa dipecahkan, itu bukan lagi tantangan, melainkan penghinaan.
Karena itu, Luo Qiuzhen berharap Ning Ye akan berbuat sesuatu lagi, agar ia punya celah untuk menaklukkannya dalam sekali gebrakan. Sayangnya, akhir-akhir ini Ning Ye sangat patuh, bak seekor anak kucing. Selain kasus Keluarga Gu, ia tak melakukan apa-apa lagi. Justru Fu Dongliu kini sangat mengagumi Ning Ye, merasa bahwa pemuda itu punya potensi besar untuk bekerja di Aula Pengawas.
Hal ini membuat Luo Qiuzhen geli sendiri. Jika Ning Ye benar-benar bergabung di Aula Pengawas, bukankah mereka akan menjadi rekan satu atap? Itu tentu akan sangat menarik.
Tapi kemungkinan ia juga tak berani datang, bukan?
Baru saja ia berpikir demikian, tiba-tiba terdengar laporan dari luar, “Penanggung jawab, Ning Ye ingin menghadap.”
Ning Ye? Kenapa dia ke sini? Luo Qiuzhen terkejut, namun tetap berkata, “Biarkan ia masuk.”
Begitu masuk ke Aula Pengawas, Ning Ye membungkuk sopan, “Salam hormat, Penanggung jawab.”
Luo Qiuzhen menatapnya dengan rasa ingin tahu, mempersilahkannya duduk dan memerintahkan orang untuk menyajikan teh, lalu tersenyum, “Apa yang membawamu kemari mencariku?”
Ning Ye berkata, “Baru-baru ini aku mendengar bahwa Kepala Aula Fu berniat memasukkanku ke Aula Pengawas. Maka aku datang untuk bertanya langsung pada Penanggung jawab, apakah benar adanya? Jika iya, apakah itu juga keinginanmu?”
Oh? Luo Qiuzhen semakin tertarik. Ia menatap ekspresi Ning Ye yang jelas tidak bersahabat, lalu tertawa, “Masuk Aula Pengawas? Dari mana kau dengar kabar itu?”
Ning Ye menjawab dingin, “Para murid pengawas yang kau kirim untuk menguntitku tidak setekun Penanggung jawab. Sambil mengobrol santai, aku mendengarnya.”
Bangsat, tak berguna! Luo Qiuzhen mengutuk dalam hati.
Mereka seharusnya mengawasi Ning Ye untuk memperoleh informasi, tapi malah membocorkan kabar padanya. Meski kabar itu tak terlalu penting, tetap saja membuatnya jengkel.
Luo Qiuzhen tak ingin menyelidiki lebih lanjut. Lagipula, jika ditanya, mereka pasti akan mengelak. Ia hanya berkata, “Masuk Aula Pengawas itu hal baik. Kenapa Saudara Ning justru tampak seperti hendak menuntutku?”
Ning Ye berkata, “Itu tergantung dengan siapa aku bekerja. Aku tahu kau, Penanggung jawab, mencurigai aku, dan aku tak menyalahkanmu. Memang ada banyak hal yang sulit dijelaskan tentang kejadian waktu itu, jadi kau memerintahkan orang untuk mengawasiku, aku maklumi. Tapi jika kau memindahkanku ke sisimu, itu sudah berlebihan, bukan? Apa kau pikir, dengan selalu mengawasiku, kau bisa menemukan celah dariku?”
Mendengar ini, Luo Qiuzhen justru tersenyum, “Kalau kau memang tak bersalah, kenapa harus tegang?”
“Coba kalau kau diawasi setiap hari, apa kau akan nyaman? Aku paham maksudmu, Penanggung jawab, kau hanya ingin mencari kelemahanku lewat keseharianku. Sayangnya, kau bukan teman lamaku, sehebat apapun kau mengawasi, belum tentu bisa melihat apa-apa. Mengapa membuang-buang waktu? Silakan saja awasi aku. Aku, Ning Ye, tak bersalah di hadapan langit dan bumi, tak takut pengawasanmu. Tapi aku perlu berlatih dan keluar mencari pengalaman. Jika kau memindahkanku ke sisimu, itu hanya akan menghambat latihanku. Itu yang tak bisa kuterima.”
Luo Qiuzhen bersandar santai di kursinya, “Jadi itu masalahnya. Kau bukan marah karena diawasi, tapi kesal karena mengganggu latihanmu.”
“Benar.” Ning Ye menjawab mantap, “Kumohon Penanggung jawab tidak lagi bermain trik licik. Jika ada urusan, silakan langsung saja.”
Sambil berkata, Ning Ye membungkuk hormat, “Cukup sekian, aku pamit.”
Ia pun langsung meninggalkan Aula Pengawas.
Melihat Ning Ye berlalu, hati Luo Qiuzhen membara. Ning Ye sedang memperingatkannya? Siapa dia, berani-beraninya memperingatkanku? Amarah Luo Qiuzhen menggelegak, rasanya seperti menelan seratus lalat.
Semakin marah, wajahnya justru makin tenang. Ia mengambil berkas di samping tangannya dan berpura-pura membaca, padahal pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan.
Saat itu, tumpukan berkas di sampingnya menarik perhatian, “Chang Yuyan akan pergi ke Xihe, Aula Pengawas diminta melindungi?”
Setelah membaca teliti, Luo Qiuzhen tiba-tiba tergelak pelan, “Jadi begitu rupanya. Tampaknya atasan sudah tak sabar lagi. Bagus, bagus!”
Luo Qiuzhen bersandar nyaman, berpikir sejenak, lalu memanggil, “Xi Jiang.”
“Aku di sini.” Xi Jiang tiba-tiba muncul di samping Luo Qiuzhen, seperti hantu.
Ia tahu dirinya gagal menjalankan tugas, jadi tadi diam saja tak berani muncul sebelum dipanggil.
Luo Qiuzhen meliriknya dingin, “Katakan pada Balai Empat Penjuru, untuk tugas mengawal makhluk air Xihe, tetapkan Ning Ye ikut serta.”
“Ning Ye yang ditetapkan ikut?” Xi Jiang terkejut.
“Benar. Bukankah dia memintaku untuk tak bermain trik licik? Baiklah, kita lakukan secara terbuka. Ada satu hal yang benar dari ucapannya: aku bukan orang yang benar-benar mengenalnya, seketat apapun aku mengawas, tetap sulit menemukan celah. Tapi kalau Saudara Yin… Hem, aku ingin lihat, berani tidak ia berjalan bersama Saudara Yin!”
Sekalipun Ning Ye sudah mengubah bentuk tubuh dan rupa, kebiasaan lama tidak mudah berubah.
Selama ia cukup lama bersama Yin Tianzhao, pasti akan ketahuan.
——————————————————
Satu jam kemudian, Ning Ye menerima kabar—ia diperintahkan ikut mengawal Chang Yuyan.
Mendapatkan kabar itu, Ning Ye tersenyum puas.
Semuanya berjalan sesuai rencananya. Luo Qiuzhen benar-benar menempatkannya bersama Yin Tianzhao.
Luo Qiuzhen bukan orang bodoh. Justru karena itulah ia takkan melewatkan kesempatan, apalagi setelah dipancing amarah oleh Ning Ye.
Qiu Bujun mungkin satu-satunya yang benar-benar khawatir… Ia sungguh takut Ning Ye akan ketahuan oleh Yin Tianzhao.
Namun Ning Ye sama sekali tidak khawatir.
Ia tahu, dirinya sudah bukan lagi Ning Ye yang dulu di Gerbang Takdir.
Dulu, Ning Ye ceria dan penuh semangat. Meski kadang berpura-pura, namun lebih banyak berasal dari hati—di lingkungan persaudaraan yang saling menghormati, sisi gelap Ning Ye tersamarkan, tertutupi, tertekan.
Pengkhianatan Yin Tianzhao dan kehancuran Gerbang Takdir telah membangkitkan sisi gelap Ning Ye yang lama terkubur.
Belum lagi sekarang tubuh dan wajahnya sudah berubah total, juga menguasai Ilmu Menipu Langit. Bahkan tanpa itu semua, sekalipun tampil dengan wajah aslinya di hadapan Yin Tianzhao, mungkin Yin Tianzhao tetap akan ragu apakah orang di depannya ini adalah Bai Yu yang ceria dan lincah yang pernah dikenalnya.
Yang terpenting, Yin Tianzhao bukanlah mata-mata yang bertahun-tahun dibina oleh Istana Hitam Putih. Ia hanya berkhianat secara mendadak, berarti sebelumnya ia tak mungkin mengumpulkan informasi tentang Ning Ye.
Karena itu, pengetahuannya tentang Ning Ye yang sesungguhnya bisa dibilang sangat minim.
Sehari kemudian.
Tibalah hari yang dijanjikan, Ning Ye menuju Puncak Tianyuan.
Chang Yuyan sudah menunggu di sana, ditemani seorang pria berbaju hitam—wajah familiar milik Yin Tianzhao.
Kali ini, akhirnya ia muncul dengan wajah aslinya. Hanya saja, dibanding sebelumnya, ia tampak jauh lebih kurus.